
Caca terbangun ketika mendengar suara wanita yang menangis di jam tengah malam seperti ini. Ia membangun kan Arvan.
"Sayang, bangun lah! Apa kau mendengar suara tangisan?" Namun Arvan tidak menghirau kan ucapan Caca dan tetap tertidur pulas. Caca mendengus kesal, ia pun memutus kan untuk melihat sendiri dari mana asal suara tangisan itu. Caca turun dari ranjang dan berjalan keluar. Ia mendekat dari mana asal suara tangisan itu.
"Suara itu dari kamar Kaynara," batin nya. Ia pun mendekati kamar Kaynara dan membuka nya. Kamar Kaynara sangat gelap. Caca berjalan di kegelapan lalu menghidupkan saklar lampu nya
"Kay," teriak Caca yang langsung melepas kan pisau yang tertancap di perut Kaynara. Caca langsung memeluk Kaynara.
"Kay," Caca menangis dan berteriak meminta tolong
"Tolongggggggggg,"
"Arvan, Bibi, Paman. Siapapun yang ada di luar tolong aku," teriak Caca menangis.
__ADS_1
"Kay, bangun lah. Hiks, tolong jangan tinggal kan aku,"
"Tolonggggggggggg!!!" Semua yang ada di rumah mendengar jeritan Caca dan masuk ke kamar Kaynara. Semua orang terkejut melihat Caca yang memegang tubuh Kaynara yang penuh darah.
"Kenapa kalian diam saja, tolong selamat kan dia!!!!" pinta Caca. Arvan langsung menggendong tubuh Kaynara dan membawa nya ke rumah sakit. Caca mengikuti Arvan dengan langkah yang gemetar ketakutan.
"Ya Tuhan, selamat kan adik ku. Tolong," sepanjang jalan Caca tidak berhenti menangis dan memohon doa untuk keselamatan Kaynara.
*******
Caca menjelaskan segala nya pada polisi dengan bibir dan tangan yang gemetar, ia tak takut dengan pertanyaan polisi. Yang ia takutin saat ini adalah keadaan Kaynara. Dokter keluar dan menjelaskan bahwa Kaynara kritis akibat kebanyakan kehabisan darah. Caca semakin histeris, ia sangat takut Kaynara tidak selamat.
"Tolong aku, Tuhan. Tolong, selamat kan dia," ucap Caca yang memohon pertolongan pada Tuhan dengan tulus.
__ADS_1
Polisi ingin membawa Caca ke kantor polisi, Arvan marah besar. Ia tak Terima bahwa isteri nya di bawa ke kantor polisi
"Maaf Pak, namun saat ini isteri bapak harus memberikan kesaksiannya di kantor polisi," ujar komandan kepolisian
"Bukan kah isteri ku sudah menjelaskan semua nya pada kalian!!" teriak Arvan. Salah satu anggota polisi datang dan membisikkan sesuatu ke telinga komandan nya.
"Di pisau itu ada sidik jari isteri bapak, kami harus membawa nya untuk di periksa lebih lanjut,"
"Apa kau berfikir isteri ku seorang pembunuh?" Arvan mencengkram kera baju komandan kepolisian tersebut.
"Silah kan kalian jelas kan nanti di kantor polisi," komandan tersebut memerintah kan anggota nya untuk membawa Caca. Semua tuduhan mengarah ke Caca, Keadaan Caca yang sangat kacau dengan berlumpuran darah dan ada sidik jari nya di pisau menjadi kan Caca sebagai tersangka. Caca mengikuti polisi dengan tatapan yang kosong.
"Jangan bawa isteri ku, dia tidak bersalah!"
__ADS_1
"Silah kan jelas kan di kantor nanti," Caca pun pergi dengan mobil polisi, Arvan menelpon beberapa pengecara terkenal untuk membela isteri nya, ia pun ikut ke kantor polisi.