Ibu Sambung

Ibu Sambung
Tidak Melupakan


__ADS_3

"Alana, kan kakak Raisa nya sudah meminta maaf. Kalau orang meminta maaf kita harus apa?" tanya Syifa dengan lembut.


Alana hanya diam, menatap Raisa dengan mata yang berkaca-kaca.


Raisa pun perlahan mendekati Alana, ia tahu jika diri nya sendiri lah yang harus berbaur dengan keluarga kakak nya.


Apalagi, Alan dan Alana masih sangat kecil, jika mereka tidak menyukai nya maka tidak akan ada yang bisa memaksa.


Raisa berjalan mendekati Alana, ia pun memegang ke dua kuping nya.


"Maafin kakak ya kalau kakak sudah membuat Alana kesal, bagaimana jika besok kakak akan membeli kan Alana ice cream?"


Mendengar kata ice cream, Alana pun bersemangat. Namun, ia berpura-pura tidak tertarik. Alana memang anak yang penuh dengan drama.


Syifa dan Alan sudah mengenal baik sifat adik mereka itu, Syifa pun hanya menggeleng kan kepala nya.


"Kak, jika Alana tidak mau. Bial ice nya untuk Alan aja."


Alana melirik ke arah saudara kembar nya itu, ia merasa kesal dengan ucapan Alan. Namun, Alana sangat gengsi untuk mengatakan ia ingin di belikan Ice cream.


"Kakak kan ingin membelikan aku, Kenapa halus untuk Alan?" ujar Alana dengan nada yang menggemaskan...


Raisa, Syifa, dan Alan hanya menahan tawa mereka. Alana memang sungguh menggemas kan sekali.


Syifa mengajak adik-adik nya untuk istirahat karena hari juga sudah mulai malam.


"Kak apakah kita menginap di sini? Besok bagaimana kita sekolah?"


Mendengar pertanyaan Raisa, membuat Alan dan Alana sakit perut, bisa-bisa nya Raisa melupakan jika besok adalah hari Minggu. Raisa bingung mengapa ke dua adik nya itu tertawa.


Syifa pun memberitahu Raisa jika besok adalah hari Minggu. Raisa menepuk kening nya, bagaimana ia bisa lupa dengan hari.


"Kakak memang lucu." ujar Alana secara tiba-tiba membuat Alan dan Syifa senang.


Tanda nya, Alana sudah mulai menerima Raisa sebagai kakak nya juga. Raisa pun merasa terharu. Alana yang sadar, kembali bersikap cuek.


"Alana cuman bilang lucu aja!" ucap nya dengan ketus, lalu dengan langkah yang menggemaskan. Alana mendekati tempat tidur dan segera naik untuk tidur.


"Alana, apa Alana sudah menggosok gigi, Dan mencuci kaki?" tanya Syifa. Alana pun menatap kakak nya lalu menggeleng. Syifa pun mengajak ke dua adik nya itu untuk mencuci muka, kaki, dan menggosok gigi sebelum tidur.


Raisa melihat kakak nya yang begitu sangat telaten mengurus Alan, Alana. Wajar saja, jika ke dua kembar itu sangat dekat dan menyayangi Syifa. karena, kakak nya begitu sangat baik dan perhatian.


Raisa berfikir, andai dia masih kecil seperti Alan dan Alana. Pasti Syifa akan menjaga nya seperti itu juga.


Raisa mengingat saat dulu, Amira sering sekali mengganggu nya. Syifa dengan kesal melawan geng Amira yang terkenal sangat nakal demi membela diri nya. Bahkan, Syifa juga rela di tampar oleh guru hanya karena diri nya.


Syifa memang sangat mirip dengan mami mereka begitu sangat lembut dan penyayang. Tanpa, Raisa tahu, sebenarnya sifat penyayang dan perhatian Syifa turun dari ibu sambung nya Shinta.


