
Shinta harus ke klinik memenuhi tugasnya, walaupun saat ini dia tidak fokus memikirkan keadaan Syifa namun ia tetap harus menjalankan tugasnya.
"Tata!" Jerit seorang lelaki, Shinta kaget dan langsung menoleh kebelakang, tampak Ayahnya berjalan mendekati dirinya dengan wajah yang tak ramah. Sorot matanya sangat menakutkan, Shinta menyadari kesalahan yang tadi malam ia buat dengan melarikan diri dari jendela. Ia tak pernah melihat Ayahnya se murka itu, tubuhnya gemetar melihat sosok seorang yang selalu lembut padanya bak malaikat seketika berubah seperti singa.
"Ay....Ayah" gemetar mencoba untuk tenang
Plak.......
Suara tamparan yang sangat keras mendarat ke pipi putih Shinta yang mulus, hingga meninggalkan bercak merah, matanya berkaca-kaca. Jangankan di pukul bahkan Ayahnya tak pernah memarahi nya, namun kali ini Ayahnya menampar dengan sangat kuat. Shinta shock setengah mati, air mata yang dari tadi dia tahan akhirnya tumpah juga, Shinta tak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Brukkk
Tubuh Shinta terjatuh, ini pertama kalinya Ayah Shinta semarah ini padanya sampai memukulnya. Ayah Shinta kaget dia menyesali perbuatannya, dia tak bisa menahan kemarahannya. Ayah Shinta langsung mengangkat kepala Shinta kedalam pelukannya, menggoyangkan pipi nya agar sadar. Ayah Shinta langsung mengangkat dan menggendong tubuh anaknya ke ruangan dimana Shinta praktek. Jennika berlari mendekati ayah Shinta. khawatir dengan sahabatnya yang sedang tak sadarkan diri
__ADS_1
"Tata kenapa om?" Tanya Jennika panik, ayah Shinta tak menjawab, ia menangis menyesali perbuatannya. Jenikka segera menghubungi Syafa ibu dari Shinta.
***********
Drtt.....drtt....
"Hallo" ucap Syafa lembut
"Ha...hallo Tante, Tata tak sadarkan diri di klinik" Suara seseorang dari sebrang sana tak lain ada Jennika. Syafa panik dan langsung bergegas ke klinik Shinta menaikkin taxi. Sesampai di klinik Syafa berlari kedalam agar segera menemui anak semata wayangnya, sepanjang jalan Syafa terus saja menangis mengkhawatirkan Puteri kesayangannya. Tampak sosok pria paru baya tak lain ialah Gunawan suaminya.
"Tenanglah sayang" Mencoba menenangkan isterinya.
"Bagaimana aku bisa tenang sedangkan Puteriku tidak sadarkan diri, apa yang terjadi?" Berteriak histeris. Gunawan mendekati tubuh isterinya
__ADS_1
"Maafkan aku" Memeluk tubuh isterinya. ia menuntun isterinya agar duduk dan mulai menceritakan hal yang terjadi sebenarnya.
"Kamu keterlaluan mas!" Ucap Syafa dengan penuh kecewa, air matanya membanjiri pipi mulusnya, Gunawan menghapus air mata isterinya namun dengan sigap Syafa menangkis tangan suaminya.
"Sejak kapan kamu main kasar dengan anakku hiks" ucapnya kecewa
"Sayang maafkan aku, aku tak sengaja. Aku sangat marah karena sekarang Shinta tak pernah menghargai kita, dia melakukan semua dengan keinginannya tanpa memikirkan kamu dan aku yg khawatir memikirkan nya" memberikan penjelasan pada isterinya
"Tapi kamu ga sepantasnya menampar dia! Dari kecil aku tak pernah memukulinya jangankan memukul, memarahinya saja aku tak pernah!" Ucap Syafa dengan nada kesal.
"Tapi Shinta harus memahaminya sayang, aku tak mau karena rasa sayang kita dia jadi seenaknya bertingkah" Mendekati Syafa, namun Syafa menjauh dari suaminya. Ia sangat kecewa atas perlakuan suaminya. Tiba tiba dokter keluar dari ruangan penanganan untuk Shinta.
"Saat ini pasien sudah sadar, dia tak apa-apa. Kalian bisa menemuinya" Ucap dokter yang memeriksa Shinta.
__ADS_1
"Terimakasi dok, ucap ayah dan ibunya" Syafa tak menghiraukan suaminya, ia langsung menerobos masuk keruangan untuk menemuin Puterinya.