
Syifa terbangun dari tidur nya, kepala nya terasa sangat sakit. Ia melihat tidak ada seorang pun di kamar, Syifa turun dari ranjang dan berjalan untuk keluar kamar. Di luar ia mendengar suara tawa, ia mendengar pembicaraan Mama dan Papa nya. Shinta menceritakan tumbuh kembang si kembar, Caca pun merasa ikut bahagia mendengar cerita shinta. Melihat sang ibu yang fokus dengan anak nya hati Syifa semakin sakit, ia mengira bahwa Shinta hanya fokus kepada si kembar.
Sebelumnya, Shinta terus meneteskan air mata. Caca yang melihat itu pun tak ingin membuat Shinta terus-terusan bersedih, ia menanyakan bagaimana keadaan si kembar dan tumbuh kembang si kembar agar Shinta melupakan kesedihannya. Namun yang Syifa lihat hanya lah senyum tawa Shinta yang menceritakan tentang si kembar. Bukan ke khawatiran Shinta kepada dirinya, Syifa pun menghapus air mata nya dan berjalan mendekati mereka yang sedang asyik mengobrol.
"Sayang, udah bangun? sini nak sama mama," ucap Shinta tersenyum, namun Syifa memilih mendekati caca dan duduk di pangkuan Caca.
"Enggak ma, Syifa sama mama Caca aja," ucap nya tersenyum, Shinta memaklumi nya. Mungkin saja Syifa masih merindukan Caca dan ingin lebih dekat kepada Caca.
"Sayang, Mama Shinta dan Papa Revan kesini untuk jemput kamu pulang," merasa tidak enak dengan Shinta, Caca pun secara halus menyuruh Syifa untuk ikut bersama Shinta dan juga Revan. Ia tak ingin Revan dan Shinta berfikir bahwa Caca yang mempengaruhi putri nya.
"Iya, Sayang. Mama dan Papa mau jemput kamu pulang," ucap Revan, ia pun begitu bingung dengan sikap Syifa yang seolah menjauh dari Shinta.
__ADS_1
"Syifa boleh gak tidur di rumah mama Caca lagi?" tanya Syifa.
"Em, maaf nak. Sebaiknya lain kali aja ya, Mama dan Daddy ada urusan malam ini. Sebaik nya kamu pulang saja ya," bukannya Caca tak ingin putri nya menginap, ia hanya tak mau Syifa semakin jauh dengan shinta.
"Kalau Syifa mau, kamu bisa tidur sama grandma, " Elsa langsung mendapatkan tatapan sinis dari Caca
"Okay, sebaik nya kamu ikut bersama mama dan papa Revan saja." Elsa memilih mengalah, ia tak ingin terlalu terburu-buru dan membuat rencana nya gagal. Elsa tersenyum licik, ia merasa sangat puas karena rencana nya mempengaruhi syifa berhasil. Shinta dan Revan pun berpamitan untuk pulang, Syifa juga ikut bersama mereka.
"Mengapa kau melarang cucu ku untuk menginap di sini?"
"Karena aku tak ingin memperkeruh hubungan Ibu dan anak" ucap Caca dengan dingin.
__ADS_1
"Bodoh! kau lah Ibu nya."
"Ibu? apa mama lupa? mama yang sudah menyuruh ku untuk membuang anak ku sendiri.Jadi, aku tidak pantas di sebut sebagai Ibu nya,"
"Maaf kan mama, Sayang" Elsa pun memeluk Caca dan seolah olah menyesal dengan perbuatannya, Caca meneteskan air mata nya.
"Cukup sudah penderitaan Syifa sewaktu aku tinggalkan, aku tak ingin Syifa kehilangan seorang Ibu lagi," batinnya. Elsa melepaskan pelukkan nya dari Caca. Ia berpamitan kepada Caca dan Arvan untuk ke kamar.
"Jika mama terbukti dalang dari ini semua, Caca bersumpah tidak akan pernah memaafkan mama, " Langkah Elsa terhenti. Ia menoleh ke arah Caca
"Apa kamu tidak bisa untuk tidak berpikiran buruk terhadap mama? mana mungkin mama melakukan kesalahan yang sama lagi nak,"
__ADS_1
"Caca hanya mengingatkan mama saja," Caca pun pergi meninggalkan Elsa di ruang tamu.