Ibu Sambung

Ibu Sambung
Tidak Merasa Takut


__ADS_3

Setelah selesai membuat kan teh, ke dua nya langsung mengantarkan teh dan beberapa cemilan makanan ringan.


Shinta duduk di samping suami nya, begitu juga dengan Caca. Mereka berbincang dan bercanda bersama, mereka ber-empat sengaja berada di ruang keluarga agar jika ayah dan ibu membutuhkan sesuatu mereka langsung tahu. Jika mereka ada di kamar. Tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi pada ayah dan Ibu.


Shinta masih penasaran dengan orang yang memantau rumah orang tua nya. Tidak biasa nya, seperti itu..


Shinta juga tahu, jika Ayah dan Ibu nya tidak pernah memiliki musuh selama ini..


"Siapa yang sudah memantau rumah ayah dan ibu? Dan apa tujuan mereka?"


Revan memandangi wajah sang isteri, ia tahu jika Shinta kepikiran dengan masalah tadi.


"Jangan khawatir, itu sebab nya aku tidak ingin memberitahu kalian. Aku takut, jika kalian merasa cemas begini. Ingat, kondisi ibu yang seperti ini sangat membutuhkan kita. Jika kalian seperti ini, ibu akan sedih dan mungkin bisa lebih drop."


Revan menoleh ke arah Arvan, ia pun setuju dengan ucapan Arvan.


"Yang di katakan oleh Arvan itu memang lah benar, kita harus jauh lebih kuat dan berani untuk Ayah dan Ibu. Jika kita lemah, dan terus merasa khawatir Ibu dan Ayah pasti juga akan merasa cemas, dan kondisi kesehatan ibu akan memburuk."


"Sayang, aku memutuskan untuk kita beberapa hari menginap lebih lama lagi. Aku mohon, aku ingin menjaga ibu sampai ibu benar-benar sembuh." pinta Shinta kepada suami nya, memeluk Revan dengan begitu manja.


"Iya, sayang. jika kau mau, kita akan tinggal di sini selama kau ingin."


"Terimakasih, sayang." Shinta mengeratkan pelukan nya kepada sang suami. Ia juga meminta kepada Caca dan Arvan jika bisa lebih lama lagi menginap di sini. Caca tak menjawab, ia hanya melihat ke arah suami nya.


Apapun keputusan Arvan, Caca hanya bisa menurut. Dia juga ingin menjaga Ibu Syafa sampai sembuh total, namun jika suami nya keberatan. Ia tidak bisa melakukan apapun, karena baginya perintah suami itu adalah hal yang harus di turuti.


Arvan pun mengangguk setuju, membuat senyuman manis terukir indah di wajah Caca.


"Terimakasih, sayang." ujar Caca kepada suami nya, ia merasa senang karena memiliki suami yang begitu pengertian..


Arvan mengatakan, Jika ia akan terus mendukung apapun keinginan Caca selama itu hal yang positif.


"Pemasangan Cctv dan juga pagar seperti nya akan di lakukan sebentar lagi. Setelah keamanan semakin di perketat, kita tidak perlu khawatir saat anak-anak pun ingin bermain di luar halaman."


********


Di dalam kamar, Alana merasa bosan hanya di dalam kamar saja. Alana mengajak kakak-kakak nya untuk bermain di luar namun Raisa dan Syifa belum berani. Bukan Syifa, tapi hanya Raisa.


Namun, tak mau Alana membenci Raisa. Syifa mengatakan jika diri nya lah yang takut.


"Adik, nanti saja ya?"


"Memang nya kenapa kakak? Kan ada Mama, Papa, Daddy dan Mami di lual. Meleka juga pasti akan melihati kita belmain kok. Ayo kakak."


"Alana, sayang. Nanti aja ya?" Alana menatap tajam wajah Raisa. Ia kan bicara kepada Syifa, mengapa Raisa yang harus menjawab. Alana tidak menyukai hal itu.


"Alana kan bicala sama kakak Syifa, bukan pada kak laisa. Jadi, kakak diam aja!" ketus Alana.


