
Rayhan terus saja memandangi Shinta namun ia tak mengucapkan satu katapun.
"Wah selamat yaa" Shinta melepaskan genggaman Revan dan ingin berjabatan tangan dengan Cinta dan Rayhan secara bergantian.
"Terimakasih" Ucap Cinta. Gini giliran Shinta berjabatan tangan dengan Rayhan, mereka saling menatap satu sama lain. Tatapan mereka sangat dalam, seakan ingin mengeluarkan segala keluh kesah mereka masing masing. Tangan mereka sudah menggenggam satu sama lain, namun tak ada yang berniat untuk melepaskan. Tidak ada yang berbicara sedikitpun, mereka masih menatap satu sama lain. Ingin rasanya Shinta menangis dan memeluk Rayhan, begitu pula dengan Rayhan. Namun Rayhan tak ingin semakin larut, ia langsung melepaskan tangannya dari Shinta. Ia mengajak Cinta untuk segera pergi dari rumah sakit itu.
"Baiklah Shinta, kami harus pamit pergi dulu ya" Ucap cinta.
"hey, iya hati hati. sekali lagi selamat ya" ucap Shinta.
"Iy...iya terimakasih" Cinta dan Rayhan pergi meninggalkan Shinta dan juga Rayhan.
__ADS_1
" Ayo, katanya kau lapar" Ucap Revan.
"Hmm kau deluan saja aku ingin ke kamar mandi dulu" ucap Shinta yang matanya sudah menatap kosong sekitarnya. Rasa sakit itu, ingin sekali ia menangis saat ini juga. Revan yang menyadari sikap aneh Shinta langsung menarik tangan Shinta dan membawanya ke taman rumah sakit.
"Mengapa kau membawaku kesini" Kesalnya namun Revan tak menjawab pertanyaan Shinta, ia langsung memeluk tubuh wanita itu
"Menangislah jika kau ingin menangis" Ucap Revan dengan nada lemah. Seketika Shinta langsung menangis sejadi jadinya di pelukkan Revan.
"Harusnya aku yang di situ hiksss.... Andai kecelakaan itu tak terjadi, pasti aku sudah bahagia dan merasakan bagaimana bahagianya menjadi wanita sempurna yang sedang mengandung anak dari lelaki yang ku cinta hiksss" Tangisan Shinta pecah, Revan semakin mengeratkan pelukannya. Ia mengelus rambut Shinta.
"Apa salahku hiks...."
__ADS_1
"Meng...mengapa dia tega. Apa 10 tahun itu tak berarti apa apa untuknya" Ucap Shinta dengan tangisannya. Begitu sakit rasanya, sudah setahun dia putus dari Rayhan namun ia tak bisa menghilangkan perasaannya terhadap lelaki itu. Revan tak menjawab pertanyaan dari Shinta. Ia hanya mampu memberikan pelukan untuk menenangkan Shinta yang saat ini lagi kacau. Karena ia pernah mengalami dimana wanita yang sangat dia cinta pergi meninggalkan ia dan Puterinya demi lelaki yang lebih kaya dari dirinya. Keadaan Shinta sudah mulai tenang, ia menghapus air matanya. Dan bersikap seolah olah tidak punya masalah apapun, Revan sangat bingung dengan wanita ini. Terkadang kekanak Kanakan dan sangat menyebalkan, terkadang juga menjadi wanita yang sangat kuat.
"Ayo kita lihat Syifa" Tersenyum
"Baiklah. Tapi sebelum itu kau makan dulu tadi kau bilang sangat lapar bukan"
"Tidak usah, aku tidak lapar"
"Baiklah, kalau begitu tidak udah kau melihat anakku!" Ucap Revan dengan ketus.
"Baiklah ayo kita makan, aku sangat lapar. Kau ini menyebalkan sekali" Ucap Shinta kesal dan memonyongkan bibirnya, baginya Syifa adalah kekuatan dia setelah kedua orang tuanya. Dia tak ingin jika lelaki menyebalkan ini tak mengizinkan nya untuk bertemu dengan Syifa. Bisa gila dia yang ada. Shinta dan Revan berjalan ke kantin.
__ADS_1