Ibu Sambung

Ibu Sambung
Pengacau


__ADS_3

"Kamu kenapa belain Shinta? Menurut kamu aku ini ibu yang buruk?"


"Bukan begitu! Kamu kenapa sekarang menjadi seperti ini? Beda sekali!"


Shinta pun melihat perubahan Caca jauh berbeda dari sepuluh tahun yang lalu


"Ta, aku terimakasih banget sama kamu. Aku memang salah, salah karena telah meninggalkan anak aku. Tapi aku mohon, berikan aku waktu untuk memperbaiki semuanya. Aku akan memperbaiki semuanya dengan Khanza dan itu butuh waktu. Butuh waktu untuk aku dan Khanza untuk berinteraksi, tolong dong Ta! Dengan kamu datang ke sini akan membuat Khanza ingat lagi sama kamu dan sulit menerima aku. Kamu pikir mudah jadi aku? Saat anak kandung aku memilih dengan orang lain!"


"Sayang, kamu jangan mengatakan itu! Bagaimana pun Shinta adalah sahabat kita, dan kita udah seperti keluarga. Kenapa kamu menganggap dia seperti musuh sekarang?"


"Tidak sayang! Aku masih menyayangi Shinta seperti dulu, tapi aku hanya butuh waktu agar aku bisa dekat dengan anak kita Khanza. Saat Khanza melihat Shinta, ia akan semakin memikirkan Khanza. Aku terluka, rapuh! Saat anak aku tidak mau dengan aku dan selalu menyebut mama Shinta, mama Shinta. Sementara, aku ibu kandungnya!"


Shinta pun meminta maaf kepada Caca dan Arvan "Aku minta maaf kalau kedatangan aku ke sini membuat kalian sedih, namun aku minta tolong jagain Khanza. Jangan marahi atau sakiti dia, aku akan mencoba terbiasa tanpanya dan merelakan dia kepada kalian sebagai orang tua kandungnya. Mungkin, tidak ada yang bisa memahami perasaan aku di sini, tidak apa-apa! Yang penting tolong jagain Khanza!"


Shinta Mengatakan itu dengan menahan sesak di dada, ia pun segera berpamitan kepada Caca dan Arvan. Caca memalingkan wajahnya dari Shinta sementara Arvan mengantarkan Shinta sampai ke depan gerbang


"Ta, apapun yang dikatakan oleh Caca aku minta maaf. Mungkin beberapa tahun belakangan ini dia merasa tertekan karena keadaan aku dan juga ia pisah dari Syifa dan Khanza. Aku mohon jangan di ambil hati ucapannya ya?"


"Tidak apa-apa kak! Aku mengerti bagaimana perasaannya, kak aku mohon tolong jagain Khanza ya? Jangan biarkan dia sedih atau kesepian. Khanza enggak bisa tidur sendirian, dan sepertinya Syifa enggak akan pulang ke sini,"


"Kenapa? Apakah dia marah kepada kami?"


"Bukan! Syifa tidak marah kepada kalian namun Alana masuk rumah sakit,"


"Alana masuk rumah sakit? Apa yang terjadi dengan Alana? Dan bagaimana keadaannya?" Terlihat Arvan cemas mendengar Alana yang masuk rumah sakit


"Alana mengkonsumsi obat penenang," ujar Shinta dengan perasaan yang sedih


"Bagaimana bisa ia mengkonsumsi obat penenang? Memangnya apa yang terjadi selama ini dengan Alana?"


Shinta pun menundukkan kepalanya ke bawah "Ini semua salah aku, aku gagal menjadi ibu yang biak untuk Alana. Aku abai dengan anak ku sampai ia mengkonsumsi obat penenang tanpa sepengatahuan kami semua,"


Arvan menghela nafas panjang "Ta, apa ini semua ada hubungannya dengan Khanza? Alana merasa terabaikan atau ia tidak terima Khanza kamu sayangi hingga ia menggunakan itu?"


