Ibu Sambung

Ibu Sambung
Pertemuan Dengan Jennika 2


__ADS_3

"Melahirkan? Mengapa aku tidak tahu?" tanya Shinta. Jennika menjelaskan jika proses persalinan nya bukan di Indonesia.


"Memang benar, kami saat itu sedang berada di luar negeri. Dia awal nya sangat baik padaku, walau memang dia memiliki kelainan saat melakukan hubungan di ranjang. Bahkan, meminta hal yang di luar batas wajar. Itu salah satu faktor juga saat anakku tidak bisa di selamatkan. Semenjak kematian anak kami, dia menjadi kasar. Awal nya aku memaklumi itu semua, karena bentuk dari duka seorang ayah kehilangan anak nya. Namun, semakin hari ia semakin menjadi, bahkan ia sering membiarkan tubuh ku di nikmati oleh teman-teman nya. Bahkan ia mau melakukan hal kasar padaku, mau memukul juga menyiksa ku, dia menyekap ku dan tidak memberikan aku makan selama berhari-hari. Ia menyalahkan ku atas kematian anak kami, dan dia selalu mengatakan akan membalas dendam atas meninggal nya anak kami. Aku juga sangat hancur, Ta. Dunia ku juga berantakan saat aku kehilangan anak aku. Aku memahami nya, namun dia tidak memahami ku dan menganggap aku yang bersalah."


Shinta menangis sejadi-jadinya. Betapa hancur kehidupan sahabat nya itu, dunia seakan tidak adil kepada nya.


"Mengapa Tuhan memberikan mu cobaan yang begitu sulit? Mengapa?" tanya Shinta yang kembali memeluk Jennika. Shinta dan Jennika begitu dekat saat mereka masih menjadi dokter, saat Shinta juga belum memiliki keluarga, sekarang semua nya berubah sekali.


Shinta tahu impian Jennika yang ingin mempunyai suami dan kehidupan yang lebih baik. Apalagi, semenjak kepergian mama Jennika untuk menghadap sang pencipta.


"Ayo, kita lapor polisi. Ini tidak bisa terus-terusan di biarin kan?" ujar Shinta kepada Jennika. Jennika mengatakan jika dia tidak mau melaporkan suami nya. Bagaimana pun Jennika mencintai suami nya itu, Jennika juga tidak sanggup jika melihat suaminya mendekam di penjara.


"Aku hanya ingin bercerai, Ta. Aku enggak mau dia di penjara."


"Tapi, itu juga salah satu kekuatan mu agar memudahkan kalian untuk berpisah, Jen."


"Tapi aku enggak bisa melihat suami aku sakit. Aku enggak bisa melihat dia tersiksa di kantor polisi."


Shinta pun membuang nafas dengan kasar, ia juga tak bisa memaksa kan kehendak nya. Ia pun harus menghargai keputusan dari sahabat nya itu.


"Aku cuma mau bercerai, Ta. Tapi aku tahu, dia tidak akan semudah itu untuk melepaskan aku. Dia akan melakukan berbagai cara agar aku tidak bercerai dengan nya dan agar aku yang terlihat bersalah." Jennika menangis, ia merasa tidak sanggup laki.


Pria yang ia anggap sebagai rumah nya, malah begitu tega menyakiti diri nya seperti ini.


"Ta. Ak-aku sangat takut jika dia ke sini dan memaksa ku untuk pulang."


Shinta mengatakan kepada Jennika untuk tidak khawatir, jika pun suami nya datang. Shinta dan Revan akan melindungi Jennika. Ia akan menyembunyikan Jennika dengan baik.

__ADS_1


"Sudah lah Jen jangan memikirkan hal itu, sebaik nya aku istirahat terlebih dahulu. Nanti, kita akan mencari solusi terbaik. Aku juga ingin kau bahagia Jen. Aku enggak mau melihat mu menderita seperti ini."


"Makasih ya, Ta. Jika tidak ada kamu dan juga suami nya. Aku tidak tahu, mungkin suami ku sudah menemukan aku dan akan kembali menyiksa ku."


