
Syafa sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan suami nya ia memutuskan untuk pergi ke rumah Shinta agar mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi.
Syafa menitipkan anak angkatnya itu kepada seorang tetangga, ia ingin tahu apa sebenarnya yang telah terjadi.
Syafa pergi menggunakan angkutan umum, sesampai di rumah anaknya ia pun masuk ke dalam rumah
Syafa melihat begitu banyak orang di rumah anaknya, ia juga melihat suami dan kedua besannya ada di rumah anak dan juga menantunya.
"Mas kenapa kamu ada di sini? Dan Mbak lily juga mas Tomi juga sudah kembali toh kenapa tidak ada yang memberitahu saya?"
Lily mendekati besarnya, ia bertanya apakah besan itu tidak tahu apa yang telah terjadi.
Syafa menggeleng, ia benar-benar tidak tau apa yang terjadi
Dia melirik sejenak ke arah suaminya namun Gunawan membuang wajahnya ke sembarang tempat.
"Mas apa sebenarnya yang telah terjadi?"
"Mbak cucu kita, cucu kita sudah tiada. Baby Al sudah pergi meninggalkan kita semua di sini."
Bagaikan disambar petir tak berduka itu, wanita paruh baya itu pun terjatuh ke lantai.
"Tidak mungkin." Syafa meneteskan air mata nya, ia menyesal dan menjadi ibu yang begitu buruk..
Anak dan menantu nya sedang menghadapi masalah yang begitu rumit namun ia tidak ada untuk anaknya di saat-saat anaknya merasa hancur.
Syafa bangkit, menguatkan diri dan mencari keberadaan anak.
Gunawan dan yang lain nya sengaja membiarkan ibu dan anak itu menyelesaikan masalah mereka
Walau Lily dan Tommy gak tau apa yang terjadi namun mereka yakin ada sesuatu hal yang terjadi di antara ibu dan anak itu.
"Biarkan mereka menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi." ucap Tommy kepada istri nya Lily, Lily mengangguk.
Sedangkan Gunawan, hanya diam. Dia juga sudah terlanjur kecewa dengan sikap istri nya yang hanya memikirkan tentang Rayhan.
"Papa enggak memberitahu mama atas kematian anak kami?" tanya Revan kepada ayah mertua nya, Gunawan menggeleng.
"Tidak semua nya harus kita beritahu kepada orang yang tidak mau tau nak, biarkan mama mertua mu sadar atas perbuatan nya selama ini mama mertua nya begitu buta..Dan hanya memikirkan kasih sayang dan perhatian nya kepada Rayhan. Dan mengabaikan kita semua, ia hanya menganggap dunia nya hanya Rayhan."
Terlihat jelas, tatapan penuh kecewa Gunawan kepada istri nya Syafa. Syafa tidak pernah seperti itu sebelumnya, ia berubah menjadi wanita yang egois dan hanya memikirkan kesenangan diri nya dan juga Rayhan.
"Pa, tenang kan diri papa! Jangan terbawa emosi pa, kita tau itu bukan sepenuh nya kesalahan mama." Revan mencoba meyakinkan papa mertua nya agar tidak membenci mama mertua nya itu.
******
"Nak." Syafa ingin memeluk Shinta namun Shinta berjalan ke belakang, menghindari pelukan sang ibu.
hati nya sudah sangat kecewa dengan ibu nya, bukan nya ia tidak mau menerima anak angkat dari kedua orang tua nya namun kehadiran anak dari mantan nya itu sudah membuat ibunya jauh dari dia dan juga keluarganya.
"Ibu ke mana disaat aku membutuhkan dukungan dan pelukan ibu? " Shinta menangis meneteskan air matanya, kali ini dia benar-benar kecewa dengan ibunya
Shinta memahami kemarahan ibu nya atas sikap Revan yang sudah bertindak kasar kepada Rayhan. Namun,bukan berarti ibu nya bisa melupakan kewajiban nya sebagai seorang ibu dan juga seorang yang untuk keluarga nya.
