
Sore hari Revan mengunjungi rumah Shinta, ia sudah berada di depan rumah nya namun enggan turun. Revan mengambil Hp di sakunya
"Aku sudah berada didepan rumahmu, keluarlah!" Revan mengirimkan pesan untuk Shinta, tak lama kemudian Shinta membuka pintu rumahnya, Revan segera turun dari mobil dan mendekat kearah Shinta.
"Mana ibumu" Melihat kearah dalam rumah. Shinta mengajak Revan untuk masuk kedalam rumah
"Kau tunggu disini dulu ya" Shinta mempersilahkan Revan untuk duduk terlebih dahulu, ia memanggil ibunya.
"Ada nak Revan, tumben sekali kesini" Jawab ibu Shinta dengan sinis, bukannya Syafa tak menyukai Revan. Ia hanya takut anaknya tak bahagia dengan pernikahan ini, sebagai seorang ibu ia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya dan juga kebahagiaan anaknya. Revan bangkit dan menyalamin Syafa dengan santun.
"Duduklah" perintah Syafa. Revan menurutin omongan calon mertuanya, sedangkan Shinta menggigit bibir bawahnya dengan sangat gugup. "Bagaimana ini" Batinnya. Syafa memandangi anaknya yang sangat cemas, ia memegang tangan Shinta dengan lembut membimbing anaknya untuk duduk disebelahnya.
"Maaf Tante, kedatangan saya kesini" Belum sempat Revan melanjutkan omongannya, Ayah Shinta masuk kedalam ruangan.
"Ada apa ini, oh ada nak Revan rupanya" sapa ayah Shinta dengan semangat, ia pun duduk di depan Revan. Revan bangkit dan menyalamin ayah mertuanya.
"Sebentar lagi sudah mau menikah, tapi tak sabar ya ingin bertemu" ledek Gunawan. Shinta dan Revan hanya tersenyum kejut sementara Syafa masih diam tak memberikan tanggapan.
"Seperti nya tak akan ada pernikahan" Ucap Syafa yang membuat suaminya terkejut. Gunawan menatap isterinya yang sangat serius dalam berucap.
"Mengapa kau berkata seperti itu sayang" Tanya Gunawan, Shinta semakin gemetar ketakutan. Revan bangkit mendekat kearah ibu calon mertuanya. Ia mendudukkan tubuhnya menggenggam tangan Syafa "Tante saya mohon, restuin kami. Saya berjanji akan membahagiakan anak Tante segenap hati saya, saya tak akan membuat dia bersedih" Syafa menangis dan membuang mukanya agar terhindar dari tatapan Revan calon suami untuk anaknya. Shinta pun ikut membungkuk memohon persetujuan pada sang ibu. Setelah bersusah payah membujuk Syafa akhirnya mereka pun di restuin.
*********
Seminggu lagi pernikahan mereka akan dilaksanakan, Semua sudah dipersiapkan dengan matang tinggal menunggu hari H tiba. Shinta, Revan dan juga Syifa pergi ke warung ice cream ternama di kota A. Shinta dan Syifa tertawa bahagia
"Sayang, pelan pelan makannya" Shinta mengelap mulut Syifa yang berlepotan ice cream dengan tissue. Syifa hanya tertawa dan bahagia karena mendapatkan kasih sayang yang tulus oleh Shinta. Shinta mencolek hidung Syifa dengan gemas. Namun Syifa asik dengan ice cream yang ia makan.
__ADS_1
"Oh iya van, apa boleh aku mengundang Rayhan? Tanyanya takut-takut. Revan menatap Shinta dengan penuh tanya.
"Yasudah undang saja" Jawabnya acuh. Namun dihatinya bertanya-tanya apakah Shinta masih mencintai mantan kekasihnya tersebut.
"Benerkah boleh?" Tanya Shinta kembali, Revan menatap Shinta dengan tatapan tak suka "Kau ini berisik sekali!" Geram Revan, Shinta melihat Revan dengan sangat jengah.
"Yayayyaya!!!! Nanti kau pulang deluan saja bersama Syifa, aku akan memberikan undangan kepada Rayhan dan juga isterinya" Ucap Shinta dengan senyuman kejut, mengingat Rayhan kembali hatinya masih terasa sangat sakit, dadanya sesak seperti susah bernafas. Namun bagaimana pun, Rayhan adalah orang yang penting didalam kehidupannya dan sejujurnya Shinta masih menaruh hati kepada sang mantan kekasihnya.
