
Revan masih memandangi wajah Shinta dengan sangat hangat.
Aku mencintai mu, menyesal aku saat dulu begitu dingin dan kasar kepada mu
Walau Revan tak pernah memukul Shinta, namun ia begitu dingin dan kasar dengan ucapan nya.
Pelayan membawa banyak sekali ice cream dengan berbagai rasa. Revan menelan ludah nya dengan kasar, ia tidak yakin bisa menghabiskan ice cream sebanyak ini. Namun, tatapan mata Shinta begitu terkesima. Ia sangat senang dan begitu tenang seakan bisa menghabiskan ice cream dan milkshake sebanyak ini.
"Kamu yakin bisa menghabiskan sebanyak ini?" tanya Revan kepada sang istri. Shinta mengangguk dengan penuh semangat.
"Tenang lah, Sayang. Aku bisa menghabiskan ini semua jangan khawatir,"
Shinta mengambil segelas ice cream terlebih dahulu, memasukkan sesendok demi sesendok ice cream ke mulut nya. Terlihat Shinta begitu bersemangat memakan nya, ia mengatakan kepada Revan jika Syifa ikut pasti ia juga begitu senang dan menikmati ice cream ini.
"Coba saja kakak ikut, pasti dia akan memakan sebanyak ini dengan hati yang puas." ujar Shinta sambil menikmati ice cream itu, Revan hanya menggeleng. Di saat seperti ini, Shinta tetap saja memikirkan anak sulung nya Syifa.
Begitu cinta dan sayang nya kamu dengan anakku sehingga saat seperti ini pun masih mengingat nya.
Revan berfikir, mungkin jika Shinta pergi dengan Syifa. Shinta bahkan tidak mengingat Revan, namun di mana pun Shinta berada dan menikmati apapun selalu mengingat Syifa.
"Sudah habis kan itu semua, jangan mengingat kakak. Nanti kita akan membelikan nya untuk mereka yang ada di rumah." ujar Revan. Shinta mengiyakan, ia pun meminta Revan untuk memakan ice cream nya. Revan hanya bisa menghabisi segelas saja. Karena ia juga tidak terlalu menyukai makanan yang manis.
"Hanya segelas saja?" tanya Shinta yang masih menikmati ice cream itu, walau Shinta sudah menghabiskan enam gelas ice cream namun ia masih terlihat menikmati nya.
Shinta memang begitu menyukai ice cream, tak masalah bagi nya jika harus menghabiskan satu pabrik ice cream sekaligus.
"Sudah lah, kau sudah terlalu banyak memakan nya. Nanti sakit!"
Revan pun menegur sang istri, Shinta beralasan jika mubazir kalau ice cream ini tidak di habiskan.
Revan pun menyetujui ucapan Shinta, agar Shinta tak terlalu banyak makan ice cream lagi. Revan mengambil beberapa gelas untuk ia makan..Shinta tercengang, ia tahu jika suami nya tidak menyukai makanan manis.
"Kau pasti sengaja kan?" tanya Shinta dengan penuh sidik, ia yakin suami nya sengaja melakukan itu agar Shinta tidak bisa memakan ice cream lagi.
__ADS_1
"Aku yang beli, ya terserah ku!" ujar Revan dingin. Shinta pun tak memperdulikan ucapan Revan. Ia melanjutkan memakan ice cream itu.
Revan tak sanggup lagi, ia hanya bisa menghabiskan empat gelas.
Dia menyerah dan mengakui kekalahan, ia juga menyesal memesan banyak sekali ice cream. Kini, beberapa ice cream juga sudah mencair.
"Makanya, jangan terlalu terbawa emosi..Kamu sih, pantang aku ledek udah gak mau kalah. Kalau udah begini siapa yang salah."
Shinta menegur suami nya, ini juga bukan kemauan nya. Suami yang tak pernah mau kalah seperti itu lah jadi nya.
"Iya, aku kesal. Kau mengatakan aku tidak sanggup membayar,"
"Xixixi"
Shinta hanya bisa tertawa sambil menikmati ice cream itu.