Kebaikan, kasih sayang, dan cinta yang tulus di berikan oleh Shinta membuat Syifa menjadi anak yang begitu memiliki jiwa penyayang. Walau ia hanya seorang kakak dan masih kecil, Syifa memiliki sifat keibuan seperti Shinta.


Hanya saja, Syifa orang yang sangat pendiam jauh berbeda dengan ibu sambung nya yang begitu bar bar.


******


Di dalam kamar, Shinta merasa sangat senang karena Caca sudah kembali berbahagia dengan keluarga nya.


"Sudah aku katakan kemarin, mereka akan baik-baik saja. Arvan begitu sangat menyayangi Caca. Dia tidak akan bisa marah lama-lama pada isteri nya, rasa kecewa nya itu sangat wajar. Bahkan, jika aku di Posisi Arvan aku akan melakukan hal yang sama."


"Sayang, apa kau tahu? ini semua juga karena kerja keras anak kita, Syifa dan juga Raisa.. Anak-anak kita sungguh luar biasa, mereka merencanakan sesuatu dengan sangat baik."

__ADS_1


Revan menatap isteri nya, dia tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Shinta.


"Apa maksud mu, sayang?" tanya Revan dengan wajah yang penasaran.


Shinta pun menjelaskan apa yang terjadi di rumah Caca, bagaimana Syifa dan Raisa membuat Caca dan Arvan kembali berbaikan..


"Bahkan, Syifa rela mengorbankan diri nya..Kau tahu kan, jika anak kita sangat takut dengan film yang berbau tentang hantu. Jangan kan menonton nya, mendengar cerita yang seram aja Syifa bisa tidak bisa tidur karena takut membayangkan itu. Ini, Syifa rela menonton film horor di bioskop demi Caca dan Arvan bisa dekat. Syifa tahu, jika Caca juga takut film horor, itu menjadi kesempatan untuk Caca dan Arvan bisa dekat."


Mendengar hal itu, Revan begitu senang dan bangga kepada Puteri nya.


Ia tidak menyangka, jika Syifa bisa melakukan hal sejauh itu.


"Syifa memang anak yang penuh dengan perhatian. Demi kebahagiaan orang tua nya, dia rela berkorban. Aku sungguh bangga padanya."


"Iya, sayang. Aku juga bangga pada nya, saat Caca menceritakan ini pada ku. Awal nya aku sangat khawatir. Namun, aku memandang dari sudut lain. Ini sebuah pengorbanan yang luar biasa. Niat baik anak kita berbuah dengan manis. Lihat lah, sekarang Caca dan Arvan sudah berbaikan dan juga terlihat sangat bahagia.. Jauh sekali, dari kemarin."


"Iya, kau benar. Dan lebih baik, kita tidak selalu membicarakan tentang mereka atau mereka akan tersedak nanti nya."


Shinta pun tertawa mendengar ucapan suami nya itu.


Revan juga mengatakan jika ia dan Shinta harus lebih fokus dengan rumah tangga mereka, jangan terlalu fokus dengan rumah tangga Caca. Biarkan mereka yang menjalani nya sendiri, Revan berharap jika Caca Akan terus bahagia, dia isteri dan ibu yang sangat baik. Caca sudah banyak berkorban demi dia dan juga Syifa. Revan berharap yang terbaik untuk Caca.


Namun, ia ingin fokus kepada keluarga kecil nya sendiri. Bagaimana cara nya terus membuat isteri dan anak nya bahagia. Dan menghindari pertikaian-pertikaian yang terlalu hebat.


"Aku juga ingin itu, tapi bagaimana lagi terkadang suami ku begitu sangat menyebalkan."


"Aku? Kau yang begitu menyebalkan..Selalu mempermasalah kan hal yang kecil."


"Enak saja! Kau yang selalu memulai nya."


Baru saja di katakan, ke dua pasangan ini sudah berdebat hanya karena masalah kecil, Shinta pun cemberut, memonyongkan mulut nya ke depan..


Kelakuan pasangan ini sungguh sangat aneh, sebentar mereka akan berdebat dan tak membutuhkan waktu lima menit sudah berbaikan dan tertawa.


