Ibu Sambung

Ibu Sambung
Berterima Kasih


__ADS_3

Shinta masih memandangi wajah bayi nya yang tertidur pulas. Terdengar suara langkah kaki anak kecil yang mendekati ruangan Shinta sudah bisa menebak langkah kaki siapa itu.


"Mama, lama sekali. Alana kan menunggu," Shinta membalikan badan nya, ia tersenyum kepada Alana. Shinta sudah tahu jika Alana pasti akan menyusul diri nya, Shinta pun memberikan kode kepada Alana untuk tidak berisik agar adik nya tidak terbangun.


Alana melirik ke arah adik nya ia pun mengerti, namun Alana sangat kesal karena mama nya lama sekali.


"Alana kan mau tidul mama, mau di bacakan dongeng sama mama."


"Iya nak, tapi adik nya tidak ada teman. Kasihan kalau mama tinggal kan? Tunggu mbak kembali ya?" pinta Shinta kepada anak nya dengan lembut.


Alana mengerucutkan bibir nya ke depan, namun ia pun tak mau bertengkar dengan mama atau adik bayi nya.


Selalu saja adik yang mama manja!


Alana yang kesal pun ke luar meninggalkan Shinta, wanita itu pun membuang nafas nya dengan kasar.


Mau sampai kapan Alana akan mengerti nak?


Shinta pun hanya bisa sabar menghadapi sifat anak nya yang satu itu, Shinta berharap jika besar nanti Alana tidak seperti itu lagi.


****


Alana pun masuk ke dalam kamar Syifa dan juga Raisa. Ia langsung meminta pangku kepada kakaknya dengan manja. Syifa pun memangku sang adik.


"Kenapa cemberut?" tanya Syifa kepada Alana, Alana pun mengatakan kekesalan nya.


"Alana sudah menunggu mama tapi mama enggak datang ke Kamal. Mama malah asyik dengan adik Al."


Syifa dan Raisa pun merasa gemas dengan wajah adik mereka yang cemberut. Syifa pun menyuruh Alana untuk tidur dengan mereka.


"Ya sudah, Alana tidur Sama kakak dan juga kak Raisa aja."


Alana mengangguk, Syifa pun membaringkan tubuh adik nya di atas tempat tidur. Syifa pun menceritakan dongeng yang ia tahu untuk sang adik.


Tak membutuhkan waktu yang lama, Alana langsung terlelap.


Dia begitu cemburu dengan adik nya sendiri ~batin Raisa.


"Alana selalu kami manja, jadi saat ada kehadiran Al dia merasa seperti diasingkan. Padahal, mama tak pernah membedakan. Mungkin, kasih sayang mama lebih besar ke baby Al karena kan masih kecil belum bisa apa-apa." gumam Syifa kepada Raisa.


"Iya kak, di rumah juga mami selalu memikirkan Khanza. Selalu mendampingi Khanza," Raisa tersenyum kecut.


Syifa pun menjelaskan jika adek bayi memang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang lebih.


"Kak?"


"Iya?"


"Tadi di sekolah kakak mengatakan jika kakak akan menjelaskan semua nya tentang mami. Raisa mau mendengar nya kak,"


Syifa pun melihat mata Raisa yang terlihat sangat penasaran.


"Apapun yang kamu dengar, kakak harap nanti kamu bisa memaafkan segala nya dan berdamai dengan keadaan ya? Jangan pernah dendam kepada siapapun,"


Raisa pun mengangguk, Karena menurut Raisa ia juga berhak mengetahui sejarah yang ada. Agar diri nya pun tak akan salah paham lagi dengan mami nya Caca.


"Mami itu adalah ibu yang baik dan luar biasa untuk kita terutama untuk ku dan untuk kamu, Raisa. Namun, karena keadaan mami terpaksa meninggalkan kita. Itu semua demi keselamatan kita."


"Demi keselamatan apa kak? Jika demi keselamatan kita kenapa mami tidak merawat kita?"


"Mami ingin, namun keadaan yang membuat nya tidak berdaya. Sayang, kita mempunyai mama yang luar biasa. Demi kebaikan kita ia rela mengorbankan kebahagiaan nya. Mama Caca juga hidup nya tidak seberuntung kita."