Shinta tidak menjawab, namun Arvan sudah tahu jawabannya "Astaga, maafkan aku Shinta! Karena aku semuanya menjadi kacau, andai saja dulu aku tidak sakit pasti semua tidak akan terjadi,"


"Sudah lah! Jangan menyalahkan diri mu sendiri! Ini bukan lah kesalahan mu Van! Ini sudah garisan takdir dan kita sudah melewati masa-masa sulit itu, kau sudah sembuh dan kalian sudah bisa berkumpul dengan Khanza. Jangan pernah sedih dan menyalahkan diri mu Van! Kamu juga enggak mau ini terjadi, begitu juga dengan kami!"


"Lalu bagaimana dengan keadaan Alana?"


"Sudah lebih baik dia, dan kami juga menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. Takutnya, karena terlalu lama mengkonsumsi obat penenang organ tubuh Alana ada yang bermasalah. Tapi kami berharap itu tidak terjadi, jika tidak aku tidak akan pernah bisa memaafkan diri ku sendiri!"


"Jangan mengatakan itu Shinta! Jika ada yang di salahkan adalah aku! Andai aku tidak sakit, maka Caca tidak akan mengambil keputusan yang akan berdampak buruk untuk keluarga mu. Bahkan kau sudah banyak memberikan pengorbanan namun Caca tidak menghargainya. Ia hanya menganggap kamu merebut anak-anaknya!"


"Wajar ia seperti itu Van! Karena ia seorang ibu, jika aku di posisi Caca aku akan melakukan hal yang sama, dia tidak bersalah dan tolong jangan salah kan dia! Aku minta maaf kalau kedatangan aku membuat keributan, tolong kamu jaga Khanza baik-baik ya? Aku titip dia sama kamu. Jangan biarin Khanza merasa sendiri dan terabaikan!"


"Iya ta, aku akan menjaga Khanza. Aku janji sama kamu, aku tidak akan membiarkan Khanza merasa sedih atau terabaikan, terimakasih atas bantuan kamu selama ini. Aku berhutang banyak kepada mu dan juga Revan!"


"Sudah lah! Bukannya kamu sendiri yang mengatakan kak? Kalau kita ini adalah keluarga, dan tidak ada hutang Budi di antara keluarga,"


Arvan tersenyum "Baik lah kalau begitu, titip salah untuk ayah Gunawan dan Ibu Syafa ya? Bagaimana kabar mereka?" Senyuman Shinta berubah menjadi kesedihan


"Ta, ada apa? Ayah dan ibu baik-baik saja kan?"

__ADS_1


"Kak, ayah dan ibu sudah tiada lima tahun yang lalu. Aku sudah memberikan kabar pada kalian waktu itu, namun Raisa yang mengangkat panggilannya dan ia mengatakan jika kamu lagi menjalani operasi! Raisa juga meminta maaf karena kalian tidak bisa datang ke Indonesia, apakah kamu enggak tahu kak?"


Arvan menggeleng, bahkan Caca tidak memberitahunya "Sungguh maafkan aku ta, aku enggak tahu sama sekali!"


"Tidak apa-apa kak, mungkin saat itu kau sedang sakit. Jadi Caca dan Raisa tidak mau membuat kau semakin drop!"


Arvan pun terdiam, bisa-bisanya Caca menyembunyikan hal sebesar itu kepadanya


"Ya sudah ya kak aku pulang dulu?"


"Hati-hati, titip salam untuk Revan dan si kembar ya?" Shinta tersenyum, lalu ia pergi menggunakan mobil


Arvan masuk ke dalam rumah, mendekati istrinya


"Aku ingin bertanya kepada mu, mengapa kau menyembunyikan kebenaran?"


"Kebenaran apa? Aku enggak paham apa maksud kamu sayang! Kebenaran apa? Bicara yang jelas!"


"Kenapa kamu menyembunyikan berita kepergian Ibu Syafa dan ayah Gunawan?"


"Apa? Ibu dan Ayah sudah tiada?" Caca meneteskan air matanya, ia pun kaget mendengar kabar itu.


"Sungguh, aku tidak tahu!"


"Lima tahun yang lalu ibu dan ayah telah tiada. Dan mereka menghubungi ke ponsel mu namun yang mengangkatnya saat itu adalah Raisa. Kini aku mengerti sekarang, Raisa menutupinya dari kita!"


Arvan tidak habis pikir dengan anaknya itu, mengapa Raisa bisa menyembunyikan berita sebesar itu.


