Ibu Sambung

Ibu Sambung
Dampak Bully Pada Mental Anak


__ADS_3

"Bagus sekali, keluarga mu membuat kita mendapat kan keadilan di sekolah ini." ujar Raisa. Raisa mengucapkan banyak terimakasih kepada Syifa, jika bukan karena Syifa. Mungkin, diri nya akan tetap di perlakukan dengan buruk.


"Sudah lah, ini juga karena keberanian mu. Jika kau tidak membantu ku, pihak sekolah akan menganggap diri ku berbohong." ujar Syifa kepada teman sebangku nya itu. Mereka berjalan menuju kelas, teman-teman Amira yang dulu suka membully tak berani berkutik. Syifa menatap salah satu teman pria nya lalu memalingkan wajah. Syifa dan Raisa duduk dengan tenang.


Bel sekolah berbunyi, menandakan sebentar lagi guru akan masuk ke dalam kelas. Bapak guru itu tersenyum kepada Syifa, bersikap sok baik. Padahal, sebelum nya ia tak pernah melihat ke arah Syifa. Syifa pun membalas senyuman guru nya.


."Baik lah anak-anak, buka buku halaman 102 bagian C. Kalian kerjakan, jika ada yang bingung jangan sungkan bertanya kepada bapak." ujar guru itu. Syifa mengambil dan membuka buku nya, pelajaran matematika hal yang tidak sulit bagi diri nya itu. Syifa mengerjakan nya dengan seksama. Tidak butuh waktu lama, Syifa mengumpul tugas yang di berikan oleh guru itu.


"Wah, kamu pinter sekali. Bisa secepat ini mengumpul kan nya." Syifa terdiam, setelah memberikan buku tugas, ia kembali ke tempat duduk nya.


"Lihat lah, guru-guru sekarang pada baik padamu. Memang dari dulu, kau selalu mengumpul kan tugas paling pertama bukan." bisik Raisa, Syifa pun menegur teman nya agar tidak mengucapkan hal yang buruk tentang guru. Bagaimana pun, guru adalah orang tua kedua kita di luar rumah. Kita harus menghormati mereka.


Raisa pun mengerti, walau guru melihat mereka berbincang. Guru itu tidak menegur. Syifa menyuruh Raisa untuk mengerjakan tugas nya kembali dan tidak membuat keributan. Raisa pun mengikuti ucapan teman nya.


Bel istirahat pun berbunyi.


Seperti biasa, Syifa memilih menghabis kan bekal yang ia bawa dari rumah ketimbang harus jajan sembarangan di luar. Itu semua bukan karena paksaan dari Shinta, namun Syifa memang kurang menyukai jajanan di luar. Raisa mengajak nya untuk pergi ke kantin, Syifa menolak dengan lembut.


"Makanan ku sangat banyak, jika aku memakan jajanan di kantin. Aku akan kenyang, kasihan Mama ku sudah membawakan bekal tapi tidak aku makan." ujar Syifa, Raisa pun memilih untuk ke kantin sendirian.


"Syif." panggil kekasih dari Amira, tidak lain adalah Tama.


"Ya?" tanya Syifa tanpa menoleh.

__ADS_1


"Ak-aku, mau mintak maaf atas perbuatan Amira, tapi jika boleh. Jangan hukum dia dan membiarkan ia keluar dari sekolah ini."


"Maaf, itu urusan kedua orang tua ku. Aku tidak bisa membantah kedua orang tua ku." jawab Syifa singkat, sambil menikmati makanan yang di bawa dari rumah.


"Tapi, kamu kan bisa bicara sama orang tua mu."


Syifa menghentikan suapannya. Terdiam sejenak, pandangan nya masih fokus ke bekal yang di bawa oleh orang tua nya.


'Jika tidak ada lagi yang di bicarakan, tolong lah pergi. Aku ingin makan."


"Aku mohon." ujar Tama kembali, Syifa menoleh ke arah Tama.