*********
Di sisi lain, Syifa melihat Raisa yang masih merasa bersalah. Rasanya, Raisa ingin segera menemui mami nya.
Syifa pun mendukung keputusan sang adik, ia mensuport tanpa menjatuhkan Raisa. Syifa memang begitu dewasa dalam menyikapi sebuah masalah.
"Ya sudah, Raisa nanti pulang langsung minta maaf sama mama. Jangan lagi ada kesalahpahaman."
Raisa mengangguk, Syifa mengajak Raisa untuk tidur siang namun Raisa mengatakan jika diri nya enggak bisa tidur. Ia ingin segera pulang ke rumah dan memeluk mami nya, Caca.
"Kak, Raisa ingin pulang."
Syifa pun mengiyakan ucapan adik nya, ia meminta tolong kepada supir untuk mengantar Raisa pulang. Raisa pun bersiap-siap.
"Bawa aja pakaian yang kamu pakai, lagian mama Shinta juga membelinya untuk kamu kalau tidur di sini." ujar Syifa.
Memang benar, Shinta membeli beberapa baju baru khusus untuk Raisa jika Raisa sedang menginap atau bermain di rumah mereka. Jadi tidak susah mencari pakaian untuk Raisa, bukan nya Syifa tak mau meminjam kan baju nya. Namun, ia juga enggak mau membiarkan adik nya memakai baju bekas milik nya.
__ADS_1
Raisa mengangguk, Syifa mengantarkan Raisa ke bawah. Menunggu, sampai Raisa pergi.
"Kak, Raisa pulang ya? Tolong sampaikan maaf Raisa ke mama Shinta karena tidak jadi menginap di rumah. Namun, lain kali Raisa pasti akan menginap di sini."
Syifa mengangguk, ia juga mengatakan jika Raisa tak perlu sungkan jika mau menginap atau main di rumah nya. Karena menurut Syifa, ini juga rumah nya Raisa.
Raisa sangat ingin menginap, namun rasa bersalah nya kepada sang mami membuat nya ingin cepat pulang dan meminta maaf.
Raisa memeluk Syifa lalu setelah itu langsung masuk ke dalam mobil. Syifa melambaikan tangan kepada adik nya.
"Hati-hati di jalan ya, kalau udah sampai hubungi kakak oke?"
"Oke kak."
Mobil pun menjauh dari kediaman rumah Syifa.
Syifa segera masuk ke dalam kamar, ia kembali merasa sepi. Sebenernya, Syifa sangat senang jika Raisa menginap di rumah nya. Karena ia memiliki teman yang bisa bertukar pikiran dengan nya.
Sudah lah, lagipula Raisa memiliki keluarga. Ya walau kami satu ibu, namun kami juga harus tinggal dengan orang tua masing-masing.
Syifa hanya ingin menerima kenyataan tanpa membenci keadaan.
Di dalam mobil, Raisa membuka ponsel genggam milik nya ia pun mencoba menghubungi mami nya Caca untuk memberitahu Jika diri nya tidak jadi menginap.
Namun, Caca tak mengangkat panggilan dari Raisa. Ia berfikir mungkin mami nya sedang istirahat tidur siang.
Raisa pun kembali menyimpan ponsel genggam milik nya, ya Raisa memang tidak terlalu menyukai bermain ponsel atau juga sosmed. Karena saat di panti ia dan teman-teman panti tidak mempunyai ponsel genggam. Hanya ada telepon panti, itu juga tidak bisa di gunakan sembarangan. Jadi, Raisa sangat buta dengan yang namanya ponsel.
*******
Caca sedang bermain dengan Khanza, ponsel nya ia charger di kamar nya.
"Sayang nya mami." Caca pun menciumi anak nya dengan gemas. Arvan dan Caca bermain dengan Khanza dengan penuh kasih sayang dan perhatian.
__ADS_1
"Sayang, aku sangat merindukan Raisa." gumam Caca kepada suami nya. Ia ingin sekali berbincang dengan anak nya Raisa karena Caca masih merasa bersalah dengan sang anak.