
Shinta masih tak sadarkan diri, shock yang begitu dashyat ia rasakan membuat nya tidak bisa kehilangan kendali.
Gunawan mengabari para kerabat dan rekan kerja nya..Ia juga meminta Revan untuk menghungi orang tua Revan.
Revan yang tak bisa berfikir jernih lagi, memberikan ponsel nya kepada ayah mertua nya. Ia meminta tolong kepada ayah mertua nya untuk menghubungi semua kerabat mereka.
Ayah Gunawan menyerahkan ponsel Revan dan Shinta kepada Arvan..Meminta tolong kepada Arvan untuk mengurus semua nya. Arvan mengangguk, ia pun mengabari orang-orang terdekat memberitahu kematian anak bungsu Revan dan Shinta.
Shinta perlahan membuka mata nya perlahan, ia tersenyum. Ia berfikir jika itu hanya mimpi buruk, ia bangkit dan mendekati suami dan ayah nya..
"Ayah, sayang."
Gunawan dan Revan mendengar suara Shinta langsung mendekat, Shinta tertawa ia merasa sangat bahagia. Ia mengatakan kepada suami dan ayah nya jika ia sedang mimpi buruk tadi.
"Ayah tau, tadi tata mimpi sangat buruk. Dokter mengatakan jika baby Al tidak bisa di selamatkan, namun tata tau itu tidak benar, bukti nya tata terbangun dari tidur tata."
Gunawan, Revan dan juga Arvan tak kuasa mendengar ucapan Shinta.
Shinta memandangi mereka satu persatu, mata nya berkaca-kaca. Ia melihat seisi ruangan yang ia tempati.
"I-ini di mana? I-ini bukan rumah kita kan?" tanya Shinta, Revan mendekati istri nya dan memeluk Shinta. Revan mengatakan Jika itu bukan mimpi buruk, namun kenyataan..Mereka sudah kehilangan anak bungsu mereka.
Shinta histeris, namun Revan mempererat pelukan nya. Memberikan kekuatan kepada istri nya..
"Tenangkan diri mu, sayang.. Kita harus kuat dan menerima semua nya."
"Enggak aaaaaaaaah, itu ti-tidak mungkin. A-anak kita tidak kenapa-kenapa." Shinta tidak bisa menerima kabar duka itu, Revan pun hancur dengan semua ini. Namun mereka juga harus menerima semua nya.
Salah satu perawat masuk ke dalam ruangan Shinta dan mengatakan jenazah akan segera di bawa ke rumah duka.
"Bawa lah terlebih dahulu, kami akan menyusul menggunakan mobil." ujar Revan. Shinta melepaskan pelukan nya dari sang suami, ia menghapus air mata nya.
"Tidak, saya akan ikut di mobil ambulans." ujar nya dengan nada yang dingin. Pandangan nya begitu kosong, ibu mana yang bisa menerima kepergian anak nya.
Shinta melangkah perlahan, menjauhi Gunawan, Revan dan juga arvan. Revan ingin mengejar istri nya namun di cegah oleh Gunawan.
"Nak, biarkan istri mu di dalam mobil ambulans bersama anak kalian. Biarkan ia mencoba menerima semua ini. Biarkan dia berdua dengan anak nya."
Revan mendengarkan ucapan ayah mertua nya, ia pun memberikan ruang untuk istri nya berdua dengan sang anak.
Shinta menaiki mobil ambulans yang sudah terdapat anak nya di dalam keadaan tak bernyawa.
Shinta memeluk bayi nya itu, ia pun menggendong bayi nya. Petugas ambulans melarang namun Shinta tak mendengarkan nya.
Ia akan menggendong tubuh anak nya sampai di rumah mereka. Petugas ambulans pun mengalah, ia mengerti keadaan seorang ibu yang kehilangan sang anak.
Shinta tak menangis, ia menatapi anak nya yang terlihat tertidur pulas. Mobil ambulans itu melaju menuju rumah Shinta dengan suara sirine yang di hidupkan.