Caca menangis, ia merasa kehilangan orang tuanya. Karena bagaimana pun, Syafa dan Gunawan sangat menyayanginya seperti anak kandung sendiri. Dan Caca juga sangat menyayangi mereka


"Aku juga merasa kaget dengan apa yang sudah terjadi. Banyak hal yang tidak kita ketahui, itu bukan karena mereka tidak memberikan kabar. Namun Raisa yang tidak pernah memberitahu kita!"


"Mengapa Raisa melakukan itu? Ayah dan Ibu itu juga kakek dan neneknya. Bahkan ayah dan ibu sangat menyayanginya. Namun mengapa ia tidak memberitahu kepada kita, pantas saja saat aku ingin meminta ponsel ku ia tidak pernah mau memberikannya. Kenapa anak kita bisa se-jahat itu sekarang? Ia sungguh keterlaluan sekali, seperti ingin menjauhkan kita dari mereka,"


Arvan menenangkan istrinya, ia tidak mau Caca merasakan stres ia juga mengingat ucapan Shinta yang mengatakan jika tidak mudah menjadi Caca.


Di mana ia harus mengurus suami dan anaknya yang lain, lalu meninggalkan anak yang lainnya demi fokus merawat Arvan sampai sembuh.


"Mengapa Raisa begitu egois? Apa kesalahan mereka sehingga ia tidak mau memberikan informasi apapun yang ia dapatkan dari Indonesia?" Caca masih tidak menyangka dengan anaknya


"Nasib ku memang tidak beruntung, aku memiliki ibu yang buruk. Dan kakak ku yang baik telah tiada, dan memiliki kakak lainnya yang tega membunuh anak yang tidak berdosa. Sekarang, Raisa aku memiliki anak yang sifatnya sama dengan mama dan kakak ku yang jahat. Hanya saja, Raisa tidak pernah membunuh orang lain,"


"Sebab itu kita harus bergerak cepat. Jangan sampai Raisa bisa menyakiti orang lain karena keegoisannya! Sebab itu aku selalu meminta kamu untuk tidak memanjakannya. Aku enggak mau anak kita menjadi orang jahat seperti mama dan juga kakak mu! Aku ingin dia menjadi anak yang baik, aku tidak mau darah jahat mengalir di tubuh Raisa,"


Caca mengangguk "Iya itu karena aku terlalu memanjakannya dan nanti saat dia pulang. Aku akan bertanya mengapa ia melakukan ini semua, mengapa ia tidak memberitahu kita tentang kepergian ayah dan ibu,"


******


Kini Shinta sudah menjadi lega, ia lega karena sudah mengungkapkan semua keluh kesahnya dan saat melihat Khanza ia yakin jika Khanza akan baik-baik saja bersama Caca juga Arvan.


Shinta kembali ke rumah sakit, ia pun masuk ke ruangan anaknya.


"Sayang, mama sudah kembali. Dan mama sudah menyelesaikan semua urusan mama,"

__ADS_1


"Iya mama," jawab Alana.


"Alana sayang, papa mau bicara dulu ya sama mama?"


"Iya papa,"


Saat Revan dan Shinta ingin keluar Alana memanggil papanya "Papa tunggu!" Revan menoleh ke belakang, melihat anaknya "Iya nak kenapa?"


"Papa jangan marahi mama ya? Alana enggak mau melihat mama dan papa terus-terusan bertengkar. Alana ingin keluarga kita bahagia seperti dulu!"


Revan pun mengangguk, lalu ia membawa istrinya keluar


"Maafkan aku Van, mungkin aku membuat mu kesal karena aku pergi namun aku harus menyelesaikan itu jika tidak, hati aku tidak akan tenang!"


Revan meminta istrinya untuk duduk "Duduk lah!" Shinta pun duduk di kursi tunggu "Bagaimana apakah sekarang hati mu sudah lebih baik?"


Shinta mengangguk "Sudah, dan aku sudah tenang melepaskan Khanza. Sekarang aku sadar, jika Khanza memang bukan milik ku. Dia hanya anak yang di titipkan pada ku untuk sementara dan egoisnya aku ingin memilikinya secara utuh."