"Tidak seberuntung apa kak? Bukan kah mami dari kecil hidup nya bahagia? Bahkan mami juga mempunyai kehidupan yang sangat layak."


"Iya, mami memang berasal dari keluarga yang kaya raya. Mami juga punya kakak yang sudah tiada. Namanya Tante Lee, saat mereka kecil. Tante Lee telah tiada. Dan kamu tahu siapa dalang dari kematian Tante Lee?"


Raisa pun menggeleng.

__ADS_1


"Itu semua karena nenek kita, tak lain adalah ibu kandung dari mama Caca dan juga Tante Lee. Dari situ, mama enggak pernah merasakan kebahagiaan. Hidup nya selalu di atur oleh nenek kita Elsa. Bahkan, mama enggak boleh mengeluh sedikit pun. Suatu ketika mama berkenalan dengan papa ku. Mereka saling jatuh cinta satu sama lain, bahkan menikah. Namun, nenek kita tak pernah membiarkan hidup mama bahagia. Selalu membuat mama menderita, ada suatu kejadian saat papa ku sakit, membutuhkan biaya yang cukup besar. Mama tak punya uang, dan memang papa ku dulu sangat susah. Bukan nya membantu, nenek kita malah memberikan pilihan yang berat kepada mama. Ia akan membantu mengobati papa ku asal mama bersedia meninggalkan aku dan papa. Tak ada pilihan lain demi keselamatan ku dan papa ku mama rela berpisah."


"Lalu apa yang terjadi setelah itu kak? Dan mengapa mami melakukan kesalahan yang sama. Meninggalkan ku seperti mami meninggalkan kakak?"


Syifa pun membuang nafas nya dengan kasar. Jika ia mengingat yang di lalui oleh mama nya Caca. Hati nya terasa sangat sakit, seakan membuka luka yang lama.


"Daddy yang sekarang jauh berbeda tidak seperti Daddy saat puluhan tahun lalu. Daddy bertahun-tahun lalu sama seperti nenek. Yang begitu egois dan memikirkan diri nya sendiri, bahkan tak jarang mama Caca mendapatkan perlakuan kasar. Mama sangat tertekan sekali waktu itu, bahkan mama juga di paksa menikah dengan Daddy padahal tidak mempunyai perasaan apapun. Daddy dan nenek begitu kejam dengan mama."


Raisa meneteskan air mata nya, ia tak sanggup lagi mendengar penderitaan yang di alami oleh mami nya. Betapa tertekan nya pasti ibu nya dulu.


Raisa tak sanggup, ia pun meminta kakak nya untuk tidak melanjutkan cerita nya lagi.


"Kamu dan aku hanya mendengar cerita itu aja merasa sakit nya bagaimana dengan mama Caca yang mengalami ini semua. Bahkan, mama Caca beberapa kali mengalami keguguran karena kelakuan nenek kita."


Raisa terisak, ia sangat bersalah karena sudah menuduh mami nya tanpa mengetahui kebenaran yang ada. Syifa memeluk Raisa menenangkan adik nya.


"Jangan menangis. Itu semua udah berlalu, nenek Elsa sudah tiada. Dan Daddy juga menyayangi mami sekarang dengan baik. Jadi, semua nya sudah baik-baik aja."


"Ta-tapi betapa hancur nya mami kak, mami sangat menderita dulu."


Rasanya Raisa ingin segera pulang dan memeluk sang ibunda tercinta.


"Jadi, wajar jika mama Caca tidak sepenuh nya siap menjadi seorang ibu. Karena hanya kepada Khanza mami merasakan bagaimana menjadi ibu yang utuh, diberikan kesempatan untuk merawat Khanza dari lahir hingga besar nanti. Di berikan kesempatan untuk melihat langsung perkembangan Khanza, gimana rasanya memberikan ASI kepada anak, bagaimana rasanya tidak bisa menikmati tidur malam dengan nikmat. Hanya kepada Khanza mama merasakan itu semua. Karena walau pun mama ingin waktu itu untuk merawat kita namun takdir harus menjauhkan kita dari mama."