__ADS_1
**********
Suasana di rumah sangat hening. Hati Caca sangat cemas dan gelisah. Ia mencoba menghubungi suami dan orang yang ada di rumah sakit, namun tidak ada yang menjawab.
Jantung nya berdebar sangat cepat, ia merasa kegelisahan yang tiada henti.
Tuhan ada apa ini? Semua akan baik-baik saja kan?
Caca berdoa tiada henti meminta kesembuhan untuk baby Al.
Si kembar dan Syifa juga gelisah, bahkan si kembar menangis entah ada sebab apa.
Mungkin, ikatan yang mereka rasakan membuat mereka tau jika baby Al sudah tiada namun mereka mencoba untuk berfikir yang jernih.
Liu...Liu...Liu
Terdengar suara sirine yang mendekat ke rumah Shinta.
Caca dan anak-anak berlari ke luar rumah, terlihat ambulans berhenti di depan rumah Shinta, Caca dan anak-anak menjerit histeris saat pintu belakang ambulans terbuka.
Terlihat Shinta sedang menggendong jenazah baby Al. Pelayan membawa anak-anak untuk masuk ke dalam kamar di perintahkan oleh kepala pelayan.
Syifa dan Raisa tidak mau masuk, namun Caca meminta kepada mereka untuk tidak membuat masalah.
"Nak, tolong bawa adik-adik kalian ke kamar atas. Jangan keluar sebelum mami suruh ya?" Syifa dan Raisa pun menurut, walau mereka menangis histeris. Syifa membalikkan kepala nya menatap adik nya yang sudah tidak bernyawa.
Shinta tidak menangis, ia hanya diam memeluk anaknya di dalam gendongan dengan tatapan yang kosong. Caca menuntun Shinta untuk masuk ke dalam rumah, Shinta tersenyum
Ia mengatakan jika baby Al sedang tertidur pulas, ia sudah membaik.
Keluarga semakin shock dengan sikap Shinta, Caca yang melihat kehancuran Shinta pun merasa tak kuasa.
Caca menangis memeluk Shinta. Mengatakan jika shinta harus menerima kenyataan dengan kepergian anak nya.
"Ta, Baby Al sudah tidak ada." ujar nya, namun Shinta terlihat marah dan tidak terima.
"Ca, dia itu tidur. Lihat anak aku tidur dengan lelap, jangan berisik!" Shinta menjauh dari Caca, Revan mendekati istri nya dan mengatakan jika anak mereka sudah tiada.
Namun, Shinta mengatakan jika anak nya hanya tertidur.
"Nak, Al sedang tidur. Tata letakkan dia di kasur ini ya, Sayang. Jangan di gendong aja." ucap ayah Gunawan dengan lembut kepada anak semata wayang nya itu. Shinta menurut, karena biasanya saat baby Al sudah tidur selalu di letakkan di kasur.
"Ayah, kasur ini sangat kecil dan pendek. Baby Al nanti bisa masuk angin. Tata akan meletakkan baby Al di kamar saja."
Ayah Gunawan mencegah dan mengatakan jika orang-orang yang datang akan melihat Al. Tidak mungkin Al di masukkan ke dalam kamar, ucapan ayah Gunawan yang masuk akal bagi nya membuat Shinta menurut.
Satu persatu rekan dan kerabat berdatangan..Mereka tak kuasa melihat keadaan Shinta, terlihat luka nya begitu dalam. Sampai ia tidak bisa menerima kenyataan yang ada.
__ADS_1
Shinta berbaring di samping jenazah anaknya, memeluk sang anak dengan tatapan yang kosong. Ia tau, Jika anak nya telah tiada namun Shinta tidak mau menerima kenyataan itu..Ia berharap, Jika anak nya hanya tertidur dengan pulas.
