Ibu Sambung

Ibu Sambung
Kembali akur


__ADS_3

Alan dan Alana menjalankan aksi nya. Mereka turun ke bawah, berjalan dengan begitu lantang mendekati mama nya.


"Mama, Alan lapel. Mau makan!" ketus Alan kepada mama nya, Tommy dan Lily yang sedang menikmati teh pun saling pandang merasa heran dengan tingkah Alan yang tidak biasanya bersikap kurang ajar kepada ibu mereka.


"Sama, Alana juga lapel mau mamam." ujar Alana yang tak mau kalah, Shinta mendekati kedua anak nya dan berjongkok untuk menyetarakan diri nya dengan tubuh si kembar.


"Sayang, jika kalian laper. Mama akan mengambil kan nya untuk kalian, tapi tidak bagus nak jika berbicara dengan nada yang tinggi seperti itu kepada orang yang lebih tua. Apalagi, mama ini kan Mama nya kalian nak." Shinta memberikan pengertian kepada anak-anak nya.


"Mama jika mau celamah, nanti Saja. Sekalang, Alan dan Alana sangat lapel mama!"


"Baik lah, mama akan membuat kan makanan untuk kalian." Shinta bangkit, dan pergi ke dapur. Membuat kan makanan untuk ke dua anak nya.


"Lama sekali mama." teriak Alan dan Alana secara bersamaan, Shinta yang sudah selesai membuat makanan untuk anak-anak nya pun mendekati ke dua anak kembar nya, memberikan makanan tersebut kepada Alan dan Alana. Alan menyicipi makanan itu sedikit, lalu membuang nya ke lantai membuat piring pecah.


Tommy dan isteri nya kaget, melihat tingkah cucu nya. Begitu juga dengan Shinta, yang paling hancur melihat tingkah kedua anak nya yang tidak sopan.


*Maafin Alan mama, mama jangan menangis, ini hanya sandiwala ~ Batin Alan.


Jangan menangis mama, ini tidak selius. Alana akan memukul Alan nanti ~Batin Alana*.


"Nak, kenapa kalian seperti ini? Ada apa sayang?"


"Makanan yang mama buat sangat sangat enak." Alana langsung memukul saudara kembar nya itu


"Dasal bodoh, bilang tidak enak." bisik Alana.


"Maksud Alan, sangat tidak enak. Alan kan masih kecil, wajal saja jika ngomong nya tidak Benal." Alan menatap mama nya dengan sinis, Shinta masih bingung dengan apa yang terjadi.


"Alan, ini makanan kesukaan kalian, mama memasak nya seperti biasa. Alan dan Alana juga selalu suka jika mama memasakan ini untuk kalian."


"Ada apa ini?" ujar Revan yang tiba-tiba turun dari tangga, Alan dan Alana berlari ke arah papa mereka


"Papa, Mama memalahi kami kalena Alan bilang masakan mama tidak enak Hua." tangis drama yang di buat oleh Alana.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak memarahi mereka,"


"Jadi, maksud mu anak-anakku telah berbohong begitu?"


"Ti-tidak, tapi aku tidak memarahi mereka. Aku hanya menasehati anak-anak yang bersikap tidak sopan. Lihat, mereka membuang makanan yang aku buat."


"Jika mereka berani membuang nya, berati memang masakan mu tidak enak. Kenapa kamu tidak becus menjadi seorang ibu rumah tangga. Masak saja tidak enak, anak-anak sampai tidak mau makan dan berlari padaku."


"Maaf jika masakan ku tidak enak, tapi setidak nya anak-anak."


"Sudah! Kau tidak pernah berubah, sudah tau salah masih saja tetap membela diri."


"Aku tidak membela diri."


"Lalu apa? Jika anak-anak mengatakan masakan mu tidak enak tanda nya ya tidak enak! Tidak mungkin, anak-anakku berbohong!"


"Lalu, kau berfikir aku yang berbohong? Kau percaya, jika aku memarahi mereka?"


"Mereka mengatakan itu, Alana juga menangis. Anakku bukan pembohong seperti mu! Dasar tidak becus!"


Tommy berjalan mendekati Revan, Shinta dan si kembar.


"Apa ini? Mengapa kau bersikap seperti itu kepada isteri mu?"


"Papa lihat sendiri, bagaimana Shinta mengurus anak-anak tidak becus. Bukan mengakui kesalahan dan meminta maaf, dia justru memarahi anak-anakku!"


