Ibu Sambung

Ibu Sambung
Cemburu


__ADS_3

Arvan masih merasa bingung, akhir nya Caca pun menjelaskan segala nya kepada suami nya itu. Mendengar itu arvan langsung tersenyum


"Istri ku memang pintar." bisik nya kepada Caca. Ia merasa bangga kepada sang istri.


Awalnya Arvan mengira jika Caca begitu keterlaluan kepada anak sulung mereka namun istri nya melakukan itu agar Raisa tidak kembali salah paham.


Raisa sudah cukup merasa jika diri nya tidak di butuh kan oleh Caca dan Arvan di rumah itu. Kini, orang-orang yang ada di lapangan pun sudah pergi meninggalkan keluarga Arvan yang tersisa.


Di situ, Caca kembali meminta maaf kepada Raisa ia pun mengatakan kepada Raisa jika diri nya sangat menyayangi Raisa.


"Sayang, maafin mami ya nak? Mami enggak bermaksud membuat Raisa sedih. Mami Sangat menyayangi Raisa."


Caca memeluk ke dua anak nya dengan lembut, ia pun menyadari jika diri nya memang gagal menjadi ibu yang baik untuk Raisa dan Syifa. Ia sudah menelantarkan ke dua anak nya.


Bahkan ia tak pernah tahu bagaimana pertumbuhan anak-anak nya, Raisa dan Syifa pun mengerti.


"Maafin Raisa ya mami, Raisa masih sangat anak-anak sekali untuk memahami segala nya tidak seperti kakak Syifa yang begitu bijaksana menerima segala nya dengan lapang dada."


"Sudah nak, jangan mengatakan hal itu. Kamu juga anak yang baik dan bijaksana, sama seperti kakak mu. Kalian adalah malaikat-malaikat kecil mami."


Mereka pun kembali berpelukan, kini masalah keluarga Caca sudah selesai..Caca bersyukur karena Raisa bisa memahami segala nya. Namun, Raisa meminta waktu kepada Mami dan juga Daddy nya untuk menginap di rumah kakak nya Syifa.


Caca dan Arvan pun setuju, karena bagaimana pun Shinta pasti akan menjaga dan memperlakukan Raisa dengan baik seperti Syifa dan si kembar.


"Baik lah, nak. Tapi, jangan menyusahkan mama Shinta ya?"


Raisa mengangguk, kebetulan lonceng berbunyi menandakan waktu nya pulang. Caca,Arvan pun mengantarkan Raisa dan juga Syifa ke rumah Shinta.


Sesampai di rumah Shinta, Shinta membuka pintu, terlihat ia sedang bermain bersama si kembar Alan dan Alana.


Shinta terlihat sangat senang dengan kehadiran mereka, ia langsung memeluk Caca.


"Apa kabar mu? Aku sangat merindukan diri mu..Sudah lama sekali tidak bertemu,"


"Kau ini terlalu basa-basi, kita kan baru pulang kemarin dari rumah ibu." pukul Caca kepada Shinta. Shinta pun terkekeh.


"Aku hanya ingin terlihat seperti orang-orang yang kedatangan keluarga."


Caca dan Arvan menggeleng melihat tingkah laku Shinta. Selalu saja seperti itu, Shinta mempersilahkan mereka masuk.


"Hai, Sayang. Kamu juga ikut," sapa Shinta kepada Raisa, Raisa mengangguk dan menyalami Shinta.


"Ta, katanya Raisa mau menginap di sini. Boleh?" tanya Caca. Sontak pertanyaan nya membuat Shinta marah.


"Apa sih, Raisa boleh kapan aja ke sini. Enggak ada larangan dan enggak perlu minta izin. Ini juga rumah dia, kamu itu seperti sama orang lain saja."


"Bukan begitu, aku takut merepotkan mu apalagi mengurus si kembar juga baby Al."


"Enggak masalah buat aku, semakin banyak anak-anak aku senang. Rasanya rumah ini seperti taman bermain, jadi rame."