"Sayang, ibu sungguh tidak tau tentang kabar ini. Ayah tidak memberitahu ibu nak, maaf kan ibu." Syafa menangis memohon ampunan kepada anak nya.
"Nak, tolong maaf kan ibu."
Shinta hanya menangis, ia tidak tau harus melakukan apa..Kemarin, ia sangat membutuhkan pelukan dari ibu nya namun ibu nya tidak ada
"Apa ibu tahu? Kemarin anak ibu ini begitu lemah, anak ibu ini membutuhkan pelukan ibu dan dukungan ibu di saat baby Al tidak sadarkan diri di rumah sakit."
Shinta mengatakan dan mengutarakan rasa sakit dan rasa kecewanya dengan nada yang begitu berat, nafasnya juga terasa begitu sesak jika mengingat beberapa waktu yang lalu.
"Apa ibu tahu jika anak ibu ini juga lemah dan menghabiskan waktu di rumah sakit selama beberapa hari." Shinta mengambil nafas yang panjang, terlihat dada dan nafas nya begitu sesak.
Syafa senggugukan, ia merasa bersalah dengan perbuatan nya. Namun, semua nya sudah terjadi.
"Sungguh, ayah tidak memberitahu ibu sama sekali nak."
"Ibu tau nomer ponsel anak ibu ini, ibu juga tau alamat rumah anak ibu ini..Kenapa harus kami yang memberitahu ibu yang hanya fokus dengan anak kesayangan ibu itu hah?"
Gunawan dan Revan menghampiri Shinta yang berteriak, Gunawan memeluk anak nya..
Revan menegur sang istri agar tidak berbicara dengan nada yang tinggi kepada Syafa, ibu nya..
__ADS_1
"Sayang, kendalikan diri mu nak. Itu ibu mu." ucap Gunawan dengan lembut, Shinta terisak.
Suara nya juga mulai menghilang, ia menumpahkan segala rasa kecewa dan rasa sakit hatinya kepada ibu nya.
Syafa memahami kemarahan anak nya, ia mengatakan jika diri nya pantas mendapatkan perilaku seperti itu dari suami dan juga anak nya.
Bu, ibu segala nya bagi ku. Aku menyayangi dan mencintai ibu melebihi aku mencintai diri ku sendiri. Aku juga tidak pernah meminta apapun kepada ibu atau membentak ibu sedikit pun, saat ibu berbeda pendapat dengan suamiku aku tidak pernah mengabaikan ibu sedikitpun. Ibu berubah menjadi orang yang begitu kasar dan tidak memperdulikanku juga anak-anakku, bahkan ibu memalingkan wajah ibu dari kami saat kami pulang dari rumah ibu waktu itu. Dan itu semua hanya karena orang asing yang baru hadir dari kehidupan ibu apakah itu adil bu?
Revan memeluk istri nya yang sangat lemas, Gunawan mengajak Syafa untuk pulang ke rumah. Ia tidak mau anak nya semakin drop dengan masalah yang ada..
Sudah cukup kesedihan yang di rasakan oleh anak nya..
Syafa tidak mau pulang sebelum Shinta memaafkan nya, namun Shinta memalingkan wajah nya dari ibu nya..
Mungkin, orang menganggap Shinta akan menjadi anak yang durhaka..
Salah kah jika seorang anak sekali saja mengeluh tentang orang tua nya?
Shinta masuk ke kamar, ia pun berdiri di balkon kamar nya.
Menatap langit, menangis menatap langit..
Ia tidak bermaksud menyakiti hati ibu nya namun ia hanya mengutarakan apa yang ia rasakan.
Sekuat tenaga Shinta berusaha kuat, namun jika sudah menyangkut tentang keluarga terutama ke dua orang tua nya ia sangat lemah.
Revan sengaja membiarkan istri nya sendirian di kamar, agar Shinta bisa menenangkan pikiran nya.
Dunia memang penuh tipu-tipu. Hanya diri sendiri yang mengerti gelombang isi kepala kita sendiri.