"Kau tidak tahu apa yang terjadi, tapi sudah begitu kasar berbicara kepada isteri mu."


"Semua sudah jelas pa."


"Apa nya yang sudah jelas, bahkan papa tidak mengetahui yang sebenar nya tapi sudah ikut campur."


"Papa harus ikut campur, apalagi anak-anak mu sangat tidak sopan kepada ibu nya."

__ADS_1


"Biar kan saja mereka begitu, Revan tahu papa juga tidak menyukai Shinta. Dan memarahi nya sesuai dengan keinginan papa tanpa memikirkan perasaan Shinta. Lalu, mengapa papa harus menyuruh ku bersikap baik kepada Shinta."


"Karena dia isteri mu, menantu papa! Papa tidak ingin jika kau bersikap tidak baik kepada menantu papa."


Shinta yang mendengar ucapan ayah mertua nya merasa terharu, hati nya merasa sangat tersentuh. Walau, papa Tommy selalu berbicara yang sangat kasar. Namun, ayah mertua nya itu begitu sangat menyayangi nya.


"Kakek, bialin Saja. Kakek juga seling malah jika mama melakukan kesalahan, ini mama melakukan kesalahan." ujar Alana. Tommy tak mendengarkan ucapan cucu-cucu nya.


"Apapun alasan nya, kalian tidak berhak untuk kurang ajar kepada mama kalian. Mama kalian sudah lelah mengurus kalian kakak, kalian berdua dan juga baby Khanza seharian. Tapi, kalian bersikap begitu kepada mama kalian. Minta maaf kepada mama kalian sekarang."


"Tidak!" teriak Alan dan Alana, Shinta menangis melihat anak-anak nya begitu. Tommy yang melihat menantu nya menangis semakin murka, ia memegang tangan Alan. Menyuruh cucu nya untuk meminta maaf kepada Shinta. Namun, Alan tetap tidak ingin meminta maaf.


"Apa kesalahan Alan, makanan mama memang tidak enak, kenapa kakek malah?"


"Karena kalian sudah kurang ajar."


"Kalau Alan minta maaf, belum tentu mama mau memaafkan Alan dan Alana."


"Iya, Kakek." sambung Alana.


"Tidak mungkin, mama kalian harus memaafkan kalian jika kalian anak nya meminta maaf, kalian melakukan kesalahan, namun jika kalian meminta maaf tidak ada alasan lagi untuk mama kalian tidak memaafkan kalian."


"Kalau begitu, kakek juga halus memaaf kan Mama. Kemalin, mama membuat kesalahan, namun mama udah minta maaf. Kakek halus memaaf kan Mama juga. Jika kakek nggak memaafkan mama, kami nggak mau minta maaf." ujar Alan, Alana juga mengiyakan ucapan saudara kembar nya itu.


Tommy terdiam, memandangi menantu nya yang menangis di sudut, Tommy mendekati Shinta.


"Papa memaaf kan kesalahan kamu, papa harap. Kamu bisa bersikap dewasa dan menjadi contoh untuk anak-anak mu. Pertengkaran kita kemarin, hari ini di contoh oleh cucu-cucu papa. Papa nggak ingin, jika mereka mengulangi hal yang sama lagi. Sudah, hapus air mata mu, jangan menangis." ujar Tommy kepada menantu nya, ia juga tidak ingin memberikan contoh yang buruk kepada cucu nya


Alan dan Alana saling pandang, mereka tersenyum. Rencana mereka untuk membuat Mama dan Kakek nya berdamai sudah berhasil. Walau rencana itu sangat membosankan, namun berhasil membuat keluarga mereka kembali bersatu. Revan juga begitu senang, akhirnya isteri dan papa nya bisa akur kembali.


"Maafin Shinta ya pa kalau kemarin Shinta kurang ajar banget sama papa."


"Iya, Papa maafin kamu. Papa juga minta maaf, karena kemarin papa nggak ngertiin kamu. Di saat kamu lagi down, bukan nya mendukung kamu, papa justru memarahi mu dengan sangat keterlaluan. Papa menyesal, dan papa meminta maaf untuk itu semua."

__ADS_1


"Tidak pa! Papa nggak salah, seharusnya Shinta sebagai anak tidak melakukan hal itu kepada papa. Mungkin, apa yang papa katakan kemarin ada benar nya..Hanya saja, Shinta yang tidak memahami kasih sayang dari papa." Tommy dan Shinta berpelukan, mama Lily merasa senang melihat suami dan menantu nya kembali akur seperti semula


__ADS_2