Shinta mempersilahkan Caca dan yang lain nya duduk. Ia juga meminta Syifa mengajak Raisa untuk mengganti pakaian terlebih dahulu. Shinta selalu menyediakan pakaian baru, berjaga-jaga kalau Raisa ingin bermain dan menginap di rumah nya.


Syifa pun mengajak adik nya untuk mengganti pakaian terlebih dahulu. Shinta juga meminta tolong pelayan nya untuk memasak menyiapkan makan siang.


"Kalian di sini, sekalian aja kita makan siang bersama."


"Enggak usah, Ta. Aku ninggalin Khanza sendiri di rumah, kasian dia kalau lama-lama di tinggal."


"Kenapa enggak di bawa tadi?" tanya Shinta. Caca dan Arvan terdiam, ia melihat ke arah mereka secara bergantian.


"Dan tumben sekali kalian ke sekolah, apakah ada masalah?" tanya Shinta penuh selidik. Biasanya Syifa dan juga Raisa selalu di antar jemput supir. Tapi, kenapa mereka pulang bersama Caca dan juga Arvan.


"Enggak ada masalah apa-apa, tadi kami ada urusan keluar dan sekalian singgah ke sini karena Raisa kata nya mau menginap di rumah kalian."

__ADS_1


Namun, Shinta tak mempercayai ucapan Arvan. Ia yakin jika sesuatu telah terjadi.


"Kalian enggak berbohong kan?" tanya Shinta penuh dengan penekanan..Caca ingin bercerita namun Arvan melarang karena ia tahu bagaimana emosi Shinta jika tahu jika Syifa di permalukan seperti tadi oleh Caca.


Walau itu hanyalah sebuah sandiwara, namun Arvan yakin Shinta tak akan menerima alasan apapun jika berkaitan dengan Syifa dan melukai hati Syifa.


"Ta, kami kan juga orang tua Syifa. Kalau ada apa-apa sama anak-anak ya pasti kami bilang ke kamu." ujar Arvan kembali, Shinta menatap Caca yang menunduk tak berani menatap mata nya..Namun, Shinta pun enggak mau memperpanjang masalah itu.


"Yasudah, tapi kalian tunggu lah sebentar. Kita makan siang bersama."


"Lain kali aja ya? Kasihan Khanza kita udah meninggalkan Khanza terlalu lama." ujar Caca, Shinta pun mengangguk. Caca dan Arvan berpamitan untuk pulang.


"Kalian enggak nunggu anak-anak sampai turun dulu?"


"Mereka udah tau kok, tadi di dalam mobil aku udah izin ke mereka."


"Baik lah, hati-hati ya? Titip sayang ku kepada Khanza."


Caca tersenyum dan bangkit dari tempat duduk nya. Ia dan Arvan pun segera pamit pulang.


Setelah Caca dan Arvan pulang, Syifa dan Raisa turun untuk makan siang.


"Mami dan Daddy baru aja pulang. Yaudah kita makan siang dulu yuk?" ajak Shinta kepada anak-anak nya."


Shinta melihat mata Raisa dan Syifa yang sembab, menandakan mereka habis menangis.


"Kalian habis nangis? Kenapa?"


"Enggak ma, maksud nya iya kami tadi menangis karena ada latihan drama untuk acara sekolah nanti." ujar Syifa yang berbohong, ia tak mau membuat Mama nya khawatir lagi. Menurut Syifa, masalah ini juga sudah selesai tidak perlu di perpanjang lagi.


"Mama mengira kalian ada apa-apa. Soalnya mata kalian begitu sembab, yaudah makan dulu yuk."


Shinta juga memanggil Alan dan Alana untuk makan siang bersama, pengasuh si kembar pun membantu mereka untuk makan siang.


"Kamu makan aja ajak teman mu yang lain, biar si kembar saya yang suapi. Ini juga udah jam makan siang kalian," ujar Shinta kepada pengasuh anak nya.


"Baik, Nyonya. Terimakasih."


