Ibu Sambung

Ibu Sambung
Season 2 - Salah paham


__ADS_3

Mereka semua sarapan pagi bersama, Syifa menunduk. Ia masih takut melihat wajah sang ayah, kemarahan Revan semalam membuat Syifa ketakutan. Shinta memegang jemari kecil Syifa yang gemetaran untuk memberikan ketenangan, Syifa menatap wajah Shinta lalu tersenyum.


"Selesai kan sarapan kita semua pagi ini," perintah Revan dengan dingin, mereka pun sarapan dengan tenang. Shinta berpamitan untuk meninggalkan meja makan duluan, ia ingin melihat si kembar dan memberikan ASI.


********


Revan menatap Syifa yang masih ketakutan


"Sudah selesai makan nya?"


"Su-sudah papa."


"Ayo, ikut papa,"


"Ma, Pa. Revan izin duluan ya."


"Iya." Revan pun berjalan terlebih dahulu yang di ikutin oleh Syifa. Revan sengaja membawa Syifa ke ruangan kerja nya agar lebih leluasa menanyakan apa yang sebenar nya terjadi. Sebelumnya, Revan meminta kepada kedua orang tua nya dan kepada Shinta untuk membiar kan ia sendiri yang menyelesaikan ini dan mereka tidak ikut campur dulu. Shinta pun menghargai keputusan suami nya.


*****


Di ruangan kerja Revan, Syifa meremas jemari nya yang ber gemetar.


"Syifa."


"Iy-Iya, Pa-ppa,"


"Lihat papa jika papa bicara!" Spontan Syifa menatap papa nya dengan rasa ketakutan


"Ma-maafin Syifa, Pp-pa" ucap nya gugup.


"Syifa janji tidak akan nakal lagi," air mata nya kini sudah berlinang, Revan melihat dengan jelas ketakutan anaknya.


"Papa tidak akan marah, tapi kamu harus jawab dengan jujur!"


"Apa kamu dengar yang papa katakan?!" sentak Revan.


"Iy-Iya Papa, Syifa dengar"Sebenarnya, Revan pun tak tega membentak anaknya seperti ini. Namun, jika ia tak melakukan ini ia khawatir Syifa akan menjadi anak yang pembangkang.


" Mengapa kamu bersikap tidak sopan terhadap Mama Shinta?"

__ADS_1


"Syifa takut mama tidak akan sayang lagi pada Syifa, kepedulian mama akan fokus ke adek kembar. Dan mama akan membuang Syifa hiks," kini pipi nya sudah di banjiri oleh air mata, Syifa menangis terisak dan berkata semua yang di katakan oleh Elsa. Revan yang mendengar itu semua membuat darah nya semakin mendidih, ia menggenggam kedua tangannya dengan perasaan yang sangat murka.


"Pasti ini ulah Caca" batin nya dalam hati.


"Mulai sekarang kamu jangan lagi dekat dengan mama Caca!"


"Tapi kenapa Pa?"


"Karena wanita itu yang sudah meracuni pikiran mu,"


"Mama Caca tidak meracuni Syifa, Pa." ucap Syifa dengan kepolosannya.


"Kamu masih kecil dan tak akan mengerti!"


"Sebaiknya, kembali ke kamar. Papa harus bekerja lagi dan jangan pernah menemui mama Caca,"


"Ta-pi Pa,"


"Syifa!!" bentak nya lagi yang membuat Syifa menangis ketakutan, ia pun keluar dari ruangan kerja Revan.


"Mengapa papa bilang kalau mama Caca meracuni ku, mama Caca kan selalu memberi ku makanan yang sehat dan tidak ada racun di dalam nya," gumam gadis kecil itu.


Revan keluar dari ruangan kerja nya, ia meminta pelayan untuk mengumpulkan semua orang yang ada di rumah kecuali Syifa. Semua orang pun berkumpul di ruangan keluarga kecuali Syifa.


