Ibu Sambung

Ibu Sambung
Season 2 - Kabar bahagia


__ADS_3

Setelah mengetahui kabar bahagia itu, mereka pun pulang dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan lagi. Revan terlebih dahulu mengantarkan kedua mertua nya sebelum kembali kerumah, mereka turun terlebih dahulu dan berdiri dan didepan pintu rumah Syafa


"Kalian enggak mampir dulu?" Tanya Syafa.


"Lain kali aja ya ma, soalnya Revan ada pekerjaan lagi" Tolak Revan dengan halus, Syafa pun mengerti dan memeluk Puterinya dan memberikan selamat


"Selamat ya nak, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu" mereka pun saling melepaskan pelukkan itu, Gunawan pun melakukan hal yang sama dilakukan oleh isterinya.


"Yah, Bu. Kami pamit dulu ya" Pamit Shinta kepada kedua orang tuanya.


"Syifa pulang dulu ya grandma, grandpa" Syifa menyalim tangan kakek dan neneknya secara bergantian.


"Hati-hati kalian, dan kau jaga janin mu ya nak" Shinta pun mengangguk mengerti, mereka bertiga masuk kedalam mobil dan melajukan mobil itu menjauhi rumah orang tua Shinta. Syafa dan Gunawan menatap kepergian mobil itu yang semakin menjauh dari jangkauan mereka. Gunawan memeluk isterinya dari samping


"Ini hari terbahagia untuk ku mas" Ucap Syafa kepada sang suami, Syafa menyenderkan kepalanya di bahu sang suami.


"Hari bahagia untuk kita semua" ucap Gunawan dan mengecup kening isterinya. Mereka pun berbalik badan dan masuk kedalam rumah.


******


Shinta yang duduk di mobil pun memegangi perutnya yang datar itu, ia begitu sangat bahagia akan hal ini begitu juga Revan yang melihat isterinya yang sedang senyum-senyum sendiri sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Mama, adik nya kapan keluar" Tanya Syifa dengan polos, Shinta melihat kebelakang dan menatap Puterinya.


"9 bulan lagi sayang" Syifa pun mengerutkan dahinya dengan bingung


"9 Bulan itu kapan ma"


"Secepatnya sayang" ucap Revan kepada sang Puteri


"Sini nak sama mama" Syifa mengambil tubuh Syifa untuk pindah ke depan dan memangku Puteri kecilnya.


"Syifa mau lihat adek ma" Pinta nya


"Ini sayang" Shinta mengarahkan jemari mungil Syifa ke perut rata miliknya.

__ADS_1


"Kok enggak ada ma"


"Iya sayang, nanti adek akan keluar kalau udah saat nya" ucap Shinta memberikan penjelasan, Syifa pun mengangguk dan tak lama kemudian Syifa tertidur di pangkuan Shinta. Shinta mencium pucuk kepala Syifa lalu kedua pipi Puterinya.


"Kau mau makan apa" Tanya Revan.


"Mau pulang aja, tidur" Revan mengangguk dan melajukkan pegal gas mobilnya, Revan memasuki mobilnya kehalaman rumah. Sebelum Shinta ingin turun, Revan melarang dan menyuruh Shinta untuk duduk diam. Revan turun dari mobil dan mutar membukakan pintu untuk isterinya, ia menggendong Syifa terlebih dahulu, Syifa hanya menggeliat sejenak di gendongan Revan dan kembali tertidur pulas. Shinta pun langsung turun dari mobil dan menutup pintu mobilnya.


******


Didalam rumah, Revan terlebih dahulu masuk kekamar Syifa dan meletakkan Puterinya. Tidak ada siapa siapa dirumah, Sebelum mereka pulang kerumah lili terlebih dahulu menelpon dan memberitahu bahwa mereka akan pergi keluar negeri untuk beberapa bulan kedepan Karena ada urusan bisnis yang harus Tommy tangani sendiri. Shinta memutuskan untuk kekamar dan membersihkan diri, Didalam kamar mandi Shinta merendamkan tubuhnya dan memijit kepala agar sedikit rilex. Ia memejamkan mata. Sekilas terlintas bayangan Rayhan di ingatannya, ia pun membuka mata dan merindukan almarhum mantan kekasihnya.


"Ray, saat ini aku sedang mengandung Ray. Aku hamil" Gumamnya dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca. Shinta pun melanjutkan kegiatan membersihkan tubuhnya lalu bangkit dan segera berpakaian.


"Kok mandi" Shinta dikagetkan dengan suara Revan yang tiba-tiba sudah berbaring di atas ranjang. Ia mengelus dadanya dengan pelan


"Kamu tuh buat aku kaget tau gak? untung aja jantung aku enggak copot!" Ucapnya kesal. Revan pun bangkit dan mendekati isterinya.


