
"Aku ingin sendiri," pinta Kaynara tanpa menatap mereka semua, ia menghapus air mata nya.
"Apa ucapan ku kurang jelas? aku ingin sendirian tolong pergi lah kalian!" Shinta, Caca, Revan, Arvan dan Rangga pun meninggal kan Kaynara sendirian di dalam ruangan itu. Mungkin Kaynara butuh menenangkan pikiran nya
"Apa kata yang tepat untuk protes terhadap takdir? Air mata lebih sanggup mengungkap kan kata lebih banyak daripada pesan yang di ungkap kan semua kata.
Itulah istilah kata yang tepat untuk Kaynara saat ini, walau hampa namun ia harus menjalanin ini semua.
__ADS_1
"Ibu, sebentar lagi aku akan seprti diri mu, aku akan menjadi seorang Ibu." Air mata nya terus saja menetes, Kaynara tak mampu membendung lagi kesedihan nya.
"Aku merindukan mu Bu, Aku merindukan Ayah, Nenek, Kakek. Aku merindukan kalian. Aku ingin seperti dulu kita lewati malam dengan bicara, tertawa, bicara semau nya."
"Hari-hari yang ku jalani terasa hampa tanpa kalian. Mungkin batu nisan memisah kan kita namun bayangan kalian tidak pernah hilang di setiap langkah dan nafas ku." Kaynara berbicara dengan nada rendah dan tatapan kosong. Ia menghapus air mata yang terus saja berlinang membasahi pipi nya. Ia sangat merindukan keluarga nya yang sudah pergi.
Ibu adalah kekuatan bagi anak-anak nya di saat mereka merasa rapuh dan tidak berdaya. Ibu akan memeluk anak-anak nya di saat mereka di dalam titik terlemah, Ibu adalah sinar dari setiap kegelapan yang di alamin oleh anak-anak nya. Ibu adalah tempat anak-anak nya mengeluarkan segala keluh dan kesah dan Ibu adalah rumah bagi anak-anak nya untuk bersandar dan berlindung.
__ADS_1
Namun, tidak untuk Kaynara. Bahkan sejak umur nya 14 tahun ia harus mengorbankan masa remaja nya, ia berjuang hidup dan selalu di hina oleh orang-orang. Ia menjalani kehidupan yang sangat pahit tanpa ada nya seorang Ibu di sisi nya. Tidak mempunyai siapapun, harus berdiri tegak dengan kaki nya sendiri tanpa bantuan siapapun. Di saat remaja lain berusia 14 tahun masih memikir kan tentang sekolah, main bersama teman, liburan dan tak memikir kan apapun. Justru Kaynara harus memikir kan bagaimana cara nya agar bisa mencari uang untuk sekolah dan makan. Bisa makan sehari sekali itu adalah anugerah bagi diri nya. Bekerja keras setelah pulang sekolah sampai larut malam agar bisa mengisi perut nya.
Kaynara meringis mengingat itu semua.
"Aku berjanji, kau tak akan mengalami hal seperti yang aku alamin," ucap nya sambil mengelus perut rata milik nya.
"Sehat selalu, aku akan berjuang demi kebaikkan mu dan aku tak akan membiarkan serba kekurangan."
__ADS_1
"Saat ini kau lah harta yang ku miliki nak, aku rela mengorbankan perasaan ku agar kau bisa lahir dengan orang tua yang utuh. Aku akan menyayangi melebihi diri ku sendiri, tak akan ku biar kan mereka menyakiti mu. Jika lelaki itu menerima dan menyayangi mu dengan tulus, aku rela menikah dengan nya demi kebaikkan mu, Nak.“ Air mata Kaynara terus saja berlinang, ia terus menerus membelai perut rata nya dengan lembut. Kaynara pun membaring kan tubuh nya di atas ranjang rumah sakit, ia mencoba memejam kan kedua mata nya dan tertidur pulas.