Ibu Sambung

Ibu Sambung
Season 2 - Kehilangan 2


__ADS_3

"Saat mama memisah kan Caca dengan anak kandung Caca sendiri,"


"Mama sudah kehilangan Caca sedari dulu, raga Caca ada namun jiwa Caca telah lama mati ma,"


"Caca seperti mayit hidup ma,"


"Kehilangan kakak Lee itu hal yang paling menyakitkan bagi Caca, ma" Caca menghapus air mata nya. Ia tersenyum getir.


"Tapi, ada bi Molley yang selalu ada buat Caca, yang selalu menghibur Caca. Bi Molley menyayangi Caca seperti anak kandung nya sendiri, bahkan kasih sayang yang gak pernah Caca rasain dari mama, perhatian yang gak pernah Caca dapatin dari mama. Caca dapatkan dari bi Molley, Ma."


"Tapi apa? Mama lagi-lagi merampas kebahagiaan Caca. Mama menjauhkan orang yang Caca sayang, mama sampai mengancam bi Molley agar menjahui Caca, tidak sampai di situ. Mama sampai tega membuat Bi Molley kecelakaan dan meninggal." Suara Caca semakin habis karena kebanyakan menangis.


"Sayang, sudah lah!" Arvan mencoba menenangkan Caca, namun Caca bersih keras. Ia ingin menuntas kan segalanya.


"Tidak sampai situ kepuasan mama menghancurkan hidup Caca, mama juga memaksa Caca meninggalkan orang yang Caca cintai dulu, dan harus jauh dari anak kandung Caca sendiri,"


"Anak Caca juga tidak mendapatkan kasih sayang yang layak ma,"


"Tapi Shinta hadir memberikan segalanya. Caca juga sekarang sudah bahagia. Tapi mama hancur kan segalanya!" Teriak Caca histeris, Caca tidak pernah se histeris ini.


"Aaaa" Caca memegang perut nya yang terasa sakit, tubuh Caca terjatuh lemas ke lantai, dengan sigap Arvan menangkap tubuh istri nya tersebut. Ada darah mengalir di kaki jenjang Caca, semua orang panik. Caca semakin histeris melihat darah yang mengalir. Suara nya kini sudah habis hingga ia tak sadar kan diri, Arvan dengan cepat membawa Caca kedalam mobil dan melajukkan mobil nya dengan cepat kerumah sakit. Elsa mengikuti mereka dengan mobil pribadi nya, Elsa sangat khawatir.


******

__ADS_1


Sesampai di rumah sakit, Dokter menangani Caca. Arvan dan Elsa pun menunggu di ruangan tunggu, Dokter keluar dan memberitahu Arvan bahwa emosional atau stres yang berlebihan pada Ibu hamil muda sangat rentan dengan keguguran. Kini, janin yang ada di kandungannya tak bisa terselamat kan. Arvan pun begitu sangat terpuruk. Arvan langsung masuk ke dalam menemui istri nya, Ia memeluk Caca dengan perasaan yang sangat hancur. Caca terdiam tanpa mengeluarkan air mata dan suara sedikit pun. Duka yang ia rasakan teramat dalam, menangis pun tak mampu melukis kan lagi bagaimana rasa sakit yang saat ini ia rasakan.


"Sayang, bicaralah" pinta Arvan. Namun, Caca hanya diam dengan tatapan kosong nya. Elsa masuk dan melihat kondisi memilukan sang putri. Caca tidak bergeming sedikit pun, tatapanya sangat kosong.


"Sayang," lirih Elsa, Arvan melepas kan pelukkan nya terhadap Caca, ia menatap Elsa dengan tatapan sang sangat marah.


"Keluar!!" teriak Arvan


"Aku ingin melihat putri ku“


" Kau bukan lah seorang ibu, apa kau lihat! kami kehilangan anak kami!"


"Keluar! aku takkan membiarkan mu menemui dan menyakiti istri ku lagi,"


"Keluar!!" akhir nya Elsa pun pergi meninggalkan ruangan itu, Arvan kembali mendekati istri nya ia memeluk dan menciumi Caca dengan air mata yang berlinang. Kini, Caca hanya diam membisu dengan tatapan kosong nya. Ibu mana yang tak hancur kehilangan anak nya.


