Ibu Sambung

Ibu Sambung
Berdamai


__ADS_3

"Maaf ya Syifa, Ibu hanya bercanda saja agar kelas kita tidak terlalu tegang haha."


Guru itu pun mencoba membujuk Syifa dan Raisa. Kedua nya hanya menggeleng kan kepala saja. Syifa merasa kasihan dengan Daddy nya yang sudah bersusah payah mengubah prinsip buruk sekolah ini namun masih saja ada beberapa guru yang tetap pada prinsip buruk nya.


Jika Daddy tahu, betapa sedih nya Daddy melihat sekolah nya masih ada orang-orang yang rusak moral nya ~batin Syifa.


Raisa pun menyuruh kakak nya untuk tenang, jangan membuat keributan lagi.


"Kakak, sudah ya jangan marah-marah lagi. Kita datang ke sekolah ini untuk belajar bukan untuk melawan guru,"


"Iya benar, tapi jika ada hal buruk yang terjadi pada teman kita. Kita enggak bisa diam aja, walau pun ke dua orang tua kita bukan siapa-siapa. Kamu ingat gimana dulu kakak membela mu dari perlakuan Bullyng hingga membuat anak itu di keluarkan dari sekolah?" Syifa kembali mengingatkan Raisa tentang kejadian buruk itu.


Raisa pun terlihat sedih, dan memutuskan untuk diam. Syifa merasa tak enak hati karena sudah mengatakan hal yang mungkin melukai hati adik nya.


"Ma-maafkan kakak ya? Kakak enggak bermaksud membuat kamu sedih."


Raisa tak mengatakan hal apapun, ia hanya mengangguk saja dan kembali duduk di kursi nya.


Mungkin, masalah yang di hadapi Raisa di rumah membuat nya menjadi sedikit sensitif. Ia melihat jika Syifa lebih dominan melakukan apapun yang kakak nya suka. Sedangkan diri nya tidak bisa melakukan apapun hanya bisa diam dan menuruti perintah dari kakak nya.


Karena kebijaksanaan kak Syifa, ia jadi kesayangan Mami dan Daddy. Bahkan kak Syifa sangat beruntung mempunyai mama sebaik mama Shinta. Tidak seperti ku, walau aku sudah menemukan siapa ke dua orang tua kandung ku. Bahkan mereka tidak menganggap ku ada ~batin nya.


Raisa tak tahan lagi, ia pun memutuskan untuk meninggalkan kelas. Syifa ingin mengejar nya namun Raisa menegaskan kepada kakak nya untuk tidak terlalu ikut campur dengan urusan pribadi nya. Ucapan Raisa tentu membuat Syifa merasa kaget.


Namun, Syifa tak mau semakin memperkeruh keadaan, ia pun membiarkan adik nya pergi dan menenangkan diri.


Syifa kamu lihat adik mu! Kau mengatakan prinsip-prinsip yang baik, namun kelakuan adik mu saja tidak sopan. Selalu pergi meninggalkan kelas seenak nya


Ucapan dari salah satu teman Syifa pun membuat Syifa bungkam. Apalagi yang harus ia katakan jika memang benar Raisa seperti tidak menghargai guru atau pun peraturan. Pergi seenaknya tanpa mengucapkan satu kata pun.


Raisa mendengar ucapan salah satu teman nya. Ia berhenti dan berbalik menatap kesal teman nya.


"Apapun yang aku lakukan itu terserah ku! Jangan sama kan aku dengan kakak ku jelas kita berbeda!" Setelah mengatakan itu Raisa pergi entah kemana.


Syifa pun merasa geram, kenapa adik nya bersikap seperti itu. Bahkan tidak sopan di depan guru mereka. Guru itu hanya tersenyum sinis.


Sudah lah nak Syifa Terima saja kenyataan nya, memang anak-anak orang kaya seperti kalian tidak pernah menghargai peraturan yang ada. Peraturan hanya untuk di langgar!