Shinta menenangkan Jennika, mengatakan jika sahabat nya tidak perlu khawatir. Ia juga mengatakan jika tidak ada yang mengetahui kedatangan Jennika kerumah ini kecuali diri nya dan juga Revan.


Shinta juga tidak mau anak-anak bertemu dengan Jennika di saat keadaan Jennika seperti ini.


"Sudah, jangan kau terlalu banyak pikiran. Lebih baik istirahat lah dulu,"


"Ak-aku enggak bisa, Ta."


Shinta mengerti trauma yang di alami oleh sahabat nya, padahal Jennika anak yang ceria dan manja.


"Maafkan aku ya Jen, aku enggak bisa menjaga kamu seperti amanah yang mama kamu kasih buat aku."


"Aku sangat kesal dengan suami mu itu." ujar Shinta, ingin rasanya ia melaporkan perbuatan suami Jennika ke kantor polisi namun Jennika memohon kepada Shinta. Ia hanya ingin berpisah saja, tidak mau suami nya di laporkan ke kantor polisi. Ia takut, keluarga Shinta akan dalam bahaya jika terlibat.


"Aku enggak mau keluarga mu dalam bahaya karena aku, Ta."


"Kamu jangan khawatir berlebihan seperti ini Jen, suami ku akan melindungi keluarga ku dan juga kamu."


"Ta, suami ku tidak sebaik dan sepolos seperti wajah nya."


Shinta bingung dengan ucapan Jennika, ia pun bertanya apa maksud Jennika..Namun, Jennika tidak mau mengatakan apapun karena menurut nya seburuk apapun suami nya itu. Dia tetap masih menjadi suami nya dan istri harus melindungi dan menutupi aib suami nya.


"Maa-aaf kan aku, aku enggak bisa menceritakan nya kepada mu soal itu..Tapi, aku mohon. Jangan libatkan dengan polisi, iya aku tau jika suami mu akan memberikan perlindungan buat keluarga mu. Namun, Syifa juga berada di luar rumah. Dia bersekolah, dan kalian enggak bisa mengawasi nya dalam dua puluh empat jam."

__ADS_1


Shinta pun membenarkan ucapan Jennika, demi keselamatan anak kesayangan nya itu. Shinta tak akan melaporkan suami Jennika ke kantor polisi.


Shinta pun meminta Jennika untuk istirahat, ia akan meninggalkan Jennika sebentar. Karena ia juga harus melihat anak-anak nya.


Jennika mengangguk, Shinta segera keluar kamar. Ia pun menghampiri kamar Syifa.


"Astaga, aku sampai lupa membawa ice cream nya." Shinta kembali menuju mobil untuk mengambil ice cream yang ia bawa tadi untuk anak-anak.


Shinta membuka pintu mobil, mengambil ice cream anak-anak yang di bungkus. Ia melihat ke arah kamar Jennika di atas. Terlihat jennika sedang mengamati Shinta dari atas.


Shinta segera bergegas mengambil ice cream itu, dan ia kembali ke kamar Jennika. Shinta membuka kamar Jennika, Jennika masih merenung menatap luar kaca.


Shinta mengatakan kepada sahabat nya, jika jennika terus-terusan menatap ke arah luar jendela. Suami nya bisa kapan saja melihat dia.


"Jen, kaca itu sangat terlihat jelas dari luar. Aku takut, tiba-tiba suami mu datang dan langsung melihat ke arah mu."


Jennika tersadar, ia pun meminta maaf kepada Shinta.


"Maafin aku, aku hanya ingin melihat suasana luar untuk ketenangan hati ku."


"Aku enggak permasalahi Jen, tapi saat ini kamu kan lagi bersembunyi dari suami mu. Aku hanya takut jika suami mu saat mencari mu kesini langsung melihat dan menemukan mu karena kau berdiri di sini."


Jennika mengangguk, mengerti. Ia langsung menutup tirai jendela kamar itu. Shinta juga memberikan satu cup ice cream untuk sahabat nya. Jennika sangat menyukai ice cream.


"Makan lah, aku tadi membeli beberapa untuk di rumah."


"Terimakasih banyak, Ta. Maaf aku banyak merepotkan mu."

__ADS_1


__ADS_2