
Hallo, kenapa? ~ Revan
Mama nya Caca, Elsa. Di temu kan tewas. Jenazah sedang dalam perjalanan ke rumah. Saat ini, Caca membutuh kan Shinta dan juga Kaynara. Tapi, tidak memungkin kan untuk Kaynara kembali dari Paris. Hanya Shinta yang bisa aku harap kan. Aku tahu, jika mertua ku selalu berbuat jahat pada keluarga kalian. Bahkan, dia juga bersikap tidak baik kepada anak nya sendiri. Tapi, jika boleh tolong lah datang. Saat ini Caca begitu rapuh ~ Arvan
Jangan khawatir. Aku akan datang, lagipula kalian ada adalah keluarga kami. Tolong, jaga lah isteri mu. Sebentar lagi kami akan datang. ~ Revan.
Terimakasih, aku harus mengabari yang lain nya. Kalian segera lah kemari, aku tutup telepon nya. ~ Arvan.
Panggilan terputus.
********
Shinta menanya kan kepada Revan. Hal apa yang membuat nya sedikit tegang setelah menerima telepon dari Arvan
"Kenapa?"
"Elsa, mama nya Caca meninggal."
"Apa?" Shinta tak tahu harus sedih atau bahagia. Karena akhirnya wanita jahat itu meninggal, yang arti nya mereka tak perlu khawatir lagi untuk keselamatan keluarga nya. Tapi, dia tahu. Pasti Caca begitu sangat terpukul, Caca begitu sangat menyayangi dan mencintai mama nya.
"Kita harus pergi, aku akan memberitahu Syifa."
"Tidak perlu!" ujar Revan
"Sayang, bagaimana pun. Syifa adalah cucu nya, Kau tidak boleh seperti itu."
"Aku akan menunggu kalian di mobil." Shinta pun mengangguk, ia segera ke kamar anak sulung nya. Shinta tahu, Syifa masih marah pada nya. Tapi bagaimana pun, Syifa harus tau dan datang ke acara pemakaman terakhir nenek nya.
Shinta masuk ke dalam kamar anak nya, perlahan mendekat ke arah Syifa dan Alan yang sedang bermain.
"Sayang." panggil Shinta dengan lembut, Alan dan Syifa menoleh ke arah Mama mereka.
"Syifa, ayo bersiap nak. Ada kabar buruk, Oma Elsa meninggal dunia. Saat ini, mama Caca sangat membutuh kan kamu."
__ADS_1
"Apa? bagaimana bisa Oma meninggal, ma?"
"Mama juga tidak tahu, Sayang. Kamu bersiap lah! Mama akan menunggu di mobil. Alan, Sayang. Kamu dan Alana di rumah dulu ya nak, bersama nenek dan kakek?"
"Iya, mama." Alan bukan lah anak yang manja seperti saudara kembar nya. Tak banyak bicara seperti sifat Kakak nya, Syifa.
Shinta mencium kening Alan. Lalu, beranjak pergi meninggal kan ke dua anak nya.
"Sebaik nya aku harus bicara dulu sama mama dan papa. Aku tak ingin, mama dan papa mencari kami." Shinta masuk ke dalam kamar mama dan papa mertua nya.
Mama Lili membuka kan pintu dan tersenyum ramah.
"Ada apa, Sayang. Apa kamu memerlu kan sesuatu?"
"Tidak ma, Tata mau bilang kalau Tata, Revan dan Syifa akan pergi kerumah Caca. Tante Elsa meninggal dunia, Tata titip si kembar ya ma?"
"Iya, Sayang. Pergi lah, mama akan menjaga si kembar."
" Shinta pun mencium tangan ibu mertua nya.
"Hati-hati, Sayang."
"Iya, ma."
Shinta langsung pergi masuk ke dalam mobil, menunggu Syifa yang masih bersiap. Tidak lama kemudian, Syifa pun masuk ke dalam mobil. Mereka ber tiga langsung menuju rumah Caca
*********
Di kediaman Rumah Caca.
