Ibu Sambung

Ibu Sambung
Siapa Yang Meracuni Baby Al?


__ADS_3

"Ta, aku pernah di posisi kamu. Dan itu enggak gampang banget, sabar ya. Aku ikut ke pemakaman ya?"


Shinta menggeleng, tidak membolehkan Jennika, karena ia tau rekan-rekan kerja nya dulu pasti akan ikut ke pemakaman, Shinta tidak mau suami Jennika menemukan nya.


"Jen, lebih baik kamu di rumah aja. Nanti suami mu tau keberadaan mu enggak aman."


Walau ia masih dalam keadaan berdua, namun Shinta masih memikirkan keselamatan sahabat nya itu. Jennika tidak mau berdebat dengan Shinta, ia pun mengikuti ucapan Shinta.


Shinta pergi meninggalkan Jennika sendiri, perlahan ia menuruni anak tangga dengan hati dan tatapan yang sangat kosong.


Syifa yang melihat mama nya seperti itu, langsung berlari mendekati Shinta dan memeluk nya.


"Mama, yang kuat hiks." Syifa menangis di pelukan ibu sambung nya itu, Shinta hanya diam. Ia menatap anak nya dengan mata sayu dan tidak berdaya.


"Sayang, kamu udah cium adik untuk terakhir kali nya?" tanya Shinta kepada Syifa dengan nada yang berat, Syifa mengangguk. Hati nya juga hancur dengan kepergian sang adik, Syifa menyesal karena gagal menjaga adik nya.


"Ma, ini salah kakak. Andai saja kakak menjadi kakak yang becus dalam menjaga adik-adik semua tidak akan terjadi."


Shinta hanya diam, mengajak anak nya turun ke bawah. Ia tau jika ini kesalahan nya yang lalai sebagai seorang ibu. Walau ada pengasuh yang menjaga anak nya tidak seharusnya Shinta mempercayakan segala nya kepada pengasuh.


Revan menghampiri istri nya, mencium kening Shinta.. Ia berharap, agar Shinta bisa kuat menerima segala nya.


Begitu juga dengan Gunawan, ayah Shinta. Di saat rapuh anak nya, Syafa tidak ada di samping Shinta.


Namun, Gunawan tidak bisa melakukan apapun lagi.


Kini, jenazah baby Al akan di kebumikan. Shinta seakan di paksa oleh keadaan untuk melepaskan anak nya.


Namun, ia harus kuat agar bisa melakukan semua proses pemakaman anak nya Al.


"Sayang, mama akan kuat demi kamu. Mama akan mengantarkan mu ke tempat istirahat terakhir mu nak, syurga untuk mu." ujar Shinta yang menatap jenazah anaknya.


Caca tak kuasa membendung kesedihan nya, ia pernah merasakan kehilangan seorang anak. Ia tau bagaimana hancur dan rapuh nya hati Shinta.


"Sayang, aku enggak kuat melihat Shinta seperti itu. Lebih baik dia menangis histeris kan daripada harus diam dengan tatapan kosong nya." Caca menangis memeluk Arvan..Arvan menatap Shinta, memang benar terlihat sekali kekosongan di tatapan mata Shinta.


Seakan tidak ada kehidupan lagi, rekan kerja dan para kerabat yang hadir satu persatu memeluk Shinta memberikan kekuatan untuk nya, walau di rumah nya sangat ramai orang-orang banyak. Namun, semua itu sia-sia untuk Shinta yang telah kehilangan anak bungsu nya..


Aku tidak pernah membayangkan semua ini, dan jika ada pilihan lebih baik aku yang pergi. Kenapa bayi yang tidak berdosa harus menanggung semua nya?


Revan begitu kesal dengan takdir yang selalu mempermainkan keluarga mereka. Masalah yang terus datang.


Revan menggenggam jemari nya dengan geram, dokter mengatakan jika bayi mereka keracunan.


Siapa yang tega meracuni anak nya? Revan bersumpah pada diri nya akan menemukan pengkhianat yang ada di dalam rumah nya.


Cepat atau lambat, ia akan menemukan pembunuh anak nya.


