
Pagi harinya Shinta menggeliatkan tubuhnya, ia melihat kearah samping ada Suami dan Puterinya yang masih tertidur pulas. Ia pun tersenyum lalu mengecup pipi Syifa dengan lembut
"Selamat pagi anak mama" Ucapnya. Namun Syifa tak menghiraukan dan masih terlelap dalam tidurnya. Ponsel Shinta berbunyi, ia mengambil ponsel miliknya di atas meja yang ada di sebelahnya.
"Jennika, kenapa dia menelpon pagi-pagi sekali" herannya, lalu ia pun menekan tombol hijau
"Iya Jen, kenapa?"
"Baiklah, aku akan kesegera kesana ya"
"Bye" Shinta mengakhiri ponselnya. Shinta melihat kearah Revan yang masih nyenyak tertidur
"Nanti saja aku pamit, lebih baik aku bersihkan diri terlebih dahulu" Shinta mengikat rambutnya dengan tinggi lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya
******
Selesai mandi, Shinta memilih baju yang pantas untuk ia gunakan. Sebelumnya Jennika meminta tolong pada dirinya untuk menggantikan Jennika sebentar di klinik. Jennika harus menemani ibunya berobat sedangkan ada pasien yang harus ia tangani.
"Aku harus pakai apa coba? baju praktekku kan di rumah Ibu" Shinta begitu bingung, lalu ia mengambil satu pasang baju berwarna senada yang ia rasa cocok untuk di gunakan.
"Sayang" suara khas orang bagus tidur
"Mau kemana pagi-pagi sudah rapi begini" Revan memeluk Shinta dari belakang.
"Bukankah aku sudah melarangmu untuk keluar rumah" Belum sempat Shinta berbicara Revan sudah melontarkan banyak pertanyaan pada isterinya tersebut. Shinta membalikkan tubuhnya menghadap kearah Revan.
__ADS_1
"Tadi Jennika menelpon dan memintaku untuk menggantikan dirinya sebentar, ada pasien yang harus ia tangani namun juga harus menemani ibunya berobat"
"Bukan kah kau sudah berhenti dari pekerjaan mu sebagai dokter gigi?"
"Iya aku tau, tapi ini sangat darurat sayang. Aku mohon izinkan aku ya" Shinta mengalungkan kedua tangannya di leher Revan, ia berharap suaminya itu mau memberikan izin.
"Oke, tapi tunggu sebentar! aku akan membersihkan diri terlebih dahulu dan akan mengantarkan mu. " Ucap Revan. Shinta pun tak punya pilihan lain selain menerima permintaan Revan.
Daripada enggak di izinin sama sekali! Gumamnya dalam hati.
**********
Sesampai di klinik, Shinta masuk kedalam ruangan praktek Jennika.
"Aku sangat merindukan tempat ini, pekerjaan ini hikss" Rasanya Shinta begitu sangat merindukan aktifitas nya yang dulu sebelum menikah, sekarang ia harus meninggalkan profesinya demi keutuhan rumah tangganya. Shinta pun menangani pasien tersebut. Selesai itu ia keluar dari ruangan dan menemui suaminya yang sedang menunggu di luar.
"Dokter Shinta" Panggil seorang pria muda yang memiliki wajah yang begitu tampan. Revan dan Shinta pun menoleh kearah pria itu, lelaki itu bernama Alvano
"Hai, apa kabar" Tanya Alvano yang memandangi Shinta
"Baik?" jawab Shinta acuh tak acuh, ya sikap Shinta emang selalu begitu dari dulu. Ia sangat dingin kepada pria yang ingin mendekatinya.
"Semakin lama kamu semakin cantik ya" Puji Alvano, tangan Revan mengepal geram, ia begitu tidak menyukai orang yang mencoba menggoda isterinya. Revan memeluk Shinta dari samping dan ingin menunjukkan bahwa wanita yang sedang di goda itu adalah miliknya.
"Terimakasih, kalau begitu saya dan suami pamit dulu" Shinta pun berlalu pergi
__ADS_1
"Tunggu" Teriak Alvano, ia mengejar Shinta dan mencoba memegang tangan Shinta namun dengan cepat Shinta menepis tangannya
"Tolong jaga sikap anda kepada isteri saya!" Teriak Revan yang begitu geram dan meremas kerah baju Alvano. Shinta begitu panik, ia tak ingin ada keributan di klinik tempat ia dulu bekerja.
"Sayang hentikan, ayo kita pulang" Shinta memegang tangan Revan dan mencoba menenangkan suaminya, Mata Revan memerah dan langsung melepaskan kerah baju milik Alvaro, Alvaro merapihkan kerah kemejanya yang kusut
"Aku begitu merindukan mu cantik" Bukannya berhenti, Alvaro makin berbicara yang tidak tidak kepada Shinta
"Buk!!!" Satu daratan melayang di wajah pria tampan tersebut hingga pria itu terjatuh kelantai
"Sudah aku katakan, jangan kurang ajar pada isteriku ********! " Ucap Revan, matanya begitu merah karena merasa begitu kesal
"Sudah aku mohon hentikan!" Teriak Shinta, namun kedua pria itu tak mendengarkan ucapan Shinta dan saling membalas pukulan. Sampai akhirnya satpam yang memisahkan keduanya. Shinta menarik suaminya dan meninggalkan klinik itu, ia membawa Revan masuk kedalam mobil
"Kamu apa-apaan sih Van! Buat malu tau gak!" Bentak Shinta kepada suaminya
"Aku buat malu? Apa kamu gak lihat tadi dia itu ngegodain kamu didepan aku" Kesal Revan tak kalah tinggi nada bicaranya. Bukannya takut Shinta malah tersenyum melihat raut wajah Revan.
"Kenapa senyum-senyum?" Sinis Revan.
"Kamu lucu kalau lagi cemburu" ucap Shinta terkekeh geli.
"Ak-aku gak cemburu! jangan kepedean kamu!"
"Terus kalau enggak cemburu kenapa marah?" Shinta makin meledek suaminya itu, ia begitu merasa bahagia karena suaminya cemburu itu menandakan bahwa Revan mencintai dirinya.
__ADS_1
"Ya tapi tetap aja, aku enggak suka lihat kamu berantam kaya gitu!" Bentak Shinta lagi, Revan begitu bingung melihat isterinya. Tadi baru saja tersenyum bahagia ini memasang wajah yang cemberut. Ada ada saja ibu hamil, batinnya.