Ibu Sambung

Ibu Sambung
Ingin Mandiri


__ADS_3

"Sudah lah! Percuma bicara dengan kakak! Kakak enggak merasakan apa yang aku rasakan hiks!" Syifa menggelengkan kepalanya "Jangan merasa paling di sakiti padahal kamu sendiri adalah luka bagi orang lain, kamu ingat dong Alana dan Alan. Mereka rela loh kasih sayang ke dua orang tuanya di bagi untuk Khanza padahal mereka tidak memiliki ikatan darah apapun, sedangkan kamu? Kamu satu darah dan satu rahim dengan Khanza!"


"Intinya aku enggak mau Khanza tinggal di sini,"


Syifa tersenyum, namun senyuman itu sangat mengerikan siapa pun yang melihatnya akan merasa sangat merinding "Jika begitu, selamat menikmati rasa sakit dan tidak tenang setiap harinya," Syifa berbisik di kuping sang adik, membuat bulu kuduk Raisa berdiri semua "M-maksud kak-kakak apa?"


Syifa melihat jemari-jemarinya yang panjang dan indah "Ya kamu lihat saja nanti!"

__ADS_1


"Kakak mau siksa aku lagi? Kakak enggak cukup dengan perbuatan kakak tadi?" Syifa menoleh sejenak ke arah Raisa dengan sorotan yang begitu menakutkan "Enggak dong, kakak mana tega nyakitin adik kakak! Tapi kalau kamu membuat kekacauan lagi, kakak akan memberikan Hukuman yang lebih dan lebih! Kamu harus di kasih pelajaran agar merasa jera. Jika tidak, kamu seenaknya menyakiti hati orang lain!"


Raisa terdiam, ia tahu jika itu bukan hanya sekedar ancaman namun itu peringatan "Kak, aku butuh kakak ku yang dulu!"


"Sama, kakak juga membutuhkan Raisa kakak yang dulu! Raisa yang baik, yang cantik dan Raisa yang menggemaskan! Bukan Raisa yang sekarang! Manja, egois, mementingkan dirinya sendiri dan keras kepala!" Syifa mengatakan itu dengan tegas "Kamu ingin kakak yang dulu? Kakak sama seperti dulu, hanya saja. Kakak akan bersikap seperti apa kamu bersikap. Paham?"


Syifa pun masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya, Raisa melirik ke arah kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca "Percuma aku di sini,.kakak ku saja membenci aku! Intinya aku ingin kembali ke Penang, aku enggak mau di sini!" Raisa berteriak, membuat darah Syifa mendidih "Raisa, cukup ya! Cukup manja kamu!"

__ADS_1


Syifa membentak adiknya, Caca ingin membela Raisa dan memarahi anaknya Syifa. Namun Arvan menggelengkan kepalanya, ia pun berbisik di kuping sang istri "Aku sudah katakan, jangan mencampuri tentang Syifa dan Raisa. Jika Raisa sudah tidak mau menghormati dan mendengarkan kita. Biarkan Syifa yang mendidik adiknya! Ia hanya takut dengan Syifa, bahkan dia tidak menghormati kita karena kamu selalu manja dengannya. Mau sampai kapan? Raisa bisa bertindak makin jauh, kamu mau anak kita sama seperti mama mu?"


Bisikan Arvan membuat Caca bungkam, ia hanya bisa melihat perdebatan anaknya "Oh kamu mau balik ke Penang? Ya sudah balik sana! Siapa juga yang melarang mu, tapi kamu kuliah dengan biaya mu sendiri jangan meminta apapun kepada mami dan daddy! Kamu harus mandiri, kan kamu enggak butuh mereka!"


"Kakak jangan ikut campur! Bukan uang kakak!"


"Harus dong! Kan katanya mau mandiri," dengan santai Syifa mengatakan itu kepada adiknya

__ADS_1


Raisa masih menatap maminya dengan sendu namun Caca tak mengatakan apapun "Iya, sayang! Apa yang kakak kamu katakan itu benar! Dan jika kamu ingin mandiri kamu harus mencari uang untuk hidup dan pendidikan kamu,"


__ADS_2