Alan dan Syifa pun menegur Alana dengan lembut.


"Alana, sayang. Alana nggak boleh bicara seperti itu kepada kak Raisa. Kakak Raisa itu kak kakak nya Alana juga, sayang. Nggak boleh begitu ya, kalau mama dan papa tahu mereka pasti akan marah kepada Alana."


"Iya, Alana. Jangan sepelti itu! Mama bisa malu dengan sikap mu, mama tidak pelnah mengajali kita untuk belsikap kulang ajal dengan yang lebih tua."


"Tapi, Alana nggak cuka kalau Alana bicala dengan siapa, yang jawab siapa."


"Iya, Alana. Maaf kan kakak ya, kakak melakukan kesalahan lagi."

__ADS_1


"Tadi kakak juga meminta maaf, tapi kakak mengulangi nya."


"Maaf, Alana. Kakak sungguh tidak sengaja, Alana mau kan maafkan kakak? Baik lah, Alana mau bermain di luar?"


Tanya Raisa yang membujuk Alana, Alana pun mengangguk. Karena ia begitu bosan berada di dalam kamar terus, kamar di rumah nenek dan kakek nya tidak sebesar di kamar mereka. Sebab itu, Alana menjadi tidak betah apalagi permainan nya hanya sedikit.


Raisa pun menggandeng tangan mungil Alana, mengajak Alana bermain di luar. Demi sang adik, ia melawan rasa takut nya. Jika orang jahat itu masih ada, ia akan memanggil Daddy nya untuk menemani mereka bermain.


Syifa, Alan mengikuti Raisa dan Alana yang menuju luar.


"Sayang kalian mau ke mana?" tanya Shinta yang melihat anak-anak menuju luar.


Raisa mengatakan jika Alana ingin bermain di luar, Shinta pun mencegah anak-anak, ia sangat takut jika terjadi apa-apa kepada anak-anak.


"Kalian kan bisa bermain di kamar, kenapa harus di luar sayang?"


"Alana sangat bosan mama, Kamal nya juga sempit. Alana mau pulang aja hiks."


"Sayang, Oma kan lagi sakit. Kita tidak bisa pulang, apa Alana tega membiarkan Oma sakit dan hanya tinggal bersama opa saja?" Alana menggeleng, ia mengatakan jika diri nya hanya bosan saja.


"Tidak, Papa. Tapi, Alana sangat bosan di Kamal telus, pelmainan nya juga sedikit tidak sepelti di lumah."


"Alana, kenapa kamu membanding-bandingkan di rumah dengan di sini?" kesal Shinta yang membentak anak nya. Caca menenangkan Shinta untuk tidak menggunakan emosi nya.


Saat ini, pikiran Shinta sedang kacau memikirkan kesehatan sang ibu, belum lagi dengan orang yang memantau rumah kedua orang tua nya. Sekarang, Alana bersikap sangat menyebalkan. Membuat emosi nya tidak stabil.


Caca bangkit, mendekati Alana dan memeluk Alana yang sedang menangis.


"Sayang, kenapa kau marah? Alana hanya mengatakan yang ia rasa. Kau bisa mengatakan nya dengan lembut tidak perlu membentak nya."


"Kau selalu saja memanjakan anak ini! Jika Alan atau Syifa yang melakukan kesalahan walau tanpa sengaja kau pasti akan membentak mereka, tapi jika Alana yang melakukan kesalahan kau tetap tenang. Lihat lah, sikap manja nya ini sungguh keterlaluan..Jika dia terus seperti ini, bisa-bisa kita bisa sengsara karena sifat manja nya!" Shinta yang begitu emosi pun berlalu pergi meninggalkan semua nya.


"Alana sayang, jangan menangis nak. Mama Shinta hanya sedikit lelah saja."


Revan bangkit dan mengejar isteri nya ke dalam kamar.


"Sudah aku katakan Alana, kau jangan manja dan mencali masalah. Lihat lah, mama dan papa pasti akan beltengkal." ujar Alan.