Pengasuh itu pun segera pergi menuju ruang makan khusus para pelayan dan pekerja di rumah. Shinta menyuapi Alan dan Alana dengan sabar.


Walau Alan baik dan tak banyak tingkah, namun berbeda dengan Alana yang manja dan sedikit kwalahan jika menyuruh nya makan.


"Alana makan dulu, Nak. Nanti main lagi, bersama kakak Raisa dan kak Syifa."


"Alana enggak mau makan mama." ujar Alana yang merengek, namun Shinta tak mau memanjakan anak nya lagi. Ia pun sekarang mulai tegas kepada Alana agar Alana tidak menjadi anak yang manja.


"Alana jika mama bilang Alana untuk makan ya kamu makan! Kalau Alana enggak mau makan, jangan harap kamu bisa bermain dan mama membelikan mainan lagi untuk Alana." ancam Shinta kepada anak nya, tak ada pilihan Alana pun mengikuti ucapan mama nya.


Bukan nya Shinta mau galak kepada anak-anak, namun jika tidak seperti itu Alana tidak akan mengerti dan selalu dengan kemauan nya saja.


Alana menangis namun ia tetap memakan makanan nya.


"Jangan nangis dong, Alana! Mama enggak suka ya liat Alana seperti ini. Kan di suruh makan, bukan mama suruh yang lain." Alana menghapus air mata nya, Alan pun menenangkan saudara kembar nya itu.


Syifa ingin membujuk sang adik namun di larang oleh Shinta mama nya. Mau sampai kapan Alana terus-terusan bermanja seperti itu.


Jika Shinta tak melakukan tindakan, kelak Alana besar akan tetap menjadi anak yang keras kepala yang hanya memikirkan kemauan nya tanpa memikirkan perasaan orang lain.


"Mama Alana sudah kenyang."


"Lima suap lagi ya nak? Alana baru dua suap loh makan nya. Ayo jangan membantah mama!" Alana pun menuruti mama nya.


Jika ada sang papa, mungkin Alana sudah berlari meminta perlindungan kepada papa nya. Namun, Revan sedang bekerja dan hanya ada Mama, kakak dan juga pekerja di rumah saja.

__ADS_1


"Ma kasihan Alana dia udah kenyang seperti itu." ujar Syifa namun Shinta hanya menggeleng. Seakan memberikan isyarat kepada anak nya untuk tidak memanjakan Alana.


"Sayang, Alana juga baru makan dua suap enggak ada kenyang nya begitu. Kakak Syifa, Raisa dan juga Alan jangan manjain Alana seperti itu. Nanti dia jadi nya susah makan. Lihat badan Alana sudah mulai kurus, tidak seperti kalian."


Memang benar, Alana susah sekali makan dan badan nya sangat kurus seperti tidak terurus. Memang harus Shinta yang turun tangan langsung memberikan makan untuk anak-anak nya. Karena pengasuh akan takut jika memaksa anak-anak karena merasa tidak mempunyai hak apapun dan takut kehilangan pekerjaan nya.


Namun, menurut Shinta jika itu demi kebaikan anak-anak nya ia tidak marah kalau pengasuh bersikap tegas kepada anak-anak.


Alana pun akhir nya menghabiskan makanan nya. Shinta senang, ia pun mencium anak nya.


"Anak mama memang pintar."


Selesai makan siang, Shinta mengajak si kembar untuk tidur siang bersama.


Shinta juga meminta kepada Raisa dan Syifa untuk istirahat sebentar di kamar. Syifa juga Raisa mengiyakan ucapan Shinta.


Shinta memang selalu tegas dan memberikan peraturan untuk anak-anak nya agar bisa disiplin terhadap waktu.


Shinta menggendong Alan dan Alana secara bersamaan. Melihat Shinta yang kwalahan pengasuh langsung mendekati mereka. Dan menawarkan agar diri nya saja yang menggendong.


Shinta melihat nasi di piring pengasuh nya masih ada yang menandakan jika belum selesai makan.


