Ibu Sambung

Ibu Sambung
Senang


__ADS_3

Gunawan berharap jika anak nya mau mendengarkan perkataan nya.


Shinta menangis. Lalu menghapus air mata nya


"Tata tau, Yah. Namun ini semua berat untuk tata, seakan tata itu merebut Syifa dan Revan dari Caca."


"Nak, masa lalu adalah masa lalu. Saat kamu memilih menikah dengan Revan. Kamu harus menerima segala kelebihan dan kekurangan nya termaksud masa lalu nya. Begitu juga sebaliknya, dan kamu sudah menerima itu semua. Dan lagi, cinta mu kepada anak sambung mu itu tulus. Cinta seorang ibu itu tiada batas, kalau kamu masih bersikap seperti itu berarti kamu tidak benar-benar mencintai anak sambung mu."


"Ayah tau bagaimana tata mencintai dan menyayangi Syifa."


"Kamu juga harus terima segala resiko nya, yang kamu cintai itu milik orang lain. Anak orang lain, dan harus menerima segala resiko nya. Dan jika kamu benar mencintai Syifa, jangan pernah membandingkan ia dengan anak kandung mu. Mereka sama, dan jangan pula menyalahkan Syifa dengan keadaan yang menimpa anak-anak mu karena itu tidak adil, nak."


"Shinta tidak menyalahkan nya ayah."


"Lalu, apakah sikap dingin mu sudah benar?"


Shinta terdiam dengan segala ucapan ayah nya.


"Tapi itu semua pilihan dan keputusan mu nak, sudah lah. Ayah tidak mau terlalu memaksa mu."


Shinta meminta maaf sekaligus berterimakasih kepada ayah nya karena sudah menyadarkan Shinta.


Seharusnya sebagai seorang ibu, Shinta tidak boleh bersikap seperti itu kepada anak nya. Terlepas anak itu salah atau tidak Shinta sebagai ibu seharusnya selalu di samping sang anak.


Shinta memeluk ayah nya ia berjanji jika diri nya tidak akan melakukan kesalahan lagi.


Shinta pun ingin menjemput anak nya Syifa namun ia lupa jika Syifa saat ini sedang pergi liburan bersama Caca dan Arvan.


Gunawan pun berpamitan dengan Shinta setelah ia menasehati Shinta.


"Kenapa cepat sekali ayah pulang?" tanya Shinta. Gunawan mengatakan jika ibu nya Syafa sedang sakit.


"Nak, ibu sedang sakit. Ayah harus cepat pulang menjaga ibu."


Shinta mengangguk, semenjak kematian anak bungsu nya Shinta menjadi orang yang egois dan keras kepala.


Dia pun seakan tidak respect dengan keadaan ibu nya yang sedan sakit. Mungkin rasa kecewa Shinta sudah terlalu dalam.


Tidak ada yang lebih sakit bagi seorang ibu kecuali kepergian anak nya.


Gunawan pun berpamitan, ia berpesan kepada anak nya untuk segera menyelesaikan masalah yang Ada.


"Ayah pulang dulu nak, ayah harap kamu bisa menerima segala nya dengan lapang dada. Jangan pernah marah atau menyalahkan takdir apalagi sampai ada rasa benci di hati kamu kepada seseorang."


"Iya, Yah. Shinta akan mencoba nya."


Gunawan pun pergi meninggalkan anak nya, di saat seperti ini tidak mungkin bagi nya untuk membahas tentang hubungan istri dan anak nya tersebut.


Saat ini, Gunawan hanya memperbaiki hubungan Shinta dengan suami juga anaknya setelah semua sudah membaik. Barulah ia akan memperbaiki hubungan Shinta dengan istri nya Syafa.


*******


Di dalam penjara, Cia memandangi album Poto ibu nya. Memang album itu sangat kecil, jadi sangat mudah untuk nya membawa kemana pun ia pergi.


"Ma, kenapa Cassandra sangat membela wanita itu? Mama benar, wanita itu sudah meracuni pikiran adik ku bahkan ia tidak peduli dengan Cia, kakak nya sendiri. Pantas saja mama selalu menangis saat menemui Cia ternyata itu alasan nya ma. Cia mengerti sekarang, walau pun mama memiliki keluarga namun mama selalu merasa sendiri dan selalu di salahkan. Saat ini, Cia ada di posisi mama dan ini semua karena wanita itu. Mama jangan khawatir! Balas dendam pertama Cia sudah berhasil, dan itu sudah membuat mereka hancur. Cia akan membalas dendam demi dendam. Cia akan membalas setiap rasa sakit demi sakit yang mama rasakan ma. Cia pasti kan itu, itu janji Cia untuk mama. Cia hanya perlu bersabar agar keluar dari sini ma."


