
Pagi hari nya Caca dan Arvan datang ke rumah Revan berniat untuk menjemput Syifa.
Pelayanan mempersilahkan Caca dan Arvan untuk masuk dan menunggu di ruang tamu.
"Mau minum apa Nona, Tuan,"
"Tidak usah bi, kita hanya sebentar kok," ucap Caca dengan nada lembut nya, Revan dan Shinta pun berjalan mendekati mereka.
"Hai," sapa Caca.
"Hai, gimana kabar mu?"
"Baik, Ta. Kamu gimana? si kembar gimana?"
"Baik kok,"
"Ada apa kalian ke sini pagi-pagi?" tanya Revan dengan nada dinginnya.
"Kita ke sini mau ajak Syifa kerumah dan meninap,"
"Tidak bisa!" tegas Revan.
"Ke-kenapa?" tanya Caca yang kebingungan, begitu juga dengan Arvan.
"Iya, kenapa tidak bisa?" sambung Arvan.
"Tidak mungkin aku biar kan anakku berada di rumah wanita ular," tegas Revan.
"Apa maksud anda?" Arvan yang merasa tidak Terima pun langsung bangkit dari duduk nya.
"Aku mohon tenang lah dulu" pinta Shinta.
"Tuan Arvan, tolong duduk dan tenang lah,"
"Sayang, duduk lah." ucap Caca, Arvan pun kembali duduk. Shinta pun mengajak suami nya untuk duduk dan lebih tenang sedikit. Revan pun menuruti permintaan Shinta, walau ia masih bungkam.
"Van, bukan nya kau sudah mengizinkan ku untuk lebih dekat dekat putri kita?" mata Caca sudah berkaca-kaca.
"Ya benar."
"Tapi, kenapa ini tidak bisa? dan apa maksud mu berkata di rumah wanita ular?" Caca mencoba memastikan lagi.
"Tenang lah Ca, aku akan menjelaskan semua nya,"
Flashback.
Shinta masuk ke kamar, kemarahan Revan semakin memuncak. Ia masih tidak habis fikir, mengapa Caca menjadi wanita licik seperti itu.
"Sayang." panggil Shinta, ia mencoba meredakan emosi suami nya, Revan pun menoleh ke arah Shinta.
__ADS_1
"Kenapa?" ketus nya.
"Tenang lah! mengapa kau selalu menggunakan emosi mu?!" sentak Shinta.
"Aku ingin bertanya,"
"Tanya saja, siapa yang melarang mu untuk bertanya." ucap Revan dengan dinginnya.
"Apa yang Syifa kata kan tadi?"
"Apa tadi belum cukup jelas penjelasanku?"
"Maksud ku, apa Syifa berkata bahwa Caca yang berkata seperti pada nya sehingga ia merasa aku abaikan?"
"Tidak"
"Lalu, mengapa kau seenak nya menyimpulkan bahwa Caca dalang dari ini semua?"
"Siapa lagi kalau bukan Caca?"
"Apa tidak sebaik nya kita panggil saja Syifa, dan bertanya lagi?"
"Tidak perlu!"
"Perlu!"
"Perlu van!"
"Kau ini mengapa keras kepala sekali!" geram Revan.
"Dan kau? Apa?" tantang Shinta lagi. Revan membuang nafas nya dengan kasar dan ia mengalah.
"Baiklah, aku akan bertanya lagi pada nya. Pasti jawabannya sama saja! "
"Aku ikut!" pinta Shinta.
"Tidak usah!"
"Tapi aku mau!"
"Huh, baik lah. Ayo! kau ini bawel sekali!" Revan pun memegang jemari Shinta dan membawa nya ke kamar Syifa.
*******
"Sayang." panggil Shinta yang melihat Syifa sedang memandangi langit-langit kamar nya.
"Mama." Syifa menoleh dan turun dari tempat tidur nya, ia berlari mendekati Shinta, gadis kecil itu langsung memeluk Ibu sambung nya tersebut. Shinta, Revan dan Syifa pun berjalan mendekati tempat tidur Syifa. Setelah mereka bertiga duduk di tepi tempat tidur
"Sayang, mama boleh tanya sesuatu gak sama Syifa?"
__ADS_1
"Boleh ma."
