
Kini, Raisa terdiam. Caca yang ia harapkan akan membela dirinya pun hanya bisa diam. Dengan rasa kecewa, Raisa naik ke atas yang di antar oleh Alan
"Kak, bagaimana di sana? Apakah enak?"
Alan bertanya kepada Raisa dengan antusias, namun Raisa membalasnya dengan malas "Iya, sangat enak dan begitu tenang!"
*******
Di sisi lain, Alana menangis di dalam kamar "Mengapa tidak ada yang mengerti diri ku? Mengapa semua orang hanya memikirkan tentang diri mereka? Mereka tidak pernah memikirkan perasaan aku. Sepuluh tahun, aku merasa terabaikan karena kehadiran Khanza di rumah ini. Dan sekarang, saat yang dahulu ku nanti-nantikan telah tiba, mami dan Daddy sudah kembali namun Khanza tidak mau tinggal bersama mereka hiks!" Alana terisak. Orang menganggap dirinya hanya lah egois dan memikirkan diri sendiri, namun kenyataannya Alana hanya merasa di abaikan dan diasingkan.
"Mama selalu menyayangi Khanza, mama tidak memahami ku!"
Alana menyembunyikan wajahnya di balik selimut tebal, hatinya sangat sakit apalagi saat mama dan papanya tidak membela dirinya.
*****
Di bawah, Shinta begitu antusias bercerita dengan Caca
Syifa terus memeluk Caca, Caca pun membalas pelukan anaknya. Ia juga merindukan Syifa, Revan yang melihat anaknya Alana pun terdiam. Memikirkan anaknya, bukannya ia tidak menyayangi Khanza namun yang di katakan oleh Alana itu benar..
Khanza adalah anak dari pasangan Caca dan Arvan, sudah seharusnya mereka tinggal bersama namun Khanza menolak.
"Menurut ku, apa yang Alana katakan memang lah benar!" Revan tiba-tiba membuka pembicaraan terlebih dahulu
"Iya, apa yang Alana katakan itu tidak salah. Namun kita tidak bisa membuat Khanza merasa tidak nyaman! Selama ini dia nyaman tinggal bersama kalian, bukan dengan kami. Mungkin juga kesalahan kamu, tidak pernah berusaha mengajaknya komunikasi!"
"Dad, mom. Setiap hari Syifa mencoba menghubungi kalian beberapa tahun belakangan ini, namun kalian tidak bisa di hubungi. Ponsel juga bersama Raisa, selalu ia yang mengangkat dan mengatakan kalian tidak bisa bicara. Padahal, Syifa ingin Khanza selalu berkomunikasi dengan kalian setiap hatinya tanpa putus. Ini lah yang Raisa takut kan, bagaimana pun. Khanza masih sangat anak-anak, dulu saja Syifa lebih memilih tinggal dengan mama Shinta. Apalagi Khanza yang selama ini di urus oleh mama Shinta sejak bayi!"
Caca diam, ia tahu apa yang dikatakan oleh Syifa namun hatinya sebagai seorang ibu merasa berontak.
Dahulu, Syifa yang jauh darinya dan lebih memilih orang asing. Kini, Khanza pun melakukan hal yang sama. Caca takut jika sejarah akan terulang kembali, dimana saat Syifa lebih menyayangi dan lebih memilih tinggal dengan Shinta daripada dirinya.
"Khanza!" Caca tiba-tiba bangkit dari duduknya. semua yang ada di situ kebingungan "Ada apa Caca?"
Khanza yang terlihat bingung, langsung memeluk Shinta
"Khanza sekarang pulang bersama mami!"
"Ca, ada apa? Kenapa kamu memaksanya?" Caca menatap sinis ke arah Shinta "Sudah cukup, Ta! Aku enggak mau Khanza kebiasaan. Aku udah merelakan Syifa bersama kamu, sekarang aku enggak mau kalau Khanza juga pergi dari aku! Khanza harus terbiasa dengan aku atau tidak ia akan seperti Syifa yang lebih memilih kamu daripada aku ibu kandung mereka! Aku harap kamu mengerti! Aku ingin bersama anak aku!" Caca menangis mengatakan itu kepada Shinta begitu juga Shinta yang selama ini sudah merawat dan menyayangi Khanza seperti anak kandungnya sendiri.