Cia berbicara sendiri sambil memandangi Poto Elsa.


"Dasar wanita gila berbicara sendiri haha!" ujar salah satu tahanan yang ada di sel bersama Cia


Cia tidak menghiraukan nya, ia juga tidak mau mencari masalah. Namun tahanan satu sel dengan Cia selalu membuat keributan demi keributan. Bahkan mereka ingin membuly Cia namun mereka tidak tau jika wanita yang ada di hadapan nya bukan lah wanita lemah.


Cia orang yang begitu berbahaya, bahkan ia bisa membunuh mereka semua yang ada di sel itu.


Cia masih santai, kemarahan nya sengaja ia pendam.


Ia serius menatap wajah ibu nya Elsa yang hanya ada di album Poto.


Selama ini, Cia hanya tinggal bersama Elsa.


Elsa juga tidak pernah marah kepada nya atau menunjukkan sikap buruk nya di depan Cia.


Elsa sengaja bersikap seperti itu dan berpura-pura menjadi orang yang lemah agar Cia bisa menjadi sosok yang pemarah dan membalaskan dendam untuk setiap air mata yang Elsa keluarkan.


"Ma, mereka sangat jahat bahkan mereka tidak pernah mengingat mama. Cia benci kepada mereka, andai jika bukan karena permintaan mama agar Cia melindungi Cassandra dan anak-anak nya yang tidak tau diri itu. Mungkin Cia akan membunuh mereka semua!"


Cia terasa kesal, namun ia tidak bisa melampiaskan kemarahannya. Ia masih mendengar salah satu tahanan membicarakan diri nya.


Jiwa psikopat Cia keluar, ia bangkit berjalan mendekati salah satu tahanan yang mengejek dan membicarakan nya sejak tadi.


Cia langsung menarik rambut nya, menghajar ia habis-habisan. Bahkan menggigit tangan wanita itu hampir saja kulit wanita itu lepas.


Tahanan lain ketakutan melihat keagresifan Cia, mereka bahkan tidak berani meminta tolong kepada petugas.


"Rasakan ini sialan!"


Wanita itu mengerang kesakitan, ia pun meminta maaf kepada Cia dan berjanji tidak akan mengulangi nya lagi.


Kepala wanita itu berdarah, ia pun tak berdaya. Cia puas menghajar nya habis-habisan namun hal itu tidak membuat nya puas.


Ia meludahi wanita itu, setelah melihat wanita itu setengah sadar baru lah ia melepaskan nya.


Cia pun memberikan peringatan kepada tahanan lain nya agar tidak macam-macam kepada nya jika tidak mau bernasib sama.


Mereka mengangguk ketakutan, Cia pun menjauhi wanita itu.

__ADS_1


Cia duduk di tepi sudut, tertawa puas. Kemarahan nya sudah terlampiaskan, hati nya sedikit lega.


Cia berfikir mengapa ia tidak melakukan itu kepada Shinta dan keluarga nya.


Ia kembali kesal, memukul dinding dengan keras. Cia pun memutuskan untuk membaringkan tubuh nya..


"Sial! Mengapa seperti ini tempat nya."


Cia yang kesal karena merasa sempit pun meminta tahanan lain untuk minggir.


Mereka pun memilih mengalah daripada harus di hajar habis-habisan seperti salah satu wanita yang sudah di hajar oleh Cia


*******


Liburan kali ini membuat Syifa tidak bahagia, Raisa pun berusaha untuk menghibur Syifa namun hasil nya sama saja.


Liburan tidak seperti liburan, karena tidak ada kebahagiaan di wajah Syifa.


Ia hanya merindukan mama nya Shinta, bahkan Caca pun sudah menyerah untuk melakukan berbagai cara agar Syifa merasa bahagia.


Caca pun mengajak Revan untuk pulang dan menghentikan liburan itu.


"Sabar lah, Sayang. Kita harus memaklumi keadaan Syifa, apalagi kemarin ia mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari Shinta."


"Aku harus melakukan apalagi? Aku juga ibu nya mengapa sulit sekali membuat nya merasa bahagia?"


Caca seperti kesal, emosi nya juga naik turun semenjak ia memiliki bayi.


Raisa memegang tangan Syifa.


"Kak, kalau kakak pun enggak bahagia sama liburan ini tolong hargai mama. Berpura-pura lah kak bahagia, kasian mami sudah berusaha membuat kita bahagia."


Syifa menatap mama nya Caca, ia pun mendekati Caca dan memeluk ibu kandung nya.


"Ma, maafin Syifa ya kalau Syifa membuat mama sedih. Namun Syifa memang merindukan mama Shinta."


