
Di dalam mobil, Syifa hanya bisa menangis menghawatirkan keadaan mamanya, tidak biasanya mamanya seperti itu dalam keadaan yang sangat berantakan apalagi begitu banyak lebam-lebam di wajah mamanya.
Tommy melajukan mobil dan menuju sekolah Syifa, betapa hancurnya hati seorang anak melihat ibu yang melahirkannya nya begitu banyak luka diseluruh tubuh dan juga wajah, Syifa tidak menyangka jika Daddy yang begitu sangat dia sayangi dan dianggap sebagai pelindung untuk keluarganya justru berbuat hal sekasar itu kepada sang Ibu. Syifa merasa menjadi sangat membenci Daddy nya.
Di kediaman rumah Shinta, semua orang sedang menunggu kesadaran dari Caca untuk bertanya apa sebenarnya hal yang terjadi dan mengapa Caca mengalami hal seperti itu
Caca pun tersadar dari pingsan nya, Shinta bertanya apa sebenarnya yang terjadi? Caca hanya bisa menangis, dirinya tidak sanggup untuk mengungkapkan apapun. Mama lily mendekati Caca, mencoba menenangkan kan Ibu dari cucunya itu
"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa keadaanmu seperti ini dan Apa benar Arvan yang tega melakukan ini semua kepadamu?" Caca mengangguk, begitu terkejut nya mereka seakan tidak mempercayai ini semua. Shinta yang mendengar itu merasa sangat emosi, ia ingin bertemu dengan Arvan. Namun, mama Lily melarang nya. Karena bagaimana pun ini masalah pribadi Caca dan suami nya.
"Tapi, Ma! Ini udah kekerasan dalam rumah tangga, memang nya apa hak nya berbuat seperti ini kepada Caca." kesal Shinta, mama Lily dengan sabar membuat menantu nya untuk mengerti.
"Sayang, tenang lah! Jangan menggunakan emosi, ingat kalian ini sedang menyusui, tidak boleh terlalu banyak pikiran. Kita juga tidak tahu apa yang terjadi?"
"Tapi, Ma. Apapun kesalahan Caca, Arvan tidak sepantas nya melakukan ini kepada isteri nya."
"Ta, sudah lah! Kenapa kau membantah mama?" bentak Revan kepada isteri nya. Revan tak ingin jika isteri nya bersikap kurang ajar kepada mama nya. Shinta pun terdiam, dengan penuh geram. Ingin rasanya ia mendatangi arvan lalu memaki pria yang mengaku sebagai kakak nya itu.
"Ta, sudah lah! Ini semua bukan lah kesalahan Arvan, aku yang salah."
__ADS_1
"Kesalahan apa yang kau perbuat sehingga dia melakukan hal sekeji ini kepada mu? Katakan!" ujar Shinta. Caca pun dengan nada tersedu, menceritakan segala nya kepada keluarga Shinta. Shinta, Revan, dan mama Lily seperti di sambar petir mendengar kenyataan Caca.
Shinta terduduk lemas di samping Caca, kepala nya terasa sangat pusing. Ia tidak tahu, mana yang benar dan salah di antara Caca dan Arvan. Caca menangis, mama Lily memeluk Caca dan menenangkan Caca. Di sisi lain, Shinta pun merasa kecewa dengan Caca mau pun Arvan. Shinta menghapus air mata nya dan segera ke luar menuju kamar nya.
Di dalam kamar, Shinta termenung dengan tatapan kosong, ia tak menyangka jika Caca melakukan hal sekejam itu kepada anak nya sendiri. Revan masuk ke dalam kamar, mendekati lalu duduk tepat di samping Shinta.
"Kenapa kau pergi dan masuk ke dalam kamar? Apa yang terjadi?" ujar Revan, Shinta menoleh ke arah Revan, memeluk suami nya.
"Sayang, kenapa kau menangis?"
"Hatiku begitu sesak dan hancur mendengar penjelasan Caca, sebagai seorang ibu. Aku merasa sangat sakit, kenapa Caca bisa tega seperti itu?"