Caca memanggil Raisa, ia berteriak "Raisa!" Raisa yang mendengar teriakan maminya langsung berlari, menuruni anak tangga satu persatu.
"Iya mami? Ada apa?" Raisa melihat maminya yang menggendong Khanza. Khanza pun berontak ingin turun, namun Caca tidak mau melepaskan
"Khanza, cukup! Kita harus pulang sekarang!"
"Khanza enggak mau, lepasin! Mama, papa tolong Khanza!" Khanza meminta bantuan kepada Shinta dan Revan yang selama ini ia kenal sebagai kedua orang tuanya.
"Ca, kamu bisa tenang. Kasihan Khanza!" Shinta memohon kepada Caca agar tidak membuat anak itu takut. Namun Caca tidak mendengarkan dan mengatakan jika Shinta tidak berhak mencampuri masalah keluarganya.
"Ta, ini urusan aku! Kamu enggak berhak mencampuri masalah aku!"
Shinta terdiam, Caca mengajak anak dan suaminya pulang. Ia pun langsung naik ke dalam mobil
Raisa yang ingin protes tidak berani karena melihat wajah seram maminya. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah seram maminya itu, Arvan pun meminta maaf kepada Shinta juga Revan
"Ta, Van. Maafkan istriku! Aku juga tidak tahu mengapa Caca tiba-tiba seperti ini, mungkin kerinduannya kepada anaknya Khanza dan penolakan Khanza yang tidak bisa ia terima membuatnya seperti ini. Tolong kalian memakluminya!"
__ADS_1
Revan pun mengangguk, Mengatakan kepada Arvan untuk tidak khawatir "Sudah lah, kamu jangan khawatir! Aku bisa memahaminya. Kalian sudah lama tidak bertemu dengan Khanza pasti sangat merindukannya!"
Arvan berpamitan pergi, ia menoleh ke arah Syifa
Mendekati anak sambungnya itu "Sayang, kamu ikut yuk ke rumah Daddy?"
Namun Syifa menolak dengan lembut "Lain kali saja Daddy, sepertinya kondisi hati mami dan Raisa sedang tidak baik!"
"Nak, maafkan mami jika mungkin mami menyakiti hati kamu, tapi nak. Mami, Daddy dan Raisa itu orang asing bagi Khanza. Ia tidak mungkin nyaman bersama kami, namun jika ada kamu kakaknya dia pasti akan tenang."
"Yang di katakan oleh Daddy mu itu benar, sayang! Ikut lah dengan Daddy. Agar Khanza merasa tenang!"
Shinta meminta anaknya untuk ikut dengan Arvan. Ia khawatir jika Khanza merasa ketakutan di sana
Syifa mengangguk, menuruti permintaan Shinta. Ia tidak mau mamanya merasa khawatir "Baik ma, kakak akan ikut dengan Daddy. Tapi mama juga harus menjaga diri mama dengan baik di sini ya?"
"Iya sayang!" Shinta Mengatakan itu dengan mata yang sendu, hatinya masih sedih namun ia tidak bisa egois. Bagaimana pun Khanza itu milik Caca dan juga Arvan .
Syifa pergi bersama Daddy-nya. Raisa melihat Syifa yang di rangkul oleh sang Daddy. Kehadiran Khanza sudah membuatnya kesal, ini di tambah dengan Syifa.
"Lepasin Khanza!" Khanza masih berontak di dalam mobil, namun Caca tidak menggubris dan terus saja memeluk anaknya
Arvan dan Syifa masuk ke dalam mobil, melihat adiknya histeris menangis dan berontak, Syifa langsung menenangkannya.
