Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 54


__ADS_3

Shinta masuk kedalam kamarnya, ia mendekat kearah Revan yang sedang menikmati kopi di balkon kamar mereka.


"Sedang apa" Tanya Shinta.


"Sedang main bola" jawab Revan acuh, Shinta memukul tubuh Revan dengan kuat sehingga kopi yang Revan pegang tumpah di bajunya.


"Awshhhh, apa kau gila" Kepanasan.


"Siapa suruh! Aku bertanya baik-baik kau malah menyebalkan" Shinta berlalu meninggalkan Revan yang kepanasan akan tumpahan kopi itu, ia merasa sangat kesal akan jawaban Revan.


"Ditanya baik-baik malah menyebalkan!" Sewotnya dan berlalu ingin keluar kamar.


"Kau mau kemana?" Teriak Revan


"Bukan urusanmu!" Bentak Shinta, ia segera keluar dari kamar dan membanting pintu sedikit keras. Rasanya ia sangat kesal dengan sikap Revan yang terus-terusan saja mencari masalah dengannya. Shinta menuju kamar Syifa, ia melihat Puterinya sedang bermain berdua dengan ibu mertuanya.


"Tata" sapa ibu Revan kepada Shinta dan tersenyum pada menantunya.


"iya ma" Shinta tersenyum dan mendekat kearah Puteri dan mertuanya.


"Main apa sayang" Tanya Shinta.


"Main tebak-tebakan bersama nenek ma, mama mau ikut?" Jawab Syifa dengan semangat.


"Ohiya nak, nenek harus kekamar dulu melihat kakek. Kamu main bersama mama Shinta dulu ya" Ibu Revan mengacak rambut Shinta dan meninggalkan menantu dan cucunya. Ia sengaja memberikan waktu berdua kepada mereka.


"Ma kita mau main apa" Tanya Syifa bingung, Shinta juga bingung harus bermain apa bersama Puteri nya, ia memberikan ide untuk keluar dan memakan ice cream kesukaan mereka. Syifa mengangguk dengan ceria dan semangat.


"ayo ma" Syifa menggenggam jemari Shinta untuk keluar dari kamar, Shinta mengikuti langkah Puterinya. Revan menuruni anak tangga dan melihat isteri dan anaknya ingin pergi.


"Kalian mau kemana?" Tanya Revan, Shinta melihat Revan dengan tatapan jengah. Ia masih kesal dengan Revan. Revan mendekat kearah Shinta dan juga Syifa


"Sayang kamu tunggu di mobil dulu ya" Pinta Revan, Syifa pun mengikuti apa kata ayahnya. Sekarang hanya ada Revan dan juga Shinta yang ada di ruangi.

__ADS_1


"Masih marah?" Tanya nya namun Shinta hanya diam dan menoleh sembarang arah, ia sengaja menghindari tatapan dari Revan. Revan mencium kening serta memeluk Shinta dan meminta maaf padanya, seketika Shinta merasakan getaran yang berbeda. Ia begitu kaget dengan tindakan Revan, namun juga tak menolak.


"Maaf kan aku" Mencium pucuk kepala Shinta.


"Kau menyebalkan!" Shinta memukul bahu Revan namun tak melepaskan pelukkan dari Revan.


"Yasudah, sebagai permintaan maaf ku. Kalian mau kemana?" Tanya Revan.


"Mau makan ice cream"


"Baiklah ayo" Revan melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Shinta dengan erat menuju ke mobil.


"Mama dan papa lama sekali!" Gumam Syifa dengan wajah cemberut ketika mama dan papanya sudah masuk kedalam mobil.


"Maaf ya sayang" Ucap Shinta. Revan melajukan mobilnya menuju warung ice cream yang biasa mereka singgahi. Ketika Shinta ingin duduk di kursi ia melihat Rayhan dan juga cinta berada didalam ice cream yang sama.


"Mengapa selalu bertemu mereka sih" Umpat Shinta dalam hati, ia masih saja terganggu dengan kehadiran Rayhan dan juga cinta. Masih ada rasa sakit melihat mereka berdua. Walaupun Rayhan dan cinta tak menyadari kehadiran Shinta dan juga Revan bersama anak mereka.


"Ayo pindah, aku tak ingin disini" Ajak Shinta.