Revan sengaja tidak memberitahu istri nya tentang penyebab kematian anak nya, ia tau jika Shinta pasti akan kehilangan kendali dan pembunuh itu pasti akan kabur.


Arvan mendekati Revan, membisikkan sesuatu kepada Revan.


Revan hanya bisa mengangguk, ia menyerahkan dan mempercayakan semua ini kepada Arvan.


"Aku percayakan semua nya kepada mu, maaf jika aku merepotkan mu."


"Tidak, aku melakukan ini dengan tulus. Karena aku menganggap anak-anak kalian adalah anakku dan Caca juga."


Revan mengangguk, Arvan memeluk bahu Revan memberikan kekuatan kepada nya.


Jenazah segera di bawa ke pemakaman, Shinta meminta kepada suami nya ia yang akan menggendong jenazah anak mereka.


Namun, menurut agama dan kepercayaan mereka itu di larang. Shinta pun hanya bisa pasrah sekarang mengikuti jenazah anak nya di belakang sambil memeluk bingkai Poto almarhum anak nya.

__ADS_1


Caca memeluk Shinta, menyandarkan kepala Shinta di bahu nya. Dengan perlahan mereka berjalan mengikuti jenazah baby Al ke pemakaman


"Ta, kamu yang kuat ya." berulang kali Caca mengatakan hal itu, namun Shinta hanya diam. Ia mengeratkan pelukan nya di bingkai album sang anak.


"Jangan khawatir ca, aku bisa kok melewati nya." Caca semakin khawatir dengan bungkam nya Shinta.


Ia mengerti rasa sakit dan penderitaan itu. Caca juga sudah mengalaminya terlebih dahulu dan dia juga sudah kehilangan ibu nya Elsa. Walau perilaku ibu nya Caca tidak baik semasa hidup namun bagaimanapun Elsa adalah ibu kandung Caca yang sudah melahirkan dan membesarkan nya.


"Ca, kalau nanti terjadi apa-apa sama aku tolong jaga anak-anak yang lain ya?"


"Hust! Kamu enggak boleh gini, Ta! Jangan ngomong yang aneh-aneh. Revan, Syifa dan si kembar Alan dan Alana membutuhkan kamu! Jangan gitu ya? Aku enggak suka!"


"Aku titip mereka ke kamu. Aku gagal menjadi seorang ibu,"


"Kamu enggak gagal! Kamu ibu yang terbaik, ini hanya ujian yang Tuhan kasih untuk Kamu, untuk keluarga kita."


"Ujian? Ujian seperti apa yang tega mengambil anakku dari pelukan ku?"


Caca hanya bisa menangis dengan pertanyaan Shinta. Terlihat Shinta seperti orang yang tidak memiliki hasrat untuk hidup.


Caca takut jika Shinta akan melakukan hal yang konyol.


Shinta menyaksikan anak nya di makam kan dengan layak, hati nya bergejolak. Ia ingin marah dan benci kepada keadaan. Namun, ia sadar semua sudah terjadi. Anak nya tidak akan pernah kembali.


Sebagian orang-orang yang ada di pemakaman mendekati Shinta, memberikan kekuatan..Namun, menurut Shinta itu sia-sia.


Ia bisa kuat jika anak nya berkumpul semua dengan dia, bukan meninggalkan nya seperti ini.


Acara pemakaman pun telah selesai, satu persatu orang yang ada di pemakaman pun pulang. Shinta menatap nisan yang ada di depan nya.


Rasanya, baru tadi ia memandangi wajah imut anak nya yang sedang tidur. Ya, sebelum pergi makan ice cream. Shinta sempat menemui baby Al. Ia ingin menggendong anaknya, namun karena takut kebangun Shinta membatalkan niat nya itu.


Shinta memandangi ke dua tangan yang ia angkat mengarah ke wajah nya. Shinta histeris dan kembali jatuh tak sadarkan diri.


Dengan sigap, Revan dan Gunawan ayah nya Shinta menghampiri Shinta yang sudah berbaring tak sadarkan diri di tanah.


"Nak, kuatkan diri mu. Ini ayah nak," ujar Gunawan yang begitu sedih melihat kondisi anak nya.


