Ibu Sambung

Ibu Sambung
Masalah Orang Dewasa


__ADS_3

Shinta pun menatap anak nya sesekali, lalu kembali melakukan kegiatan nya karena tak ingin melihat suami nya memarahi sang anak.


"Wah, harum sekali masakan nya. Pasti begitu lezat." puji Revan yang tak sabar melahap masakan isteri dan ibu mertua nya.


"Pasti sangat lezat dong papa. Kan Mama dan Oma yang memasak nya." timpal Alana yang tak mau kalah, semua orang tertawa dan menggeleng melihat sikap Alana.


"Mama cepat sedikit, Alana sudah nggak sabal lagi." rengek Alana, Alan pun menegur saudara kembar nya itu untuk tidak berisik.


"Sebaiknya kau diam saja, nanti mama bisa kena sayul yang panas kalena ocehan mu."


"Kau yang diam! Aku kan mau segela makan. Jika mama tidak malah, kenapa kau yang malah?"


"Sudah, jangan bertengkar begitu, Sayang! Kalian lihat itu kakak kalian, dia selalu tenang di mana pun." ujar Syafa yang menatap cucu sulung nya.


"Huft! Kakak memang selalu begitu, jika mama dan papa tidak bicala. Kakak tidak akan bicala." ujar Alana dengan menarik nafas nya yang begitu panjang.


"Sudah, jangan bertengkar lagi. Alana juga tidak boleh membantah jika orang yang lebih tua menasehati ya, nak? Mama kan tidak pernah mengajarkan Alana untuk bersikap tidak baik." tegur Shinta dengan lembut kepada anak nya. Alana pun mengangguk, ia juga meminta maaf kepada nenek nya karena sudah menjawab omongan sang nenek.


"Maafin, Alana ya Oma? Alana janji tidak akan sepelti itu lagi."


"Tidak apa-apa, Sayang! Oma juga tidak marah pada Alana."


Shinta pun menyuruh seluruh keluarga nya untuk makan. Sebelum ia makan, ia juga mengambilkan makanan untuk ke dua baby sister anak nya di dalam kamar.


Syifa pun menawarkan bantuan, Shinta mengizinkan anak nya untuk membantu. Hal itu, tentu saja membuat Syifa bersemangat.


"Ayo ma." Syifa bangkit dan membawa sepiring makanan juga segelas minuman untuk sang Baby Sister


Shinta membawa sebagian makanan untuk Baby Sister yang satu nya.


Ke dua nya melangkah kan kaki, menuju kamar si kembar.

__ADS_1


"Ma."


"Sayang, sebaik nya kita makan dulu ya? Mama tahu, pasti ini begitu penting makanya kakak cemas. Tapi, sayang. Jangan lupakan kesehatan kakak ya?"


Syifa pun terdiam, Shinta kini mengerti hal apa yang akan di tanyakan oleh anak nya. Pasti berhubungan dengan Caca, Shinta pun bingung apa yang harus ia katakan ketika sang anak bertanya.


Apakah diri nya memiliki hak untuk menjawab itu semua? Rasanya Shinta begitu dilema. Ia pun masuk ke dalam kamar, memberikan makanan kepada ke dua baby sister itu.


"Terimakasih, Nona. Maaf jika merepotkan."


"Iya, Nona. Seharus nya nona tidak perlu seperti ini. Kita bisa makan nanti saja ketika keluarga nona sudah selesai makan."


"Apa lah kalian ini! Jika waktu kami makan, kalian juga harus makan. Bukan menunggu kami selesai makan dulu. Saya tidak suka seperti itu. Jika bisa, kalian juga ikut bersama kami makan bersama."


"Mama, ayo kita kembali ke meja makan. Papa pasti sudah menunggu." ujar Syifa mengajak sang mama,.


Shinta pun berpamitan kepada ke dua baby sister nya tersebut.


Ibu nya Syafa juga menyuapi ke dua cucu nya dengan begitu perhatian.


