
Sementara, Caca duduk di tepi tempat tidur memandangi bingkai photo Puterinya sewaktu bayi. Dia begitu merindukan Puterinya
"Kau kenapa" Tanya Arvan yang tiba tiba masuk kedalam kamar Caca, ia duduk disebelah Caca dan melihat bingkai yang dipegang oleh Caca.
"Apa kau merindukannya?" Caca tak menjawab pertanyaan Arvan, ia segera bangkit dan ingin meninggalkan lelaki itu sendiri dikamar, namun Arvan memegang tangan Caca dengan kuat hingga Caca meringis kesakitan.
"Jika kau terus-terusan seperti ini, bukan hanya kau yang terluka. Namun anak kesayanganmu juga akan terluka" Arvan mendorong tubuh Caca hingga Caca kembali terduduk di tempat tidur. Ia hanya terdiam dan menghapus air matanya yang mengenang.
"Dasar wanita tidak tahu diri cih!" Arvan yang merasa geram dengan sikap Caca pun pergi meninggalkan wanita itu sendirian dikamar, Setelah Arvan pergi dari kamar, Caca menangis histeris lalu memandang photo Puterinya Syifa.
"Demi kamu, apapun akan mama lakukan nak" Caca tersenyum dan mencium photo anaknya. Elsa yang entah darimana tiba-tiba masuk kedalam kamar Puterinya, ia melihat Caca yang terdiam membisu memandangi photo seorang bayi yang ia yakini adalah Syifa cucu yang tak pernah dia anggap.
"Dia lagi dia lagi" sindir Elsa dengan halus, rasanya ia begitu muak dengan Revan dan juga Syifa walau Syifa adalah cucu kandungnya sendiri. Elsa mengambil bingkai photo itu dan mencampakkannya kelantai membuat bingkai photo itu pecah. Caca sontak berdiri dan mengambil photo anaknya yang dipecahin.
"Apa yang mama lakukan" bentaknya namun Elsa tak memperdulikan Caca, ia melihat kesembarang arah dan menyilangkan kedua tangannya di atas perut.
"Mengapa mama begitu kejam hikss"
"Kenapa ma? kenapa?!" kini airmata Caca tak tertahankan lagi, ia menangis histeris dan berteriak ke mamanya. Elsa mencengkeram dagu anaknya dengan kuat, ia melihat Caca dengan tatapan yang tidak ramah.
"Dasar anak tidak tahu diri! aku selalu muak dengan sikapmu selama ini, semenjak mengenal lelaki tak berguna itu kau semakin berani membantahku" Elsa melepaskan cengkeramannya dengan kuat
"Mama boleh benci sama Revan, tapi apa salah Puteri Caca ma? apa? Dia juga cucu mama, kenapa mama begitu tega" airmata Caca membasahi pipinya yang manis.
"Sudahlah tidak ada gunanya berbicara padamu!" Elsa pun pergi meninggalkan Caca sendirian dikamar
"Kenapa takdir tidak pernah adil kepadaku"
"Apa salahku?"
__ADS_1
"Apa salah aku mempunyai keluarga kecil dan hidup berbahagia dengan orang yang aku cintai"
"Mengapa hidup setidak adil gini? mengapa?" Ia mencengkram selimut kamarnya dan menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala rasa sakitnya. Caca mendongakkan kepalanya melihat seseorang yang sedang mengelus rambutnya orang itu adalah papanya. Caca langsung memeluk tubuh sang ayah dan menangis sejadi-jadinya dipelukkan sang ayah.
"Menangislah nak" Brian mengusap rambut Puterinya dengan penuh kasih sayang, dan Caca pun masih menangis menumpahkan segala rasa sakitnya.
"Kenapa takdir begitu ja...jahat pa"
"Ke..kenapa kehidupan se..serumit inn...i paaa" Caca berbicara dengan nada terbata bata didalam pelukan sang ayah, Brian hanya terdiam dan memberikan ketenangan pada Puterinya. Ia begitu tak tega melihat Puterinya sehancur ini, tapi apalah daya dia tak bisa berbuat apapun. Saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah selalu berada disamping Puterinya dan memberikan sedikit ketenangan. Brian begitu merasa tidak berguna sebagai seorang ayah.