"Bagaimana keadaan nya?"


"Kami kehilangan bayi kami, Pa" Arvan menangis terisak, ia pun sangat terpukul kehilangan anaknya apalagi kondisi Caca yang sangat terpukul begini. Brian pun merasa sangat sedih.


"Wanita itu bukanlah manusia," ucap Brian dengan geram. Tidak heran baginya, Elsa memang bukan lah seperti manusia.


*****

__ADS_1


Sudah tiga hari semenjak kejadian itu, kini Arvan membawa Caca pulang kerumah. Ia merawat Caca, tidak ada perubahan. Caca tidak mau bicara atau pun makan sedikit pun, pandangannya begitu sangat kosong. Kondisi Caca pun semakin melemah, bibir nya begitu pucat. Bahkan dokter menyarankan untuk Caca di bawa ke psikolog. Dokter takut kejiwaan Caca terganggu namun Arvan ingin merawat dan membuat Caca kembali tersenyum seperti dulu. Pagi tadi, Arvan sudah menghubungi Shinta. Ia menceritakan segala nya, Arvan berharap. Dengan kehadiran syifa, bisa membuat Caca tersenyum dan mau bicara.


"Sayang, kamu makan dulu ya." Caca menggeleng.


"Sayang, aku butuh kamu. Tolong jangan begini," Arvan memeluk Caca dan berbicara di kupingnya sambil terisak.


"Tuan, nona Syifa datang," ucap salah satu pelayan nya.


"Suruh masuk saja ya," Arvan melepaskan pelukannya, ia menghapus air mata nya. Pelayan itu pun menyuruh Shinta, Revan dan juga Syifa untuk masuk.


"Mama," Syifa langsung memeluk Caca, ia menangis dan bersedih melihat keadaan sang ibu. Begitu pula dengan Shinta dan juga Revan, mereka sangat iba melihat kondisi Caca. Syifa melihat mangkuk makanan bubur Caca yang masih utuh.


"Daddy, apa mama tidak mau makan?"


"Mama tidak mau makan, Sayang. Daddy sudah membujuknya. Tolong, Syifa bujuk mama agar mau makan ya nak" pinta Arvan. Syifa pun mengambil mangkuk tersebut dari tangan Arvan.


"Mama, makan lah!" Syifa menyuapi Caca namun Caca tidak ingin. Syifa memberikan mangkuk itu kepada Arvan. Ia langsung memeluk ibunya kembali dengan menangis terisak.


"Mama, makan lah! Syifa masih butuh mama. Kita semua butuh mama, Mama harus sembuh agar adik di syurga bahagia," Caca pun menetes kan air mata nya, Ia mendengar semua ucapan yang Syifa kata kan.


"Mama jangan seperti ini, nanti adik yang ada di syurga sedih melihat mama begini," Syifa semakin mengeratkan pelukkan nya. Ia menangis di pelukkan Caca, Caca pun mengingat Syifa dan sedikit mulai sadar, ia menangis sejadi jadi nya di pelukkan sang putri. Shinta yang menyaksikan itu pun ikut menangis, begitu pula dengan Arvan, ia bersyukur akhir nya Caca mau menangis. Setidak nya dengan menangis, Caca bisa menumpahkan rasa sakit nya tidak dengan diam membisu yang membuat diri nya kebingungan.


"Sayang, jangan tinggalkan mama ya nak. Mama tidak sanggup harus kehilangan mu lagi." pinta Caca kepada Syifa.

__ADS_1


"Syifa berjanji ma, tidak akan meninggalkan mama. Sekarang, mama makan ya. Syifa suapin, Syifa yakin ma. Adik di syurga akan bahagia jika melihat mama bahagia,"


"Mama harus kembali sehat! Syifa dan daddy sangat membutuh kan mama. Kita tidak bisa hidup tanpa mama, kita akan sangat terluka jika mama sedih dan terpuruk seperti ini," Caca pun tersenyum mengangguk, Syifa menghapus air mata Caca dan menyuapi wanita itu makan. Shinta bersyukur mempunyai anak sebaik dan sepintar Syifa. Ia tersenyum terharu.


__ADS_2