Guru itu memberi ucapan pedas, Syifa hanya bisa diam dan ingin menangis. Ia bersusah payah untuk menunjukan sikap yang baik dan bertentangan dengan prinsip yang buruk namun adik nya malah melakukan hal yang sebalik nya.


Jam pelajaran telah berakhir.


Syifa segera pergi mencari Raisa. Namun ia tak menemukan keberadaan Raisa. Syifa segera menghubungi Daddy nya dan mengatakan semua yang telah terjadi.


"Maaf Daddy, Syifa gagal menjaga Raisa."


Syifa pun mengakhiri panggilan nya, ia menangis. Seakan gagal menjadi kakak yang memberikan contoh baik untuk adik nya.


Syifa kembali mencari Raisa namun tak menemukan adik nya, ia menyesal karena sudah mempermalukan Raisa seperti itu di depan semua orang.


*******


Arvan yang mendapatkan kabar dari anak sambung nya itu pun segera bergegas ke sekolah. Caca bertanya mengapa suami nya terlihat seperti orang yang cemas. Arvan memberitahu segala nya kepada sang istri ia tak mau menyembunyikan apapun lagi.

__ADS_1


Caca mengatakan kepada suami nya untuk ikut bersama nya. Awal nya Arvan menolak namun Caca terus memaksa. Tak ada pilihan lain, Arvan pun mengiyakan istri nya.


Caca bersiap terlebih dahulu, ia meminta tolong kepada pengasuh untuk menjaga anak nya Khanza.


"Saya dan suami akan pergi ke sekolah. Kamu jaga baby Khanza ya di rumah, tolong perhatikan susu nya ya?"


"Baik nyonya."


Setelah memberikan arahan kepada baby sister yang menjaga Khanza. Caca pun pergi dengan suami nya menggunakan mobil. Hati Caca sangat khawatir dengan Raisa, kemarin Raisa sudah merasa sedih karena diri nya. Kini, Syifa membuat ulah lagi menyakiti Raisa.


Setelah di sekolah Caca menemui Syifa, entah mengapa Caca memarahi Syifa dan mengatakan Syifa kakak yang buruk.


"Sebagai kakak kamu jaga dong adik kamu, kenapa bisa begini?" bentak Caca kepada Syifa. Ia kesal mendengar cerita dari Syifa.


"Maafin Syifa, Ma. Syifa enggak bermaksud membuat Raisa merasa malu seperti itu."


"Syifa, kamu itu kakak nya tapi bukan berarti kamu bisa mengatur adik mu seenak nya apalagi memarahi nya di depan guru, mau terlihat hebat kamu?" Caca memarahi Syifa habis-habisan. Arvan melerai dan membela anak sambung nya.


"Cukup! Kamu jangan menyalahi anak kita satu pihak, kita enggak tahu gimana kejadian nya. Dan enggak mungkin Syifa memarahi adik nya jika adik nya tidak melakukan kesalahan. Kamu jangan begitu, tidak enak di lihat orang-orang kamu memarahi Syifa di depan umum!" Arvan memeluk Syifa dan menenangkan Syifa yang menangis senggugukan.


"Iya aku tahu Raisa salah, tapi jangan di marahin dong adik nya di depan orang-orang, kasian. Raisa udah cukup terpukul dengan keadaan di rumah, bagi nya kakak nya adalah tempat nya bercerita namun kakak nya malah mempermalukan nya seperti itu. Lihat, sekarang Raisa menghilang. Dan kita enggak tahu di mana dia berada."


"Kamu kayak gitu sama aja kamu mempermalukan anak mu, kamu memarahi nya di depan orang banyak seperti ini!"


"Tidak Daddy, ini memang semua kesalahan Syifa."


"Mama enggak mau tahu, sekarang kamu cari adik mu sampai ketemu! Dan minta maaf sama adik mu di depan semua orang. Mama akan meminta kepala sekolah mengumpulkan seluruh murid dan guru di lapangan, kamu harus meminta maaf kepada adik mu di depan semua orang!" bentak Caca kepada Syifa


Arvan tidak setuju dengan tindakan Caca, itu sama saja mempermalukan anak mereka di hadapan orang banyak. Namun, Syifa meyakinkan Daddy nya untuk tidak khawatir, ia akan melakukan nya demi sang mama.


