Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 59


__ADS_3

Shinta menatap ibu mertuanya yang diam membisu, ia pun menitikkan air matanya.


"Apa kau tak benar-benar tulus menyayangi Syifa?" pertanyaan itu akhirnya dilontarkan lili, Shinta yang mendengar pertanyaan dari ibu mertuanya pun semakin terisak, ia begitu terkejut. Ibu mertuanya pun salah paham dengannya.


"Bukan begitu maksud tata ma, ta...tapi" belum sempat Shinta melanjutkan ucapannya lili sudah berdiri dan ingin meninggalkan menantunya.


"Niat mu baik, tapi sebaiknya jangan terlalu mencampuri hal yang sudah Revan putuskan, jika kau keberatan merawat cucuku, kami masih bisa merawat dan menjaganya. Tidak perlu repot-repot mendekatkannya dengan wanita itu" lili pun pergi meninggalkan menantunya, dada Shinta begitu sesak mendengar ucapan dari ibu mertua yang selama ini begitu lembut dan menyayanginya. Ia menangis melihat sikap ibu mertuanya, jika sikap Revan yang kasar ia sudah memakluminnya tapi tidak dengan sikap ibu mertuanya yang sudah dia anggap seperti ibu nya sendiri. Shinta pun menangis tanpa suara ia memegang dadanya yang begitu sesak.


"Mama kenapa" Syifa mendekati Shinta dan menghapus air mata Shinta dengan kedua tangannya yang mungil itu, Shinta melihat Puterinya dan memeluk Syifa dengan erat.


"Ayo sayang kita tidur, sudah malam" ajak Shinta kepada Syifa, Syifa pun menganggukkan kepala. Shinta menggendong Syifa dan membawanya kekamar.


"Tidur ya sayang" Shinta menurunkan tubuh mungil Puterinya di atas ranjang, ia mengelus rambut Syifa dengan lembut dan mencium pipinya.


"Apa yang kuharap kan, pernikahan ini hanya demi Syifa. Ya, bersama anak ini saja aku sudah bahagia" Shinta mencoba menghibur dirinya sendiri dan memeluk Syifa di sampingnya. Syifa pun tertidur didalam pelukkan Shinta. Sedangkan Shinta ia masih terdiam memandangi wajah Syifa.


"Aku tau salah, Tapi mengapa harus sekasar itu" butiran cairan bening jatuh dari sudut matanya lagi. sudah Berjam jam ia memeluk Syifa yang sudah nyenyak dalam mimpinya, Shinta melihat jam sudah pukul 1 pagi, ia pun bangkit dan keluar menuju kamarnya. Ia berfikir Revan sudah pulang dan tidur namun saat ia masuk kamar, tidak ada siapun. Shinta menuju kamar mandi dan mencuci mukanya, ia mendekat dan naik keatas tempat tidur menutupi tubuhnya


"Apa kesalahanku, aku akan begitu sangat jahat jika memisahkan ibu dan anak" begitu banyak yang Shinta pikirin. Tak lama ia pun memejamkan matanya dan tertidur.


Cekrek

__ADS_1


Pintu terbuka, suara langkah kaki mendekat kearah Shinta, Revan melihat isterinya yang tertidur nyenyak dengan mata yang begitu nampak sembab, Revan berlalu pergi meninggakkan isterinya ia menuju kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah selesai mandi Revan kembali mendekati Shinta, ia menjongkokkan tubuhnya di tepi tempat tidur memandangi wajah Shinta, ia mengusap pipi Shinta dengan lembut, mencium kening Shinta yang tertidur. Ia begitu menyesal telah berbuat kasar tapi, namun emosinya tak bisa ia tahan lagi. Revan mengusap-usap rambut Shinta, Shinta menggerakkan kepalanya namun tak membuatnya terbangun dari tidurnya. Revan ingin bangkit namun tangannya di pegang oleh shinta dan meletakkan tangan Revan di pipinya, mungkin Shinta bermimpi bahwa itu adalah bantal guling, Revan pun tersenyum melihat wajah gemas isteri nya yang sedang tertidur, ia mengecup kening dan pipi Shinta. Lalu melepaskan tangannya dengan hati hati tanpa membuat Shinta terbangun, Ia membaringkan tubuhnya disebelah Shinta.


