
Shinta terbangun dari tidurnya, ia melihat jam dinding di kamarnya yang menunjukan sudah pukul 6 pagi, ia segera bergegas mengikat rambutnya keatas dengan asal, membersihkan kamarnya seperti biasanya. Setelah selesai membereskan tempat tidurnya, ia mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. 45 menit berlalu Shinta keluar dari kamar mandi dengan tampilan baju prakteknya, ia mengeringkan rambut panjangnya dengan hair dryer. Setelah bersiap siap ia keluar dari kamarnya untuk sarapan dan juga berangkat ke klinik.
"Pagi Yah, Bu" sapanya. Semenjak kejadian kemarin malam, ia sedikit canggung bertemu dengan kedua orang tuanya, namun ia berusaha untuk bersikap normal seperti biasa.
"Pagi" Serentak Syafa dan juga Bian. Shinta duduk dan memandangi wajah ayah dan ibunya secara bergantian
"Apa Ayah dan Ibu marah padaku ya" Gumamnya dalam hati, ia mengambil nasi dan ikan kedalam piringnya, ia masih memandangi kedua orang tuanya yang tidak seperti biasanya. Shinta memakan makanannya dengan rasa yang sangat canggung. Ibu dan ayah nya juga tak berbicara sepatah kata pun itu membuatnya semakin sedih
"Apa benar keputusan ku salah ya, sampai melukai hati kedua orang tua ku" Batin Shinta sambil memakan makanannya.
"Rasanya aku kehilangan selera makan karena di diamkan oleh ayah dan ibu hiks" Shinta meletakkan sendok ya yang ia pegang ke piring. Ia bangkit ingin pergi ke klinik
"Kenapa tidak dihabiskan makananmu" Tanya ibu
"Tata sudah kenyang Bu, Tata harus segera ke klinik" ia menyalami ayah dan ibunya secara bergantian
__ADS_1
"Tata pamit"
"Iya" jawab sang ayah dan ibu yang masih mengacuhkannya. Shinta pergi dengan perasaan yang sangat kacau melihat sikap kedua orang tua nya yang mendadak berubah drastis, kelopak matanya sudah penuh dengan butiran kristal air matanya yang tak menunggu waktu lama untuk terjatuh. Ia mengambil sepeda motornya dan mengendarai motornya dengan tatapan yang kosong.
*Tit.....titttt....tikkk
Shinta tersadar dari lamunannya akibat Suara klekson mobil yang ada di belakanganya
"Jalan dong mbak, kalau mau melamun jangan di jalan begini! buat macat aja!!" Teriak bapak bapak yang ada di dalam mobil
"Maaf pak" Shinta menjalankan motornya sampai ke klinik. Ia masuk kedalam ruangan prakteknya dengan sangat lemas, Jennika yang melihat raut wajah sang sahabat langsung mendatangi Shinta.
"Jen" Shinta memeluk sahabatnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Eh kenapa" tanya Jennika panik. Shinta melepaskan pelukannya dari sahabatnya.
__ADS_1
"Ibu dan Ayah diemin aku hiks" akhirnya airmata yang dari tadi ia tahan tumpah juga.
"Kenapa om dan Tante diemin kamu? bukannya Tante Syafa sayang banget sama kamu" Tanya Jennika dengan penasaran.
"Kemarin itu aku pulang, terus aku bilang kalau mau nikah sama Revan, Ayahku ga setuju dan marah banget hiks" Shinta menangis seperti anak kecil.
"Udah ta jangan nangis! Sini aku peluk" Jennika memeluk Shinta dengan penuh kasih sayang.
"Udah jangan sedih, mungkin Ayah dan Ibumu lagi syok aja dengar kamu mau menikah dengan duda anak 1" mencoba menenangkan shinta.
"Tapi apa salahnya coba? akukan ga cinta sama dia, aku hanya mencintai anaknya" melepaskan pelukannya dari Jenikka, dan memanyunkan mulutnya kedepan.
"Hihi" geli Jennika melihat wajah menggemaskan Shinta.
"Kenapa ketawa coba" Tanyanya sebal
__ADS_1
"Kamu gimana mau nikah, sedangkan sikapmu aja masih kaya anak kecil begini haha" mencubit pipi Shinta dengan gemas.
"Sakit tau!" memukul tangan Jennika.