"Sayang, sini bersama kakak! Jangan menangis, tidak apa-apa. Mami bukan orang jahat, kita akan kerumah mami sekarang oke? Jangan menangis dong adik kakak, sudah ya?"
Di pelukan Syifa, akhirnya Khanza bisa tenang. Khanza memeluk kakaknya dengan erat "Kak, Khanza mau sama mama hiks!"
Mendengar itu sontak membuat Caca kesal dan emosi "Saya ini mama mu! Kenapa kamu ingin mama orang lain?"
Khanza menoleh ke arah Caca, dan mengatakan jika yang merawat, memperhatikan dan menyayanginya adalah Shinta. Bukan Caca!
Mendengar anaknya yang memanggil ia Tante, membuat hati Caca sakit. Raisa tersenyum puas, ia menikmati adegan yang ada di depannya itu.
"Sayang, jangan gitu dong! Tadi kan kamu manggil mami, kenapa sekarang Tante? Mama Shinta tidak pernah mengajarkan kita untuk kurang ajar, adik!"
Syifa memberikan pengertian kepada adiknya namun Khanza tak menggubris Arvan menenangkan mereka "Sudah lah! Mungkin Khanza begitu karena mami kalian memaksanya."
Arvan melajukan mobil, ingin semuanya tenang terlebih dahulu. Caca pun terdiam, Khanza bahkan tak ingin menoleh ke arah ibu kandungnya.
Caca merasa sedih dan hancur, melihat sikap dingin Khanza. Awalnya Khanza baik kepadanya, namun saat ia ingin membawa Khanza. Sikapnya berubah drastis
Mereka telah sampai di rumah yang sudah lama Caca, Raisa dan Arvan tinggali.
Pelayan menyambut kedatangan mereka, bahkan Syifa nyaris tidak pernah lagi datang ke sini
Syifa menggendong adiknya untuk masuk. Para pelayan tidak berani mengatakan apapun "Kak, Khanza mau pulang!"
Khanza merengek kepada Syifa, meminta pulang. Namun Syifa hanya bisa memberikan pengertian kepadanya.
"Sayang, kenapa sih? Sudah ya? Kamu turun dulu, kakak keberatan ini!" Menggendong tubuh anak berusia sepuluh tahun seperti Khanza bukan lah ringan, mereka semua masuk kedalam rumah. Khanza masih cemberut, ia ingin segera kembali bersama Shinta.
Caca ingin menegur Khanza yang ingin pulang ke rumah Shinta namun Arvan melarang "Ini pertama pertemuan kita dengan Khanza. Kamu enggak bisa memaksanya untuk menerima, dia membutuhkan waktu!"
Caca terdiam, dia memang terlalu memaksakan kehendaknya.
"Maafkan aku, namun aku hanya ingin Khanza menerima segalanya!"
__ADS_1
"Menerima apa? Dia masih terlalu kecil,"
"Kan sudah Raisa katakan, percuma juga kita balik sekarang. Khanza enggak mau bersama mami dan Daddy, lebih baik menunggu aku selesai kuliah!"
"Terus kamu ingin memisahkan kami dari mami? Bahkan menghubungi mami saja susah!" Syifa mengatakan itu dengan kesal kepada Raisa "Setiap hari kakak menghubungi mami, kamu yang angkat. Andai kalian bisa berbicara setiap hari dengan Khanza walau hanya dari telepon. Mungkin Khanza tidak akan seperti ini! Dia pasti akan bisa menerima mami, Daddy dan Raisa. Jangan dong seperti ini sekarang Khanza yang ditekan harus menerima. Seharusnya mami dan Daddy mengerti. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar,""
Air mata mengalir di pipinya yang manis, dia pun mengungkapkan rasa kecewanya "Aku sangat merindukan kalian, namun untuk bicara saja sulit!"
Raisa diam, ia ketakutan. Arvan menoleh ke arah Raisa "Raisa, coba kamu jelaskan nak sekarang. Mengapa kamu tidak memberikan ponsel mami saat kakak mu menghubungi kita?"
