
Shinta berusaha percaya dengan ucapan suaminya. Walau ia tahu, jika perasaan dan naluri seorang ibu tidak bisa di bohongi
"Suami ku, kau hanya membuat aku merasa tenang sesaat saja. Tapi aku yakin, dengan kegelisahan ku!"
"Shinta, aku tahu apa yang kamu rasakan. Namun aku minta kamu buang pikiran buruk mu. Karena bagaimana pun, doa ibu akan menyelamatkan anak-anaknya,"
Yang Caca katakan memang benar, namun Shinta tidak menjawab.
"Sayang, kenapa kamu diam saja?"
Shinta menggelengkan kepalanya, ia memang malas berbicara dengan Caca "Sayang, kenapa kamu seperti anak-anak?" Revan mulai gusar dengan sikap istrinya
"Seperti anak-anak? Apa harus kehilangan dulu baru kamu percaya sama aku? Baru kamu menyesal, dan mendukung aku iya?" Shinta pun kesal dengan dengan suaminya yang selalu saja menganggap ia berlebihan.
"Sudah aku mohon jangan bertengkar, lebih baik aku pulang saja! Aku tidak mau kehadiran aku membuat kalian bertengkar,"
__ADS_1
"Mama, papa!"
Khanza berlari menuruni anak tangga, ia memeluk Shinta "Khanza kangen banget sama mama Khanza mau tetap di sini ma! Khanza enggak mau pulang sama mami, Khanza ingin sama mama Shinta!"
Hati Shinta merasa luluh, bagaimana pun Khanza sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri. Shinta membalas pelukan Khanza dan menahan kesedihannya "Sayang kita akan bersama lagi. Tapi kamu sabar ya? Kamu percaya kan sama mama?"
Khanza mengangguk, lalu Khanza memeluk Revan "Papa, Khanza rindu sama papa. Kenapa papa enggak pernah sekali saja berbicara dengan Khanza, apa papa tidak rindu Khanza?"
Revan terdiam, ia pun sebenarnya merindukan Khanza namun dirinya tidak mau terlihat lemah. Bahkan tanpa sadar, ia menghapus air matanya "Papa kangen sekali sama Khanza, tapi Khanza kan lagi di rumah Daddy dan mami. Papa enggak mau mengganggu kamu sayang! Kamu harus baik-baik dengan mami dan Daddy ya?"
Revan mengangguk "Papa akan selalu sayang kamu,"
Caca merasa bersalah, mengapa ia bisa menganggap Shinta merebut anak-anaknya jika Revan dan Khanza saja sudah sedekat itu?
Revan meminta Khanza untuk tetap ikut dengan Caca, ia tidak mau membuat keributan lagi. Apalagi dengan Alana, jika Alana tahu maka anaknya akan merasa sedih
__ADS_1
Saat ini kesembuhan Alana jauh lebih penting "Papa Khanza enggak mau pulang!"
"Sayang, kamu harus pulang sama mami.. papa dan mama enggak bisa biarin kamu di sini, kita juga harus pergi menjemput kakak kamu!"
"Papa, apa kak alana lebih penting dari Khanza?"
Bagaimana bisa Revan menjawab pertanyaan polos dari Khanza, bukannya Khanza tidak penting baginya namun Revan sadar jika Khanza bukan milik mereka.
Khanza hanya titipan yang diberikan oleh Caca dan Arvan agar mereka menjaga Khanza, dan setelah mereka kembali sudah tugasnya untuk mengembalikan Khanza kepada orang tuanya.
"Khanza pulang ya sama mami? Kan mami sudah katakan kepada kamu untuk tidak membuat keributan sayang, lagipula mama dan papa Revan mau pergi. Kamu di sini mau sama siapa?"
"Khanza kan bisa sama pelayan?"
Entah bagaimana membuat Khanza mengerti, Revan tidak sampai hati kepada Khanza namun mereka harus tetap tegas agar Khanza bisa mengerti. Jika mereka menuruti Khanza mau sampai kapan anak itu paham, jika ia harus ikut dengan Caca dan Arvan. Bukan kepada Shinta dan Revan.
__ADS_1
Shinta hanya bisa menangis melihat Khanza yang ingin ikut dengannya!