"Jika kau tidak ingin kekasih mu di keluar kan dari sekolah, kenapa tidak kau sendiri yang berbicara kepada pihak sekolah? Aku paham, dia kekasih mu. Seharusnya jika kau kekasih yang baik. Kau bisa bicara padanya untuk tidak membuat tingkah nakal yang merugikan orang lain." kesal Syifa, Tama pun terdiam tak tahu harus bicara apalagi, ia memilih pergi meninggal kan Syifa. Syifa yang sudah kehilangan selera makan, menyimpan kembali bekal nya di tas dan memilih pergi ke taman. Sorotan mata penuh kemarahan Syifa, ia menggenggam tangan nya dengan kuat. Syifa merasa sangat kesal. Rasanya, ia ingin sekali pindah sekolah jauh dari Tama.


"Aku khawatir jika Syifa di jahatin lagi, Sayang." ujar Shinta yang uring-uringan di rumah, memikirkan anak nya di sekolah.


"Tenang, setelah kejadian kemarin. Aku yakin, tidak akan ada yang berani melakukan kejahatan pada anak kita atau anak-anak lainnya yang tidak berdaya. Anak kita, anak yang kuat dan pemberani. Jangan khawatir, nanti kesehatan mu bisa saja nge-drop." Revan memeluk isterinya, mencoba menenangkan sang isteri.


"Bagaimana jika dia terluka lagi, atau bersedih?"


"Dia akan memberitahu kita."


Ekhem!

__ADS_1


Ledek Caca yang barusan datang bersama anak dan suami nya. Kini, Caca membawa baby sister yang menggendong baby Khanza.


"Kalian ini, bermesraan di sini. Sakit tau, mata ini." ujar Caca. Shinta menjauhkan tubuh nya dari suami. Mendekati Caca dengan kesal nya.


"Bukan bermesraan."


"Lalu apa namanya dong?" ledek Caca lagi


"Jika kau tahu yang sebener nya. Kau tidak akan sanggup untuk tersenyum sedikit pun."


"Memang nya apa yang terjadi?" Shinta menyuruh Caca, Arvan dan baby sister nya untuk duduk. Dengan perasaan yang masih khawatir dengan Syifa. Shinta menjelaskan segala nya pada Caca. Caca yang mendengar cerita dari Shinta merasa terkejut.


"Ba-bagaimana sekolah ternama seperti itu bisa melakukan hal yang serendah ini?" tanya Caca. Arvan yang mendengar nya pun merasa emosi dan geram. Ia menghubungi orang suruhannya, untuk membeli sekolah itu berapa pun biaya nya.


"Sayang, aku rasa. Kau tidak perlu membeli sekolah nya."


"Demi keselamatan anak-anakku. Aku rasa itu sangat perlu, agar anak kita tidak mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan lagi." ujar Arvan, Shinta dan Revan pun setuju dengan ucapan Arvan. Mereka memutuskan untuk membeli sekolah itu bersama, ini juga untuk masa depan anak-anak mereka..


"Sekolah itu ternama, tidak mungkin mereka mau menjual nya."


"Bagaimana tidak mungkin, karena kejadian tadi. Nama sekolah itu sudah tercoreng. Dan ayah dari anak itu, aku yakin setelah anak nya di pecat. Dia akan menarik segala fasilitas yang sudah di berikan juga stop memberikan bantuan. Jadi, kemungkinan sekolah itu akan mengalami drop keuangan." ujar Revan, Arvan pun setuju dengan ucapan sahabat nya itu.


"Aku akan menyuruh orang-orang ku menyiapkan segala nya, kita membeli nya bukan untuk menghancurkan mereka. Tapi, demi keamanan Syifa. Biarkan, Kepala Sekolah, Guru-guru, dan pegawai yang lainnya tetap bekerja di situ sebagaimana biasanya. Yang berbeda hanya kepemilikan sekolah itu saja. Dengan itu, kita tidak akan khawatir mengenai adanya bully di sekolah." ujar Arvan.

__ADS_1


Caca pun hanya mengikuti ucapan suami nya saja. Shinta juga akan merasa lega dengan keamanan Syifa. Ia tak harus khawatir lagi setiap saat, dan tidak akan ada lagi korban Syifa, Syifa yang lain nya. Shinta juga menentang ada nya bully di setiap sekolah atau lingkungan rumah. Karena itu, akan berdampak pada mental anak


__ADS_2