Caca menuntun anak-anak untuk kembali memasuki mobil, Syifa tidak mau. Ia mau menemani Shinta, namun Caca mengatakan saat ini biarkan shinta di tangani oleh papa nya Revan.


"Sayang, tolong jangan keras kepala. Mama mengerti ke khawatiran kamu dengan mama Shinta. Namun, biarkan papa dan kakek yang membawa mama Shinta ke rumah sakit..Nanti, kita akan menyusul nak."


Syifa pun menuruti ucapan mama nya Caca. Alan dan Alana menangis memeluk Syifa.


"Kakak, mama kenapa hiks."


Syifa tidak menjawab, ia berusaha kuat dan menghapus ke dua air mata adik nya. Raisa juga menghibur Alan dan Alana agar tidak bersedih.


Revan melajukan mobil nya dengan cepat ke rumah sakit, bukan nya ia tidak mau membawa Shinta kerumah. Namun, sudah dua kali Shinta tidak sadarkan diri. Ia pasti down juga drop dengan keadaan yang terjadi.


*******


Di sisi lain, Syafa mencoba menghubungi suami nya namun tidak ada jawaban. Hati nya merasa sangat gelisah, ia ingin menyusul suami nya namun Reyhan tidak membolehkan Syafa kemana-mana


"Ibu, di sini aja. Reyhan takut." perlahan Rayhan sudah bisa berbicara, ibu Syafa pun mengangguk. Ia yakin, jika sesuatu sedang terjadi. Pasti suami dan anak nya akan mengabari nya.


Ini hanya kekhawatiran seorang nenek kepada cucu nya, sebab itu Syafa tidak tenang..


Pasti karena saya terlalu khawatir memikirkan keadaan cucu saya..Jika sesuatu terjadi, tata dan mas Gunawan akan menghubungi saya. Atau Caca dan Arvan pasti akan mengabari ibu mereka ini..Syafa jangan berfikiran buruk. Percaya jika cucu kamu akan baik-baik saja.


Syafa mencoba meyakinkan diri nya sendiri, ia pun mengajak Reyhan untuk makan terlebih dahulu sebelum tidur.


Rayhan sangat menuruti ibu nya, Syafa merasa bahagia. Seakan jati diri nya sebagai seorang ibu terlahir kembali.

__ADS_1


"Andai saja kakak-kakak mu bisa meluangkan waktu bersama ibu mungkin ibu tidak akan merasa kesepian. Namun, kehadiran kamu membuat ibu terlahir kembali sebagai seorang ibu. Ibu bisa merawat mu, dan kamu bisa menemani ibu selalu."


Perlahan naluri Rayhan kembai tersadar, kasih sayang yang tulus di berikan oleh Syafa membuat trauma nya perlahan membaik secara perlahan.


Syafa mengingat saat pertama kali Rayhan di antar oleh ibu nya, Rayhan sangat trauma bahkan ia histeris jika bertemu orang lain.


******"


Caca yang ikut di mobil suami nya bersama anak-anak masih sangat sedih, namun ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi kepada baby Al.


"Kita akan membawa anak-anak pulang kerumah, tidak di rumah Shinta dan Revan."


"Kenapa?" tanya Caca. Arvan tidak menjawab, Caca pun mengerti jika suami nya tidak mau membahas itu di depan anak-anak.


Daddy, kenapa pulang ke rumah Daddy?


Tanya Syifa, ia hanya ingin bersama mama nya Shinta. Begitu juga dengan si kembar.


"Sayang, di rumah kalian kan sedang berduka. Dan kamu lihat bagaimana kondisi mama kalian kan? Lebih baik kalian istirahat di rumah Daddy ya nak? Kan rumah Daddy dan Mami rumah kalian juga."


"Alana juga Lapel." ucap Alana dengan polos, Caca mengatakan ia akan memasak makanan kesukaan Alana nanti jika sudah sampai rumah.


Alana bersorak senang, Alana juga masih terlalu kecil tidak mengerti apa itu kematian.


Mobil Arvan masuk ke dalam halaman rumah nya, ketika mobil di hentikan tepat di depan rumah. Caca mengajak anak-anak untuk masuk ke dalam.


Caca memerintahkan Syifa dan Raisa untuk mandi membersihkan diri, Caca akan mengurus si kembar Alan dan Alana.


