Ibu Sambung

Ibu Sambung
Kemarahan Raisa


__ADS_3

Sesampai di rumah, Shinta membersihkan tubuhnya. Raisa menghampiri, bertanya kepada Shinta bagaimana keadaan Mami dan Daddy-nya.


"Ma, bagaimana keadaan Mami?" tanya Raisa dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sangat sedih mengkhawatirkan keadaan kedua orang tuanya.


Syifa sudah mengatakan kepada Raisa untuk tidak khawatir.


"Nak, jangan menangis. Tadi Mama sudah ke rumah sakit. Mami sudah jauh lebih baik namun memang mami tidak pulang kerumah karena Daddy belum sadar. Kamu jangan menangis lagi ya? Mama tidak senang melihat anak-anak mama bersedih."


Shinta sudah menganggap anak-anak Caca seperti anak kandungnya sendiri.


Ia pun memeluk Syifa dan Raisa. Memberikan kekuatan kepada kedua anak tersebut.


Syifa pun mengangguk, ia khawatir dengan keadaan Mamanya Caca namun Syifa pun tidak mau melihatkan kesedihannya.


Ia tau jika semua akan baik-baik saja.


"Sudah jangan lagi kalian pikirkan, sebaiknya kalian istirahat di kamar."

__ADS_1


Raisa melepaskan pelukannya dari Shinta, ia terlihat kesal. Dengan air mata yang mengalir, Raisa mengungkapkan rasa sakit dan khawatirnya.


"Bagaimana Raisa bisa tenang kalau mami dan Daddy sedang sakit? Apa kakak bisa tenang jika yang ada di rumah sakit itu Papa Revan dan juga mama Shinta? Kakak bisa mengatakan ini karena kakak tidak merasakan kesedihan ku. Ke dua orang tua ku sedang berbaring di rumah sakit."


Raisa berlari ke luar, Syifa ingin marah. Namun Shinta melarang anaknya


"Sudah sayang, kamu jangan terpancing emosi! Biar mama yang akan bicara kepada Raisa, kamu harus tenang. Api tidak boleh di balas api, nak!"


Syifa pun diam, ia mengatakan kepada mamanya akan kembali ke kamar. Shinta mengangguk, Syifa langsung berlari menaiki anak tangga satu persatu.


Syifa membanting pintu kamar sekuat mungkin, Shinta yang di bawah pun mendengar suara bantingan pintu itu.


Tentu saja membuat Revan emosi, ia ingin menghampiri dan menegur anaknya.


"Jangan, biarkan kan dia! Saat ini mereka sedang mengkhawatirkan ibu mereka, dan hati mereka sangat terluka. Mereka hanya salah paham, biarkan aku berbicara kepada Raisa dan Syifa harus tetap tenang di kamar. Jangan marahin dia!"


Revan pun mengangguk, menyerahkan segalanya kepada sang istri.

__ADS_1


Shinta pun berjalan menyusul Raisa yang menangis di taman.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Shinta kepada Raisa dengan lembut, Raisa menatap Shinta dengan mata sendunya


"Mama tau kenapa Raisa begini, mengapa kalian mengatakan Raisa enggak boleh khawatir? Apakah mama akan tetap tenang jika ke dua orang tua mama yang berada di sana?"


Shinta terdiam, memahami perasaan Raisa.


Untung saja Revan tidak ada di sini, jika ada suaminya mungkin Revan akan terpancing Amarah melihat sikap kurang ajar dari Raisa.


"Mama tau apa yang kamu rasakan sayang,"


"Mama enggak tau! Begitu juga dengan kak Syifa, ia tidak pernah merasa khawatir dengan Mami dan Daddy karena di sana bukan Mama dan Papa!"


Shinta menghela nafas panjang, ia menatap Raisa dengan mata teduh nya.


"Nak, kamu lupa jika Mami itu juga ibu kandung kak Syifa? Mami Caca bukan hanya mengandung dan melahirkan kamu dan juga Khanza, namun juga kak Syifa. Kak Syifa lahir bukan dari rahim mama namun dari rahim Mami Caca. Kak Syifa juga khawatir sama seperti kamu namun ia berusaha tegar agar kamu tidak merasa khawatir."

__ADS_1


__ADS_2