
Caca menghapus air mata nya, ia mencoba tersenyum di hadapan ke dua anak nya. Caca mengambil kan makanan ke piring kosong milik Raisa dan Syifa. Ia mempersilahkan kedua anak nya untuk makan dengan lahap.
Raisa pun mengambil makanan itu, menyuruh mami nya untuk duduk tepat di samping nya. Raisa pun menyuapi mami nya makan, melihat itu Caca semakin terharu dan meneteskan air mata. Raisa juga menyuapi Arvan secara bergantian.
Arvan menyuruh anak nya untuk segera makan dan menghabiskan segera makanan nya, Raisa mengangguk. Ia dan Syifa pun memakan makanan itu dengan lahap sampai habis.
Caca merasa begitu bahagia, akhirnya keluarga nya kembali bersatu. Arvan batuk, seakan memberikan kode kepada Caca. Caca pun mengingat perjanjian mereka, Caca beralasan kepada ke dua anak nya untuk mengecek baby Khanza terlebih dahulu.
Raisa yang polos pun mempercayai ucapan mami nya, tapi berbeda dengan Syifa. Ia tahu, jika mama nya itu sedang berbohong.
Setelah sang Daddy batuk, mama nya segera pergi seakan Daddy nya memberikan isyarat agar sang mama segera pergi dari ruang makan. Syifa kehilangan selera untuk makan. Ia pun bangkit dari kursi nya, Arvan bertanya kepada anak nya mau kemana. Dengan ketus Syifa mengatakan jika diri nya sudah kenyang dan ia ingin melihat keadaan adik nya, Khanza.
Syifa pergi meninggalkan Arvan dan Raisa di ruangan makan, ia mencari keberadaan sang mama. Syifa mencari mama nya ke kamar baby Khanza. Ia pun bertanya kepada baby sister. Namun, baby sister mengatakan jika mama nya tidak ada di dalam kamar.
Syifa semakin bingung, ia pun keluar kamar. Menuju seluruh ruangan yang ada. Syifa mendengar suara isakan tangis dari dalam gudang ketika ia melewati gudang.
Dengan perasaan sedikit takut, Syifa memberanikan diri untuk mengecek ke dalam. Ia membuka pintu gudang tersebut, gudang itu terlihat sangat gelap. Syifa menelan ludah nya. Ia pun segera menghidup kan lampu gudang itu, terlihat mama nya sedang menangis di pojokkan.
Pemandangan itu membuat hati Syifa hancur. Ia berlari mendekati mama nya, segera Syifa memeluk sang mama dengan erat
"Mama jangan menangis, mengapa mama menangis di sini?"
Caca menghapus air mata nya. Ia merasa sangat sedih, namun ia menahan nya dan mencoba tersenyum.
"Ti-tidak sayang. Mama tidak menangis! Mama ke sini tadi mau mengambil sesuatu." bohong Caca. Namun, Syifa tidak mempercayai nya.
__ADS_1
"Mama berbohong! Kenapa ma? Kenapa mama bohong? Sudah jelas Syifa melihat mama yang menangis di pojokan gudang dengan lampu yang padam."
Caca terlihat bingung, menjelaskan kepada anak nya. Suara keributan yang di lakukan oleh Syifa membuat Arvan dan Raisa pun masuk ke dalam gudang.
Raisa bertanya apa yang terjadi, Syifa pun mengatakan jika sang mama menangis di dalam gudang dengan lampu yang sengaja di matikan. Raisa terkejut, ia menoleh ke arah sang Daddy dan bertanya apakah mereka sedang bertengkar.
Arvan yang bingung menjawab pertanyaan anak nya pun, mencoba mendekati isteri nya. Ia langsung memeluk Caca, Caca merasakan kehangatan dari suami nya. Jujur saja, Caca merindukan hal ini.
Arvan terdiam, ia tak mau kedua anak nya mengetahui masalah ini, Syifa memandangi Daddy nya. Wajah dengan penuh kepalsuan, jauh berbeda seperti biasa nya.
