
"Alana, Sayang. Percaya lah! papi tidak jahat sama mami kamu, nak."
"Ndak mau! Papi jahat! Papi jahat! Alana enggak cuka. Huaaaa." kini Alana pun ikut menangis, bahkan Alana menangis yang kuat, Revan pun mendekati mereka
"Ada apa ini? mengapa anak ku menangis?"
"Papa, lihat lah! Papi jahat. Alana Ndak cuka! hiks.."Revan pun menoleh ke arah Arvan dan menatap nya seakan meminta jawaban.
"Aku tidak berbuat apa-apa." ucap Arvan yang kebingungan karena merasa di pojok kan. Menghadapi sifat Isteri nya yang sedang mengandung membuat nya merasa sangat pusing.
"Lalu mengapa dia menangis?" tanya Shinta dengan nada galak nya.
"Kalau aku jujur, pasti dia akan semakin memanasi Caca dan menyuruh ku melakukan ini." batin Arvan yang merasa di dilema. Namun, jika Arvan terus diam semua orang akan datang dan semakin memojok kan nya.
"Caca meminta ku berjoged layak nya badut." ucap nya kesal.
"Badut?" ucap Alana
"Mami, benal mami mau papi jadi badut?"
"Bukan menjadi badut, Sayang. Mami hanya minta papi joget seperti badut bukan berdandan seperti badut, namun papi tidak mau." adu Caca pada si Alana.
"Sudah lah! turuti saja apa kata isteri mu. Daripada menangis nya semakin kencang dan semua orang akan kesini. Jangan mengacau kan acara ini." ucap Revan.
__ADS_1
"Enak saja, jika kau mau! kau saja yang melakukan ini!"
"Kenapa aku? kan isteri mu ingin kau yang melakukan nya."
Melihat Revan dan Arvan berdebat membuat kepala Shinta menjadi pusing.
"Sudah diam! kepala ku pusing jika kalian terus bertengkar seperti ini! Jika kau ingin, kau bisa joget bersama Arvan untuk menemani nya." ucap Shinta kepada suami nya.
"Ap-apa?" Revan mengeras kan nada suara nya.
"Apa kau sudah gila? tidak! aku tidak akan melakukan hal yang memalukan itu!"
"Tapi anak mu yang di dalam perut ingin melihat mu berjoget bersama Arvan. Layak nya badut yang menghibur anak-anak."
"Tapi kami bukan badut....!!!!" ucap Revan dan Arvan secara bersamaan
"Sudahi ide gila kalian ini. Sebaik nya kita kembali menikmati pesta nya." ucap Revan membujuk
"Iya." lanjut Arvan.
"Tapi Alana juga mau lihat papi belcama papa joget sepelti badut..." ucap Alana dengan polos nya.
"Alan ugak.." lanjut si kembar Alan
__ADS_1
"Lihat lah, bahkan kedua anak anak kita juga ingin kalian berjoget. Alan yang tidak pernah bicara pun ikut bicara meminta kepada kalian, apa kalian ingin membuat mereka sedih.?" Revan dan Arvan pun membuang nafas dengan kasar. Tidak ada pilihan lagi untuk menolak. Ketika mereka ingin berjoget Syafa dan Gunawan datang.
"Mengapa kalian di sini? dan ada apa? kenapa kalian berteriak? semua tamu melihat ke arah kalian. Dan ada anak-anak di sini. Apa kalian tidak malu?" tegur Gunawan.
"Dengar! ini acara adik kalian, Ayah tidak ingin karena sifat ke kanak-kanak kan kalian. Adik kalian menjadi malu!"
"Papa, lihat lah anak-anak mu ini. Mereka ingin membuat kami malu dengan menyuruh kami menari seperti badut." adu Revan kepada Ayah mertua.
"Tidak! jangan lakukan itu. Dan buat kamu, Caca dan Tata. Jangan buat Ayah marah di sini! sifat kalian ini seperti anak kecil. Apa kalian tidak kasihan pada suami kalian? kalian bisa saja membuat mereka malu di hadapan semua tamu." Gunawan memarahi Shinta dan Caca. Ke dua ibu hamil itu pun tak berani mengucap satu kata pun. Revan dan Arvan pun tersenyum penuh kemenangan.
Kaynara
Shinta
Caca
Arvan
__ADS_1