Caca membalas pelukan anak nya, ia mengatakan kepada Syifa jika anak nya tidak perlu meminta maaf.


Ia sadar, jika posisi nya urutan ke dua setelah Shinta di hati anak nya. Caca juga tidak bisa marah karena itu kesalahan nya, Shinta memang pantas menjadi ibu nomer satu untuk anak nya.


Walau ia juga mencintai dan menyayangi syifa, namun kasih sayang Shinta jauh lebih kuat.


Walau sekuat apapun Caca berusaha namun Shinta lah nomer satu di hati anak nya, Syifa.


"Sudah sayang jangan merasa bersalah. Kamu tidak bersalah kok."


Syifa pun memandang wajah Caca, dan tersenyum.


"Syifa sangat menyayangi mama Caca."


"Mama juga sangat menyayangi kamu, nak." ujar Caca.


Raisa bahagia melihat ibu dan juga kakak nya.


Caca dan Syifa menatap ke arah Raisa. Mereka pun meminta Raisa dan Arvan untuk mendekat. Mereka pun berpelukan seperti keluarga yang begitu bahagia.


****


Di sisi lain ada seorang gadis yang merasa iri melihat keharmonisan keluarga Syifa dan juga Raisa. Anak itu adalah Amira, teman sekelas Syifa dan Raisa dulu sekaligus orang yang sudah membully Raisa dan Syifa di kelas.


Ia dan keluarganya juga pergi berlibur di tempat yang sama dengan keluarga Syifa berlibur.


Namun, ke dua orang tua Amira tidak pernah memperlakukan nya seperti itu.


Mereka menyayangi Amira namun ke dua orang tua nya sangat sibuk. Sibuk dengan dunia mereka sendiri.


Bahkan Amira menikmati liburan sendiri walau ke dua orang tua nya bersama nya.


Pantas saja, Amira selalu merasa iri dan bersikap buruk kepada teman-teman nya itu semua karena Amira kekurangan kasih sayang dari keluarga dan juga ke dua orang tua nya.


Amira ingin mendekati mereka, namun ia pun berubah pikiran.


Karena Syifa dan Raisa. Ia harus di keluarkan dari sekolah papa nya sendiri bahkan papa nya kehilangan sekolah itu, jika mengingat itu Amira menjadi sangat kesal.


Ia memutuskan untuk kembali ke penginapan


"Lebay sekali mesti berpelukan di depan umum, dasar kampungan!" Amira mendumel sendiri, ia seperti itu karena tidak pernah mengalami hal seromantis itu dengan ke dua orang tua nya.


Mama dan Papa Amira hanya sibuk dengan ponsel mereka.


Amira memahami papa nya sibuk karena mencari uang, namun mama nya? Hanya sibuk menghabiskan uang.


Memang benar, ke dua orang tua Amira selalu memberikan fasilitas yang baik dan mewah. Namun, itu semua tidak cukup.


Bukan hanya materi yang ia cari, namun juga kasih sayang.


Raisa tidak sengaja melihat ke arah Amira, tiba-tiba ia gemetar ketakutan.


Caca dan Arvan bertanya mengapa Raisa tiba-tiba merasa ketakutan.


"Sayang ada apa?"


"Iya, ada apa Raisa?" timpal Syifa, ia pun mengikuti bola mata adik nya menatap, Syifa pun melihat Amira yang menjauh dari mereka.


Syifa kini mengerti, ia pun memberitahu ke dua orang tua nya.

__ADS_1


"Itu Raisa melihat Amira."


"Siapa Amira?" tanya Caca kepada Syifa.


"Amira anak yang membully kami waktu itu, papa nya dulu pemilik sekolah sebelum Daddy mengambil alih."


Caca dan Arvan pun menatap punggung Amira dari belakang, mereka menenangkan Raisa.


"Sayang tenang lah, jangan takut. Dia tidak akan bisa menyakiti anak Daddy yang cantik ini. Mungkin dia juga tidak tau keberadaan kita di sini." ujar Arvan menenangkan putri nya.


Namun, Raisa memiliki rasa trauma apalagi Amira begitu jahat kepada nya.


Syifa pun ikut menenangkan adik nya, mengatakan jika Amira tidak perlu merasa cemas dan khawatir.


"Jangan takut Raisa, kakak di sini menjaga mu. Jika di sekolah saja aku bisa melindungi mu apalagi di sini, kan ada mami dan juga Daddy."


Raisa mengangguk, namun kontak tubuh tidak bisa di bohongi, begitu jelas Raisa merasa takut dan tidak nyaman dengan kehadiran Amira.