Arvan mengajak isteri dan anak-anak nya untuk segera pergi dari gudang tersebut, ia tak ingin mereka terlalu lama berada di dalam gudang.
Setelah itu, Arvan meminta kepada Raisa dan Syifa untuk masuk ke dalam kamar, Raisa dan Syifa pun menuruti ucapan Daddy nya.
Di dalam kamar, Syifa menjelaskan segala nya kepada Raisa. Bagaimana sikap Daddy nya yang jauh berbeda dari sebelum nya, bukan hanya Syifa saja. Ternyata, Raisa juga merasakan hal yang sama.
Syifa pun terdiam, berfikir sejenak. Saat ini, hanya mama Shinta yang bisa memberikan petunjuk kepada mereka. Syifa mengatakan jika mereka harus menemui mama Shinta.
"Hanya mama Shinta yang tahu ini semua, papa Revan juga pasti tahu. Tapi, aku yakin. Papa tidak akan mau memberitahu nya, kita harus bertanya kepada Mama Shinta. Dengan ini, kita akan tahu apa sebenarnya yang terjadi, mama Caca dan Daddy Arvan." gumam Syifa.
Raisa pun mengangguk setuju, tak lama kemudian hp Syifa berbunyi, itu panggilan dari papa Revan. Syifa pun mengangkat ponsel nya.
Panggilan Terhubung.
*Sayang, mama, papa dan adik mu sekarang berada di rumah omma dan oppa. Mereka sangat merindukan mu nanti malam mama dan papa akan menjemput kamu ya, sayang? ~Revan
__ADS_1
Pa, maaf. Apakah boleh Syifa menginap di rumah Caca beberapa hari ini? ~ Syifa*
Dengan perasaan takut, Syifa menanyakan hal itu kepada papa nya, ia takut jika papa nya itu marah.
*Sayang, apa yang kau katakan? Oma dan Opa sangat merindukan kamu. Bukan papa tidak suka kamu tidur di rumah mama mu, tapi kamu juga harus memikirkan perasaan mama shinta. ~ Revan
Pa, Syifa mohon! Sekali ini saja. ~Syifa
Begini saja, mama dan papa akan menjemput mu. Kamu bisa tidur di rumah Caca sebanyak yang kamu mau, tapi untuk sekarang kita harus menginap di rumah Oma Syafa. Tidak ada penolakan lagi! ~Revan
Iya, Pa. ~ Syifa*.
Panggilan Terputus.
Syifa tidak bisa membantah ucapan papa nya, ia pun hanya bisa menuruti nya saja.
Dan satu hal yang ia pasti, membantah sang papa akan membuat papa nya semakin marah. Syifa juga berfikir, dengan menginap di rumah nenek nya. Syifa akan mendapatkan informasi dari mama Shinta nya.
Syifa meminta kepada Raisa untuk menjaga mama Caca saat ia tidak ada di sini. Raisa pun mengangguk, dan mengatakan kepada Syifa untuk tidak khawatir, semua akan baik-baik saja.
Syifa pun mempercayai ucapan Raisa, ia tahu. Jika Raisa bisa di andalkan, sampai mereka tau akar dari permasalahan yang ada.
*******
Revan yang terlihat kesal pun mendekati isteri nya. Shinta bertanya kepada suami nya hal apa yang membuat Revan terlihat kesal.
__ADS_1
Revan pun memberitahu kepada Shinta, apa yang di inginkan oleh anak nya. Jauh berbeda dengan Revan, Shinta justru mendukung keinginan sang anak.
"Jika ia ingin menginap di rumah Caca, apa masalah nya? Lagipula, ia tidak sering kan menginap di rumah Caca dan Arvan. Aku yakin, jika ada Syifa di sana. Ia bisa menjaga Caca sepenuh nya," ujar Shinta yang belum mengetahui jika Raisa sudah mengetahui segala nya.