
Lumayan menghibur, terakhir aku datang ke pasar malam ini sekitar tiga bulan lalu, saat bapak baru saja menjual kerbau kesayangannya.
Perihal menjual kerbau itu bikin bapak enggak makan sehari semalam, tidurnya pun di kandang kerbau. Ia tak mau diganggu.
Bapak emang gitu!
sangat sayang sama hewan peliharaanya.
Emak yang merasa kesal diam-diam mengambil uang warna biru sebanyak dua lembar dari selipan peci bapak, lalu mengajakku ke pasar malam.
Karena kami tinggal di perkampungan paling pojok, hal semacam ini sangat lah istimewa, lagian hanya ada sekali dalam sepekan.
Dulu sekali, waktu aku masih sekolah SMP, setiap Sabtu sore pasti bersiap-siap ke pasar malam dengan teman genkku. Pakai baju samaan, celana levais digulung sampai betis. Kalau jalan gandengan berlima, langkah kaki harus sama, ada yang salah, ulang lagi. Aaahh ... seru sekali!
Saking serunya dua jam baru sampai.
Hal yang tak bisa kulupakan kalau ada cowok lewat, senyum-senyum gigitin jari sambil hentak-hentak kaki ke tanah, atau pura-pura ngakak biar dilirikin. Cabe banget aku waktu itu.
Kaum cowok pun tak mau kalah, pakai kaos oblong lengannya digulung sampai otot mungilnya kelihatan, yang ada jaket suka diikat ke pinggang, kalau jalan gerombolan, kadang salto-salto biar dibilang keren. Kebangetan!
Aaah ... rindu sekali dengan kawan lama.
"Neng, kita makan dulu atau main dulu?" Pertanyaan om Darman menyadarkanku dari lamunan masa kelam.
"Terserah!" jawabku sambil memandangi sekeliling.
"Yaudah, makan dulu," seru om Darman lalu beranjak ke sebuah warung tanpa dinding dan beratap terpal yang ada spanduk bertuliskan menjual bakso dan mie ayam.
"Selamat datang... di warung kami. Di sini kami menyajikan bakso dan mie ayam, soal rasa tergantung level selera, Anda!" Kata-kata orang itu membawa haluku berasa lagi masuk restoran bintang lima.
"Bakso, Bang!" pesanku tanpa basa-basi.
"Bakso setan, bakso ngesot, bakso beranak, bakso jomblo, bakso lidah mertua, bakso merana, bakso---!"
"Bakso apa adanya aja, Bang!" Aku sedikit kesal, penjualnya kelewat bawel.
"Sayang sekali, di warung kami kaga ada, Neng!"
"Alamak ... mie ayam aja!" Orang ini merusak nafsu makanku.
"Ayam kampung pa ayam kota, Neng?" Gila bener!
"Ayam apa hayo?!" tanyaku yang ikutan gila.
Haredang! Abang penjualnya malah mikir.
"Ayam kampung dong, Bang ... lebih enak sehat dan berzigi!" ucapku sambil menarik kursi yang terselip di bawah meja.
Dua puluh menit kemudian. Rupanya tuh penjual mulutnya saja yang laju nyerocos, tapi gerakannya super lelet. Hanya untuk semangkuk mie ayam butuh waktu yang lama sekali menurut Dora.
Om Darman enggak makan apa-apa, hanya duduk di sampingku sambil menghisap rokok, sesekali menyeruput secangkir kopi jahe yang ia pesan tadi.
Beberapa menit kemudian.
"Duh, Darman ... style barunya keren banget ...!" puji emak-emak yang baru saja datang.
"Huekhem ... ekhem ... ekhem ...!" Kuah mie yang baru kumasukkan ke mulut keluar lagi dari hidung. Untung saja hanya kuahnya. Enggak kebayang kalau tiba-tiba nongol mie dari lubang hidung.
__ADS_1
Om Darman sangat gercep mengelus-ngelus ubun-ubunku.
"Yaelah, cari perhatian aja!" ketus salah satu dari dua wanita paruh baya itu. Aku mendongak, rupanya emak-emak yang tadi siang.
Kuangkat mangkuk mie, lalu duduk bersandar di bahu om Darman dengan kedua kaki selonjoran di bangku panjang. Asoy!
Aslinya susah beud makan kayak gini!
"Darman ... udah lama yah, datengnya?" sapa wanita itu sambil mendaratkan pantat semoknya ke kursi kayu tanpa sandaran di sebelah meja. Melihat bodinya aku jadi Insecure.
Idih, sok akrab nih emak-emak.
"Baru kok, Sesyl. Kamu kapan balik dari kota?" tanya om Darman yang juga mulai kecentilan.
Yaelah, babang ngapain nanggepin cabe kering kayak gini, sih? kesel gue.
"Tadi siang, Ganteng ... uh cuco meong, deh!"
Aku tak boleh diam saja saat suamiku digoda wanita lain. "Bang, suapin!" Kayaknya aku bakal mewarisi mata melotot emak kalau lagi marah.
"Udah gede, Neng. Masa disuap lagi?"
What? Hampir saja aku kesetanan gara-gara ucapan om Darman barusan. Kemarin malam dia juga minta disuapi, kenapa sekarang tiba-tiba ngomong gitu?
