Ibu Sambung

Ibu Sambung
Berdamai


__ADS_3

"Tentu saja aku akan mendapatkan nilai yang lebih baik darimu!" Ketus Alana kepada saudara kembarnya itu, Alan hanya menggelengkan kepalanya. "Mengapa keras kepala mu tidak hilang?"


Belum sempat Alana menjawab, ia langsung melepaskan pelukannya dari Alan, menghampiri sang papa yang baru kembali dari kantor "Papa!"


Revan memeluk anaknya, hanya Revan yang memanjakan Alana di rumah ini. Yang lainnya, hanya fokus kepada Khanza "Kesayangan papa, kamu tahu nak? Papa begitu sangat lelah namun setelah melihat kamu dan kamu memeluk papa seperti ini. Lelah papa seketika hilang,"


Alana semakin mengeratkan pelukannya, cinta pertama anak perempuannya hanyalah seorang ayah.


"Papa udah makan?" Alana begitu sangat perhatian kepada papanya, Revan menggeleng. Ia pun mengajak putrinya untuk makan bersama.


"Kita makan yuk?" Revan menggendong tubuh mungil Alana, walau Alana sudah remaja. Namun tubuhnya mungil dan imut.


"Anak papa sudah sebesar ini sekarang,"


Revan mengajak putranya Alan untuk makan bersama, namun Alan mengatakan jika dirinya masih kenyang "Papa makan terlebih dahulu saja dengan Alana. Alan masih sangat kenyang!"


Revan pun pergi meninggalkan putranya, menuju meja makan. Revan mendudukkan putrinya di meja makan, ia pun menyiapkan makanan untuk keduanya yang di bantu oleh pelayan.


"Papa tau enggak? Tadi Khanza tidak sadarkan diri di sekolah," ucapan anaknya berhasil membuat Revan menghentikan makannya "Tidak sadarkan diri? Apa yang terjadi?"


Mata Alana berkaca-kaca, ia takut papanya akan marah. Namun papa Revan juga harus mengetahui apa yang sudah terjadi. "Ini semua kesalahan Alana, pa! Alana dan mama sedikit berdebat. Lalu Khanza mendengar semua percakapan kami, mungkin ia kaget dan tidak bisa menerima kenyataan jika dia bukan anak kandung mama,"


Revan terdiam, Alana meminta maaf kepada papanya "Pa, maafin Alana ya? Alana enggak bermaksud membuat Khanza sedih. Alana hanya ingin Khanza menerima kenyataan aja,"


Revan tersenyum, dan mengelus rambut anaknya dengan lembut "Ini semua bukan kesalahan kamu, maksud kamu itu baik. Lagipula, kamu tidak mengatakan itu kepada adik mu secara langsung! Dia hanya mendengar percakapan Alana dengan mama saja,"


Alana tersenyum, memang hanya papanya yang bisa memahami dirinya. Sedangkan yang lain, hanya memikirkan tentang perasaan Khanza tanpa memikirkan dirinya.


"Alan tadi juga memarahi Alana, katanya Alana itu orang yang sangat egois"


Alana menangis, mengadu kepada papanya. Membuat Revan merasa geram, ia pun meninggalkan meja makan meminta Alana untuk menunggu sebentar.


"Alan!"


Revan memanggil putranya dengan kemarahan, Shinta dan Syifa yang mendengar teriakan Revan langsung keluar.


"Khanza sayang, kamu di sini saja ya? Jangan keluar ya nak?" Shinta mengecup kening Khanza. Lalu ia menutup pintu kamar Khanza.


Alan pun menghampiri papanya, "Ada apa, Pa? Mengapa papa berteriak?"

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan kepada adikmu sehingga dia menangis?"


Alan langsung tersenyum sinis, ia tahu jika Alana pasti mengadu yang tidak-tidak kepada papanya "Jawab pertanyaan papa Alan!"


Shinta menepis tangan suaminya saat tangan Revan mencengkeram kera baju Alan.


"Apa-apaan ini, kau pulang dan marah tidak jelas kepada anakku!"


