Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 33


__ADS_3

Caca masih menatap mata papanya, airmatanya terus saja bercucuran sangat deras. Hati Brian sangat kacau melihat Caca yang seperti ini


"Kamu mau apa hmm?" mencoba menenangkan Puterinya.


"Pa, Caca mohon bantu perobatan Revan. Sa...at ini dia sedang lemah dan butuh perobatan segera pa hikss...." Ucap caca.


"Tidak!" belum sempat Brian berkata, Elsa sudah membantahnya deluan.


"Ma, aku mohon" bangkit dan ber sujud dihadapan mamanya. Caca terus saja menangis dan memegang kaki mamanya. Elsa sejenak berfikir.


"Baiklah, mama akan membantu membiayai perawatan Revan tapi ada syaratnya" ucap Elsa


"Kamu harus meninggalkan Revan dan juga anak yang di perutmu. Lalu menikahlah dengan Arvan"


"Cukup ma! Apa kau tega memisahkan Caca dengan anaknya " bentak Brian. Brian memopong tubuh Caca untuk bangkit dan membawa Puterinya duduk di tempat tidur, Caca hanya bisa menangis.


"Ti...tidak ma, aku tak kan pernah meninggalkan mereka, aku akan mencari cara agar mencari biaya perawatan suamiku" Ucapnya tegas. Caca segera bangkit dan ingin pergi meninggalkan ruangan rumah sakit, namun belum sempat keluar Caca merasakan sakit perutnya yang sangat luar biasa. Dia teriak sekuatnya memegang perutnya yang menegang, sontak hal itu membuat Elsa dan Brian melihat kearah Puteri mereka. Caca terjatuh di bawah lantai dan air ketuban nya pecah.


"Awwww" Teriak nya sambil menangis, Brian menggendong tubuh anaknya kedalam ketempat tidur, sedangkan Elsa memanggil perawat. Elsa berjalan dengan panik, ia berteriak sesukanya agar perawat dengar.


"Sakit pa, hikss" Caca sudah menangis dari tadi, ia tak tahan dengan rasa sakit di perutnya, apalagi memikirkan keadaan Revan yang sedang kritis.


"Bertahan lah sayang" Brian menggenggam tangan Puterinya, tak lama perawat dan dokter datang

__ADS_1


"Air ketubannya sudah pecah, sebaiknya Caca harus di operasi dengan segera sebelum air ketubannya habis, dan bayi nya tak terselamatkan" Penjelasan dokter.


"Tunggu dok, saya ingin berbicara terlebih dahulu kepada anak saya" Ucap Elsa dengan dingin. Dokter dan perawat meninggalkan mereka di ruangan


"Kamu mau bicara apalagi ma, anak kita harus di operasi" geram Brian.


"Jangan ikut campur!" Elsa berteriak kepada Brian


"Mama akan membiayai semua perawatan mu, anakmu, dan juga suami asal kau terima syarat dari mama"


"Ini sudah keterlaluan! anak dan cucumu sedang membutuhkan perawatan sekarang. Tapi kau malah sibuk memikirkan obsesi mu" Teriak Brian


"sudah kukatakan jangan ikut campur! Kau lelaki tak berguna sebaiknya diam saja!" ucap Elsa kepada sang suami, Brian tak pernah berkutik apapun perkataan Elsa karena selama ini Elsa dan keluarganya yang sangat berjasa dalam kehidupan Brian. Apalagi Brian hanyalah anak yatim piatu yang di pungut oleh orang tua Elsa yang seorang milyarder. Kekuasaan kedua orang tua Elsa membuat ia menjadi wanita yang sangat angkuh dan sombong. Brian bungkam seribu bahasa ia hanya bisa memeluk anaknya yang masih menangis di pelukkanya.


"Pikirkan tentang janin yang ada di perutmu, kau dengar sendiri bukan. Jika telat sedikit lagi bayimu bisa tidak selamat dan kau penyebab kematian anakmu atas keegoisanmu" Elsa mencoba memperngaruhi anaknya.


"Mama tidak perduli pada dia! mama tak Sudi memiliki keturunan dari lelaki tak berguna seperti itu" Caca hanya histeris mendengarkan ucapan mamanya, ia tak menyangka mama yang selama ini dia sayangi begitu sangat kejam terhadap anak yang ada di perutnya.


