Ibu Sambung

Ibu Sambung
Keterlaluan


__ADS_3

Pelayan itu mengangguk, ia kaget dengan sikap Shinta yang jauh berbeda dari sebelumnya namun bagi pelayan seperti dia hanya bisa terdiam.


Pengasuh lain yang menjaga si kembar mengatakan jika bos mereka seperti itu karena luka meninggalnya baby Al.


Pengasuh baby Khanza pun mengerti, apalagi ia juga seorang ibu. Kehilangan anak itu hal yang paling menyakitkan untuk seorang Ibu.


"Jangan dimasukkan ke dalam hati ya ucapan Nyonya Shinta? Nyonya seperti itu karena masih sedih dengan kepergian Tuan Al."


Ia mengangguk, dan mengatakan jika dirinya di posisi Shinta juga akan melakukan hal yang sama.


******


Disisi lain, Cia sangat senang karena satu sel begitu takut kepadanya. Ia pun menyiksa teman-teman selnya seperti orang yang tidak memiliki hati.


Cia sangat mirip seperti ibunya yang Psikopat, menyukai setiap penderitaan dan rasa sakit orang lain.


Bahkan salah satu teman selnya ada yang tidak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit Bhayangkara.

__ADS_1


"Wanita ini sangat kejam dan gila," ujar salah seorang teman satu sel Cia dengan nada ketakutan. Mereka hanya bisa diam, tak berani melawan Cia. Cia sungguh wanita kejam yang bisa melakukan apapun demi meluapkan rasa marah dan ambisinya.


Maka itu, tidak sulit baginya menghabiskan nyawa Al. Bahkan walau dimasukkan ke dalam penjara sekaligus ia tidak pernah merasa menyesal.


*****


Setelah selesai menenangkan Khanza, Shinta langsung menemui Raisa.


Ia tidak melihat Raisa di tempat mereka berbincang sebelumnya, Shinta merasa khawatir dan memanggil para pelayan untuk mencari Raisa.


Shinta pun mencarinya ternyata Raisa sedang berada di kamar mandi, Shinta menghela nafas lega. Langsung memeluk Raisa, ia sangat takut jika Raisa melakukan sesuatu hal yang nekat. Apalagi pembicaraan terakhir mereka, Raisa mengatakan jika ia ingin pergi dari rumah Shinta.


Shinta sangat panik, meminta pelayan untuk berkumpul.


Ia terlihat sangat marah, karena Raisa mengatakan sakit perut setelah meminum jus


"Apakah salah satu diantara kalian adalah pembunuh?" tuduh Shinta dengan tegas, Revan yang mendengar teriakan istrinya langsung menghampiri, bertanya apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Shinta pun menjelaskan kepada suaminya, Revan mencengkeram tangannya geram. Kali ini Shinta begitu keterlaluan, bahkan beberapa pelayan sakit hati karena ucapan Shinta.


"Kau sudah keterlaluan!" teriak Revan kepada Shinta, namun Shinta tidak merasa kelewatan. Ia hanya bertanya apalagi Raisa langsung sakit perut setelah meminum jus.


Shinta mengambil gelas itu, ingin memeriksa minuman itu apakah mengandung racun jika benar ada racun, Shinta mengatakan akan memenjarakan semua pelayannya.


Revan membanting gelas itu, ia seperti tidak mengenal istrinya yang lembut dan hangat kepada semua pelayan.


"Sudah cukup! Mereka juga manusia kamu jangan keterlaluan!"


"Aku enggak keterlaluan, namun itu semua benar. Apa salahku? Aku hanya ingin memastikan!"


"Mama, ini bukan kesalahan mereka. Tadi Raisa begitu banyak makan dan minum jus terlalu banyak. Mungkin karena terlalu banyak makan membuat lambung Raisa tidak dapat menerima makanan yang berlebih. Raisa membuangnya dari di kamar mandi."


mendengar ucapan Raisa, Shinta terdiam.


"Apa kau sudah puas? Mempermalukan semua pelayan? Hah!"

__ADS_1


Revan sangat kesal, ia pun berlutut meminta maaf kepada pelayan terutama kepada pak Muh, kepala pelayan yang sudah bekerja lama di rumah nya.


"Pak maafkan perbuatan istri saya."


__ADS_2