Ibu Sambung

Ibu Sambung
Kecurigaan Syifa


__ADS_3

Caca yang sedang menunggu angkutan umum sedikit merasa pusing, namun ia tak mau mengeluh sama sekali.


"Mama." panggil Syifa yang turun dari mobil, ia baru saja pulang sekolah. Syifa mendekati sang mama. Caca tersenyum pada anak nya. Pandangan nya teralih pada Raisa yang kembali ikut pulang bersama Syifa. Hati Caca merasa sangat sedih dan bersalah, ingin sekali ia memeluk Raisa.


"Mama kenapa berdiri di sini?" tanya Syifa yang memecahkan lamunan Caca.


"Mama mau pulang, Sayang. Mama sedang menunggu angkutan umum."


"Kenapa? Apa Daddy tidak menjemput mama? Kalau tidak kenapa mama pulang."


"Tadi Daddy ke sini, Sayang. Dan mengajak mama pulang namun tiba-tiba ponsel Daddy berbunyi, ada pekerjaan mendadak yang sangat penting. Tidak mungkin, Daddy tidak datang ke kantor. Jadi, mama mengatakan pada Daddy, mama akan pulang naik angkutan umum aja. Awalnya, Daddy menolak. Namun mama meyakinkan Daddy mu." ujar Caca yang berbohong, Syifa tahu jika ibunya itu sedang berbohong. Namun, ia tak mau membuat Mama Caca nya semakin sedih, lagipula ada Raisa di sini. Syifa tak ingin orang asing mengetahui masalah keluarga nya.


Syifa mengajak Caca untuk masuk terlebih dahulu, ia akan meminta izin kepada papa dan mama Shinta nya untuk ikut dengan Caca. Caca tak enak untuk menolak, lagipula dengan itu, Caca bisa dekat dengan Raisa. Anak yang selama ini ia buang. Caca pun berjalan mengikuti Syifa, dan juga Raisa masuk ke dalam rumah. Shinta dan Revan tersenyum, walau mereka tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun, Caca setidaknya masuk dahulu kerumah mereka.

__ADS_1


Syifa, Caca, Raisa masuk ke dalam rumah yang di sambut oleh Shinta dan Revan. Caca menjelas kan jika diri nya ingin pulang namun Syifa meminta nya untuk masuk kembali.


"Tidak apa-apa, kau bisa ke sini kapan saja kau mau. Jangan pernah merasa segan atau tidak enakan." ujar Shinta, Syifa meminta izin kepada Revan dan Shinta untuk ikut Caca kerumah nya. Syifa ingin memastikan jika mama nya di sana akan baik-baik saja, melihat kondisi sang mama yang tiba-tiba datang dengan wajah penuh dengan lebam. Hati Syifa tidak tenang. Shinta pun mengizinkan anak nya, begitu juga dengan Revan.


Syifa yang merasa senang langsung memeluk ke dua orang tua nya, mengucapkan terimakasih karena sudah di izin kan. Segera Syifa mengajak Raisa untuk naik ke atas, mengganti baju terlebih dahulu. Raisa pun mengangguk, mengikuti teman sekaligus kakak nya itu. Walau kedua nya belum mengetahui hubungan mereka.


Setelah mengganti pakaian, Syifa mengajak Raisa turun ke bawah, mereka pun sudah bersiap ke rumah Caca. Revan meminta supir pribadi untuk mengantar mereka. Jika anak-anak ikut, Arvan tidak akan marah atau salah paham.


"Kak, kau bagaikan tuan puteri yang memiliki dua kerajaan. Beruntung sekali kau," puji Raisa, mata nya masih memandangi mansion itu dari luar, Caca yang mendengar ucapan Raisa semakin sedih.


"Ini juga rumah mu, Sayang. Istana mu, maafin Mama yang sudah merebut semua hak-hak mu." batin Caca yang menangis, dan semakin merasa bersalah. Caca mengajak kedua anak nya untuk masuk, Syifa dan Raisa pun masuk. Ketika masuk ke dalam, Syifa heran karena Daddy nya ada di rumah. Tadi mama nya mengatakan jika Daddy nya sedang ada pekerjaan. Caca yang tak ingin Syifa curiga pun berpura-pura bertanya kepada Arvan.


"Sayang, kau sudah sampai di rumah. Bagaimana pekerjaan tadi? Apakah sudah beres?" Arvan membalikan badan nya menoleh ke arah Caca dengan penuh kemarahan, namun seketika amarah nya lenyap karena melihat Syifa dan Raisa.

__ADS_1


"Daddy? Bukan kah mama tadi bilang Daddy ada urusan pekerjaan makanya tidak bisa mengantar mama. Namun, kenapa Daddy ada di sini?" tanya Syifa yang mendekati Arvan. Arvan pun mencari alasan kepada anak nya itu. Walau Arvan saat ini kecewa kepada Caca, namun rasa sayang nya tidak berubah pada Syifa.


"Iya, Sayang. Tadi Daddy ada pekerjaan, namun ada berkas yang harus Daddy ambil. Makanya Daddy pulang ke rumah mengambil berkas penting itu. Tadi nya Daddy singgah ke rumah Syifa tapi mama Caca udah nggak ada. Daddy pikir, mama sudah pulang ke rumah ternyata sampai di rumah, mama Caca belum ada." bohong Arvan. Syifa kurang percaya dengan penjelasan mama Caca dan Daddy Arvan nya. Namun, ia pun memilih diam, Arvan menyuruh Syifa dan Raisa masuk ke dalam kamar Syifa terlebih dahulu. Syifa pun mengangguk. Ia mengajak Raisa ke dalam kamar nya.


"Kau memiliki kamar juga di sini?" tanya Raisa kepada Syifa, Syifa pun mengiyakan ucapan Raisa.


"Daddy dan mama memang selalu menyiapkan kamar pribadi untuk ku di sini, walau aku jarang sekali tidur di rumah Daddy. Tapi, mama dan Daddy selalu membersihkan kamar ku."


"Enak sekali diri mu, ya? Kedua kamar mu begitu mewah dan besar kak, jika kau bosan di rumah mu yang sana, kau akan pindah ke sini begitu juga sebalik nya."


"Aku juga mempunyai kamar di rumah nenek dan kakek ku dari mama Shinta. Juga mempunyai kamar di rumah Oma Elsa, namun semenjak ibu dari mama ku meninggal. Aku tidak pernah kesana, memang aku jarang kesana. Rumah Oma ku lebih besar dari rumah Daddy dan papa Arvan." ujar Syifa memberikan penjelasan.


"Banyak sekali kamar mu ya kak? Tidak seperti ku, hanya memiliki satu kamar itu juga beberapa orang dan satu kamar. Tidak bisa sendirian,"

__ADS_1


__ADS_2