Shinta berteriak kepada suaminya, Alan mengendus dengan kesal."Kau selalu saja membela anak mu ini, dia begitu kurang ajar kepada saudara kembarnya sendiri!"


Syifa menenangkan papanya "Papa tenang terlebih dahulu, papa jangan marah tanpa alasan. Sebelum papa marah, sebaiknya papa mendengarkan penjelasan dari Alan!"


Revan terdiam, ia mengajak anak dan istrinya menuju ruang makan. Terlihat Alana makan dengan lahap, tanpa memikirkan ucapan yang membuat papanya marah "Papa dari mana? Lama sekali!"


"Maaf sayang, papa mengajak mama dan saudara-saudara mu untuk makan bersama,"


Revan mengatakan itu dengan lembut pada Alana, Alana menatap Alan yang sepertinya kesal "Alan, kamu kenapa? Kok terlihat kesal?"


Alan tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya dari Alana.


Shinta, Alan dan Syifa pun duduk, begitu juga dengan Revan.


"Sekarang, papa mau tahu kejadian yang sebenarnya!"


Belum sempat Shinta menceritakannya Revan sudah memotong "Iya, aku sudah tahu itu! Dan Khanza tidak sadarkan diri karena mendengar percakapan dari Alana!"


Shinta mengangguk "Lalu, apa yang kau permasalahkan sekarang?"


"Mengapa Alan menyalahkan Alana dan mengatakan Alana egois?"


Alan tertawa, ia tidak menyangka jika papanya sangat menyayangi Alana "Itu alasan papa ingin memukul ku? Apa menurut papa dia tidak egois? Dia hanya memikirkan perasaannya tanpa memikirkan perasaan orang lain! Dan ya, saat aku tadi berusaha meminta maaf dan memeluknya apakah Alana menceritakannya kepada papa? Di saat aku mengatakan untuk Alana fokus dengan ujian akhir nanti apakah dia mengatakan itu? Tidak! Alana hanya mengatakan kesaktiannya, namun tidak pernah menceritakan kasih sayang orang kepadanya!"


Alan pergi dari meja makan, Revan terdiam.


"Lihat lah! Kau begitu menyayangi putri mu sehingga kau melukai hati putra mu sendiri!" Shinta langsung pergi meninggalkan suami dan anak-anaknya.


Shinta mengejar putra nya, ia merasa jenuh jika terus seperti ini.


"Apa kalian enggak sayang sama mama? Setiap hari selalu saja ada pertengkaran dan kesalahpahaman, mama ini semakin tua. Bukannya mama melihat kekompakan anak-anak mama namun malah perseteruan antara anak-anak mama sendiri!" Shinta terisak mengatakan itu kepada putranya Alan, hanya si kembar yang selalu berdebat dan membuat keluarga menjadi selisih paham.

__ADS_1


Namun Shinta tahu, jika Alan tidak bersalah. Alana yang selalu membuat masalah, namun ia tidak berdaya sebagai seorang ibu. Alana juga anaknya.


Alan langsung memeluk mamanya "Ma, Alan enggak pernah mau seperti ini. Tetapi, Alan juga capek ma! Alan capek karena papa selalu saja membela Alana tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Alan!"


"Mama sangat tidak beruntung, orang lain di usianya yang sudah mulai tua melihat anak-anaknya hidup damai dan bahagia. Sedangkan mama? Selalu melihat anak-anak mama bertengkar,"


Syifa, Alana dan juga Revan menghampiri Shinta, Revan ingin memeluk istrinya namun Shinta menolak.


"Sudah lah! Memang nasib ku yang kurang beruntung! Kalian hanya memikirkan kemarahan dan perasaan kalian sendiri, tapi apa pernah kalian bertanya kepada mama apakah mama bahagia? Atau mama sedih? Tidak! Kalian melakukan apa yang kalian inginkan saja!"