Terlihat Caca sedang menangis kaku di depan jenazah sang mama. Bahkan tak bergeming sedikit pun ketika Shinta menyentuh dan tubuh nya. Dunia Caca seketika hancur. Ibu yang sangat ia cinta. Walau, Elsa sudah banyak melakukan kesalahan bagaimana pun Elsa tetap lah ibu yang telah melahir kan dan merawat nya.
"Mama." Syifa menangis memeluk ibu nya. Begitu juga Shinta, mereka sedih bukan karena Elsa meninggal. Melain kan melihat kondisi Caca yang sangat tidak memungkin kan.
__ADS_1
"Semenjak kabar meninggal dari mama nya. Caca tak bersuara sedikit pun, ia hanya terdiam kaku sambil menangis. Aku juga tak tahu harus apa." gumam Arvan.
"Bagaimana bisa? maksud ku, bagaimana Elsa bisa meninggal?" tanya Revan.
"Kami juga tak tahu, Ibu mertua ku di temukan tewas begitu mengerikan di dekat gedung tua. Keadaan nya sangat tragis." ujar Arvan memberi kejelasan.
Apa ini ada hubungan nya dengan kemarin? anak buah nya juga terbaring mengenas kan ~ batin Revan.
"Lalu, bagaimana kalian tahu?"
"Polisi memberitahu kami."
Flashback
Caca dan Arvan sedang menikmati teh di pagi hari, tertawa bercanda bersama. Menikmati waktu berdua, bahkan mereka membayangkan jika kelahiran anak nya. Tiba-tiba polisi datang ke rumah mereka dan memberitahu jika Elsa, ibu nya Caca di temu kan tewas beberapa hari waktu yang lalu. Jasad nya kini sudah di dalam perjalanan ke rumah mereka. Seketika, Caca pun langsung jatuh pingsan.
Caca terbangun, ia berharap itu adalah mimpi. Caca menangis, menggoyang kan tubuh suami nya. Meminta penjelasan, berharap hanya mimpi. Namun, itu semua memang lah kenyataan.
Flashback end!.
"Siapa yang tega membunuh mama?" tanya nya dengan nada lemah. Semua orang tahu, jika Elsa adalah wanita yang begitu licik. Begitu banyak musuh nya di luar sana, jadi, tak heran jika ia mati dengan sangat mengenas kan.
"Itu akibat karena wanita itu jahat! pembunuh!" ucap salah satu orang yang melihat jenazah Elsa. Mendengar itu membuat hati Caca semakin sakit.
"Maaf mbak! ini sedang berduka, sebaik nya jangan merusak suasana lagi. Keluarga kita sedang bersedih, jika mbak masih julit, sebaik nya mbak pergi aja!" usir Shinta, walau ia tahu yang wanita itu kata kan benar. Tapi, Shinta tak ingin membuat Caca merasa semakin terluka. Syifa menangis memeluk Caca.
"Mama yang kuat, jangan begini. Syifa nggak mau mama begini. Ayo, bicara ma! bicara!" namun Caca pun tak bergeming, ia memandangi jenazah ibu nya tanpa mengeluar kan suara sedikit pun. Hanya air mata yang saat ini mewakili perasaan nya.
Dunia anak akan hancur, bagaikan akhir bagi nya jika orang tua yang ia cintai pergi untuk selama nya. Begitu terasa sangat sakit dan sesak. Dunia benar-benar runtuh di kala itu juga, tak ada lagi semangat hidup bagi Caca.
"Ma, kenapa mama tinggali Caca? sebentar lagi cucu mama akan lahir, ma. Caca tahu, mama itu udah berubah, tapi kenapa mama pergi ma? kenapa mama tinggali Caca? siapa yang tega berbuat seperti ini sama mama?" gumam Caca. Caca menangis tersedu, dada nya sangat sesak. Pandangan Caca juga semakin memburam, kepala yang terasa berat.
Sekali lagi, kebahagiaan ku di rebut dengan paksa. Bahkan takdir tak pernah bertanya apakah aku suka atau tidak. Seolah dunia mempermain kan ku dengan brutal. Jiwa ku di hempas ke dasar samudera paling dalam. Hati ku di tikam dengan tanpa ampun oleh keadaan. Mengapa begitu, Tuhan?~ batin Caca
__ADS_1