Ibu Sambung

Ibu Sambung
Episode 2


__ADS_3

Sepanjang jalan kenangan berboncengan semua mata tertuju ke arah kami, sesekali terdengar suara siulan, dan 'cie ... cie... uhuy!' ada juga emak-emak yang melirik sinis. Norak sekali, seperti kembali ke zaman penjajahan, dimana Dorabela menjadi tawanan perang. Embuh!


"Neng, pegangan ...!" pintah om Darman


Idih, ogah dah! meluk om-om.


"Enggak!" Sambil kueratkan pegangan di behel belakang. Semakin lama lari sepedanya semakin pelan, hingga akhirnya benar-benar berhenti.


"Kenapa, Om?" tanyaku penasaran.


"Om am om am ... panggil aku babang sayang!" serunya sambil membungkuk melihat ke arah bawah.


Oh my God ... oh my God ... hampir saja aku berubah jadi kera sakti karena emosiku yang memuncak.


"Bensinnya abis, Neng! hah ... untung bisa dikayuh, ini lah alasannya kenapa babang lebih memilih sepeda kumbang dari pada motor kawah sakit, kalau abis bensin kan tinggal dayung aja!"


Bodoh amat lah, apa peduliku, sepeda kumbang kek, sepeda kembang kek, asli bukan urusanku!


Rumah om Darman memang cukup jauh dari rumahku, kami baru sampai di pertengahan jalan. Kulirik baju pengantin putih yang ia pakai sudah basah dengan keringat.


Idih! Bulu kudukku seketika merinding untung saja dia tidak bau ketek.


"Neng, babang aus, nih. Kita singga di warung mpok Lela dulu, yah?"


"Serah aja lah!" ucapku pasrah, emang panas beud. Kebaya yang aku pakai bahannya tidak menyerap keringat.


"Wasyukurilah ... aduh, semoga warungku berkah disinggahi pengantin baru!" sambut mpok Lela ketika sepeda kami baru saja parkir.


Dasar emak-emak paranoid, percaya amat ama hal begituan. Kayak enggak ada Tuhan aja!


"Es teh dua, Mpok!" pesan om Darman sambil punggung tangannya menepis keringat yang bercucuran di dahinya.


*Aku yang lihat, k*ok jadi pangling, sih? kumisnya udah dicukur malah keliatan sepuluh tahun lebih muda, apa iya om Darman pakai pongs age miracle?


"Siap, Den!" seru mpok Lela kegirangan sambil tangannya cekatan menyiapkan es teh.


Di warung kecil mpok Lela, angin berhembus sepoi-sepoi, kami duduk dengan pikiran masing-masing. Hanya suara parutan es batu yang membuat gigiku terasa ngilu.


Aku tahu om Darman sesekali melirikku yang cantik rupawan ini dengan ukiran alis ala-ala ulat bulu, tapi aku harus jaga image. Pura-pura enggak tahu gitu.


"Silahkan diminum pengantin baru ...," seru mpok Lela sambil cengar-cengir tak jelas.


Tanpa menunggu lama tanganku bergerak cepat mengambil gelas, seruput demi seruput seketika gelas yang kugenggam jadi kosong.


"Mau tambah lagi, Neng?" tawar om Darman.


"Ogah! kalau onde-onde boleh, deh." Emang dari tadi mataku mencuri pandang ke meja jualan mpok Lela, parutan kelapa yang membungkus tepung itu sangat menggoda. Perlahan kutelan air liur yang sedari tadi menumpuk dalam mulut.


Setelah melepas dahaga kami melanjutkan perjalanan, lumayan aku bawah pulang sebungkus onde-onde.


Rumah Om Darman


Kami disambut dengan penuh sukacita, sebelum masuk ke dalam rumah, kantong pelastik bekas onde-onde kubuang kesembarang arah. Onde-ondenya suda kubabat habis sepanjang jalan. Emmmh Yummy!

__ADS_1


Kami sungkeman dengan seluruh keluarga om Darman. kulihat ada tiga anak kecil duduk di samping mbah Tarjo, rupanya mereka memang bocah ingusan, malah warnahnya sudah hijau pekat nan kental membuat nafsu makanku jadi hilang. Macam-macam hidangan unduh mantu tak lagi merasuk jiwa rakusku yang merontah-rontah.


Usai prosesi unduh mantu akhirnya hanya tersisa aku, om Darman dan tiga anaknya juga mbah Tarjo di rumah luas ini.


Setelah beres menyuapi makan malam Rangga yang umur tiga tahun, Doni empat tahun, dan Cici lima tahun rasanya persendianku ngilu-ngilu manjah. Untuk satu suapan saja harus kejar-kejaran dulu, pantas saja emak mereka mati.


Ya Rabb ... ini kah yang dinamakan ratu sejagat buana?


"Neng, suapin babang juga, dong ...!" seru om Damar sambil kedip-kedip mata.


Oh my God! yang benar saja, udah gede minta suap.


Karena om Darman memaksa, akhirnya aku suap saja dengan berat hati. Yah, setidaknya ia tetap duduk di tempat, enggak perlu main lari-larian kayak drama India.