Shinta begitu bersyukur, walau pun Revan orang yang sangat pemarah tapi suami nya itu tidak pernah sedikit pun bermain tangan pada nya. Ia juga berharap, Agar Arvan dapat berubah dan tidak main tangan lagi kepada Caca.


Shinta ingin ke dapur mengambil persediaan minum untuk ia dan suami.


Di dapur, Shinta tidak sengaja berpasan dengan Arvan, ia pun tak memperdulikan Arvan. Shinta menuang kan air minum ke dalam wadah yang sudah ia bawa.


"Ta." panggil Arvan dengan perlahan, Arvan tahu jika Shinta masih kesal dengan diri nya.


Arvan pun meminta maaf kepada Shinta karena sifat nya kemarin yang begitu keras kepala.


"Ta, aku menyesal. Sangat menyesal, tolong maafkan aku. Ucapan mu sangat benar, namun aku tidak memperdulikan nya..Maaf kan aku karena sudah membuat mu kecewa. Tolong, jangan marah lagi padaku adikku." ujar Arvan dengan sepenuh hati.


Shinta menoleh ke arah Arvan, menatap ketulusan Arvan yang merasa menyesal. Shinta pun tersenyum, ia sudah memaafkan Arvan dan dia meminta kepada Arvan untuk tidak melakukan kesalahan lagi.


"Aku sudah memaafkan mu dan aku berharap, kau tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku tahu, jika Caca bersalah. Namun, aku berharap kau bisa bersikap baik padanya. Kau bisa menghukum segala kesalahan nya tanpa harus main tangan. Van, aku sudah menganggap mu sebagai kakak ku. Dan, aku menyayangi Caca seperti saudara ku sendiri, aku tidak bisa melihat nya menderita karena keegoisan mu."


"Iya, aku sungguh menyesali segala nya. Aku berfikir, di sini kau lah yang paling kekanakan. Tapi, aku salah ta. Bukan kau yang kekanak-kanakan. Tetapi, aku! Aku yang begitu sangat labil. Bahkan, aku jauh lebih tua dari mu tapi sifat mu lebih dewasa dari ku."


"Sudah lah, lupakan yang lalu. Perbaiki segala kesalahan di masa lalu. Sekarang, kau bukan hanya Daddy dari Syifa dan Khanza saja. Kau juga Daddy dari Raisa. Kau Daddy dari tiga anak, lindungi anak dan isteri mu. Jangan biar kan pengaruh jahat masuk ke dalam keluarga mu."


"Iya, Aku berjanji akan menjadi lebih baik lagi."


"Jangan berjanji! Kau hanya perlu membuktikan segala nya. Dulu, kau juga sudah pernah berjanji namun kau mengingkari nya. Aku tidak mempercayai janji mu lagi, maaf kan aku." Shinta pun berlalu pergi meninggalkan Arvan yang sendirian di dapur.


Arvan menatap kepergian Shinta, ia pun berjanji kepada diri nya sendiri tidak akan mengecewakan orang-orang di sekitar nya terutama isteri nya Caca

__ADS_1


.


Arvan kembali masuk ke dalam kamar, terlihat Caca yang sudah beristirahat dengan lelap. Arvan memandangi wajah Caca yang begitu cantik dalam tidur nya.


Arvan fokus kepada tanda merah di kening Caca, tadi siang dia tidak melihat bekas itu.


Arvan mengingat jika dia pernah mendorong Caca sampai dahi Caca berdarah. Mungkin, itu bekas nya namun Caca menutupi nya dengan make-up agar tidak ada yang melihat nya.


Arvan semakin merasa bersalah, bisa saja Caca menunjukan itu di depan semua orang dan membuat suami nya terpojok. Namun, Caca tidak melakukan itu.


Bahkan, ia menutupi nya dengan bagus tanpa ada yang menyadari termaksud Arvan, jika Caca tidur tidak menghapus make-up nya mungkin Arvan juga tidak akan melihat bekas luka itu.