"Maaf, habisnya tadi aku cari cari kamu, enggak taunya lagi mandi" Revan memegang jemari Shinta dan menuntunnya untuk duduk ditepi tempat tidur. Revan mengeringkan rambut panjang isterinya dengan lembut.


"Van"


"Ak-akku boleh minta sesuatu gak?" Ucap Shinta ragu-ragu. Revan menghentikan kegiatannya dan menatap mata sang isteri.


"Mau minta apa sayang, bilang aja. Semua aku kasih untuk kamu"


"Aku mau pergi ke"


"Enggak!" Belum selesai ngomong Revan sudah memotong pembicaraan Shinta


"Kamu lagi hamil muda, enggak boleh lasak dan berpergian"


"Tapi Van" Shinta memasang wajah melasnya


"Kamu boleh minta apa aja, tapi untuk berpergian. Aku enggak akan izinin!" Revan meletakkan handuk itu ke tangan Shinta dan berlalu pergi.

__ADS_1


"Huft, percuma aja izin sama dia" Ucap Shinta yang begitu manyun, Dan tak lama kemudian Shinta tersenyum. Entah apa yang di pikirkan oleh wanita itu hanya dirinya yang tahu. Shinta bangkit dan menjemur handuk kepala itu lalu pergi ke kamar Syifa.


*****


Di dalam kamar Syifa, Shinta berdiri di depan pintu kamar Puterinya ia melihat Revan tidur memeluk Puterinya.


"Kenapa ada dia sih, gagal deh rencana aku huftt" Gumam Shinta dalam hati, Shinta ingin pergi namun sial nya Revan melihat kearah Shinta


"Kalau kamu mikir bisa keluar dengan menggunakan Syifa gausah berharap lebih" Ucap Revan tegas dan berjalan mendekati dirinya.


"Ap-appa sih maksud kamu, aku cuman mau lihat keadaan Syifa aja kok" Elaknya


"Sayang, aku tahu gimana kamu" Revan mendorong tubuh Shinta hingga punggungnya terbentur ketembok dan menatap Shinta dengan sorotan yang menakutkan


"Aku hanya ingin ziarah ke pemakaman Rayhan" Ucapnya dengan bibir yang gemetar dan mata terpejam, mendengar ucapan Shinta amarah Revan pun melunak ia mencoba menenangkan isterinya dengan cara mendekap tubuh Shinta.


"Kenapa enggak bilang dari tadi, aku kan bisa Anter kamu" Revan mencium kening isterinya.


"Tadi aku ngomong kamu langsung potong pembicaraan aku dan langsung keluar kamar" Ucap Shinta dengan suara manjanya.


"Aku fikir kamu mau kemana, kalau hanya ke pemakaman dan kerumah mama Syafa aku izinin asal sama aku" Ucap Revan dan melepaskan dekapan itu. Revan merapihkan rambut Shinta yang berantakan.


"Maafin aku ya udah buat kamu takut"


"Iya, enggak apa-apa kok" Shinta pun mendongak dan tersenyum menatap suaminya


"Besok aku akan antar kamu ke pemakaman Rayhan ya"


*******


Keesokan harinya, Shinta bersiap siap untuk ke pemakaman Rayhan. Revan dan Syifa sudah terlebih dahulu menunggu di mobil, Shinta mencoba menguatkan hatinya dan melangkah untuk masuk kedalam mobil. Sesampai di pemakaman, Revan sengaja menunggu di dalam mobil bersama Syifa. Ia membiarkan waktu isterinya. Shinta melangkahkan kakinya dengan langkah yang gemetar, airmata nya sudah membasahi pipi. Ia mendekat ke batu nisan tersebut dan mendudukkan tubuhnya.


"Ray, aku datang" gumamnya pelan, Shinta mengelus nisan tersebut dan menangis. Ia memejamkan matanya dan berdoa untuk ketenangan arwah Rayhan. Setelah berdoa Shinta sejenak memandang kembali nisan tersebut dan menaburkan bunga tidak lupa dengan airnya.


"Terimakasih untuk kasih sayang kamu selama ini Ray, Terimakasih untuk pengorbanan kamu, aku udah bahagia Ray. Sesuai dengan harapan dan keinginan kamu" Shinta menghapus air matanya dan tersenyum. Tangannya turun mengelus perut rata miliknya.

__ADS_1


"Dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu Ray, aku hamil. Vonisan dari dokter Kyara itu salah Ray"


"Aku harap kamu tenang disana Ray, Aku ikhlas kamu pergi Ray, tapi kamu jangan khawatir sampai kapan pun kamu akan menjadi sejarah untuk hidup aku Ray. Terimakasih untuk 10 tahun kisah kita, aku pamit pulang ya Ray" Shinta mengelus kembali batu nisan itu dan berdiri melangkahkan kakinya untuk kembali kedalam mobil.


__ADS_2