Pagi hari, Shinta menggeliatkan tubuhnya ia membuka sedikit mata dan melihat tidak ada siapapun, Shinta terduduk dan bersedih, ia berfikir bahwa Revan masih marah padanya sehingga Revan tidak pulang.


"Apa aku melakukan hal se fatal itu" Shinta pun beranjak dari tempat tidur dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah selesai membersihkan tubuhnya Shinta merapikan tempat tidurnya seperti hal biasa yang selalu ia lakukan setiap hari, orang tuanya selalu mengajarkan Shinta menjadi anak yang mandiri sejak kecil. Jadi, walaupun dirumah suaminya ada beberapa pelayan ia tak pernah membiarkan siapapun membersihkan tempat tidurnya, pantang bagi dirinya. Setelah selesai membersihkan kamar, Shinta keluar dan berniat menemui Puterinya namun tidak ada siapapun di kamar Syifa, ia mencari keseluruh rumah tapi tidak ada siapun yang ada hanyalah pelayan di dapur


"Pagi Bi" Sapanya kepada salah satu pelayan


"Pagi nyonya"


"Ohya bi, Syifa dan yang lainnya pada kemana ya"


"Tuan, nona besar dan juga non Syifa sedang keluar dari pagi pagi sekali nyonya" Shinta hanya mengangguk


"terimakasih ya bi" Shinta pun pergi menuju ruang makan, ia makan sendirian pagi ini. Setelah sarapan pagi, Shinta mengambil kunci mobilnya dan berlalu pergi. Ia mengunjungi kedua orang tuanya, rasanya ia begitu merindukan ayah dan ibunya.


Tok...tok....tokkkkk


.


Shinta mengetuk pintu rumahnya, Syafa keluar dari dalam dan membukakan pintu.

__ADS_1


"Ibu" teriaknya dengan heboh, Shinta langsung memeluk ibunya


"Tata kangen" rengeknya, syafa membalas pelukan dari putrinya, Syafa mengajak Puterinya untuk masuk kedalam rumah.


"Ayah mana Bu" Shinta mencari keberadaan ayahnya namun tidak ada, Syafa Menggenggam tangan Puterinya dan mendudukkan mereka berdua di kursi


"Duduklah, ayahmu sedang ada urusan" Shinta pun mengangguk mengerti.


"Kau sudah makan?" Shinta menganggukkan kepalanya "Namun jika ada makanan Tata ingin makan lagi" cengirnya


"Dasar kau ini" Syafa mengacak rambut anaknya, ia menuju dapur untuk mengambil makanan buat Puterinya.


"Wah, sayur asam kesukaan tata" Shinta pun mengambil makanan yang ada ditangan ibunya dan memakan dengan begitu lahap


"Katanya sudah makan, namun seperti orang yang kelaparan saja"


"Tata kangen masakan ibu" berbicara dengan tidak jelas karena masih penuh makananan yang ada dimulutnya.


"Pelan-pelan sayang, kau bisa tersedak" Syafa hanya menggeleng, walau sudah menikah sifat Puterinya selalu saja seperti anak-anak kalau sudah bersama nya.


"Tata kenyang sekali Bu" setelah selesai makan, Shinta meletakkan piringnya didapur lalu segera mencucinya, seperti itu kebiasaannya sedari kecil. Sering kali dirumah Revan ia ingin mencuci piring, namun pelayan rumahnya tak pernah membiarkan dia mengerjakan pekerjaan rumah walau sudah berdebat sekaligus. Setelah selesai mencuci piring tata kembali keruang tamu menemui ibunya, ia memeluk ibunya dengan erat

__ADS_1


"Tata rindu ibu, rindu ayah" Syafa pun membalas pelukkan Puterinya, mereka saling bertukar pikiran. Bercerita tentang kehidupan Shinta setelah menikah seperti apa, namun Shinta tak memberitahu masalah yang ada dirumah tangga nya ia tak ingin ibunya menjadi khawatir, Shinta hanya menceritakan tentang kebahagiaannya saja. Kedekatan ia dengan Syifa dan itu membuat Syafa lega, Syafa takut pernikahan ini membuat Puterinya tidak bahagia namun ia salah, Puterinya begitu bahagia tanpa ia tahu banyak problem yang dihadapi oleh Puterinya.


__ADS_2