
Revan yang tersadar dengan sikap buruk nya pun langsung meminta maaf kepada isteri dan mertua nya terutama kepada Reyhan. Revan tak mengerti mengapa ia tiba-tiba kehilangan kendali.
"Ma-maaf kan aku, sungguh ak-aku tidak bermaksud seperti itu." ujar nya penuh dengan penyesalan, namun Reyhan yang ketakutan tak ingin mendekat kepada Revan. Shinta dan Ibu Syafa pun menenangkan Reyhan perlahan.
Revan ke luar dari kamar, ia memukul tangan nya dengan keras ke dinding. Mencaci diri nya sendiri mengapa bisa berbuat buruk kepada anak kecil.
"Ada apa dengan diri ku?" tanya nya dengan bingung, Revan tersadar saat tangan kecil memegang tangan satu nya.
"Papa, kenapa?" Revan menunduk, menatap mata teduh Alana yang bertanya kepada nya.
"Tangan papa beldalah hiks." Alana menangis melihat tangan papa nya yang berdarah, mata Revan beralih kepada tangan kanan nya. Ia tidak sadar jika tangan nya berdarah. Mungkin, karena ia memukul tembok terlalu keras. Revan pun menenangkan anak nya.
"Sayang, Tuan puteri nya papa. Cantik nya papa, jangan menangis! Ini hanya luka kecil." ujar nya sambil menggendong tubuh mungil Alana. Menghapus air mata Alana dengan tangan nya yang kekar itu.
"Alana cemas papa, Alana nggak cuka liat papa teluka hiks." Revan mendekat kan kepala anak nya ke dalam bidang nya yang kekar, kembali ia menenangkan dan menyakin kan Alana jika diri nya baik-baik aja.
Di sisi lain, Ibu Syafa menegur puteri nya. Terlihat wajah Ibu Syafa yang tidak suka. Ibu Syafa bukan lah orang yang pemarah, namun kali ini dia tidak suka dengan sikap menantu nya itu.
"Bu, maaf kan kelakuan suami Tata. Nanti Tata akan bicara pada nya." Shinta menjadi tak enak hati, menurut nya suami nya memang bersalah di sini. Namun, setiap perbuatan bukan kah ada alasan nya? Shinta ingin tahu alasan mengapa suami nya seperti itu.
__ADS_1
"Ibu selalu memaklumi sikap suami kamu, tapi ini dia sangat kasar pada anak kecil yang tidak berdosa. Apakah selama ini dia juga kasar padamu?" tanya Ibu Syafa dengan penuh selidik, dengan cepat Shinta menggeleng.
"Tidak bu, percaya lah kepada Tata. Revan tidak pernah kasar pada Tata. Memang dia sangat pemarah, namun dia tidak pernah melakukan KDRT kepada Tata." Shinta menjelaskan kepada ibu nya, ia tidak ingin ibu nya menjadi salah paham kepada Revan.
"Bu, maaf kan Revan ya? Lagipula, Tata yakin jika Revan tidak bermaksud seperti itu dan dia juga menyesali perbuatan nya dan meminta maaf kepada kita."
"Terserah kamu saja! Sudah tahu suami mu salah, masih saja membela nya." kesal Ibu Syafa, ia pun membawa Reyhan untuk ke luar dari kamar shinta. Shinta menatap pergi ibu dan adik angkat nya itu.
Shinta menangis, ia bingung harus bagaimana.
Mengapa semua menjadi begini?
Namun, hari ini. Ia melihat sikap yang jauh berbeda dari orang-orang yang ia sayangi, kepala Shinta sangat sakit memikirkan nya.
Shinta tak ingin ibu nya salah paham kepada suami nya itu, apalagi ucapan Ibu Syafa begitu ketus tidak seperti biasa nya. Shinta tahu jika Ibu Syafa menyayanyi Reyhan, tapi apakah harus seperti ini?
*****
Di luar kamar, Ibu Syafa berhadapan dengan menantu dan cucu nya. Alana tersenyum kepada Ibu Syafa. Namun, Ibu Syafa terlihat sangat acuh kepada menantu dan cucu nya itu. Melewati mereka tanpa menoleh sedikit pun.
__ADS_1
Alana pun terdiam melihat sikap nenek nya.
"Oma," panggil Alana, Ibu Syafa mengatakan jika diri nya sangat letih tanpa menoleh ke arah Alana dan Revan.
Hal itu di lihat oleh Shinta yang berdiri di depan pintu. Revan menatap tajam ke arah sang isteri, seakan tidak terima jika puteri mereka di perlakukan seperti ini.
Revan yang sedang menggendong Alana pun meminta kepada Shinta untuk segera menyusun barang-barang mereka.
"Kita sudah cukup lama di sini, segera persiapkan barang-barang. Aku dan anak-anak akan menunggu di mobil."
Shinta mengangguk, sedangkan Revan mencari Alan dan mengajak nya untuk pulang. Sebelum nya mereka juga sudah memberitahu kepada Baby Sister akan pulang hari ini. Para pengasuh pun sudah menunggu di dalam mobil sedari tadi.
Shinta masuk ke dalam kamar, mengambil koper mereka. Ia menghapus air mata nya, bergegas ke luar. Sebelum pulang, Shinta dan Revan beserta anak-anak nya berpamitan kepada ke dua orang tua nya.
Ayah Gunawan yang tidak mengetahui masalah nya pun bersikap seperti biasa, dan meminta anak dan menantu nya untuk menginap beberapa hari lagi. Namun, dengan ketus Ibu Syafa mengatakan jika untuk tidak memaksa mereka.
Ucapan Ibu Syafa tentu saja membuat hati Shinta sakit, sebelum nya ia tidak pernah di cueki begini oleh ibu nya.
"Kalian sering-sering lah main ke sini. Ayah dan Ibu sangat merindukan kalian setiap hari, apalagi kepada cucu-cucu kami." ujar Ayah Gunawan, Shinta dan Revan tersenyum dan mengangguk, Shinta melihat ke arah ibu nya yang begitu fokus kepada Reyhan tanpa melihat ke arah mereka.
__ADS_1
Revan mengajak Shinta untuk menuju mobil, Shinta pun menuruti ucapan suami nya. Ia dan anak-anak masuk ke dalam mobil sedangkan Revan memasuki barang-barang ke bagasi.