"Sudah lama sekali, Oma tidak menyuapi kalian." ujar Stafa kepada Alana. Alana pun tertawa dengan perasaan bahagia.


Shinta dan Syifa pun duduk bersampingan. Shinta mengambilkan nasi ke dalam piring anak nya, dengan lauk yang Syifa sukai.


Setelah itu, Shinta mengambil makanan untuk diri nya sendiri.


Syifa makan dengan tergesa-gesa. Sedangkan, Shinta makan dengan santai. Ia masih bingung, apa yang akan ia katakan nanti.


Shinta takut, jika diri nya memberikan jawaban yang salah. Seharusnya yang berhak memberitahu masalah ini semua kepada anak-anak hanya Caca dan Arvan.


Ia sebagai orang asing, tidak berhak ikut campur dalam masalah rumah tangga Caca.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Revan dan yang lain nya terlebih dulu masuk ke dalam kamar.


Revan membawa ke dua anak nya, untuk di antar ke kamar. Sedangkan Shinta, Syifa membersihkan bekas makan mereka semua. Awal nya, Syafa ingin membantu anak dan cucu nya itu. Namun, Shinta dan Syifa menolak.


"Sebaiknya, Ibu temani ayah saja di ruang tamu. Tata akan membuat kan teh untuk kalian." ucap Shinta, ibu nya menolak. Namun, Shinta yang keras kepala pun memaksa. Hal itu, membuat Syafa tak bedaya selain mengikuti ucapan anak nya.


*********


Setelah selesai membereskan segala nya, Shinta pun memasak air untuk membuatkan teh untuk suami dan kedua orang tua nya.


"Mama. Syifa mohon, kali ini jangan menghindar lagi." ujar Syifa yang memelas, membuat Shinta tak enak hati.


Ia menoleh ke arah Syifa, dan bertanya apa yang sebenarnya ingin di bicarakan oleh Syifa.


"Sayang, sebentar ya. Mama akan memberikan ini dulu kepada yang lain nya. Setelah itu, mama akan mendengar dan menjawab segala pertanyaan kamu." terlihat Syifa yang merasa bahagia, Shinta pun membawakan teh ke ruang keluarga untuk suami dan ke dua orang tua nya.


Setelah itu, Shinta kembali menemui Syifa. Ia pun duduk di samping Syifa, Shinta sengaja mengajak anak nya berbicara di dapur agar Revan tidak mengetahui nya. Namun, Syifa menolak. Ia ingin berbicara di kamar, jika berada di dapur.


Papa nya bisa kapan saja datang, untuk memanggil mereka.


"Ma, tolong katakan pada papa jika kita ingin melihat adik-adik sebentar." pinta Syifa dengan begitu manja. Tentu saja, hal itu membuat Shinta tak tega untuk menolak.


Ia pun menggandeng anak nya, sebelum pergi ke dalam kamar. Shinta berkata pada Revan akan melihat si kembar dan baby Al terlebih dahulu. Revan pun menaruh curiga kepada isteri dan anak nya.


Di dalam kamar, Syifa menutup pintu lalu mengunci pintu nya, ia menyuruh mama nya untuk duduk di tepi ranjang. Syifa duduk tepat di samping Shinta.


"Sayang, katakan. Mengapa kamu terlihat sangat gelisah? Mama sudah memperhatikan mu dari tadi, ada apa?"


"Ma, ini semua tentang mama Caca. Syifa ingin."


"Sayang, ini kan masalah orang dewasa. Kamu juga tahu, jika papa tidak akan menyukai hal itu. Mama harap kamu mengerti ya nak? Jika papa tahu, papa akan marah. Bukan hanya pada kamu saja, namun juga kepada mama. Sayang, biar kan Mama dan Daddy mu yang menyelesaikan masalah mereka. Tugas kita, hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan mereka. Syifa anak yang sangat pintar. Mama yakin, Syifa akan paham apa maksud mama."

__ADS_1


__ADS_2