Arvan pun meneteskan air mata nya, ia mencaci diri nya sendiri yang begitu bodoh dan pengecut. Bahkan, ia tidak pantas di sebut sebagai seorang pria.


Karena sejati nya seorang pria adalah ia yang tidak menyakiti seorang wanita.


Caca yang begitu nyenyak tidur pun menggeliat kan tubuh nya, membuat luka itu semakin jelas terlihat oleh mata Arvan.


Arvan dengan langkah perlahan mendekati Caca, semakin dekat dan semakin terlihat jelas luka itu.


"Maafkan aku, sayang." Arvan yang tak kuasa menahan tangis nya pun langsung memeluk Caca.


Caca tersentak ketika mendengar isakan tangis, ia merasa jika diri nya bermimpi. Namun, baju nya basah karena air mata Arvan. Ia pun membuka mata nya, melihat Arvan sedang menangis di pelukan nya.


Dengan lembut, Caca memegang kepala suami nya. Arvan dengan wajah yang berantakan dan penuh penyesalan pun mantap mata isteri nya.


Mulut nya tiada henti mengatakan maaf, maaf dan maaf.


"Sayang, ada apa? Mengapa kamu menangis? Dan kenapa kamu meminta maaf?"


"Aku sungguh menyesal, sayang. Aku sudah terlalu menyakiti mu."


"Tidak, mengapa kau mengatakan itu?" Caca mengelus rambut suami nya dengan lembut.


Arvan pun semakin terluka, ia memahami betapa menderita nya sang isteri beberapa hari ini karena diri nya. Bukan hanya fisik, namun juga dengan mental dan hati.


Semua nya terluka, Caca menderita karena diri nya. Arvan merasa menjadi suami yang tidak pantas untuk Caca..


Dia selalu saja memberikan Caca nasib yang sangat buruk. Dulu, dia sudah menyiksa Caca karena memisahkan Caca dari Syifa.


Sekarang, dia juga melakukan kesalahan yang sama.


Caca menenangkan suami nya itu, dan mengatakan jika hari-hari buruk itu sudah berlalu.


"Sudah ya? Jangan bicara seperti itu, biarlah semua menjadi pemahaman untuk kita agar di masa yang akan mendatang kita tidak akan melakukan kesalahan lagi.".


Arvan pun terdiam, Caca dengan lembut menenangkan suami nya itu seperti menenangkan seorang bayi.


"Apakah kau mau memaafkan ku, sayang?" tanya Arvan kembali kepada isteri nya. Walau Arvan orang yang sangat keras, namun ia juga pria yang sangat bucin lebih bucin dari Revan.


Menangis di depan isteri bukan lah suatu kelemahan bagi nya. Berbeda dengan Revan yang cuek dan gengsi jika harus mengungkap kan perasaan nya kepada Shinta.


"Aku selalu memaafkan mu, sebelum kau meminta maaf pada ku, sayang. Karena ini bukan lah kesalahan mu. Aku memang salah. "


"Tidak! ini tidak sepenuh nya kesalahan mu. Jika aku tidak menyakiti mu waktu itu, dan membuat mu bahagia pasti kau tidak akan melakukan itu.. Ini salah ku yang terlalu egois."


"Ini bukan lah salah kita, tapi ego kita yang membuat kita melakukan kesalahan. Dan sebagai orang tua, kita akan menjadi yang terbaik dan menebus segala kesalahan kita di masa lalu kepada anak-anak kita, memberi kan apa yang tidak pernah Kita berikan selama ini. Seperti kasih sayang, dan perhatian untuk Raisa." ujar Caca


Arvan pun menolak ucapan isteri nya. Bukan hanya Raisa, namun juga kepada Syifa.

__ADS_1


Karena mereka juga kurang memberikan perhatian kepada Syifa. Caca pun tersenyum bahagia, karena Arvan tidak pernah melupakan anak nya dengan Revan.


__ADS_2