
Shinta pun berpamitan pada Caca untuk kembali ke rumah.
"Aku harus pulang, anak-anak aku tinggal kan bersama mama Lili juga papa Tommy."
"Iya, segera lah pulang! jika tidak, ayah mertua mu akan memarahi mu. Dia sangat cerewet sekali, omongan nya selalu membuat hati yang mendengar sakit."
"Hust! kau tidak boleh begitu! dia juga pernah menjadi mertua mu." tegur Shinta.
"Memang! tetapi hanya sebentar haha." tawa Caca memecah, ia mengingat saat dulu menjadi isteri dari Revan, setiap hari dan saat selalu mendapat kan sindiran dari ayah mertua nya. Untung saja, dahulu mantan suami dan ibu mertua nya sangat menyayangi diri nya hingga tak memperdulikan ucapan dari Mantan ayah mertua nya.
"Tetapi, Papa Tommy itu sangat baik dan menyayangi keluarga!" Shinta membela Ayah mertua nya, bagaimana pun Tommy adalah papa dari pria yang ia cinta.
"Memang, dia sangat menyayangi keluarga nya. Sayang terhadap isteri, anak, juga cucu tetapi tidak dengan menantu! bagi nya menantu hanya lah orang asing saja." ucap Caca meringis. Caca pun menoleh ke arah Shinta.
"Tetapi, tak apa! aku yakin, selagi Revan ada di samping mu. Kau pasti akan kuat menghadapi setiap omongan pedas dari ayah mertua mu. Lagipula, jika Revan tahu! dia tak akan pernah membiar kan isteri nya di tindas. Revan akan membela mu. Dahulu, setiap kali Ayah mertua mu itu memarahi ku. Aku selalu mengadu pada Revan."
"Tetapi, aku tak pernah mengadu kan apapun pada Revan, aku tak ingin ayah dan anak itu bertengkar." ujar Shinta.
"Iya, dahulu aku masih terlalu kanak-kanak." jawab Caca dengan santai.
"Baik lah, Ca. Aku harus pulang sekarang ya?"
"Hati-hati! kabarin jika sudah sampai!" Shinta pun mengangguk, Caca mengantar Shinta sampai depan, hingga Shinta menaiki mobil yang sudah menunggu nya sedari tadi di luar.
"Mengapa sikap nya sangat aneh ya?" Setelah kepergian Shinta, Caca pun masuk ke dalam kamar dan bertanya-tanya dalam hati atas sikap Shinta barusan. Tak biasa nya ia seperti itu.
"Pasti ada yang tidak beres. Aku harus mencari tahu!" batin Caca.
*********
Kini, Revan sudah mengetahui keberadaan ke dua orang tua Queen. Ia dan beberapa orang suruhan nya segera menuju di mana kedua orang tua Queen di sekap. Di perjalanan, Revan menghubungi isteri nya
Panggilan Terhubung
*Sayang, apa kau masih di rumah Caca? ~ Revan
__ADS_1
Tidak! aku sudah di dalam perjalanan pulang ~ Shinta
Baik lah, Aku sudah menemu kan keberadaan kedua orang tua Queen. Kau sesampai di rumah, tolong kunci semua pintu ya. Perketat penjagaan untuk anak-anak. Aku juga sudah menyuruh beberapa pengawal untuk menjaga rumah kita~ Revan
Iya, Sayang. Kau juga harus hati-hati ya! aku tak ingin kau kenapa-kenapa, ia adalah wanita yang sangat berbahaya~ Shinta
Jangan khawatir kan suami mu yang jagoan ini, lagi pula aku tidak sendirian. Baik lah, aku akan menutup telepon nya. Kita akan bicara lagi di rumah, bye Sayang! ~ Revan
Aku menunggu mu, Bye! ~ Shinta
Tunggu! ~ Revan
Ada apa lagi? ~ Tanya Shinta yang penasaran.
Aku mencintai mu~ Revan*
Panggilan terputus.