Andai Shinta bisa memeluk anak-anak nya mungkin hati nya akan sedikit merasa lebih baik.
Gunawan mengajak istri nya untuk pulang..
"Tidak mas, saya tidak bisa pulang..Anak kita marah kepada saya." Syafa menangis di hadapan suami nya. Gunawan berbicara dengan lembut kepada istri nya..
"Bu, tolong jangan membuat keributan di sini..Biar kan anak kita berfikir dengan jernih, berikan dia waktu. Ayo kita pulang?" ajak Gunawan kepada istri nya dengan lembut.
Syafa menurut, ia tidak mau membuat suami nya kecewa.
Lily menghampiri besan nya, ia mengatakan dan berjanji akan memberikan pengertian kepada Shinta dengan perlahan..
Lily mendengar teriakan menantu nya, namun ia juga tidak mau ikut campur sekarang. Ia akan bicara kepada Shinta saat menantu nya itu mulai tenang.
Syafa mengangguk, ia masih syok dengan semua yang terjadi.
Dia juga tidak memiliki kesempatan melihat jenazah cucu nya untuk terakhir kali nya.
Gunawan dan Syafa berpamitan kepada ke dua besan nya itu. Gunawan sudah sangat malu, dengan kegaduhan yang terjadi.
Gunawan dan Syafa naik ke dalam mobil, ia menasehati istri nya..
"Kamu enggak seharusnya datang." ucap Gunawan yang terlihat sangat dingin kepada Syafa
"Lalu saya harus melakukan apa, mas? Mas mendiamkan saya berhari-hari. Saat saya bertanya tentang anak dan cucu kita mas juga tidak memberitahu saya..Saya juga cemas."
"Bukan kah yang kamu cemaskan hanya Rayhan?"
"Kenapa mas berbicara seperti itu? Seakan saya tidak peduli dengan anak semata wayang kita."
"Memang nyata nya begitu kan? Kamu hanya memikirkan tentang Rayhan..Saat saya mengajak kamu ke rumah sakit kamu menolak, kamu memikirkan tentang Rayhan."
Syafa diam, ia tidak mau berdebat lagi. Syafa meminta suami nya untuk mengantarkan nya ke pemakaman cucu nya Al.
Gunawan pun mengangguk, mengantarkan istri nya itu ke pemakaman sang cucu
*******
Syifa merindukan mama nya, ia pun memutuskan untuk mengubungi mama nya.
Namun, mama nya tidak menjawab telepon dari Syifa..
Syifa meminta kepada mami nya Caca untuk mengantarkan nya pulang ke rumah. Syifa ingin melihat kondisi mama nya secara langsung..
"Sayang, kita akan liburan. Kalau kamu minta pulang, adik-adik pasti ikut minta pulang, sayang." ujar Caca dengan lembut, namun Syifa tidak perduli..
__ADS_1
Ia hanya ingin pulang dia tidak membutuhkan liburan, Syifa hanya ingin bersama mama nya Shinta..
Caca bingung harus melakukan apa, ia tau jika anak nya itu sangat dekat dengan Shinta..
Tidak mungkin, menjauhkan nya dari Shinta. Syifa akan terus merengek bertemu dengan ibu sambung nya itu
"Baiklah, mami akan mengantarkan kamu bertemu dengan mama shinta..Namun hanya sebentar saja ya nak? Setelah itu kita kembali ke sini, dan berlibur. Bagaimana?"
Syifa pun setuju, yang terpenting bagi nya saat ini adalah bertemu dengan ibu sambung nya itu..
Semenjak baby Al masuk rumah sakit dan kepergian baby Al. Syifa tidak pernah mengobrol dengan mama nya ia pun tidak bisa berbuat apa-apa di saat mama nya itu sedih.
Caca memanggil pengasuh, menitipkan si kembar dan baby Khanza di rumah.
Caca juga meminta kepada Raisa untuk tinggal di rumah bersama Daddy dan juga adik-adik nya. Sebenarnya, Raisa ingin sekali ikut namun ia juga harus menjaga adik-adik nya..