"Sayang, sudah lah! jangan menangis! Aku tahu, kau kecewa tapi kita juga belum mengetahui apa alasan Caca melakukan ini semua."
"Kau mendengar apa yang Caca katakan, ia membuang anak nya hanya karena dia tidak mencintai suami nya waktu itu. Iya, aku memaklumi jika dia tidak mencintai Arvan, karena keadaan nya. Tapi, mengapa dia tega membuang anak nya sendiri, dia yang mengandung dan melahirkan anak nya. Kenapa dia tega melakukan ini? Dan, kau dengar apa yang Caca katakan. Raisa adalah anak mereka yang dia buang. Teman sekelas nya Syifa, dan apa yang akan Syifa pikirkan tentang ini semua? hati nya pasti akan sangat hancur."
"Sayang, sudah lah! Mengapa kau memikirkan hal itu semua, semua orang pernah melakukan kesalahan bukan? Saat ini, Caca membutuhkan dukungan kita semua, biar kan Arvan dan Caca menyelesaikan masalah mereka. Kita sebagai orang terdekat mereka hanya bisa berdoa untuk kebaikan keluarga mereka. Lagipula, anak mereka sudah ketemu. Biar kan Caca mendapatkan kesempatan untuk kesalahan yang ia perbuat, dan satu hal lagi. Dulu, Caca juga meninggalkan ku dan Syifa, tapi dia melakukan ini karena kebaikan. Berkat diri nya, aku di pertemukan oleh wanita sebaik diri mu. Jadi, semua yang terjadi ada hikmah nya."
Shinta terdiam, merenungi ucapan Revan. Ia pun menyadari jika ucapan suami nya benar. Shinta pun menghapus air matanya, tersenyum kepada Revan. Revan mengajak Shinta kembali menemui Caca di kamar tamu. Shinta pun setuju, mereka berjalan menuju kamar Caca.
__ADS_1
Mama Lily menenangkan Caca yang menangis tak berdaya.
"Sayang, sudah lah! Jangan menangis, tenang kan hati mu, Sayang. Mama yakin, Arvan akan segera mengerti dan memahami situasi mu. Mama begitu yakin, Arvan akan segera memaafkan mu." Caca mengangguk, mama Lily juga meminta Caca untuk menginap di rumah mereka untuk beberapa hari kedepan. Caca pun setuju. Shinta bertanya kepada Caca mengapa Caca bisa datang ke rumah nya.
Caca mengatakan jika tadi malam, Arvan pulang dalam keadaan mabuk dan tidak sadar kan diri. Hingga meluapkan segala amarah nya dan memukuli Caca. Setelah itu, Arvan mengusir diri nya dengan kasar.
Shinta pun tak kuasa mendengar cerita Caca. Ia tahu, jika sahabat nya itu melakukan kesalahan, namun mengapa Arvan memperlakukan Caca seperti bukan manusia.
*******
Tommy sampai juga di sekolah Syifa, ia menyuruh cucu nya untuk belajar dengan baik.
"Nak, belajar lah dengan baik. Dan jangan memikirkan hal tadi oke?" Syifa mengangguk, namun bukan berarti ia tidak memikirkan keadaan sang mama. Syifa memberikan salam kepada kakek nya lalu turun dari mobil.
Raisa dengan wajah ceria nya menyambut Syifa di depan pintu kelas.
"Kak, kenapa kau lama sekali? Aku dari tadi menunggu mu di sini."
Raisa yang melihat wajah murung teman nya itu pun bertanya apa yang terjadi, Syifa hanya menggeleng, tersenyum dan menyembunyikan masalah pribadi keluarga nya kepada orang asing. Walau Syifa menganggap Raisa sebagai teman, namun ia tidak ingin membuka aib keluarga kepada orang luar. Syifa mengajak Raisa untuk masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku mereka.
__ADS_1
"Kak, apakah kau membawa bekal?" tanya Raisa, ia pun lupa membawa bekal yang tadi di siapkan oleh Shinta.
"Astaga, bagaimana aku bisa lupa membawa nya." ujar Syifa yang menatap ke depan dengan tatapan kosong