"Nak, kamu tidur nya udah terlalu lama. Tapi enggak apa-apa, sebentar lagi kamu bangun dan kita main ya nak? Mama akan gendong Al kemana pun Al mau." ucap Shinta kepada anak nya, mata nya berkaca-kaca. Pandangan nya begitu kosong.
Revan tidak bisa membiarkan istri nya seperti itu, istri nya harus menerima jika anak bungsu mereka telah tiada.
Jenazah harus segera di kuburkan, keluarga juga tidak bisa menunggu orang tua Revan yang begitu lama sampai. Kemungkinan, beso orang tua Revan baru tiba ke tanah air.
Kasian jenazah baby Al jika menunggu kakek dan nenek nya terlalu lama.
Revan mengatakan kepada Shinta jika baby Al akan segera di kebumikan. Sebelum itu, masih ada proses yang harus di lakukan. Shinta menggeleng, ia tidak mau anak nya di bawa.
"Kamu enggak liat anak kita tidur? Mau di apain? Jangan macam-macam!" ujar Shinta kepada suami nya. Ia tak mau bangkit, dan masih berbaring memeluk anaknya.
Revan menarik Shinta untuk bangkit, menyadarkan istri nya jika baby Al sudah tiada.
"Aku tau ini berat, aku juga berat tapi kita harus terima kalau anak kita udah enggak ada! Bukan cuman kamu yang sedih dan terpuruk, kita semua juga kehilangan baby Al. Tolong jangan seperti itu, aku dan anak-anak membutuhkan kamu." Revan menangis memeluk istri nya. Shinta menatap ke arah sang anak dengan mata yang begitu kosong.
Shinta tau kebenaran itu, namun ia tidak siap dengan kenyataan pahit. Ia kehilangan anak bungsu nya.
"Sayang, tolong kuat lah. Anak-anak membutuhkan kamu, aku juga butuh kamu."
Shinta mengangguk, ia setuju untuk proses pemakaman anak nya, Shinta juga tidak ingin anak nya semakin menderita jika terlalu lama proses pemakaman nya.
Keluarga khawatir dengan Shinta yang tak menunjukkan perasaan apapun, hanya wajah datar dan tatapan yang kosong.
Apalagi yang lebih hancur daripada kabar kematian? Terutama untuk seorang ibu yang kehilangan anak nya.
Shinta merasa dunia nya sudah mati dan hancur di bawa oleh kepergian anak nya Al.
Shinta ikut untuk melakukan proses pemandian jenazah dan yang lain nya.
Ia tak bergeming sedikit pun, melakukan nya dengan baik tanpa berbicara. Bahkan air mata nya sudah tidak bisa menetes.
Shinta berdoa jika anak nya di tempat kan di sisi terbaik yang Maha Kuasa.
Caca memeluk Shinta sambil menangis, ia tidak sanggup melihat ketidakberdayaan Shinta.
Ia juga pernah merasakan kehilangan seorang anak, Caca berharap Shinta menangis daripada harus diam tanpa ekspresi hanya ada tatapan yang begitu kosong.
"Ca, aku enggak kenapa-kenapa. Tolong, kamu jagain Syifa dan si kembar ya? Tolong panggil mereka untuk bisa mencium adik nya untuk terakhir kali."
Suara Shinta begitu berat, setelah mengatakan itu Shinta bersiap untuk naik ke atas. Ia akan mengganti pakaian nya. Pakaian yang ia kenakan terlalu terbuka untuk pergi ke pemakaman.
Sebelum itu, ia membuka kamar Jennika, memberitahu sahabat nya tentang kematian anak nya.
"Jen, anak aku udah enggak ada. Aku mau pergi dulu untuk ke pemakaman nya. Aku buka pintu kamu ya? Kalau mau makan ambil aja, maaf aku gak bisa ambil kan sekarang." Jennika mendekati Shinta, pandangan Shinta begitu kosong, Jennika memeluk sahabat nya agar Shinta bisa tegar menerima kenyataan.
__ADS_1