"Apa karena itu" Revan menoleh kearah Rayhan dan juga cinta. Cinta tak menjawab pertanyaan dari suaminya.


"Mau sampai kapan kau terus-terusan terjebak dalam masa laluku! Sudah lah kita pulang aja" Kesal Revan dan segera menggendong Syifa untuk menuju ke mobil mereka.


"Bukan begitu maksudnya Van" Shinta mengejar suami dan anaknya. Namun Revan yang sudah merasa kesal masuk kedalam mobil


"Papa kenapa kita gak jadi makan ice cream nya?" Tanya Syifa dengan bingung.


"Lain kali saja ya sayang, sekarang kita pulang" Ucap Revan yang berusaha menyembunyikan emosinya dari sang Puteri.


"Bukan gitu maksudnya Van" ucap Shinta yang masuk kedalam mobil, namun Revan tak menjawab ucapan Shinta dan langsung melajukkan mobilnya dengan cepat.


Sampai dirumah Revan menggendong Puterinya untuk masuk kedalam rumah, Shinta berusaha untuk mengejar dan meminta maaf kepada Revan, namun Revan tetap diam membisu. Setelah membawa Puterinya kedalam kamar, Revan masuk kedalam kamarnya dan membersihkan dirinya. Ia keluar dari kamar mandi dan melihat Shinta yang sudah berdiri dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Maaf kan aku" Shinta mendekati Revan dan memeluknya, namun Revan melepaskan pelukan Shinta dan berlalu keluar dari kamar.


"Tolong jangan gini" Shinta memeluk Revan dari belakang dengan erat.


"Aku mohon, masuk lah kedalam kamar. Aku tak ingin Syifa melihat kita bertengkar" Revan melepaskan tangan Shinta dan masuk kedalam kamarnya lagi.


"Van" Panggil Shinta, Namun Revan tak mau menjawab Shinta, ia memilih tidur dan menutupi wajahnya dengan selimut.


"Maaf kan aku, bukan begitu maksudnya" Kali ini Shinta sudah tidak bisa menahan air matanya.


"Aku tau sifatku terlalu kekanak-kanakan tapi tolong maafkan aku hiks" kini airmata Shinta semakin deras


"Aku ingin tidur di kamar anakku" Revan bangkit dari tidurnya tanpa menoleh kearah Shinta sedikitpun. Revan berlalu keluar kamar lagi. Shinta didalam kamar hanya menangis sendirian


********


Didalam kamar Syifa, Revan mendekati Puterinya dan memeluk Puterinya.


"Sayang, apa kau ingin berjalan-jalan?" Tanyanya memeluk dan mencium sang Puteri.


"Hore, mau pa" Teriak Syifa dengan heboh.


"Ayo sayang" Revan bangkit dan menggendong Puterinya


"Mama mana pa? Gak ikut sama kita?" Tanya Syifa yang melihat kesana sini mencari keberadaan mamanya.


"Mama sedang tidak enak badan sayang, jadi kita berdua aja ya" Syifa pun mengangguk dan mengikuti perintah ayahnya. Mereka pun pergi berdua berjalan jalan tanpa Shinta. Revan membawa Puterinya ke mall ternama di kota A dan mengajak Puterinya bermain Timezone.


"Pa, kalau mama ikut pasti lebih seru" ucap Syifa. Revan hanya tersenyum dan tak menjawab ucapan anaknya. Ia mengambil ponsel dan mengambil potret anaknya beberapa kali dengan gaya yang berbeda, melihat senyum anaknya membuat Revan melupakan sedikit kekesalannya.


Layar ponsel Revan hidup menandakan ada yang sedang menelpon, namun Revan tak menjawab dan menolak panggilan tersebut. Ternyata dan menelpon adalah Shinta, ia masih tak ingin berbicara pada isterinya dan ingin menikmati waktu bersama Puterinya. Lagi pula sudah lama Revan tidak pernah menghabiskan waktu bersama Puterinya.


"Papa, Syifa lapar" rengek Syifa.

__ADS_1


"Yaudah sayang, ayo kita pergi makan dulu" Syifa mengangguk. Revan membawa Syifa keluar dari Timezone dan mencari restauran untuk makan bersama anaknya.


__ADS_2