
"Apa kau masih mencintainya?" Pertanyaan Revan membuat Shinta kaget "Ap...Apa maksudmu?" Tanyanya canggung. Revan tak menjawab pertanyaan dari Shinta, ia melajukan mobilnya dengan kencang.
"Mama, papa. Syifa bosen" Rengek gadis mungil itu, Shinta melihat kearah belakang, dan membawa tubuh Syifa kedalam pangkuannya, Shinta menyibakkan anak rambut Syifa menunjukkan wajah mungilnya, Shinta yang merasa gemas melihat anaknya tersebut menyatukan hidungnya dan Syifa yang membuat Syifa tertawa geli.
"Sudah ma hihihi" Revan menoleh melihat raut wajah bahagia sang anak, membuat dirinya pun ikut tersenyum lalu menoleh kedepan lagi fokus mengendarai mobilnya. Setelah lelah tertawa Syifa akhirnya tertidur di pangkuan Shinta. Ia mengalungkan tangannya di leher Shinta, Shinta tersenyum dan mencium pucuk kepala Syifa.
Shinta menyenderkan kepalanya di kursi mobil, ia menoleh keluar jendela merenungi kehidupannya, mengingat pernikahan nya yang pernah gagal tiba-tiba membuatnya takut dan menangis. Ia takut pernikahannya gagal untuk kedua kalinya dengan alasan yang sama.
"Hey, kenapa kau menangis" Revan melihat kearah Shinta yang menangis. Ia bingung padahal tadi wanita ini masih tertawa, sekarang tiba-tiba ia menangis tanpa sebab, Shinta menoleh kearah Revan dengan air mata yang mengenang.
"Kau kenapa?" Revan mencoba menghapus air mata Shinta dan memberhentikan mobilnya
"Ada apa?"
"Kau kenapa?"
"Apa aku melakukan kesalahan?" begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh Revan. Shinta menggelengkan kepalanya dan menghapus airmata yang mengenang membasahi pipinya.
"Bisakah antar Syifa dulu pulang? aku ingin berbicara hal serius padamu" Mengatakan dengan sisa sisa isakan tangisnya. Revan hanya mengangguk dan kembali melajukkan mobilnya, sampai di rumah Revan, ia segera keluar dari mobil dan menggendong Syifa untuk masuk kedalam rumah
"Kau tunggu disini sebentar ya" Revan menggendong Syifa dengan hati-hati agar Puterinya tidak terbangun, Shinta hanya mengangguk dan melihat Revan yang sudah menjauh. Shinta memejamkan matanya entah mengapa fikirannya dari tadi sangat kacau, trauma akan kegagalan dalam pernikahannya dulu membuat ia merasa tidak tenang dan juga cemas.
"Kau kenapa?" Suara Revan yang masuk kedalam mobil membuat Shinta kaget, ia tak menyadari kapan calon suaminya datang.
"K..kau sudah kembali" ucapnya dengan suara lemah. Lagi lagi Revan menghapus air mata Shinta yang masih membasahi pipinya "Hey, kau kenapa? bicaralah!" Ucap Revan
"Sebentar lagi kita akan menikah, kau harus tau. Aku bukanlah wanita yang sempurna Van, aku pernah gagal menikah hanya karena aku mandul hiksss" Revan hanya terdiam dengan semua ucapan Shinta.
__ADS_1
"Sebelum terlambat, dan makin runyam. Kau bisa membatalkan pernikahan ini seperti dulu Rayhan meninggalkan ku hikssss" Kali ini Shinta berkata dengan tersedu-sedu. Ia sudah tak tahan lagi mengeluarkan uneg unegnya. Lagi lagi Revan hanya diam membisu.
"Kenapa kau diam? apa kau ragu dengan pernikahan ini? Aku sudah tidak bisa memberikan mu anak nantinya. Aku tidak sempurna" Revan menggenggam tangan Shinta, mendongakkan wajah Shinta yang awalnya menunduk, menghapus air mata wanita yang ada dihadapannya.
"Kau bicara apa, aku menerima mu apa adanya. Apa kau lupa, walau kita berdua tidak bisa saling mencintai setidaknya kita berdua Takkan pernah saling meninggalkan dan harus saling menghargai satu sama lain, saling menjaga. Mengapa sekarang kau ragu?" Revan memeluk Shinta yang tak kunjung berhenti menangis. Ia mengelus rambut Shinta dengan lembut
"Sudah jangan menangis, kau ini cengeng sekali" Ledek Revan, Shinta memukul bahu Revan dengan kuat.