Mataku rasanya berat sekali, usai makan malam dan menyuapi mereka aku bergegas masuk kamar. Tak sadar detik keberapa memasuki alam mimpi.


****


"Dora ...!"


"Dora ...!"


Mataku perlahan terbuka menatap sekeliling. Tampak remang-remang, rupanya lampu kamar dimatikan. Di atas perutku terasa ada sesuatu yang berat.


Astaga aku tidur seranjang dengan om Darman, what the?!


Kupindahkan tangan kekarnya yang memelukku sambil mengatur nafas.


Aku berusaha turun dari ranjang. "Arrrrgh!" pekikku saat tiba-tiba sebuah tangan menarik lenganku.


Tangan siapa ini?


Tak lama kemudian. "Emak," gumam Angga, tapi matanya tertutup. Astaga anak ini bikin gue jantungan aja. Ku lepaskan genggaman Angga dari lenganku.


Rupanya om Darman terbangun juga. Dalam cahaya remang-remang ia sedikit lebih tampan, rambutnya mirip Lee Min Hoo.


"Kenapa bangun, Neng?" tanya om Darman sambil mengucek mata.


"Engga papah, Om. Eh, Babang!"


Aku kira ia bakal tidur lagi, ternyata pikiranku salah, tiba-tiba saja om Darman menarik tubuhku, berusaha menghindar, tapi ia sangat kuat. Tubuh mungilku tak bisa melawannya.


Om Darman terus menyerang ia tidak mau melewatkan kesempatan, tangannya gelayangan di tubuhku. Rasanya makin merinding. Entah detik keberapa ia melucuti pakaianku.


Oh my God!


Ia membuatku hanyut saat bibirnya mengecup keningku. Lembut. Ada rasa yang menyeruak dalam dada. Rasa yang tak pernah ada, selama ini hanya emak atau bapak yang berani kecup-kecup aku.


Jarak yang begitu dekat membuat hidungku menghirup aroma tubuhnya. Hiks, bau om-om.


Tiba-tiba angin bertiup kencang, membuat gorden meliuk-liuk.


"Dora ...!" suara lembut yang dari tadi memanggilku kembali terdengar.

__ADS_1


"Babang, kamu dengar itu?" tanyaku dengan sekujur tubuh terasa kaku.


"Suara apa, Neng? itu cuma angin!" ucap om Darman yang menghentikan aksinya.


Haduh, jangan-jangan itu arwah tante Rani mantan istri om Darman!


Seketika dengan sadar kepalan tanganku meninju muka om Darman. Aku tak tahu mengapa memukul wajahnya.


"Haiks!" pekik Om Darman, tangannya memegangi hidung.


"Tante Dora, kenapa tidur di kamar kami? Sempit tauk!" protes Cici anak tertua. Tentu saja aku kaget.


"Tante kenapa enggak pake baju? dingin!" sambung Doni.


Astaga jangan bilang dua anak ini tadi nonton aksi bapaknya!


Dalam cahaya temaram dari pantulan sinar bulan tanganku mencari-cari pakaian. Setelah sudah terpakai semua, aku bergegas tidur di bawah beralaskan karpet, tak peduli dengan om Darman yang meringis.


Syukur ... syukur! hampir saja aku khilaf.


****


Keesokan Pagi


Entah kenapa om Darman semakin berkharisma, ku lihat ia baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengibas rambutnya yang basah. Tiba-tiba saja otakku blank.


Apa aku sudah gila ... suka sama om-om?


"Mbah, semalam bapak sama tante Dora berantem enggak pakai baju!" celetuk Cici pada mbah Tarjo saat menyeruput kopi kental yang kubuatkan. Seketika semburan kopi dari mulutnya hampir saja mengenai wajah Cici.


Mbah Tarjo melirik ke arahku, aku malu dong. Ingin ku getik mulut Cici. Lalu bapak tua itu melihat ke arah om Darman dan seketika tawanya pecah.


Muka gue kayak dicorengi taik kucing, shit!


"Kenapa enggak tunggu anak-anak tidur dulu?" tanya mbah Tarjo, entah meledek atau memberi tahu. Intinya bodoh amat.


Aku melanjutkan mengupas bawang. Enggak di sini, enggak di rumah emak. Selalu saja berurusan dengan bawang.


Tidak ku sangkah om Darman sudah berdiri di sebelahku dengan bertelanjang dada, handuk biru melingkar di pinggangnya.


Kenapa jantungku cenat cenut gini, yak?


"Jangan pedes-pedes masaknya, Neng! Anak-anak enggak bisa makan pedes," seru om Darman membuatku terperanjat.


Sebenarnya enggak diberi tahu, aku juga sudah tahu. Kalau bocah-bocah itu dikasih makan pedas, nanti aku juga yang repot. Mereka pasti teriak-teriak ngajakin beli permen.


'Cup!'


Ya Gusti, ya Rabbi! Apa-apan, sih ... main kecap kecup segala mana di depan anak-anak sama mbah Tarjo.


"Cie cie ...." seru orang-orang itu bersamaan.


Aku yakin pipi bulatku yang imut ini pasti sudah kemerah-merahan. Aku sangat yakin ... Aku sangat yakin! Sangat yakin ...!

__ADS_1


__ADS_2