"Pikirkan ini! jika kau menerima syarat dari mama, bukan hanya biaya rumah sakit aj yang mama tanggung, mama akan memberikan Revan rumah,perusahaan yang layak untuk dia dan anakmu. Untuk masa depan anakmu, mama tidak egois mama akan menjamin masa depan anakmu jika kau menuruti kata mama" Caca memikirkan kata kata mama nya.


"Kau jangan egois! Apa kau tega melihat anakmu mati, dan suami mu yang tak berguna itu mati karena tak ada penanganan dari dokter? Mama sih senang senang saja, karena itu yang mama mau. Tapi kau tidak bisa melihat mereka lagi, dan penyebab itu semua adalah karena keegoisan mu sendiri! Tapi jika kau menerima syarat dari mama, mungkin mereka akan membencimu namun keselamatan mereka terjamin, kehidupan yang layak mereka akan bahagia dan kau bisa melihat mereka kapan saja. Pikirkan ucapan mama kembali" Elsa ingin meninggalkan anak dan suaminya di ruangan itu


"Tunggu ma" Elsa menoleh kehadapan Caca.

__ADS_1


"Baiklah, aku setuju" Elsa tersenyum bahagia, dia menghampiri anaknya dan memeluk dan mencium anaknya. Caca tak menolak ia hanya bisa menangis, dan Brian tak berdaya melihat ini semua. Elsa keluar dan memanggil perawat dan dokter, dokter membawa Caca ke ruangan operasi. Sejam berlalu, Caca keluar dari ruangan operasi, perawat membawanya keruangan VVIP bersama Puteri kecil nya. Lahirnya Syifa, Caca mencium Puteri nya sambil menangis, ia sangat terharu akhirnya anak yang ia tunggu-tunggu selama 9 bulan ini lahir ke dunia, namun ia juga sedih sebentar lagi akan kehilangan suami dan anak tercinta nya.


"Mama melakukan ini demi kebaikanmu sayang" gumamnya dalam hati.


2 Minggu kemudian.


Caca sudah tinggal dirumah kecilnya bersama Puteri dan juga Revan. Keadaan Revan juga sudah membaik, Elsa menepati janji nya kepada sang Puteri. Namun Elsa belum memberikan rumah dan juga perusahaan karena Caca belum meninggalkan Revan dan Syifa.


"Kapan kau akan meninggalkan mereka?" pesan masuk dari Elsa.


"Segera ma, aku akan menepati janjiku. Mohon bersabarlah! aku hanya ingin mencari alasan yang tepat" Balas Caca. Tak lama kemudian ada suara ketukan pintu dari luar, Caca membukakan pintu rumahnya dan orang itu ternyata adalah Arvan . Tanpa izin dari Caca ia langsung memeluk dan mencium kening Caca, Caca kaget dan mendorong tubuh Arvan


"Jangan kurang ajar!" Teriak Caca.


"Aku calon suamimu, aku berhak melakukan apa saja yang aku mau" memeluk Caca lagi


"aku masih bersuami, kau jangan gila!"


"Kalau begitu tinggalkan suamimu dan menikah segera denganku" Revan keluar rumah, dan melihat Arvan yang memeluk Caca, Arvan mengetahui keberadaan Revan dan dengan lancangnya ia mencium bibir Caca. Itu membuat Caca sangat kaget


"Penghianat" Teriak Revan dari dalam, ia keluar. Revan menggertakan giginya dengan geram. Ia melihat wanita yang ia cintai berselingkuh di hadapan matanya.


"Kau sudah tau semuanya sobat, maaf kan kami. Tapi Caca mencintaiku, ia tak kuat hidup susah bersamamu" Arvan menarik tubuh Caca dan memeluk nya di depan mata Revan, ia hanya bisa menangis. Lagi lagi Arvan mencium Caca dari samping dan membisikkan nya sesuatu yang membuat Caca hanya diam tak berkutik.

__ADS_1


"Maafkan aku Revan, aku harus pergi. Aku mencintai Arvan" akhirnya Caca membuka suara dan pergi meninggalkan Revan dan juga putrinya yang belum genap berusia 1 bulan.


flashback end.


__ADS_2