Shinta mengungkapkan segala kesedihannya, menurutnya anak-anak dan suaminya sudah begitu menyakiti hatinya


"Mama selalu berusaha adil kepada kalian, kamu Alana! Setiap kamu membuat kesalahan, apakah mama pernah menegur kamu? Pernah mama memarahi mu? Bahkan di saat kamu membuat adik mu tidak sadarkan diri karena ucapan kamu yang sembarangan. Mama tidak pernah menghakimi kamu! Bahkan saat Alan memarahi mu karena perbuatan salah mu, mama masih membela kamu!"


"M-ma, maafin Alana! Alana selalu saja membuat mama sedih,"


"Semuanya selalu membuat mama seperti ini. Kalian tidak pernah memikirkan perasaan mama, terutama papa mu. Emosinya selalu saja meledak-ledak bahkan melakukan hal yang seharusnya bisa di lakukan dengan tenang! Apa semuanya harus di selesaikan dengan cara marah-marah? Menggunakan emosi dan kekerasan? Tidak!"


"Mama, tenang lah! Jangan menangis, mama selalu mengatakan jika kita harus menghadapi semuanya dengan ketenangan bukan? Sekarang, mama tarik nafas perlahan lalu lepas buang dengan tenang ya ma?"


Syifa meminta adiknya Alan untuk mengambilkan segelas air minum, lalu Syifa meminta mamanya untuk meneguk air yang sudah Alan bawakan "Mama minum dulu! Alan sudah membawakannya untuk mama, yuk ma di minum!"


Shinta meneguk segelas air yang sudah diberikan anaknya.


Syifa mengelus dada mamanya, ia tahu jika itu adalah keluhan perasaan yang selama ini Shinta pendam selama bertahun-tahun.


Syifa menoleh ke arah papanya "Papa, maaf kalau kakak lancang. Namun lain kali, sebaiknya papa mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak. Papa tahu jika Alan dan Alana selalu bertengkar sejak kecil. Kita sebagai orang yang lebih tua dari mereka, harus bisa membuat keduanya damai! Bukan malah ikut menghakimi salah satu dari mereka"


Lalu Syifa melihat ke arah Alana yang menangis "Alana enggak perlu menangis! Sudah ya? Alana enggak kasihan sama mama? Mama selalu sedih dengan sikap kamu yang seperti ini. Alana kan sudah besar dik, seharusnya Alana harus bisa berpikir lebih baik. Kebiasaan buruk saat masih anak-anak itu sebaiknya Alana buang! Alana enggak sayang sama mama? Sama Alan?"


"Sayang kak, sayang banget!" Alana menjawab dengan suara yang lantang. Syifa mendekati adiknya "Kalau Alana sayang sama mama, sama Alan. Alana enggak bersikap seperti ini. Kakak tahu, di setiap hubungan persaudaraan pasti akan ada bertengkar nya. Tapi yang penting itu ringan, tidak bertengkar yang berlebihan! Selama Alan tidak pernah membuat Alana berdarah, Alana enggak perlu mengadu kepada papa dan mama."


Alana terdiam, Syifa pun menasehati adiknya Alan "Dan kamu Alan, kakak mohon! Jangan pernah muda terpancing emosi dan berkata kasar dengan Alana! Kita tahu bagaimana sifatnya, lebih baik kamu menghindar! Kakak enggak mau kamu terus di salahin, kakak sangat menyayangi kalian! Jangan kan mama, kakak sendiri pun merasa gila melihat adik-adik kakak bertengkar seperti ini!"


Alan dan Alana pun meminta maaf kepada mamanya, Shinta..


Shinta memeluk ketiga anaknya "Kalian ini hidupnya mama, jika kalian bertengkar mama sangat sedih. Mama hancur! Mama ingin anak-anak mama itu hidup rukun!"


"Iya, Ma! Maafin kita bertiga. Karena kita, mama menjadi sedih dan menangis!"

__ADS_1


Ujar ketiganya, Shinta pun mengangguk. Keadaan yang awalnya begitu panas kini sudah reda dan menjadi sejuk. Semua itu karena Syifa, Syifa memang selalu bisa mendamaikan dan mencairkan suasana.


"Ma, kakak harus pergi sebentar. Pekerjaan kampus kakak belum selesai," Syifa pun berpamitan kepada mamanya untuk masuk ke dalam kamar.


__ADS_2