Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 55


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, Revan mengajak anaknya untuk pulang kerumah. Syifa yang lelah akibat setengah harian bermain pun tertidur dalam gendongan Revan. Revan membuka pintu mobil dan meletakkan anaknya di bangku belakang, lalu mengendarai mobil yang ia pakai. Sesampai dirumah, Revan menghampiri kursi belakang mobil dan menggendong Puterinya untuk masuk kedalam rumah. Dari kejauhan Revan melihat isteri nya yang sedang berdiri menatap dirinya di depan pintu. Revan berjalan mendekat kearah sang isteri.


"Kalian dari mana" Tanya Shinta yang airmatanya terus saja berlinang, setengah harian ini Shinta terus saja menangis menyesali sikapnya yang seperti ke kanak-kanakan.


"Dari mall" jawab Revan singkat, lalu berlalu meninggalkan Shinta yang masih berdiri mematung didepan pintu, Revan menggendong tubuh Puterinya yang sedang tertidur kedalam kamar. Revan meletakan tubuh Syifa keatas kasur dengan pelan ia takut Puterinya merasa terganggu dan terbangun. Syifa masih nyenyak dalam tidurnya, menggeliatkan badannya sedikit dan membuat Revan tersenyum menatapi Puterinya. Ia mencium kening Syifa, menyelimuti tubuh Puterinya lalu bergegas pergi keluar dari kamar Syifa.


"Van" Shinta menggenggam tangan suaminya.


"Ada apa" Tanya Revan yang sedikit pun tak menoleh kearah Shinta.


"Maaf kan aku, Aku menyesali sikap ku yang terlalu ke kanak-kanakan hiks" Airmata Shinta berlinang dengan deras membasahi pipinya.


"Sudah jangan menangis! kau ini cengeng sekali!" Revan menatap mata sang isteri dan menghapus sisa air mata yang membasahi pipi isterinya.


"Maaf kan aku" Shinta memeluk Revan dengan erat, Revan mengelus rambut isterinya.


"Sudahlah, aku lelah" Revan ingin melepaskan pelukan dari sang isteri namun Shinta enggan melepaskan pelukan itu.


"Maafkan aku hiks" kini suaranya sudah memberat dan semakin menelamkan wajahnya di dada sang suami, bahkan kini baju kemeja Revan sebagian basah karena air mata isterinya.


"Aku tidak marah, aku hanya kesal saja. Mengapa kau tak pernah bersikap tegas pada masa lalumu, mau sampai kapan kau begitu terus?" Tanya Revan.


"Maafkan aku" hanya itu kalimat yang bisa Shinta utarakan pada suaminya. Dia sendiri pun sangat bingung bagaimana harus menjelaskan pada suaminya karena ia sendiripun bingung dengan hatinya. Ya bagaimana pun waktu 10 tahun itu bukanlah hal yang sebentar, banyak kisah suka dan duka yang pernah Rayhan dan Shinta laluin. walau tingkah Shinta sedikit menyebalkan yang tak bisa keluar dari titik masa lalunya. Ia sendiri pun ingin melupakan lelaki yang sudah mengkhianati hubungan dan cinta nya, namun hati kecil Shinta terkadang menolah untuk menerima kenyataan. Ia selalu yakin bahwa Rayhan bukanlah lelaki jahat yang melukai hati wanita. Shinta semakin memperkuat pelukannya.


"Sudah, mau sampai kapan kau memelukku seperti ini terus" Ucap Revan yang ingin melepaskan pelukannya.


"Sudah diamlah, aku hanya ingin memeluk mu seperti ini sebentar saja" ucap shinta, Revan hanya tersenyum melihat tingkah isterinya. Shinta melepaskan pelukannya, Mata nya kini sembab akibat terlalu lama menangis.


"Lihatlah wajahmu, hidung mu memerah seperti badut" ejek Revan, Shinta memukul bahu suaminya.


"Aku begini juga karena kau!" Mengerucutkan mulutnya, Revan mengacak rambut isterinya dengan gemas.


"Apa kau sudah makan?

__ADS_1


"Belum" Shinta menggelengkan kepalanya.


"Kau ini, ayo makanlah!" ajak Revan menggenggam jemari Shinta berjalan menuju meja dapur. Sesampai di dapur, Revan mendudukkan tubuh Shinta.


"Makanlah yang banyak" perintah Revan


"Apa kau tidak makan?" Tanya Shinta menatap Revan yang duduk didepannya.