"Alan, sayang. Sudah ya nak? Kan Alana sedang menangis, seharusnya Alan menghibur Alana bukan malah memarahi nya." ujar Caca yang mencoba memberikan pengertian kepada anak-anak Shinta.


*****


Di dalam kamar, Shinta duduk dengan wajah yang sangat kesal. Revan menghampiri isteri nya.


"Jika kau datang dan hanya ingin marah, lebih baik kau keluar saja! Lagipula, aku begini juga karena sikap mu yang selalu mudah marah dan gampang membentak anak-anak." ujar Shinta yang memalingkan wajah nya dari sang suami.


"Tidak, aku tidak akan marah. Tapi, aku hanya mengingat ucapan mu yang selalu mengatakan kepada ku. Anak-anak tidak akan mengerti jika kita memberitahu nya dengan emosi, bukan nya berubah mereka akan semakin menjadi atau tidak akan mendengarkan ucapan kita lagi."


Shinta pun terdiam, ia menyadari kesalahan nya tidak seharus nya ia membentak Alana seperti tadi.


"Sayang, aku tahu. Sifat ku ini sangat pemarah, bahkan aku selalu memarahi anak-anak hanya karena masalah sekecil apapun. Jika, papa nya pemarah seperti itu apakah mama mereka juga harus seperti itu? Kasihan dong anak-anak kita, memiliki mama dan papa yang pemarah. Nanti, mereka tidak akan mau lagi dekat atau mendengarkan ucapan kita berdua, sayang. Aku tahu, kamu memiliki banyak pikiran, pikiran mu sangat kacau melihat kondisi ibu. Tapi, aku juga tahu jika isteri ku ini bukan lah ibu yang pemarah. Dia akan bisa menghadapi sifat anak-anak nya dengan tenang. Jangan lampiaskan emosi mu kepada anak-anak."


Shinta terdiam, memikirkan ucapan suami nya yang memang benar. Tidak seharus nya ia meluapkan kekesalan nya kepada anak-anak.


Alana juga tidak sepenuh nya salah, Shinta memang hidup di rumah yang sederhana. Walau ia tidak kekurangan, namun kehidupan nya tidak semewah yang sekarang.


Tapi Alana, ia sudah terbiasa dengan fasilitas dan kemewahan yang ada. Akan sulit bagi Alana, untuk tinggal di rumah orang tua Shinta yang rumah nya biasa saja.

__ADS_1


Alana hanya lah anak kecil, yang mengutarakan apa yang ia rasakan tanpa bisa berfikir dahulu sebelum berucap seperti yang di lakukan orang dewasa.


"Alana sangat menyayangi Oma dan opa nya aku yakin itu, dia hanya tidak nyaman saja dengan suasana yang seperti ini. Permainan yang tidak banyak, membuat nya kurang puas bermain di kamar. Berbeda dengan di rumah kita, walau hanya sebuah kamar namun permainan nya sangat lengkap dan kamar nya juga besar. Sayang, Alana masih terlalu kecil untuk memahami ini semua. Kenapa kau harus marah? Dia tidak mengatakan atau menghina Ibu dan Ayah."


Revan dengan lembut membuat isteri nya memahami apa yang Alana rasakan.


Shinta melihat ke arah suami nya, ia pun memeluk Revan dengan erat.


"Maaf kan aku, aku tidak bermaksud membuat Alana sedih atau membentak nya. Secara tidak sengaja, aku membentak anak kita. Pasti, Alana menangis sekarang."


"Sudah tidak apa! Jangan merasa bersalah, terkadang aku juga memarahi anak-anak seperti itu. Tapi, aku tidak ingin jika isteri ku yang sangat lembut ini bersikap kasar kepada anak-anak. Kau ibu yang sangat pengertian dan lembut, dan selama nya akan seperti itu. Jangan rubah diri mu."


Shinta pun mengangguk mengerti, Revan mengajak isteri nya untuk menemui yang lain nya. Shinta menuruti ucapan suami nya. Mereka kembali ke ruang keluarga menemui yang lain nya


Shinta mendekat Alana yang sedang menangis di pelukan Caca. Caca melepaskan pelukan nya dengan Alana.