Raisa semakin sedih, ia pun semakin merasa bersalah. Kenapa ia tak bisa memahami mami nya seperti yang kakak nya lakukan.


"Raisa, kakak bilang gini. Bukan untuk buat kamu tahu kejahatan nenek dan juga Daddy. Tapi, agar kamu tahu bagaimana sulit nya kehidupan mama kita dulu. Mama juga berusaha kok menjadi ibu yang baik untuk kita tiga. Namun, dengan adanya Khanza mama bisa merasakan hal yang tak pernah ia rasakan saat bersama kita."


"I-iyakak, Raisa kini memahami bagaimana menderita nya mami selama ini."


"Tapi kamu juga harus paham, semua nya juga sudah berakhir. Mami sudah bahagia dengan Daddy. Dan Daddy sudah menjadi yang lebih baik. Kita juga harus bisa memahami semua keadaan yang ada."


Raisa mengangguk, Syifa tersenyum dan memeluk Raisa.


"Kakak berharap setelah ini kamu dan juga kakak enggak lagi salah paham dengan mama Caca. Dan berikan mama Caca kesempatan untuk merasakan bagaimana menjadi ibu yang utuh yang bisa merawat anak nya."


*******


Di sisi lain, Caca masih menangis. Ia pun merasa sangat bersalah dengan perlakuan nya tadi dengan Syifa.


Bagaimana jika Syifa tersinggung, aku melukai hati nya. Dan bagaimana jika Shinta dan Revan mengetahui kejadian tadi? Mereka pasti tidak akan membiarkan aku bertemu lagi dengan Syifa.


Arvan menenangkan istri nya, semenjak kehadiran Khanza. Caca menjadi lebih sensitif, mungkin kah Caca mengalami baby blues?


Jika ia tugas Arvan di sini akan selalu mensuport istri nya karena penyakit baby blues bukan lah hal yang bisa di anggap sepele.


Arvan cemas, ia pun ingin membawa istri nya untuk berkonsultasi dengan psikiater.


Namun, Caca tidak mau dan mengatakan jika diri nya tidak gila.


Iya, sayang. Kamu enggak Gilak. Aku tahu itu, tapi lebih baik kita berkonsultasi dengan seorang psikiater. Mungkin, batin kamu sedang lelah.


Namun, Caca juga tetap kekeh untuk tidak mau pergi ke psikiater. Arvan pun tak mau memaksa, ia hanya bisa menyemangati dan mendukung istri nya.


"Baiklah, tapi aku minta kamu jangan terlalu memikirkan hal yang sebenarnya tidak terjadi. Jangan terlalu cemas berlebihan. Harus ingat ada Syifa, Raisa dan juga Khanza. Mereka membutuhkan kamu jika kamu sering seperti ini.. Kasihan anak-anak."


Caca pun mengiyakan ucapan suami nya, ia akan mencoba untuk tidak terlalu memikirkan dan mencemaskan hal yang belum tentu terjadi.


Arvan mengecup kening istri nya. Ia membisikan kalimat yang membuat Caca tersenyum bahagia.


Aku mencintai mu, aku membutuh kan mu. Jangan tinggalkan aku, aku lemah tanpa mu sayang. Kamu dan anak-anak adalah kehidupan ku.


Caca juga mengingat bagaimana perjuangan dan pengorbanan Arvan untuk nya dulu, walau Caca tidak pernah membalas cinta Arvan namun Arvan memperlakukan nya seperti seorang ratu.


Walau sering juga Arvan melakukan kekerasan kepada Caca dahulu, namun Caca tahu ia melakukan itu karena keadaan.


Apalagi Caca yang tak pernah menghargai nya dulu. Kini, dengan adanya Raisa dan juga Khanza kekuatan cinta mereka semakin besar. Caca berjanji akan selalu menjaga keluarga kecil nya.

__ADS_1


*******


Revan yang pusing dengan pekerjaan nya membuang berkas-berkas yang ada di meja.


Sial! Kenapa semua menjadi seperti ini!


Semua pekerjaan Revan kacau, proyek nya gagal. Bahkan, ia sudah mempertaruhkan seluruh aset nya untuk proyek itu. Kini, harta Revan menjadi taruhan nya.


