Ibu Sambung

Ibu Sambung
Anak Mami


__ADS_3

Keesokan hari nya, Shinta terbangun. Melihat Alana yang masih tidur dengan sangat pulas. Shinta melihat jam di dinding menunjuk kan pukul dua belas siang. Sontak Shinta kaget, beranjak dari tidur. Mengikat rambut panjang nya tinggi dengan asal.


"Astaga, kenapa aku bisa bangun sesiang ini? Ya Tuhan, Syifa bagaimana? Hari ini dia kan ujian."


Shinta berlari ke luar, turun dan melihat keadaan di bawah. Revan, Syifa sudah tidak ada. Revan berangkat ke kantor, sedang kan Syifa pergi ke sekolah.


"Ma, maaf Shinta kesiangan, Shinta juga tidak sadar. Satu malaman Shinta tidak tidur karena Alana yang terus menangis."


"Tidak perlu membela diri, lagipula siapa yang akan memarahi mu. Kau ratu di rumah ini bukan?" ketus Tommy, Shinta mendekati papa mertua nya. Ia menyesal, karena kemarin sudah mengatakan hal yang sangat buruk.


"Pa, Maafin tata ya? Tata nggak bermaksud membuat hati papa terluka. Kemarin Shinta begitu sangat khawatir dengan keadaan Alana." Shinta meminta maaf kepada ayah mertua nya dengan setulus hati. Mama Lily pun menenangkan menantu nya.


"Nak, sudah lah. Jangan merasa bersalah, jika mama atau papa berada di posisi mu tadi malam. Mama dan papa pasti akan melakukan hal yang sama. Kamu ibu nya, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada kehilangan seorang anak. Sudah ya, nak. Jangan menyalah kan diri mu seperti itu." Mama Lily memegang bahu Shinta dengan lembut. Shinta menoleh ke arah ayah mertua nya yang memalingkan muka pada nya.


"Pa, hukum lah tata sebagaimana papa mau. Tapi, tolong jangan diam kan tata seperti ini." bukannya menjawab ucapan menantu nya, Tommy malah pergi meninggalkan isteri dan menantu nya itu. Shinta merasa sedih, mama Lily berusaha meyakinkan Shinta jika semuanya akan baik-baik saja.


"Kamu sebaik nya ke kamar dan bersih kan diri dulu ya? Mama mau menyusul papa mu. Dan satu lagi, jangan khawatir atau merasa bersalah. Papa mu memang saat ini sedang marah, tapi kau tahu sendiri. Sifat papa mertua dan suami mu itu sama. Mereka pemarah dan sedikit keras kepala, tapi mereka juga baik dan menyayangi keluarga nya. Kemarahan mereka hanya sesaat, mama yakin. Setelah papa tenang, papa akan melupakan segala nya dan me-maaf kan diri mu." Shinta pun mengangguk. Mama Lily pergi meninggalkan menantu nya sendiri.


*********


Di sekolah, Syifa melamun sendirian di kelas. Terlihat dirinya sedih dengan keadaan dan masalah yang terjadi di rumah. Syifa juga bingung, bagaimana membuat adik adik nya, Alana mengerti dan tidak membuat kekacauan lagi.

__ADS_1


"Syifa, melamun aja." Syifa merasa kaget, dia menoleh ternyata itu adalah Raisa, teman sebangku Syifa.


"Hai, Rei."


"Kenapa? Kok aku liat kamu melamun aja dari tadi, Syif?"


"Ah enggak kok, itu perasaan kamu aja. Aku cuman mikir gimana ujian kita setelah nya, pasti akan sulit." Syifa pun mengeles, ia tak ingin orang lain mengetahui masalah yang di hadapi oleh keluarga nya.


"Bukan kah kau anak yang pintar? Mengapa harus cemas? Kau pasti sudah belajar lebih banyak dari kami semua. Apa yang harus kau khawatir kan?" tanya Raisa kembali. Syifa pun tersenyum dan mengatakan jika diri nya tidak sepintar yang teman-teman nya katakan.


