Ibu Sambung

Ibu Sambung
Tidak Menerima


__ADS_3

Caca dan keluarganya telah sampai di Indonesia, dengan berat hati Raisa harus mengikuti semua permintaan keluarganya. Memang ini kesalahan yang ia buat sendiri, andai dirinya tidak mabuk-mabukan kemarin Daddy-nya Arvan tidak akan murka seperti itu.


Caca dan Arvan tidak sabar bertemu dengan anak mereka Khanza dan juga Shinta. Mereka langsung menuju rumah Shinta, Caca menekan bel rumah


Shinta membuka pintu. Seakan tak percaya, jika Caca yang datang "Caca? Hai, bagaimana kabar mu? Sungguh aku tidak percaya jika kamu pulang. Kami di sini sangat merindukan kamu!"


Shinta memeluk erat sahabatnya itu "Hampir sepuluh tahun kita tidak berjumpa, dan tujuh tahun belakangan ini kau tidak bisa aku hubungi. Raisa selalu mengatakan jika kamu sibuk mengurus Arvan, tidak bisa di ganggu!"


Caca terdiam, selama ini keluarga di Indonesia berusaha menghubunginya namun Raisa tidak pernah memberitahunya. Ia melirik ke arah anaknya, Raisa tertunduk namun Caca tidak mau membahas


Ia takut jika Arvan kembali emosi, Shinta pun mengajak Caca, Arvan dan Raisa untuk masuk.


"Wah, Raisa sayang sekarang kamu tubuh menjadi anak yang sangat cantik," Shinta memeluk Raisa, Raisa membalas pelukan itu dengan malas.


Caca yang masuk melihat Syifa sedang duduk santai. Syifa yang melihat mama kandungnya langsung berlari dan memeluk "Mami!"


Syifa sangat cantik dengan natural, daripada Raisa yang di dempul oleh make-up.


Bibir merah yang tipis, hidung mancung dan bulu mata yang tebal membuat Syifa cantik dan begitu enak di pandang walau tanpa make-up


"Sayang, kamu sudah sebesar ini sekarang mami merindukan mu!"


"Syifa juga merindukan mami, setiap hari Syifa menghubungi mami dan Daddy namun Raisa yang selalu mengangkatnya. Ternyata, Raisa memberikan kekuatan kepulangan kalian!" Syifa mengatakan dengan hati gembira, Caca memeluk anaknya dengan erat.


Keduanya saling melepaskan pelukan itu, Syifa menoleh ke arah Daddy-nya. Matanya berkaca-kaca, Syifa langsung berlari dan memeluk Arvan "Daddy!" Terlihat Syifa yang terisak, sepuluh tahun berpisah dari mereka bukan lah hal yang mudah untuk Syifa.

__ADS_1


Terkadang dirinya marah dengan keadaan yang begitu tidak adil. Arvan mengelus rambut Syifa dengan penuh cinta, kasih dan sayang


"Hai, anak kesayangan Daddy. Bagaimana kabar kamu? Sungguh, kamu menjelma menjadi seorang bidadari, sangat cantik!" Wajah Syifa memang bersinar, dan wajahnya yang begitu teduh sangat enak di lihat.


"Terimakasih banyak, Daddy!"


"Mama!"


Semua orang menoleh ke arah suara itu berasal, Caca maju dan membuka kedua tangannya untuk memeluk gadis kecil yang ia yakini itu adalah Khanza.


Namun Khanza mengabaikannya dan memeluk Shinta, Shinta merasa tak enak hati. Suasana berubah menjadi tegang apalagi saat melihat wajah Caca yang awalnya tersenyum kini terdiam.


"Mama, Khanza tadi tidur. Saat bangun melihat mama enggak ada!" Khanza terlihat begitu manja dengan Shinta. Shinta pun diam, kini sudah saatnya ia merelakan Khanza.


Khanza melihat dua orang yang tak asing baginya.


"Ini pasti mami dan Daddy?" Keduanya tersenyum haru saat Khanza mengenali mereka. Caca melirik ke arah Shinta, Shinta pun mengangguk


"Anak mami!" Caca langsung memeluk putrinya yang ia tinggalkan sejak kecil. Tangis harus memecah, Caca senggugukan di pelukan anaknya.


Berulangkali Caca memeluk dan menciumi pipi dan seluruh wajah Khanza "Sayang, apa kabar? Mami merindukan kamu!"


"Baik, Khanza baik-baik saja. Ada mama Shinta yang menjaga Shinta dengan baik,"


Caca mengangguk, mencium kedua tangan anaknya "Mami tahu, mama Shinta bisa menjaga kamu dengan baik nak!"

__ADS_1


Caca mengecup anaknya, ia sangat menyayangi dan merindukan anaknya itu


Raisa melirik dengan jengah, ia sangat bosan dengan suasana yang ada dihadapannya.


Seharusnya, mereka tidak kembali ke Indonesia sekarang. Seharusnya, mami dan daddynya hanya fokus dengan ia bukan kepada yang lain.


Shinta melihat ke arah Raisa yang terlihat tidak senang.


"Sayang, mari ikutlah dengan mami dan daddy kembali?"


Saat mendengar itu, Khanza langsung jalan mundur menjauhi Caca dan juga Arvan.


"Tidak! Ini rumah Khanza! Khanza akan tetap tinggal bersama mama Shinta, kak Syifa dan yang lainnya di sini!" Khanza berteriak, ia hanya tahu jika Caca memang ibu kandungnya.


Namun bagaimana pun, Khanza begitu nyaman dengan Shinta. Tidak mungkin ia ikut dengan orang yang baru pertama kali ia lihat. Mendengar itu, Raisa tersenyum senang.


Alan dan Alana langsung turun ke bawah, melihat Caca, Arvan dan juga Raisa. Keduanya merasa senang, karena kehadiran mereka yang sudah lama pergi.


"Mami, Daddy, kak Raisa!" Alan dan Alana memeluk ketiganya secara bergantian, Caca dan Arvan membalas pelukannya


"Sayang, kalian sudah besar sekarang?"


Mereka pun mencoba untuk mencairkan suasana.


Shinta mendekati Khanza dan memberikan pengertian kepada anaknya "Khanza, Sayang. Kamu harus tinggal dengan mami dan Daddy ya?" Shinta Mengatakan itu dengan hati yang sakit, namun ia tidak bisa egois. Ia juga harus tahu, jika dirinya di sini hanyalah ibu pengganti untuk Khanza. Ia tidak memiliki hak apapun untuk memilikinya!

__ADS_1


"Enggak! Khanza enggak mau! Khanza cuma mau sama mama!" Khanza histeris, berteriak "Khanza cuma mau tinggal sama mama Shinta. Bukan sama yang lain! Khanza enggak kenal sama mami, sama Daddy! Khanza hanya tahu mereka dari gambar yang mama dan kakak tunjukkan, lagipula mami dan Daddy tidak pernah menghubungi ku hanya untuk bicara sebentar!" Khanza merasa tidak terima dengan semua ini. Dirinya masih syok dengan semua ini. Mungkin ia bisa menerima jika Caca dan Arvan adalah orang tua kandungnya. Namun Khanza tidak bisa menerima jika ia akan di pisahkan oleh Shinta.


Khanza berlari memeluk Shinta "Khanza sayang mama. Khanza enggak mau pisah sama mama!"


__ADS_2