"Tidak nak! Daddy tidak setuju! Lebih baik kamu masuk ke dalam kelas biar Daddy yang mencari adik mu."


"Tidak Daddy, Syifa tidak mau ada kebencian di mata mama untuk Syifa." ujar nya dengan suara yang berat, hati Syifa hancur berkeping-keping melihat sikap ibu kandung nya yang seakan lebih mencintai Raisa ketimbang diri nya.


Syifa kembali mencari Raisa di setiap sudut sekolah, saat Syifa pergi Arvan menarik tangan istri nya dengan kasar. Membawa Caca ke tempat yang sepi


"Kamu gila ya?" tanya Arvan yang terlihat sangat kesal.


"Aku gila? Tidak, aku enggak gila."


"Bisa-bisa nya kamu mengatakan hal itu kepada Syifa, bahkan di depan banyak orang."


"Dia yang salah, kenapa dia memperlakukan adik nya seperti itu?"


"Dia tidak bermaksud seperti itu, dan apa yang di lakukan Syifa itu benar! Kamu jangan memberikan contoh yang buruk kepada anak-anak dengan membenarkan prilaku Raisa!" tegas Arvan kepada Caca. Caca menyangkal, ia tak membenarkan prilaku Raisa namun ia kesal mengapa Syifa justru mempermalukan adik nya di depan teman-teman dan guru nya.


"Terserah apa kata mu. Yang pasti aku tidak ingin Syifa di permalukan di depan teman-teman dan guru nya. Dan jika Shinta juga Revan tahu tentang ini mereka tidak akan tinggal diam dan pasti akan menjauhi Syifa dari kehidupan kita apa itu yang kamu mau hah? Membuat dua keluarga yang sudah baik-baik saja menjadi hancur?"


Caca terdiam, ia membayangkan bagaimana wajah Shinta saat mengetahui Syifa di permalukan seperti itu.


"Tapi aku ibu kandung nya, aku juga berhak memberikan pelajaran untuk anak aku kan? Kamu jangan ikut campur, karena kamu hanya ayah sambung nya!" ujar Caca. Sifat Caca seperti ini mengingatkan Arvan kepada Elsa ibu nya Caca yang begitu jahat.


"Aku tidak habis pikir, ternyata sifat ibu mu menurun pada mu. Hari ini kau membuktikan, jika keturunan Elsa sama seperti diri nya!" Arvan pun pergi meninggalkan istri nya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi, Aku harus mencari dan menemukan Raisa terlebih dahulu."


Arvan mencari Raisa akhir nya ia menemukan anak nya yang berada di sudut kelas.


"Sayang." panggil Arvan kepada Raisa dengan penuh cinta, Raisa menoleh ke arah Daddy nya dan langsung berlari memeluk Arvan.


"Daddy, maafin Raisa. Raisa udah jahat sama kakak Syifa. Raisa menyesal."


"Ada apa ini nak? Tolong jelaskan ke Daddy."


Raisa pun menjelaskan semua nya kepada Arvan, Arvan meminta Raisa menjelaskan itu kepada mama nya di luar. Raisa pun setuju, karena ia begitu menyesal sudah membuat kakak nya bersedih karena perilaku nya yang buruk.


Arvan dan Raisa berjalan bergandengan menuju Caca dan Syifa yang ada di ruangan khusus yang sudah di siapkan oleh kepala sekolah.


"Sayang, kamu dari mana aja? Mami khawatir nak saat mengetahui kamu menghilang."


"Raisa enggak kenapa-kenapa Mami, Raisa baik-baik aja."


Caca menoleh ke arah Syifa dengan sinis dan meminta Syifa melakukan permintaan nya yang tadi. Syifa pun mengikuti ucapan mama nya dan mau membawa Raisa ke lapangan karena orang-orang sudah berkumpul di sana. Banyak murid dan beberapa guru yang sudah berkumpul.