Revan tak mengatakan apapun lagi, ia hanya mengangguk karena sebenarnya ia pun sudah menyayangi Khanza seperti anaknya sendiri namun Revan lebih bisa mengendalikan perasaannya daripada Shinta


"Kalau sudah lebih baik, jangan lagi sedih ya? Aku hanya ingin keluarga kita tenang dan bahagia. Dan aku ingin kita fokus dengan Alana, aku minta maaf kalau ucapan aku membuat kamu terluka. Aku sadar, bukan hanya aku saja yang menderita dengan keadaan Alana namun kamu juga. Aku mengabaikan perasaan kamu sebagai seorang ibu!"


Shinta memeluk suaminya "Aku yang salah, aku enggak bisa mengendalikan perasaan aku kepada Khanza. Kamu tahu, aku dan Caca hamil bersamaan, aku sudah dekat dengan Khanza bahkan sebelum Caca dan Arvan pergi meninggalkan Indonesia untuk berobat Bahkan jauh sebelum Al meninggal, dan di saat Caca menitipkan Khanza ke aku. Aku mencurahkan segalanya untuk dia, apalagi semenjak kepergian al. Aku melihat Al di dalam diri Khanza, aku yang memberikan Khanza ASI seperti anak kandung ku sendiri!"


Shinta mengatakan itu dengan nada yang berat "Dan hanya seorang ibu yang dapat memahami perasaan aku, seperti dahulu aku melihat Syifa. Dan menyayanginya, padahal saat itu Syifa sudah umur lima tahun aku menyayangi dan mencintainya. Apalagi Khanza yang aku rawat saat ia belum genap setahun. Kamu pasti tahu bagaimana aku menyayangi dan mencintainya. Sungguh, aku tidak pernah mengabaikan anak-anak bahkan aku selalu melihat si kembar terlebih dahulu baru mengurus Khanza. Aku selalu mengurus anak-anak! Aku tidak mengatakan aku ibu yang baik, namun aku berusaha yang terbaik untuk Syifa, Alana, Alan dan juga khanza"


"Sudah lah! Yang Syifa katakan itu juga benar. Bahkan aku yang tidak sibuk mengurus anak-anak saja bisa tidak menyadari apa yang Alana lakukan. Apalagi kamu yang sudah lelah mengurus empat anak sekaligus. Itu bukan lah hal yang mudah, namun aku selalu tidak tahu diri dan terus menyalahkan mu!"


Keduanya saling berpelukan memberikan kekuatan satu sama lain, saat Revan mendukung Shinta. Wanita itu seakan di berikan kekuatan namun saat suaminya marah dan berpaling darinya ia semakin hancur dan lemah!


****"*"


Syifa meminta Alana untuk istirahat "Alana sayang, kamu istirahat saja! Alan juga."


"Alan ingin kak, namun mau di mana?" Tanya Alan dengan polosnya membuat Alana terkekeh "Kalau Alan mau Alan boleh tidur di samping Alana!"


"Memangnya boleh?"


"Boleh Alan!"


"Enggak mau! Nanti Alana mengadu kepada mama dan papa dan mengatakan jika Alan mengganggu Alana! Kau kan pengacau!"


Di saat seperti ini, si kembar masih saja bertengkar "Kau yang pengacau Alan! Sudah lebih baik tidur saja di lantai!"


"Baik lah! Apa Alana mengira kalau Alan enggak bisa tidur di lantai? Lihat saja!"


"Alan, apa yang kamu lakukan dik?" Tanya Syifa yang melihat adiknya membaringkan tubuhnya di lantai


"Alan mau membuktikan kepada si pengacau itu jika Alan bisa tidur di lantai kak!"


"Ayo bangun Alan! Nanti kamu sakit!"


Syifa meminta adiknya untuk bangkit, Alan namun tidak mau mendengarkan kakaknya

__ADS_1


"Ayo dong Alan, jangan membuat kakak pusing nih?"


Alana tak tega melihat saudara kembarnya yang tidur di lantai "Dasar seperti wanita yang mudah ngambek! Sini tidur di samping ku!" Ketus Alana. Alan segera bangkit dan tidur di samping Alana "Gitu dong! Nurut sama adiknya!"


__ADS_2