Caca dan Arvan mengajak anak-anak nya untuk kembali ke penginapan saja. Agar Raisa pun bisa tenang, dan Syifa juga bisa istirahat. Memang dari awal liburan ini sudah hampa


Caca meminta kepada suami nya agar mereka kembali pulang ke rumah.


Arvan tidak mau berdebat, liburan ini tujuan nya untuk membuat anak-anak merasa happy bukan sebalik nya. Karena ke dua anak nya merasa tidak nyaman Arvan pun memutuskan untuk kembali ke rumah lebih awal.


Tidak ada guna nya liburan ini di lanjutkan jika ke dua anak nya tidak senang apalagi merasa terganggu kenyamanan nya.


"Bersiap lah, kita akan pulang."


Anak-anak pun mengikuti ucapan Arvan walau Arvan dan Caca sedikit kecewa karena merasa gagal membuat anak-anak bahagia namun yang terpenting saat ini adalah kenyamanan Syifa dan juga Raisa.


Kakak beradik itu pun mengemasi barang-barang mereka, Syifa memang tidak terlalu banyak membawa barang bawaan karena dari awal ia tidak begitu antusias dengan liburan yang ada.


Benar kata pepatah, jangan pernah memaksa keadaan jika memang tidak bisa. Hasil nya akan tidak sesuai atau mungkin akan buruk.


******


Shinta yang kebanyakan menangis pun merasa lemah dan mengantuk ia tertidur dengan sendiri nya.


Mama!


Terlihat Syifa yang memanggil Shinta dengan gaun putih, Syifa begitu sangat cantik.


Shinta mengejar dan mendekati anak sambung nya itu.


"Sayang, maafin mama nak. Mama sudah salah kepada mu. Tidak seharunya mama acuh kepada mu kemarin sayang. Maafin mama."


Ma, Syifa sudah memaafkan mama. Namun maafkan Syifa, Syifa harus pergi ma. Syifa akan menjaga adik Al dengan baik. Mama jangan khawatir ya?


"Apa maksud nya nak? Jangan mengatakan hal itu, tetap lah bersama mama."


Maafin Syifa ma, Syifa harus pergi


"Tidak nak, jangan tinggalkan mama, sayang."


Shinta berlari mendekati Syifa, namun Syifa berjalan mundur perlahan dan menghilang di cahaya putih.


Syifa!


Shinta berteriak, ia terbangun dan bernafas dengan lega karena ternyata itu semua hanya mimpi.


Shinta pun turun dari tempat tidur, ke luar dari kamar nya.


Revan berlari ke arah Shinta dan mengatakan jika mobil Caca dan Arvan mengalami kecelakaan dan saat ini mereka semua di larikan di rumah sakit.


Shinta berlari menuruni anak tangga satu persatu, mama Lily dan papa Tommy juga terlihat sama cemas nya.


Mereka masuk ke dalam mobil, Revan langsung melajukan mobil nya menuju rumah sakit.


Di perjalanan, Shinta menangis. Ia takut jika mimpi nya menjadi kenyataan, Shinta juga mengingat saat dulu Syifa kecelakaan dan ia hampir kehilangan Syifa.


Lily menenangkan menantu nya, mengatakan jika Syifa akan baik-baik saja.


"Sayang, Syifa akan baik-baik saja yang terpenting saat ini kita hanya perlu berdoa."


Di perjalanan, Shinta berdoa dan menangis. Ia meminta kepada Tuhan untuk menyelamatkan anak nya, Shinta tidak sanggup jika Harus kehilangan Syifa.


Cukup sudah ia kehilangan Al, jangan lagi kehilangan anak-anak nya yang lain.


Shinta meminta kepada Revan untuk mempercepat mobil nya.


Tommy pun ikut menenangkan menantu nya, saat ini Tommy begitu menyayangi Shinta dan selalu mensupport Shinta dalam keadaan apapun.


Mereka sudah sampai di rumah sakit, ke empat nya langsung turun dari mobil.


Shinta berlari masuk ke dalam rumah sakit, bertanya kepada resepsionis di mana ruangan anak nya berada.


Resepsionis itu pun langsung memberitahu, Shinta berlari menuju ruangan yang di tempati Syifa.


Ia membuka pintu nya, ia langsung berlari ke arah Syifa dan memeluk anak nya.


"Sayang, kamu enggak apa-apa?"


Syifa langsung melepaskan pelukan nya dengan Syifa. Mengecek satu persatu tubuh anak nya, dan tidak ada yang tergores sedikit pun dari atas kepala hingga ujung kaki.


Shinta bernafas lega, ia mengecup kening Syifa berulangkali.

__ADS_1


Shinta sangat bersyukur karena anak nya tidak apa-apa.


Syifa senang melihat mama nya kembali seperti dulu, begitu perhatian kepada nya.


__ADS_2