"Aw" ringisnya.
"Sudahlah, aku takkan mempermasalahkan itu lagi. Jangan sedih dan putus asa, itu hanyalah vonis dokter. Apa kau percaya keajaiban" Revan mencoba menenangkan Shinta.
"Lagi pula, apalagi yang aku inginkan. Aku mempunyai kedua orang tua yang utuh, aku punya Syifa, aku juga punya kau sekarang. Yang tulus menyayangi Puteri ku seperti anakmu sendiri, apalagi yang aku inginkan. Masalah keturunan, jika Tuhan memberikan kepercayaan kepada kita pasti kau akan mengandung bukan. Sudahlah jangan menangis" Revan memeluk Shinta dengan erat, membuat Shinta terharu dan makin menangis.
"Hey, mengaapaa kau menangis lagi?" Revan bingung dengan sikap Shinta.
"Aku tak menyangka, pria menyebalkan seperti mu bisa berkata dengan bijak juga" Bukannya melepaskan pelukkan dari Revan, Shinta makin mempererat pelukkan itu. Revan hanya tertawa melihat tingkah laku Shinta.
"Ihhhh lucunya" mencubit hidung Shinta sampai memerah.
"Sakit tau" Shinta memegang hidungnya yang merah padam.
"Ayo pulang" ajak Shinta.
"Pulang? Apa kau lupa kita berada di halaman rumahku" Shinta cengengesan melihat sekitar ternyata ini masih rumah Revan.
"Maksudku, ayo Anter aku pulang" Ucapnya malu. Kau ini, Revan menggelengkan kepalanya dan melajukan mobil menuju rumah Shinta.
__ADS_1
"Aku minta, setelah kita menikah nanti. Kau bisa melupakan rasa sakit akan masalalu mu, cobalah untuk mengikhlaskannya" Shinta menoleh kearah Revan yang berbicara masih fokus menyetir.
"Aku tak membencinya Van, aku hanya menyalahkan diriku sendiri, mengapa aku tidak berguna sebagai seorang wanita" Ucapnya sedih.
"Sudahlah, semua yang terjadi itu ada hikmahnya, percayakan semuanya pada Tuhan" Revan Menggenggam tangan Shinta yang dingin.
"Mengapa wanita bar-bar sepertimu bisa secengeng ini?" Tanya Revan lagi.
"Entahlah, aku juga gak tahu" menggelengkan kepalanya, seperti anak kecil.
"Ingat, jangan tunjukkan kelemahanmu didepan orang lain, apalagi di depan mantan kekasihmu itu. Kalau perlu jangan menatapnya lagi jika bertemu." Revan masih saja menggenggam tangan Shinta, memberikan ketenangan pada calon isterinya yang masih rapuh mengingat masa lalu yang sangat menyakitkan. Ia juga sebenarnya bingung, kecelakaan seperti apa yang membuat calon isterinya sampai mandul dan tak bisa punya anak, seperti tidak ada yang beres menurutnya. Namun Revan diam dan ingin mencari tahu nya sendiri, daripada bertanya kepada Shinta dan membuat wanita yang ada disampingnya kembali bersedih.
Mobilnya berhenti di depan rumah Shinta
"Kita sudah sampai" Ucap Revan. Shinta keluar dari mobil dan di ikuti oleh Revan.
"Aku pulang dulu, kau jangan bersedih lagi" Revan mengusap rambut Shinta
"Apa kau tak ingin mampir?" Tanya Shinta
"Tidak, lain kali saja. Aku takut Syifa terbangun dan menangis melihatku tidak ada dirumah"
"Baiklah, aku masuk dulu. Kau hati-hati ya" Revan hanya mengangguk dan melajukan mobilnya, Shinta masuk kedalam rumah. Di ruang tamu sudah ada ayah dan ibu Shinta.
"Ibu, ayah. Tata pulang" hebohnya seperti biasa, mendekat kearah ibu dan ayahnya.
"Sayang, kau sudah pulang" Sapa Syafa.
__ADS_1
"Kau sendirian? Dimana revan?" Tanya Gunawan.
"Revan sudah pulang yah, takut Syifa mencarinya. Lain kali ia akan mampir kerumah" Syafa dan Gunawan mengangguk memahami alasan yang diberikan oleh Puterinya