"Bagaimana jika seluruh aset ku habis, istri dan anak-anakku bagaimana?"


Kepala Revan terasa mau pecah, ia menyesal karena tidak mau mendengarkan ucapan istri nya.


Beberapa waktu yang lalu saat Revan mempertaruhkan semua aset nya Shinta sudah melarang. Namun, bukan nya mendengarkan ucapan sang istri Revan justru menghina istri nya dan mengatakan jika Shinta hanyalah ibu rumah tangga dan hanya mantan dokter gigi. Tak akan memahami dengan Dunia bisnis..


Revan merasa gagal, ia tahu jika sebentar lagi mereka akan bangkrut.


Bagaimana aku akan menghidupkan anak-anak ku?


Di mana kami akan tinggal?


Revan juga memikirkan biaya tiap bulan untuk orang tua nya yang ada di luar negeri.


Tidak mungkin, ia menyuruh ke dua orang tua nya untuk pulang. Karena papa nya Revan sedang menjalani perobatan di luar negeri.


Namun, Revan tak mau menyerah. Ia yakin, akan bisa mengatasi masalah ini.


Revan pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah, ia menemui istri nya dan langsung memeluk Shinta.


Shinta kaget, melihat suami nya seperti tidak berdaya.


"Ada apa? Mengapa kamu seperti ini? Hey?"


Shinta merasakan suami nya yang menangis di pelukan nya.


"Maafkan aku, aku gagal."


"Kenapa? Ada apa?"


Revan semakin mempererat pelukan nya.


"Andai aku mendengarkan ucapan mu waktu itu."


Shinta melepaskan pelukan nya dengan sang suami ia mengatakan ada apa?


Revan pun menceritakan jika proyek nya gagal. Dan mereka akan kehilangan seluruh aset mereka.


Shinta terlihat sangat santai, tak panik sedikit pun. Ia menatap mata suami nya, dan mengatakan tidak perlu khawatir.


"Bagaimana aku tidak khawatir. Kita mungkin akan segera pergi dari rumah ini."


Shinta malah tertawa, ia mengatakan jika mereka tidak akan kemana-mana


Ternyata, tanpa sepengetahuan Revan. Shinta sudah memindahkan beberapa aset penting Revan menjadi nama nya. Shinta tahu jika dunia bisnis itu sangat licik, ia sudah memperingati suami nya..


Namun, Revan yang keras kepala tak mau mendengarkan ucapan Shinta, Shinta pun harus mengambil langkah agar tidak mengalami resiko yang besar.


"Aset-aset besar telah aku pindahkan atas namaku, kau ingat saat dulu aku meminta tanda tangan mu dengan alasan untuk kepentingan Syifa? Itu aku berbohong. Tanda tangan itu untuk memindahkan aset atas namamu menjadi atas nama ku."


Revan terkejut, ia mengatakan jika istri nya sangat licik. Namun, ia juga bersyukur isteri nya bisa melakukan hal sepintar itu. Jika tidak, mungkin mereka akan kehilangan semua aset nya..


"Aku memang bukan lah pembisnis, aku juga hanya ibu rumah tangga dan mantan seorang dokter gigi. Namun, aku tahu jika dunia bisnis itu kejam, aku tak mau mengambil resiko untuk anak-anak..Jadi, tujuh puluh persen aset mu sudah jadi milikku. Hanya tiga puluh persen yang atas nama mu. Dan kerugian nya hanya tiga puluh persen. Namun, kita masih mempunyai tujuh puluh persen aset kita. Seperti rumah, kantor, dan beberapa pabrik milik mu."


"Lalu, kita aset mana yang kita akan kehilangan itu?"


Shinta tertawa. Ia mengatakan jika Revan hanya memiliki aset beberapa mobil dan usaha kecil saja. Jadi, mereka hanya kehilangan mobil dan usaha kecil yang baru di rintis oleh Revan.


Kini, Revan pun bernafas lega, ia berterimakasih kepada Shinta karena sudah menyelamatkan rumah tangga mereka.

__ADS_1


__ADS_2