"Bahkan, saat mama Shinta meminta alamat kalian di Malaysia agar kami bisa mengunjungi kalian pun Raisa tidak memberikannya. Dan sekarang, jangan menyalahkan atau memaksa Khanza!"
Syifa semakin kesal karena merasa adiknya tertekan. "Khanza sayang, ayo kita ke kamar. Khanza harus istirahat!"
Syifa mengajak Khanza untuk istirahat, namun Khanza hanya ingin bersama Shinta
"Tidak kak! Khanza mau sama mama!"
"Cukup Khanza! Apa mama Shinta yang menghasut kamu?" Mendengar ucapan Caca membuat Syifa darahnya mendidih. Tidak ada yang bisa mengatakan hal buruk tentang mamanya.
"Cukup ya mi, jangan pernah mami mengatakan hal buruk tentang mama Shinta. Mama Shinta selalu menjelaskan kepada Khanza namun Khanza yang tidak bisa menerima dan seharusnya mami bisa mengerti semuanya."
Caca diam, ia pun tak tahu harus apa
"Raisa, katakan yang sejujurnya dengan Daddy. Apakah benar yang kakak mu katakan?"
Raisa menyangkal, dia tidak ingin kedua orang tuanya menyalahkan dirinya terutama Daddy-nya.
"Tidak Daddy! Itu semua tidak benar, mungkin saja kak Syifa karena terlalu menyayangi mama Shinta. Jadi ia membela mama Shinta, jika memang mereka berniat menyusul. Om Revan bisa kan meminta kepada orang suruhannya untuk mencari kita?"
Mendengar jawaban Raisa, membuat gadis cantik itu menggelengkan kepala. Raisa yang ia kenal dulu, sangat jauh berbeda.
"Sudah lah, tidak ada gunanya berdebat sekarang. Terserah mami dan Daddy mau percaya atau enggak. Ayok Khanza kita pulang,"
Caca menghalangi putrinya untuk pergi "Kamu mau bawa adik kamu kemana?"
"Pulang ke rumah Syifa. Lagipula, Syifa ini kan kakaknya, salah membawa adik Syifa sendiri, Mi?"
Caca melarang, ia membawa Khanza untuk masuk ke dalam kamar. Khanza histeris, meminta bantuan kepada Syifa.. Syifa tidak bisa membiarkan adiknya sendirian di rumah ini, apalagi ia tahu jika pengaruh Raisa sangat besar.
Syifa tidak mau kalau Khanza merasa tidak nyaman.
"Kalau kamu mau pulang, kamu pulang. Tapi jangan bawa adik mu!" Caca mengatakan itu sebelum pergi, Arvan menghampiri Syifa
"Nak, maafkan Daddy ya? Jika saja Daddy tidak sakit, semua tidak akan seperti ini. Daddy percaya dengan kamu, Daddy tidak mengerti mengapa Raisa menjadi anak yang seperti itu. Dia selalu mempengaruhi mami agar tetap percaya dengannya, Daddy pun seringkali menasehati adik kamu namun ia sangat keras kepala."
Syifa memahami apa yang Arvan rasakan. Dan kondisi Arvan yang sekarang sangat lemah
*****
Di satu sisi, Shinta menangis sejadi-jadinya karena kehilangan Khanza. Bukan kehilangan karena Khanza telah tiada, namun karena Khanza sudah kembalu dengan Caca dan Arvan.
"Sudah lah, sayang! Aku tahu yang kamu rasakan. Namun kita juga tidak boleh egois. Khanza itu anak mereka!"
Revan membelai dan merapikan rambut istrinya, Shinta tahu jika Khanza memang bukan untuknya namun mau bagaimana lagi?
"Tapi, sulit bagiku untuk terbiasa."
__ADS_1
"Kita harus terbiasa, dan Alana. Ia tadi menangis, lebih baik kita bersamanya!"
Shinta mengangguk, ia harus ikhlas menerima semuanya. Revan dan Shinta pun bangkit untuk menemui Alana