"Apa kau masih mencintainya" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Revan. Shinta kaget akan pertanyaan calon suaminya. Ia hanya tersenyum, yang terjadi sudah terjadi yang kenyataannya dia sudah menikah dan aku pun akan menikah denganmu, Revan hanya mengangguk mendengar pernyataan calon isterinya.
"Sudah habis" heboh Syifa, Shinta dan Revan menoleh kearah Puterinya mereka dan tersenyum.
"Ayo sayang kita pulang" Ajak Shinta kepada Syifa. Mereka bertiga pun bangkit dan meninggalkan warung ice cream tersebut.
"Hati-hati yaa" ketika Revan dan Syifa masuk kedalam mobil, Shinta melambaikan tangan kepada calon suami dan juga anak tirinya. Revan membuka kaca mobilnya dan menatap Shinta dengan tatapan tajam.
"kan aku harus pergi dulu, kalian deluan saja. kita sudah bicarakan ini tadi Van"
"Masuk!!!!" kali ini suara Revan sedikit meninggi dan membuat Shinta takut, ia menuruti perkataan calon suaminya dan masuk kedalam mobil. Setelah Shinta masuk kedalam mobil, Revan melajukan mobilnya dengan kencang, entah mengapa Revan merasakan sangat kesal apalagi melihat Shinta yang ingin menemui mantan kekasihnya sendirian. Shinta menatap bingung, ia menoleh kesembarang arah. Sementara, di kursi belakang Syifa sudah tertidur pulas. Revan memberhentikan mobilnya di sebuah rumah mewah, Shinta menatap heran bagaimana Revan bisa mengetahui alamat rumah Rayhan sedangkan ia tak memberitahu samasekali
"Bagaimana dia bisa tahu yaa" Gumam Shinta dalam hati
"Kau mau menunggu apa, ayo turun" perintah Revan
"He iyaa" Shinta turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Rayhan.
Ting nung
__ADS_1
"Iya sebentar" suara wanita paruh baya menyahut dan membuka pintu dari dalam dan orang itu adalah pembantu Rayhan
"Non Shinta" sapa pembantu Rayhan. Shinta sudah lama menjalin hubungan dengan Rayhan wajar saja kalau semua pelayan yang ada dirumah Rayhan mengenali Shinta.
"Permisi Bi, ada Rayhan dan isterinya?" Tanya Shinta dengan Ramah. Pembantu rayhan terlihat nampak bingung.
"Bi" mencoba menyadarkan pembantu Rayhan dari lamunannya.
"Eh iya non, Tuan ada didalam, ayo masuk non" Ajak pembantunya.
"Tidak usah bi, biar saya disini saja" tolak Shinta dengan halus
"Bibi panggilkan sebentar ya" masuk kedalam dan memanggil Rayhan, tak lama kemudian Rayhan keluar.
"Tata, ada apa?" Tanya Rayhan dengan bingung, Shinta menatap Rayhan sebentar lalu menundukkan pandangannya lagi "Sadar ta, dia sudah menikah" Gumam Shinta dalam hati.
"Ta" memegang bahu Shinta, namun ada tangan kekar yang menyingkirkan tangan Rayhan dari bahu Shinta, Shinta terkejut dan melihat ternyata Revan.
"Kami datang kesini untuk memberikan undangan pernikahan kami" Revan mengambil surat undangan dari tangan Shinta dan memberikannya kepada Rayhan, ia tersenyum dan memberikan ucapan selamat kepada Shinta dan juga Revan. Shinta masih tak berani menatap mata Rayhan, ia meremas tangannya yang sudah gemetar dan berkeringat dingin.
"Baiklah kalau begitu kami pamit pulang, jangan lupa datang ajaklah isterimu" Ucap Revan kepada Rayhan.
"Jaga dia ya" Rayhan memegang bahu Revan.
"Aku takkan menyakitinya dan meninggalkan nya dalam kondisi apapun" Ucap Revan seperti menyindir, Rayhan hanya tersenyum dan Shinta hanya menatap wajah Rayhan sekilas.
"Yatuhan, kenapa sesakit ini ya" gumam Shinta dalam hati. Revan yang melihat sikap dari calon isterinya langsung mengajak Shinta pulang dan menaikkin mobil mereka.
__ADS_1