Raisa mengerti karena sebelum nya Arvan sudah memberitahu semua nya kepada ia.


Syifa menangis memeluk sang adik, ia begitu menyesal karena sudah memarahi adik nya. Raisa membalas pelukan Syifa lalu ke dua nya saling melepaskan pelukan satu sama lain.


"***Saya Raisa anak dari pemilik sekolah ini ingin mengatakan hal yang penting. Saya begitu bangga dengan kakak saya yang memiliki hati yang begitu baik dan sifat yang bijaksana tidak seperti saya yang begitu labil. Kakak saya melakukan hal yang baik, ia berusaha membuat prinsip-prinsip yang baik di sekolah ini. Walau dulu kami bukan siapa-siapa, pemilik sekolah ini juga bukan Daddy kami. Namun, kak Syifa sudah membela kebenaran. Ia menentang guru-guru yang memiliki prinsip-prinsip buruk. Bahkan kakak ku tidak takut melawan anak dari anggota dewan yang mempunyai kekuasaan terbesar di sekolah ini. Bahkan guru-guru pun tak berani melawan anak tersebut namun kakak ku berani padahal ia tahu resiko nya jika melawan anak kepala dewan tersebut.


Tapi, hari ini. Saya merasa malu, malu kepada diri saya yang tak bisa seperti kakak saya. Bahkan saya bersikap seenaknya dengan dua kali meninggalkan kelas di jam pelajaran. Kak Syifa, Raisa meminta maaf ya sama kakak. Raisa yang salah***."


Ke dua nya saling berpelukan, dan semua yang ada di lapangan memberikan tepukan. Tak sedikit yang menangis merasa terharu melihat ke dua nya yang begitu saling menyayangi. Ke dua nya pun saling berpelukan kembali.


Caca tersenyum bahagia, Syifa melihat ke arah Caca dan memeluk mama nya. Mereka pun berpelukan bertiga.


Arvan merasa bingung, padahal Caca sudah memarahi Syifa di depan umum namun mengapa mereka seperti tidak ada kejadian apa-apa.


Ternyata di saat Arvan pergi mencari Raisa, Caca mencari Syifa. Ia menangis memeluk anak nya dan meminta maaf berulangkali.


"Sayang, maafin mama ya? Mama engga bermaksud mempermalukan kamu..Namun, mama tidak mau Daddy atau adik mu salah paham. Kamu mengerti kan posisi mama? Mama harus tegas nak, agar adik mu tak merasa di lain kan lagi."


Caca memeluk Syifa dan tak henti-hentinya meminta maaf karena membuat hati anak sulung nya terluka. Syifa yang pengertian pun mengerti keadaan mama nya. Ia pun memaafkan sang mama


"Enggak apa-apa ma, memang Syifa yang salah."


"Kamu enggak salah nak, tujuan kamu baik namun tindakan nya kurang tepat. Mama takut jika adik mu memilih pergi meninggalkan kita nak, makanya mama meminta mu meminta maaf kepada adik mu di depan semua orang agar ia merasa diri nya berharga."


Ternyata tujuan Caca seperti itu bukan untuk mempermalukan anak nya Syifa, namun ia ingin memberikan pengertian kepada anak-anak nya. Jika Caca tidak memarahi Syifa, Raisa dan Arvan bisa berfikiran jika Caca memang tidak menyayangi Raisa dan hanya perduli dengan Syifa..Hal itu akan sangat buruk untuk hubungan Syifa dan Raisa nanti nya.


Bukan nya baikan, ke dua nya mungkin akan saling membenci satu sama lain karena merasa adanya pilih kasih. Caca percaya kepada anak sulung nya jika Syifa yang bisa mengerti dan memahami semua ini.


*********


***Jangan lupa juga baca karya terbaru author yang berjudul "Dua Hati Dua Cinta."


Terimakasih untuk dukungan setia nya, jangan lupa like, komen dan vote ya kak. Author masih perlu banyak masukan-masukan dari kakak-kakak semua♥️♥️♥️***

__ADS_1



__ADS_2