Caca berpamitan kepada suami nya, ia mengatakan akan mengantarkan Syifa pulang untuk bertemu dengan Shinta..
Arvan menolak, ia mengatakan agar diri nya saja yang mengantar Syifa..Biar Caca yang menjaga anak-anak..
"Sayang, di rumah tidak ada laki-laki. Kasian anak-anak, sebaiknya kamu menjaga mereka di sini..Aku hanya sebentar saja. Aku akan segera kembali." ucap Caca meyakinkan suami nya.
Arvan pun mengangguk, ia meminta kepada Caca dan juga Syifa untuk menjaga diri mereka..
Arvan khawatir, jika ada orang jahat yang melukai mereka.. Arvan juga meminta bodyguard untuk menjaga anak dan istri nya..
Bagi nya, keselamatan ke dua nya lebih penting dari segala nya..
Caca dan Syifa pun berpamitan. Di antar oleh supir dan di kawal oleh beberapa bodyguard.
*******
Kini, mereka sudah sampai di kediaman rumah Shinta dan Revan.
Mereka turun dari mobil, Syifa berlari menuju rumah. Caca meminta anak nya untuk berhati-hati.
Caca pun merasa sedih saat masuk ke dalam rumah, ia masih mengingat saat-saat diri nya memberikan asi kepada baby Al.
Ke dua nya juga seperti sudah terikat satu sama lain, namun Caca harus bersikap tegar. Jika ia lemah, maka ia akan membuat Shinta semakin lemah.
Caca tidak mau Shinta semakin larut dalam kesedihan. Caca menghapus air mata nya yang menetes..
Ia melihat ke dua orang tua Revan sekaligus mantan mertua nya yang sudah ada di rumah..
Caca memberikan salam kepada ke dua orang tua Revan.
Mama Lily memeluk nya, Syifa sudah berlari ke kamar Shinta terlebih dahulu.
"Bagaimana kabar kamu, sayang?" tanya Lily dengan lembut, Caca mengatakan jika semua nya tidak baik-baik saja setelah kepergian baby Al
Semua orang hanya memakai topeng untuk berpura-pura kuat, demi membuat Shinta lebih tegar menghadapi semua nya.
Namun, mereka merasa kosong dan sepi.
"Iya, sayang..Mama juga sangat terpukul dengan kepergian baby Al..Mama sangat sedikit memiliki waktu dengan cucu mama yang satu itu..Pertemuan kami sungguh menyedihkan."
Caca menghibur Lily, mantan ibu mertua nya itu.
"Mama harus kuat demi tata. Jika dia melihat kita rapuh, pasti ia juga akan semakin rapuh."
Lily mengangguk setuju, apa yang Caca katakan itu benar.
Caca melihat salah satu pengasuh anak-anak Shinta. Ia memanggil nya.
"Mbak, boleh ambil kan saya minum?" pinta Caca kepada pengasuh itu, ia tau jika pengasuh itu bukan pelayan. Namun, ia hanya melihat wanita yang lebih tua beberapa tahun dari nya.
Pengasuh itu memberikan segelas air minum kepada Caca, ia merasa seperti tidak asing dengan orang yang ada di hadapan nya, Caca merasa ikatan yang ia sendiri tidak tahu.
Ia juga tidak mengenal wanita yang ada di hadapan nya itu.
Caca mengucapkan terimakasih kepada pengasuh itu, ia memberikan segelas air minum tersebut kepada Lily.
"Ma, minum lah agar mama juga tenang."
Lily menerima segelas air putih itu, ia pun meneguk nya perlahan.
__ADS_1
Caca mengatakan walau itu berat untuk mereka semua, namun mereka harus menerima kenyataan yang pahit ini..
Terus-terusan berlarut dalam kesedihan juga tidak akan membuat baby Al kembali. Yang ada baby Al tidak akan merasa tenang di sana, ia akan sedih melihat keluarga nya yang terus-menerus bersedih dengan kepergian nya.