"Pa, apa lebih baik aku mati saja ya" kali ini Caca berkata dengan tatapan yang begitu kosong, Brian langsung melepaskan pelukannya.
"Kau tidak boleh berbicara seperti itu sayang, tidak boleh!" Brian memeluk Puterinya lagi dan menangis.
"Ya Tuhan, bahagiakan Puteriku" gumamnya dalam hati.
"Papa keluar ya, kamu istirahat" Mengelus rambut Caca, Brian pun berjalan melangkah meninggalkan Caca, sementara Caca hanya diam membisu dan airmatanya terus saja berlinang membasahi pipinya.
*******
Syifa pun entah mengapa tiba-tiba menangis, Shinta dan juga Revan begitu panik melihat Puterinya yang menangis.
"Kamu kenapa sayang" Shinta mencoba menenangkan Syifa didalam gendongannya.
"Gak tau ma, tiba tiba Syifa kangen Tante yang kita temui itu. Mau jumpa" yang dimaksud Syifa adalah Caca.
"Tante yang mana nak?" tanya Revan yang begitu curiga melihat kearah Shinta yang panik ketakutan.
"Sayang, Syifa sama nenek dulu ya. Kekamar nenek dulu, papa mau ngomong sama mama" Syifa pun mengangguk dan turun dari gendongan Shinta menuju kamar lili. Shinta berjalan mundur melihat tatapan yang begitu mematikan dari Revan, Revan pun mendekati tubuh Shinta yang terus menghindar mundur kebelakang.
__ADS_1
"Kau menjumpakan anakku dengan siapa!" kali ini suara Revan sudah meninggi.
"Ak...aku"
"Jawab!" belum sempat Shinta menjawab Revan sudah membentaknya kembali, membuat Shinta terperanjak kaget
"Tenanglah Du..dulu akkk..aku bisa jelasin" ucapnya terbata-bata. Shinta begitu ketakutan, keningnya bercucuran keringat, tangannya gemetar dan keringat dingin.
"Sekali lagi aku bertanya, kau mengajak anakku bertemu dengan siapa!" Revan yang sudah tak sabar menunggu jawaban dari Shinta, mencengkram bahu Shinta dengan kuat.
"Aw sakit" Shinta kesakitan, Revan mengendurkan cengramannya sedikit.
"Maaf, kemarin aku menemukan Syifa dengan ibu kandungnya" ucapnya cepat dan memeramkan matanya. Revan yang mendengar hal itu begitu murka.
"Berani sekali kau!" ia menguatkan cengkeramannya dibahu Shinta.
"Kau tidak berhak melakukan itu, kau fikir kau siapa ha" Kini emosi Revan begitu meledak, ia begitu murka mendengar nama Caca apalagi tau Puterinya bertemu dengan wanita pengkhianat itu.
"Bagaimana pun dia yang melahirkan Syifa, kau tak berhak memisahkan ibu dan anak" ucap Shinta mencoba memberikan pengertian kepada Revan.
"Kau tau apa! dia wanita hina! tidak ada seorang ibu yang tega meninggalkan anak nya yang berumur 1 bulan" suara Revan mengeras, memenuhi satu ruangan itu, membuat lili keluar dan menemui anak dan menantunya.
"Ada apa ini" tanya lili yang melihat menantu dan anaknya secara bergantian "Mengapa kalian berisik sekali, dan apa ini? mengapa kau kasar sekali sama isterimu" lili menepiskan tangan Revan yang mencengkram bahu Shinta dengan kuat.
"Mama tanya saja sama menantu mama ini!" Revan pun pergi meninggalkan ibu dan juga isterinya. Shinta melihat kepergian Revan dan terduduk di sofa. Ia begitu gemetaran, lili mendekati menantunya.
"Ada apa ini? tolong kamu jelasin sama mama" Tanya lili yang duduk disebelah menantunya. Shinta menceritakan semuanya kepada mama mertuanya, lili yang mengetahui nya begitu terkejut. Tak heran jika anaknya semarah ini.
"Ma, apa salah ya jika Shinta ingin mendekatkan Syifa dengan ibu kandungnya yang sudah melahirkannya" tanya Shinta, namun lili hanya terdiam tak menjawab pertanyaan menantunya.
__ADS_1