"Nak, Kalian mandi ya? Kita habis dari makam jadi kalian bersih kan diri dulu sebelum makan, mami akan memandikan adik kalian."


"Tidak usah, Ma. Biar Syifa saja yang memandikan Alan dan Alana. Mereka sangat sulit di atur jika tidak dengan Syifa."


Caca pun mengiyakan ucapan Syifa, Syifa dan Raisa mengajak si kembar untuk naik ke atas.


Anak-anak pun berlari menuju kamar atas, saat anak-anak sudah tidak ada. Caca kembali bertanya kepada suami nya apa yang sebenernya terjadi.


"Sayang, kau belum menjawab pertanyaan ku. Apa yang terjadi kepada baby Al?"


Arvan membuang nafas nya dengan kasar, ia pun mengajak istri nya terlebih dahulu untuk ke kamar dan membersihkan diri.


"Kita habis dari makam, sebaiknya bersihkan tubuh kita. Lalu, aku akan menceritakan segala nya kepada mu." Caca mengangguk, ia pun segera pergi ke atas untuk membersihkan diri nya.


Arvan meminta Caca untuk mandi terlebih dahulu, karena ia akan menghubungi seseorang untuk membahas tentang kematian anak Shinta dan juga Revan.


Tak membutuhkan waktu yang lama, Caca sudah selesai mandi. Arvan pun sudah selesai berbicara dengan seseorang di telepon. Ia mengambil handuk dari lemari, dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya.


Setelah ke dua nya selesai membersihkan diri, Arvan duduk di tepi ranjang. Air mata nya menetes, Caca mendekati suami nya dan bertanya apa yang terjadi.


Arvan mengatakan jika diri nya merasa sedih dengan kepergian Al. Ia juga hancur melihat Shinta yang begitu rapuh, Arvan sudah menyayangi Shinta seperti adik nya sendiri. Caca memeluk dan menguatkan Arvan.


"Sayang, aku juga sedih dengan semua ini. Namun, Tuhan lebih menyayangi Al. Kita sudah berusaha yang terbaik untuk keselamatan Al, namun Tuhan ingin Al berada di sisi nya. Seperti kita yang pernah kehilangan anak kita dulu."


Arvan mengangguk, ia mengatakan jika meninggal Al itu wajar mungkin ia akan menerima semua nya.


"Apa maksud mu?" tanya Caca, Arvan menjelaskan semua nya.


"Di rumah sakit, dokter mengatakan jika susu Al sudah tercampur racun. Tanda nya ada yang sengaja meracuni baby Al. Aku mengajak anak-anak kesini karena mungkin di rumah itu ada seorang pengkhianat yang belum kita temui. Sangat berbahaya untuk anak-anak."


Caca yang mendengar nya menangis, ia berfikir jika keluarga mereka sudah aman setelah meninggal nya Elsa ibu nya. Namun, kenapa masalah masih saja datang.


"Apa kesalahan Al? Mengapa Al yang menjadi korban? Manusia mana yang begitu tega membunuh anak sekecil itu, bayi yang tidak berdosa." tanya Caca yang menangis, begitu malang nya nasib bayi Shinta. Mengapa ia yang harus di korbankan dalam hal itu. Apa motif pembunuh itu? dan siapa yang melakukan nya.


Caca begitu ingin segera pelaku nya ketemu.

__ADS_1


"Entah lah, aku juga tidak tau. Tapi, aku pastikan orang itu tidak akan lepas dari ku dan juga Revan. Kami akan menyelidiki nya. Namun, saat ini tidak ada yang tau, karena Revan khawatir jika Shinta pun tau ia tidak akan bisa kehilangan kendali. Dan orang yang sudah memberikan racun di susu Al bisa lolos dengan mudah nya." ucap Arvan.


"Apakah pelaku nya adalah baby sister?" tanya Caca kepada suami nya namun Arvan tidak yakin jika yang melakukan itu adalah pengasuh. Jika memang benar, pasti sudah lama pengasuh melakukan itu. Bukan sekarang, dan tidak mungkin pengasuh membahayakan diri nya sendiri.


__ADS_2