"Aku juga seringkali merasa kesulitan tadi. Jangan memuji ku seperti itu, nanti kuping ku naik." ujar Syifa dengan becanda. Teman sebangku nya itu pun tertawa terbahak-bahak karena candaan oleh Syifa.


"Bagus dong, ternyata aku bermanfaat bagi teman-teman ku. Bisa membuat mu tersenyum seperti ini." ujar Syifa kembali.


"Syifa, aku begitu kagum padamu. Selain cantik, baik, pintar, pikiran mu juga sangat dewasa. Pasti lelaki banyak menyukai mu."


"Mengapa membahas lelaki? Kita ini kan masih sekolah, belum waktu nya memikirkan itu."


"Iya juga sih. Kau benar sekali. Mari ikut lah bersama ku ke kantin, kita akan membeli banyak makanan. Selama kita masuk sekolah, aku tidak pernah melihat mu jajan." tanya Raisa. Syifa segera mengambil bekal dari tas nya. Membuka, menunjukkan pada teman nya.


"Untuk apa aku jajan, aku selalu membawa bekal dari rumah. Ini makan lah, masakan Mam." ucapan Syifa terhenti, ini untuk pertama kali nya Syifa tidak membawa bekal dari masakan sang mama ketika mama nya ada di rumah.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Raisa kembali yang begitu penasaran. Syifa menggeleng kepala nya dan mengatakan tidak ada yang terjadi.


"Tidak, Mama dan orang di rumah selalu membuat kan bekal untuk ku. Mama dan Papa berkata, jika jajanan di luar kurang sehat. Bukan kah akan lebih baik kita memakan masakan dari keluarga tercinta kita?" tanya Syifa kepada teman sebangku nya itu. Syifa juga menawarkan makanan nya kepada Raisa. Namun, Raisa menolak dengan lembut dan memilih jajan di kantin


"Baik lah, aku pergi dulu ya ke kantin. Jika kau berubah pikiran, kau bisa memanggil dan ikut bersama ku." sekali lagi, Raisa mencoba menawarkan jajan di kantin kepada Syifa. Syifa menolak dengan lembut tanpa menyakiti hati teman nya.


"Terimakasih, namun untuk saat ini aku nggak dulu deh. Bekal dari rumah juga belum aku makan, sayang kan makanan nya mubazir jika tidak di makan."


"Oke, aku pergi dulu Syifa." Raisa pun pergi meninggalkan Syifa sendirian di kelas. Setelah kepergian Raisa, Syifa berdoa terlebih dahulu sebelum makan. Ia menikmati bekal yang di bawah dari rumah.


"Eh lihat lah anak manja itu, dia kembali membawa bekal. Haha dasar anak manja." ujar salah satu teman sekelas Syifa yang selalu saja usil pada nya. Syifa tidak menghiraukan ucapan teman-teman nya yang jail itu. Baginya, hanya membuang waktu saja.


"Apa dia tidak malu, sudah gede begini masih saja membawa bekal seperti anak TK. Mungkin, dia masih tidur di bawah ketiak ibu nya."


"Hahahaha." terdengar suara tawa dari beberapa teman sekelas nya yang terkenal nakal dan membuat onar. Syifa masih menikmati makanan yang ia bawa dari rumah. Tak satu pun ucapan itu dia hiraukan. Membuat teman nya kesal, salah satu ketua geng yang bernama Amira itu pun mendekati Syifa, membuang bekal Syifa.


Syifa menoleh ke arah Amira dengan wajah tidak senang.


"Kenapa kau membuang makanan ku?" tanya Syifa yang mencoba sabar menahan perlakuan teman nya.


"Emang nya masalah buat mu? Terserah aku, mau aku apakan makanan mu." ujar Amira yang begitu sombong, Bukan hanya membuang bekal makanan Syifa. Amira pun mengolok-olok Syifa dengan sebutan anak mami

__ADS_1


__ADS_2