"Duh, Neng ... duduknya jangan mepet-mepet!" Om Darman menjauh beberapa jengkal dariku.
Haiks! Asli ngeselin. Baru aja liat emak-emak seksi tiba-tiba lupa istri dan anak.
"Ayo, Bang. Aku udah selesai makannya, kita main sekarang!" Aku harus menarik om Darman dari tipu daya muslihat emak-emak pengganggu laki orang meskipun kuah mie masih tersisa banyak, sayang banget.
Ada kora-kora, ada komedi putar, ada gelombang asmara, ada rumah hantu, ada odong-odong. Wahananya masih sama, padahal aku berharap ada roller coaster atau Histeria gitu, kayak di film-film.
"Babang pengin masuk rumah hantu, Neng!"
Cheileh ...! Si babang norak banget, minta ditakut-takuti sama hantu KW, mana tiket masuknya dua puluh ribu per orang. Itu kan duit sayur seminggu.
Mending jalan di kuburan tengah malam, udah gratis, hantunya juga asli. Pulang-pulang bisa bawa mangga.
Kadang Dorabela berpikir, kenapa harus susah-susah bayar hanya untuk ditakut-takuti. Menguji adrenalin itu yang keren gitu, misalnya, panjat tebing, panjat pinang, panjat tower terjunnya pakai payung, asal jangan panjat istri orang aja.
"Ayo, Neng ... dari dulu babang pengin banget masuk rumah hantu!"
Karena merasa kasihan apalah aku hanya seorang istri, ku turuti saja kemauannya selagi ia masih bisa bernafas. Akhirnya kami masuk rumah hantu.
Tadinya aku pikir di dalam sini cukup terang, nyatanya gelap, hanya ada lampu kecil banget mana cahayanya merah, kan seram.
Kupegang erat-erat lengan om Darman. Terowongannya cukup sempit, untung saja masih bisa jalan beriringan. Nih, om-om pasti kegirangan aku nempel-nempel kayak gini.
Suara-suara menakutkan lama kelamaan seperti nyata. Kunti yang cekikikan bikin jantungku berdebar tak menentu.
Dari kejauhan kulihat ada yang lompat-lompat. Sudah pasti itu pocong KW, lihat saja kalau sudah dekat, bakal kugetik jidatnya.
Saat kami melewati tikungan kecil.
"Huwaaaaaaaaaaah ...!"
Tiba-tiba sosok putih muncul. Entah kekuatan dari mana yang merasuki tubuhku hingga mendorong dinding rumah hantu itu sampai jebol dan aku terpental keluar.
__ADS_1
Pengunjung yang berdiri di luar dengan wajah tegang mendengarkan jeritan orang yang masuk ke dalam rumah sialan itu malah menertawaiku.
"Neng, gapapa?" tanya om Darman cekikikan saat menghampiri aku yang lemas karena rasa malu menjalar hingga tulang belulang.
Masih di tanya gapapa? Kayak gini gapapa?
"Babang enggak liat? Siku Dorabela berdarah!" teriakku dengan emosi full.
"Wkwkw... maap, Neng ... bahaha."
Wadidaw?! Dia ngakak gaes!
Dari balik dinding yang jebol, pocong, tuyul, suster ngesot, zombi, falak, genderuwo, menatap sambil ketawa terpingkal-pingkal. Shit, dasar iblis gak ada ahklak. Ngetawain orang lagi kesusahan.
Daripada malu aku pura-pura pingsan saja.
'Jreng!'
Entah detik keberapa om Darman bergerak cepat mengangkat tubuhku. Suasana berubah hening. Namun, tak lama kemudian terdengat bisik-bisik dari kaum emak-emak.
Saat om Darman melangkah gagah dengan kedua tangannya menopangku, hati ini malah cenat cenut tak menentu, You know me so well, om i need u,
om i love u,
om i heart u.
Oh My God! om jadi Smash.
Di jalan pulang, kupeluk erat-erat pinggang om Darman hingga sampai di pekarangan rumah.
"Neng, kok bau pesin?"
Waits?! Masa iya aku ngompol.
Yasudalah, rok yang basah, aku tak bisa mengelak.
Setelah mengganti pakaian dan membersihkan diri, kuhampiri om Darman yang duduk di sisi ranjang. Sayang sekali tempat tidur itu sudah dikuasai 3 kurcaci.
"Suka yah, sama emak-emak tadi?!" Alamak sungguh, demi apa aku bertanya seperti itu.
"Cemburu, yah?"
"Ogah! Kaga ada dalam kamus Dorabela kata cemburu!" jawabku sambil membuang muka.
"Masa ...? maapin babang, babang tahu kamu cemburu, tadi itu sengaja biar bisa lihat reaksi dan muka manyunmu!"
what?!
"Udah dibilangin juga ... enggak cemburu!"
'Cup'
Mendarat sempurna sebuah kecupan di keningku.
'Cup!'
Serangan bertubi-tubi. Lawan Dora, lawan ... jangan terlena!
__ADS_1
"Lagian, siapa juga yang mau sama istri orang, mending sama istri sendiri, halalan thayyiban, yah kan, Neng?"
Itu gombalan apa iklan biskuit, sih?