Shinta langsung mengendong tubuh anak nya, dan mengecupi wajah sang anak. Lalu meminta maaf.


"Maafkan mama, sayang. Mama nggak bermaksud untuk membentak Alana seperti tadi, maaf kan mama ya, sayang?"


"Iy-Iya mama, Al-alana juga salah. Sudah membuat Mama malah, Alana janji tidak akan manja lagi." ujar Alana dengan terbata-bata.


Tangis nya sangat sedih, membuat Shinta semakin bersalah telah membentak anak nya itu.


"Tidak, sayang! Alana tidak lah manja, mama saja yang berlebihan hari ini dan tidak memahami apa yang Alana rasakan."


Shinta tidak bisa memaksakan anak-anak nya juga untuk suka dan nyaman tinggal di rumah ke dua orang nya yang sederhana ini seperti diri nya. Karena Shinta sudah biasa tumbuh di rumah ini saat ini baru lahir.


Tidak seperti anak-anak nya yang terbiasa hidup di rumah yang besar bagaikan istana dan fasilitas-fasilitas mewah yang di berikan oleh suami nya.


"Sayang, jika Alana memang tidak mau di sini. Kita akan pulang sekarang nak, mama nggak mau Alana merasa nggak nyaman."


"Tidak Mama! Alana mau di sini, menjaga Oma dan juga Opa. Kita akan di sini sampai Oma benal-benal sembuh, Alana nggak mau meninggalkan Oma di saat Oma sakit. Alana janji, akan telbiasa dengan kehidupan di sini dan tidak akan mengeluh lagi."


"Terimakasih, sayang. Alana memang anak mama yang paling baik." Shinta kembali memeluk dan mengecupi wajah anak nya dengan gemas.


Ia telah melakukan kesalahan dengan membentak anak sebaik dan sepengertian seperti Alana.


Seharus nya Shinta tidak perlu membentak anak nya, hanya perlu memberikan sedikit pengertian ia yakin Alana yang pintar akan mudah mengerti.


Shinta mengajak anak-anak untuk bermain di depan, ia akan memantau anak-anak bermain di luar.


Caca juga mengatakan akan ikut memantau anak-anak bermain di luar.


Sedangkan, para suami di minta untuk hanya menikmati teh di ruang keluarga saja. Namun, Arvan dan Revan menolak. Mereka ingin menikmati teh di luar saja sambil memandangi anak-anak yang bermain.


"Baik lah, ternyata para ayah mau menemani anak-anak nya bermain." ledek Caca. Shinta dan anak-anak pun tertawa.


Mereka pun berjalan ke luar, anak-anak kaget melihat tiga orang dewasa yang bertubuh kekar berdiri di depan pintu. Menundukkan kepala saat mereka ke luar rumah.


Raisa dan Syifa pun saling pandang, bertanya siapa orang-orang tersebut. Alan dan Alana juga merasa takut.


"Anak-anak, kalian jangan takut! Paman-paman ini yang akan menjaga rumah ini jadi jika ada orang jahat atau siapapun yang memantau lagi. Paman-paman ini yang melindungi kalian, bukan hanya mereka. Namun, ada enam orang lagi yang akan bergantian berjaga di sini selama dua puluh empat jam penuh."


"Kenapa lumah nya di jagai, Pa? Memang nya lumah Oma bisa di bawa lali?" tanya Alana yang begitu polos nya.


"Tidak, sayang. Rumah ini tidak bisa di bawa pergi, tapi demi keamanan Oma dan Opa. Dan jika Oma dan Opa memerlukan sesuatu mereka tidak akan merasa bingung lagi."

__ADS_1


"Kan ada kita, Pa."


"Iya, Sayang. Memang kita semua ada di sini, tapi akan lebih baik jika ada yang menjaga di luar seperti di rumah. Jadi kita tidak akan merasa takut lagi."


__ADS_2