"Ada apa ini, nak?" tanya Tommy dan Lili kebingungan, Shinta pun bingung.


"Ada apa ini?"


"Mulai sekarang, jangan biar kan Caca menemui Syifa!" tegas nya, semua orang yang ada di situ pun saling melihat satu sama lain dan kebingungan.


"Ada apa ini? mengapa Caca di larang untuk bertemu Syifa. Dia kan ibu kandung nya,"


"Keputusan ku sudah bulat! aku harap kalian bisa menghargai dan tidak melanggar nya!"


"Ta-tapi," ucap shinta. Revan mendekat ke arah shinta dan menatap nya dengan tatapan tajam.


"Aku paling tidak suka di bantah!!" ucap Revan penuh penekanan.


"Kamu jangan egois dan memutuskan nya tanpa alasan!" teriak shinta tak mau kalah nya, bagi nya itu keputusan yang tidak adil. Caca sudah cukup menderita selama ini karena jauh dari anak kandung nya, ia tak ingin membuat wanita itu bersedih lagi. Sudah banyak penderitaan yang Caca rasakan demi berkorban.

__ADS_1


"Aku ada alasan nya, Shinta!" Revan mengusap wajah nya dengan kasar


"Ya, tapi apa!" seperti itu lah Shinta, tak kalah sewot nya jika menjawab Revan yang sudah sangat menyebalkan. Revan membuang nafas nya dengan kasar. Ia tahu, istri nya begitu keras kepala. Akhir nya Revan menceritakan segala nya kepada shinta dan kedua orang tuanya.


"Aku tidak percaya kalau Caca seperti itu,"


"Iya, mama juga."


"Tapi kenyataannya begitu!"


"Apa kau yakin? belum tentu Caca yang berkata seperti itu kepada Syifa," rasanya Shinta tak yakin kalau Caca setega itu untuk meracuni pikiran anak kecil. Caca bukanlah orang yang jahat


"Sudah lah! ini keputusan ku, dan aku tak suka ada yang melanggar!" Revan pun berlalu pergi.


"Apa mama percaya bahwa Caca dalang dari ini semua?"


"Tidak, tapi entah lah nak. Seseorang akan nekat jika merasa cemburu"


"Tapi Caca bukan lah wanita seperti itu ma, mama dan papa juga tahu bahwa Caca itu orang baik, tidak mungkin ia merusak pikiran anak kandung nya sendiri,"


"Jika ini berhubungan dengan kau, kenapa tidak?" sahut Tommy.


"Caca memang lah orang yang baik. Namun, jika seorang ibu melihat anak nya lebih dekat dengan orang lain dari pada dirinya pasti ada rasa cemburu dan itu alasan Caca melakukan ini. Agar Syifa membenci mu dan lebih dekat dengan diri nya,"


"Ucapan papa mu masuk akal nak," sambung Lili. Shinta pun terdiam, ia masih tak percaya bahwa Caca dalang dari sikap Syifa.


"Sebaiknya aku tanyakan saja pada Syifa, untuk memastikan ini semua,"


"Shinta pamit untuk lihat si kembar dulu ya Ma, Pa." pamit nya. Shinta pun masuk ke kamar si kembar.


******


Caca tersenyum bahagia mendengar kehamilannya, ia bersyukur kepada Tuhan.


"Sehat-sehat ya, nak." ia mengelus perut ratanya, Arvan memeluk dan mencium kening nya.


"Apa kamu bahagia?" tanya Caca pada Arvan.


"Sangat bahagia, besok kita kerumah Revan ya. Kita akan jemput Syifa dan beritahu dia bahwa sebentar lagi ia akan punya adik lagi." ucap Arvan.

__ADS_1


"Sebaiknya kau istirahat lah!" pinta Arvan lagi kepada Caca, Caca pun menuruti permintaan suaminya. Ia memejam kan kedua mata nya dan beristirahat.


__ADS_2