"Tidak usah, biar saya saja. Kalian nikmati saja makan nya dan bersantai. Setelah makan, tolong bersihkan ruang makan sebelah ya setelah itu kalian semua bisa pergi tidur siang atau istirahat. Saya enggak mau kalian lelah bekerja, ini juga waktu nya jam tidur siang."


Shinta pun menyuruh para pekerja yang ada di rumah nya untuk bisa menikmati waktu bersantai. Ia juga meminta penjaga luar untuk mengunci seluruh gerbang sebelum pergi untuk tidur.


Revan juga telah memberikan pengamanan untuk rumah nya, jadi ketika penjaga rumah sedang tertidur. Rumah mereka aman, akan ada beberapa orang lagi yang bergantian menjaga di luar rumah.


Shinta pun masuk ke dalam kamar anak-anak nya, Alana sebenarnya tidak mengantuk namun ia takut jika mama nya marah kembali.


"Mama, Alana mau di dengali dongeng sama mama."


"Baik nak, mama akan membacakan dongeng untuk Alana dan juga Alan ya. Tapi, mama harus melihat adik kalian dulu. Alan dan Alana tunggu lah di kamar sebentar ya?"


Si kembar pun mengangguk, Shinta mengingatkan anak nya untuk tidak bermain lagi dan membaringkan tubuh mereka di atas tempat tidur. Setelah memastikan si kembar berbaring, Shinta pergi ke kamar baby nya.


Seluruh pengasuh sedang beristirahat, pasti anak nya sendirian di kamar. Ia pun masuk ke dalam kamar anak nya yang bayi.


Kamar yang di renovasi Revan untuk ke empat anak nya juga belum sepenuh nya selesai. Jadi mereka belum bisa tidur bersama dan masih memiliki kamar yang terpisah


Shinta masuk ke kamar bayi nya, ia terkejut ternyata satu pengasuh masih menjaga baby Al.


Shinta bertanya mengapa ia tak ikut istirahat dengan yang lain, pengasuh itu mengatakan ia akan pergi istirahat ketika salah satu pengasuh kembali. Ia tak mau meninggalkan baby Al seorang diri.


Shinta tersenyum, ia merasa bangga kepada pengasuh baby nya. Walau ia meminta seluruh pekerja rumah untuk istirahat namun satu pengasuh itu tidak melakukan nya, ia lebih mengutamakan keselamatan baby Al ketimbang kesehatan nya sendiri.


"Sekarang udah ada saya, kamu bisa pergi istirahat menyusul teman-teman kamu yang lain di bawah."


"Baik, Nona."


Pengasuh itu pun segera ke luar dari kamar, Shinta melihat bayi nya yang sedang tertidur dengan lelap. Shinta ingin menggendong nya namun ia takut malah akan membangunkan bayi nya.


"Nyenyak sekali tidur mu, Sayang. Mama enggak mau anak mama bangun dan menangis," Shinta pun hanya memandangi anak nya dari jarak yang tidak terlalu dekat.


Gemas sekali rasanya dia, ingin mencium sang anak namun kasihan jika harus menganggu waktu tidur bayi nya.


Shinta pun rasanya tidak rela kehilangan momen-momen perkembangan anak-anak nya. Sebab itu ia menolak suami nya menggunakan pengasuh untuk menjaga anak-anak.


Namun, ia juga tahu jika diri nya pun tak bisa menangani mereka sekaligus. Terutama Alana yang begitu sulit di berikan pengertian, Alana juga sangat cemburu jika melihat mama dan papa nya lebih perhatian kepada adik nya.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


***Jangan lupa baca juga karya terbaru author yang berjudul "Dua Hati Dua Cinta."

__ADS_1


Jangan pernah bosan juga untuk memberikan like, komen dan vote ya kak. Masukan dari kakak-kakak sangat berarti untuk author yang masih banyak kurang nya. Tanpa dukungan kalian Sangrainily bukan lah apa-apa♥️♥️***



__ADS_2