"Ta, buat apa sih lagi tanya sama Syifa. Sudah jelas-jelas Caca yang meracuni pikiran Syifa"
"Huhhhfftt, lagi-lagi papa berbicara racun. Syifa bosan" ucap nya dengan mengerucutkan bibir nya ke depan.
"Ma,"
"Iya, Sayang" jawab Shinta dengan lembut.
"Mama Caca tidak pernah meracuni Syifa, bahkan mama Caca selalu memberikan makanan yang enak buat Syifa. Mama Caca memberikan Syifa minum susu setiap hari hingga Syifa sehat ma, bukan racun. Tapi kenapa papa bilang mama Caca memberikan Syifa racun?" tanya nya dengan polos.
"Kau lihat lah! dia tidak akan paham apa ucapanku" kesal Revan.
"Sudah! kau diam lah, aku ingin berbicara pada anakku! bukan padamu!" Shinta melotot kan kedua mata nya pada Revan, walau mereka sudah memiliki anak tetap saja sifat keknak-kanakan shinta dan sifat menyebalkan Revan masih ada. Revan pun jengah dengan semua ini
"Dasar wanita keras kepala!" gumam nya dalam hati. Shinta pun kembali fokus pada putri sulung nya.
"Sayang, maksud mama dan papa. Syifa tahu dari mana ucapan kalau mama tidak akan sayang kamu lagi?"
"Dari grandma Elsa," jawab nya dengan santai. Shinta pun melirik ke arah Revan.
"Bukan mama Caca yang bilang nak?"
"Enggak ma, bahkan mama Caca selalu menyuruh Syifa untuk membantu mama dalam menjaga dedek kembar."
"Lalu apalagi kata Grandma Elsa, Sayang?"
"Kata Grandma Elsa, mama akan fokus ke adik kembar, karena adik kembar itu anak kandung mama. Sedang kan Syifa, hanya anak sambung mama. Bagaimana pun seorang ibu akan lebih sayang pada anak kandung nya dari pada anak sambung nya," Syifa pun menceritakan pada Shinta apa saja yang di katakan oleh Elsa. Kini, Shinta dan Revan pun sudah menemukan kebenarannya. Bukan Caca dalang dari ini semua, melain kan Elsa, Ibu kandung dari Caca sendiri.
Flashback end.
Mendengar penjelasan dari Shinta, membuat hati Caca terluka. Ia menjatuhkan air matanya, Arvan mencoba menenangkan istri nya. Caca begitu sangat kecewa pada ibu nya, ia berfikir bahwa Elsa sudah berubah, tapi kenyataannya. Elsa semakin menjadi.
"Sayang, tenang lah! ingat anak yang ada di kandungan kamu," ucap Arvan yang memegang perut rata Caca.
"Anak yang ada di kandungan? kamu hamil Ca?"
"Iy-iya, Ta" Caca menghapus air mata nya.
"Sudah lah Ca, benar apa kata suami mu. Jangan terlalu di pikir kan! Fokus lah pada kandungan mu!" ucap Shinta penuh perhatian
"Aku tidak melarang mu untuk menemui Syifa, tapi maaf kan aku ca. Aku takkan mengizinkan Syifa ikut dengan mu ke rumah jika masih ada wanita ular itu" tegas Revan.
"Jika kau menemui nya disini, silahkan! pintu rumah ku terbuka untuk kalian 24 jam"
"Tapi, jika kau membawa putri ku kerumah mu yang ada wanita ular itu, aku takkan mengizinkan nya. Aku tak ingin putri ku menjadi wanita jahat seperti nya, kalian sendiri tahu bagaimana sikap Syifa kemarin terhadap Shinta, dan itu semua ulah dari mama mu Ca"
"Baiklah, aku mengerti. Maaf kan atas sikap mama ku ya, aku pamit dulu." setelah berpamitan Caca dan Arvan pun segera meninggalkan rumah Revan. Revan dan Shinta merasa sangat kasihan pada Caca, wanita sebaik diri nya harus memiliki ibu yang berhati iblis seperti Elsa. Akibat ulah mama nya, ia harus membayar nya dengan mahal. Entah apa yang ada di fikiran Elsa, seorang ibu akan melakukan apapun demi kebahagiaan anak nya. Namun, tidak dengan Elsa. Ia hanya memikir kan diri nya dan dendam nya saja.
__ADS_1