"Tidak, aku sudah kenyang. Tadi makan diluar bersama Syifa"


"Aku juga tidak lapar" ucap Shinta. Revan menatap Shinta dengan tatapan tidak bersahabat.


"Apa kau ingin aku marah lagi?" Shinta yang merasa ngeri dengan tatapan sang suami, ia menyengir dan menuruti apa kata Revan. Shinta makan dengan lahap, karena dirinya pun merasa sangat lapar akibat belum makan dari pagi.


"Katanya tidak lapar, tapi menghabiskan makanan sebanyak itu" Revan menggelengkan kepalanya.


"Apa kau bilang" Suaranya tidak begitu jelas akibat makanan yang masih penuh dimulutnya.


"Sudah, cepat habiskan makananmu!"


"Kenyang sekali" Shinta memegang perutnya yang terasa begitu penuh


"Bagaimana tidak kenyang, kau makan begitu banyak sekali" Shinta hanya tertawa geli mendengar ucapan Revan.


"Mama" seketika Shinta menoleh kearah belakang dan melihat sang Puteri yang berjalan kearah mereka.


"Sayang" Shinta mendudukkan Syifa kedalam pelukannya dan mencium kedua pipi dan pucuk kepala Syifa.


"Anak mama sudah bangun" menciumi pipi Syifa, Syifa masih memeramkan matanya di pelukan sang mama. Ia merasa masih begitu mengantuk.


"Kalau masih mengantuk, ayo mama bawa kedalam kamar lagi sayang" ajak Shinta namun Syifa menolak.


"Tidak mau, Syifa kangen mama" ia melingkarkan kedua tangan kecilnya ke leher Shinta. Shinta mendekatkan hidungnya dan hidung sang Puteri lalu mengadunya.

__ADS_1


"Anak kesayangan mama muachhh muachhh" Shinta mencium kedua mata anaknya yang terpejam lalu memeluknya.


"Mama juga selalu rindu kamu nak, sekarang kita mandi yuk" ajak Shinta.


"Sebentar lagi ma, Syifa masih mau memeluk mama seperti ini" Shinta dan Revan hanya tersenyum dan menggeleng melihat kelakuan sang anak. Tanpa terasa Syifa tertidur lagi dipelukkan Shinta. Shinta mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Apa dia tidur lagi" tanya Revan, Shinta hanya mengangguk, ia takut jika ia bersuara anaknya akan terbangun dan menangis. Revan tersenyum melihat kasih sayang Shinta yang begitu tulus menyayangi Puteri nya.


"Ibunya saja tidak menyayanginya seperti ini, bahkan tega meninggalkannya disaat ia masih bayi" gumam Revan dalam hati.


***********


Revan sudah memindahkan Puterinya kembali ke kamar nya, ia menyelimuti sang Puteri. Sepertinya Syifa begitu sangat kelelahan. Ia pun keluar menuju kamar dan menemui sang isteri.


"Terimakasih" Shinta terkejut melihat Revan yang memeluk ya dari belakang dan melingkarkan tangannya ke perut rata shinta


"Terimakasih? terimakasih untuk apa" tanyanya bingung.


"Terimakasih karena sudah begitu tulus menyayangi puteriku"


"Dia juga Puteriku!" sewot Shinta.


"Ia dia juga anakmu, anak kita berdua" Revan semakin mempererat pelukannya tanpa membuat Shinta merasa tidak nyaman. Dan menciumi rambut isterinya. Shinta menganti posisinya dan saling bertatapan dengan Revan. Ia mengalungkan tangannya di leher Revan.


"Terimakasih juga sudah mau menerima segala kekuranganku, walau aku tau kau tak mencintai ku dan aku hanya kau anggap sebagai ibu sambung untuk Syifa namun kau menghargai ku sebagai isterimu"


Cup


Shinta kaget dengan barusan apa yang terjadi, Revan tertawa melihat raut wajah Shinta yang seketika berubah.


"K...kau menciumku barusan?" Tanya Shinta.


"Jangan GR! siapa juga yang menciummu" Revan sengaja memasang wajah yang serius.

__ADS_1


"apa kau ingin aku cium?" Shinta seketika menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya.


"Ti...tidak!" ia ingin keluar dari kamar, namun tangan Revan yang melingkar dipinggangnya membuat Shinta tak bisa kemana mana


__ADS_2