"Aku juga mencintai mu." senyuman di wajah Shinta mengembang dengan sempurna.
********
Mobil Revan berhenti di sebuah gudang besar, ia dan beberapa pengawal nya segera turun dari mobil. Revan terkejut melihat banyak darah berlumuran di lantai. Revan segera masuk, begitu banyak orang suruhan Elsa yang tewas berlumuran darah di tempat.
"Siapa yang melakukan ini?" batin nya, ia melihat dan mencari ke sana kemari, tidak ada siapapun, hanya ada orang-orang yang tak bernyawa berlumuran darah di lantai.
"Tolong...!!!"
Revan segera mencari ke arah suara itu berasal, ia melihat kedua orang tua Queen yang di ikat. Dengan cepat Revan melepas kan ke dua orang tua Queen. Begitu banyak luka di wajah ke dua orang tua ini. Membuat Revan mengepal kan kedua tangan nya dengan geram.
"Paman, Bibi. Tenang lah! kalian sudah aman bersama ku." Revan pun memeluk kedua orang tua Queen.
"Terimakasih sudah menyelamati kami."
"Sudah lah, Paman! itu tak usah di bicarakan." Revan membawa ke dua orang tua Queen keluar dari tempat penyekapan. Satu hal yang ia tak tahu, apa yang sebenar nya terjadi. Di saat ia sampai di tempat, sudah begitu banyak darah dan mayat.
__ADS_1
"Tolong, kau segera hubungi polisi!" suruh Revan kepada bawahan nya.
"Baik, Pak!"
Revan memasukkan ke dua orang tua Queen ke dalam mobil dan memberi kan minum pada ke dua orang Tua Queen
"Elsa ." tangis Ibu Queen.
"Sudah lah, Bi!" Revan pun menghenti kan ibu nya Queen untuk bicara, ia pasti sangat mengerti apa yang di alami kedua orang tua Queen. Ibu Queen pun memeluk suami nya dengan erat.
"Sebaik nya kita pulang!" ajak Revan kepada orang tua Queen, ke dua orang tua nya pun setuju. Mereka masih sangat trauma atas apa yang sudah mereka alami. Revan mengantar kan mereka ke rumah Queen.
Di kediaman Rumah Queen.
Queen yang memasang wajah lemas, dan mata nya yang sembab pun membuka pintu. Ia melihat ke dua orang tua nya di depan mata.
"Mama, Papa." tangisan Queen memecah, ia memeluk ke dua orang tua nya dengan erat dan terisak.
"Kalian tidak apa? Maafin Queen yang tak bisa menyelamati kalian." Queen semakin senggugukan di pelukan kedua orang tua nya.
"Sebaik nya kau membawa mereka dulu masuk ke dalam." perintah Revan pada teman kecil nya. Queen pun mengajak ke dua orang tua nya untuk masuk ke dalam
"Kau juga, Van. Masuk lah dahulu kedalam!"
"Maaf, aku harus segera pergi. Ada hal yang harus aku urusin lagi! Aku pamit."
"Terimakasih, Ya. Nak, sudah menyelamat kan kami." ujar mama Queen.
"Terimakasih, Van. Kau sudah menyelamat kan mama dan papa ku."
"Jangan begitu! aku juga anak kalian bukan? bukan kah kalian sudah menganggap ku anak sedari kecil? apa aku salah membantu orang tua angkat ku juga?" senyum Revan yang tulus membuat mama Queen memeluk nya.
"Terimakasih, Nak! jika kau menganggap kami adalah orang tua mu. Panggil lah aku Ibu atau mama."
"Baik lah, Ma. Revan harus segera pergi. Nanti, Revan akan kembali ke sini untuk menjenguk kalian. Sekarang, ada hal yang harus Revan kerjakan lagi. Jaga lah diri kalian baik-baik. Jika ada sesuatu, hubungi saja aku. Aku akan selalu ada untuk kalian." Revan melepas kan pelukan itu lalu segera pergi.
__ADS_1